Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Nisa sakit


__ADS_3

Pengajian berjalan dengan khidmat, dan lancar. Para jama'ah satu persatu mulai berhamburan pulang. Ada beberapa yang masih di sana menunggu hingga Kyai asal Magelang itu masuk ke dalam mobilnya untuk berpamitan.


"Nak, jangan lupa ya. Besok–" Ulum berpesan sebelum masuk kedalam mobil. Duduk di sebelah Ustadz Irsyad.


"inshaAllah, Pak Ulum. Nanti saya kabarin lagi Via Chat saat barangnya sudah ada."


Ulum tersenyum tipis dan mengangguk mengucapkan terima kasih. Kini pintu telah tertutup. Irsyad mengucap selamat tinggal dengan gerakan tangannya juga pada mereka sembari mobil melaju pelan.


"Alhamdulillah, berkah bertemu dua orang panutan hari ini." Ilyas bersyukur, tangannya mengelus dada saking bahagianya. Kemudian berjalan mendekati lokasi bersama beberapa rekannya yang lain.


Di posisi lain. Ketika mobil terus berjalan dengan kecepatan sedang, Irsyad membuka obrolan.


"Kalian keliatan akrab?" tanya Irsyad pada Ulum yang sedang duduk sembari menumpuk kedua tangannya di atas pangkuan.


"Siapa, Kyai?"


"Kamu sama yang tadi itu, siapa namanya ya? Kalau nggak salah Ilyas temannya Harun?"


"MashaAllah, Ustadz tahu, Nak Ilyas itu temannya Harun?" tanyanya yang di jawab anggukan kepala dari guru yang ada di sebelahnya. "Iya, Kyai. Kebetulan anak itu pinter service alat-alat elektronik. Beberapa kali saya pakai jasanya, termasuk kalau butuh onderdil laptop pasti sama Beliau. Dan saya cocok jadilah langganan."


"Oh, gitu ya? Keliatan anaknya rajin. Dia punya aura yang sama kaya kamu. Tekun."


"Hehehe..." Ulum setuju anak itu tekun, namun seperti dirinya tidak se-tekun Ilyas sih.


"Omong-omong, kenapa nggak coba jodohkan sama anakmu?" tanyanya sembari memandangi jalan di depan yang lumayan padat. "InshaAllah, dia bukan pemuda yang neko-neko kalau saya lihat."


"Sebenarnya, sudah pernah saya coba Kyai. Bahkan, anak itu juga pernah melamar Qonniah."


"Lalu?" Irsyad masih fokus melihat ke depan.


"Kyai pasti tahu jawabannya..."


"Coba lagi, tawarkan anakmu itu. Abis ini pasti enggak lagi kok." Irsyad senyum-senyum sendiri.


"Nggak lagi?" Hati-hati Ulum bertanya karena memang jika berbicara dengan Irsyad pasti banyak teka-tekinya.


"Yah, intinya di tunggu aja. Kamu harus mempersiapkan untuk menerima menantu baru setelah ini."


"Maaf, Kyai, maksudnya?" Ulum menarik satu alisnya. Sementara Irsyad sendiri tak menjawab sembari tersenyum tipis dengan bibir berzikir tanpa suara.


***


Hari baru kembali hadir...


Selepas mengajar dan mengantarkan beberapa pesanan. Ilyas membawa laju motornya menuju Babelan, dengan di temani semburat jingga yang menghiasi langit sore. Bersamaan dengan sang swastamita yang perlahan bergerak ke ufuk barat.


Dengan kecepatan sedang, pria yang selalu menggunakan kacamata minusnya nampak berbinar, bahkan jantungnya terus berdegup kencang seiring jarak tempuh yang semakin dekat dengan lokasi yang di tuju.


"Alhamdulillah." Sambil mematikan mesin motornya, pemuda itu mengucapkan hamdalah tepat di depan gerbang.

__ADS_1


Cklaaakkk... Terdengar suara pintu yang terbuka, diiringi tangis bayi yang cukup keras. Pemuda berkacamata itu menoleh spontan.


Terlihat dari posisinya, Ayudia keluar dari dalam rumah sembari menggendong putrinya yang terlihat rewel. Dari keningnya yang berkerut, sembari menenangkan perempuan itu berusaha menghubungi seseorang dari ponsel yang ada di tangan.


Pelan-pelan, Ilyas turun dari atas motor dan berjalan lebih dekat ke pintu pagar besi rumah Ulum.


"Assalamualaikum!" Seru Ilyas menyapa wanita yang kontan menoleh sembari menurunkan ponsel yang menempel di telinga.


"Wa–walaikumsalam." Perempuan itu berjalan beberapa langkah. "Mas Ilyas disini?"


Ilyas tersenyum tipis. "Iya, saya mau ngantar pesanan Bapak."


"MashaAllah. Tapi, Ayah lagi nggak di rumah," jawab Qonni masih berusaha menenangkan Nisa yang semakin keras tangisnya.


"Begitu ya?" Pria itu beralih fokus pada bayi dalam dekapan Qonni. "Nisa kenapa, Yu?"


"Anakku demam dari tadi pagi. Sekarang bahkan sampai mencapai 39°. Aku takut dia kejang, Mas. Sekarang sedang berusaha menghubungi taxi online karena Ayah nggak di rumah."


"Ya Allah..., udah bisa order?"


Qonni menggeleng. "Aku kesulitan. Mungkin karena panik."


"Ya udah kalau gitu aku anterin aja. Ayok...," ajaknya tanpa pikir panjang.


"Tapi, Mas?"


"Nggak papa. Udah Ayo..., kamu mau ada yang diambil lagi nggak, di dalam?"


"Ya udah, ayo!" Ilyas yang melihat gerbang yang tidak di gembok, pun inisiatif untuk membukanya. "Maaf, aku izin buka gerbangnya, ya?"


"Silahkan, Mas." Qonni mengusap kening Nisa yang masih menangis.


"Mana sini kuncinya biar aku kunciin." Ilyas menadahkan tangan, dan Qonni pun menyerahkan kunci rumah yang menjadi satu dengan kunci gembok pagar.


Buru-buru laki-laki itu menuju pintu untuk menguncinya setelah itu kembali keluar, menutup pintu pagar dan menguncinya dengan gembok. Setelah itu Ilyas pun menaiki kendaraannya lebih dulu.


"Yuk, Dek," ajaknya kemudian. Dengan ragu-ragu Qonni memandangi punggung Ilyas, setelahnya beralih pada Nisa.


Masa iya aku harus berboncengan lagi dengannya? Batin Qonni.


Menyadari perempuan itu belum naik, Ilyas kembali menoleh ke belakang.


"Dek, kok diam? Ayo!"


"I–iya, Mas."


"Sebentar!" Ilyas yang menyadari Anisa tak di pakaikan selimut bayi, membuatnya buru-buru turun lagi dan melepaskan jaketnya. "Dia harus di selimuti, biar nggak semakin parah sakitnya."


Dengan tatapan membeku, terarah pada pria yang sedang menyelimuti tubuh mungil Nisa dengan jaketnya, membuat Qonni merasa sedikit tidak nyaman belum lagi irama jantung yang tiba-tiba berdebar.

__ADS_1


"Ya Allah..., kasian sekali, Nak. Sabar ya sayang, setelah ini kita ketemu dokter." Dengan lembut bibir Ilyas bergumam.


Sekarang Qonni justru jadi bisa mencium aroma tubuh laki-laki itu dari jaket yang turut didekapnya setelah melekat sempurna membalut tubuh Anisa.


"Yuk. Kita harus cepat ke rumah sakit," ajaknya kembali menaiki sepeda motornya. Dan Qonni sendiri menurut, ia duduk di jok belakang motor yang di kendarai Ilyas. "Udah?"


"I–iya, Mas."


"Baiklah, bismillah." Pemuda berkacamata itu mulai menyalakan mesin motornya. Motor pun melaju, menerjang jalan menuju rumah sakit terdekat.


...


Di rumah sakit...


Qonni sudah masuk ruang IGD, sementara Ilyas berinisiatif untuk mengurus pendaftaran untuk Nisa. Dan setelah selesai ia kembali mendekati Qonni, yang tentunya tetap menjaga jarak dari perempuan tersebut.


"Gimana?"


"Dokter bilang, anakku ada indikasi DBD, Mas, dan kekurangan cairan juga. Cuman sekarang sedang menunggu untuk di ambil sample darah biar lebih jelas."


"Innalilah..." Mata Ilyas tertuju pada balita yang mulai tenang di atas ranjang IGD. "Kamu udah menghubungi, Ayahmu?"


"Udah..., tapi Mereka pulang dulu untuk ngambil pakaian Nisa."


"Syukurlah Kalau begitu." Terlihat hembusan kelegaan di bibir Ilyas.


"Anu– Mas?"


"Ya?"


"Itu, aku lupa nggak bawa diapers untuk Nisa."


"Gitu ya? Ya udah aku beli dulu, ya?" Tanpa menunggu lanjutannya Ilyas langsung berinsiatif.


"Tunggu, Mas. Ini uangnya–"


"Nggak usah, Dek. Aku ada kok."


"Nggak bisa gitu..." Hendaknya Qonni mengambil tasnya namun Nisa kembali merengek hingga membuatnya urung dan beralih pada puterinya itu.


"Kamu ada lagi yang mau di beli selain diapers?" tanya Ilyas.


"Nggak ada sih, mungkin air mineral."


"Ya udah, aku ke toko sebentar."


"Mas tapi ini uangnya?"


"Nggak usah, Dek, serius." Ilyas buru-buru menjauhi tirai ranjang, menuju pintu keluar untuk membeli barang yang di butuhkan itu. Hingga menimbulkan hembusan kecil di bibir Qonniah. Perempuan itu pun melirik kearah bayi dalam gendongannya.

__ADS_1


"Jaket Beliau benar-benar harum. Aku jadi tidak bisa mencium anakku karena aroma tubuh laki-laki itu amat melekat di jaket ini." Ingin rasanya ia melepaskan jaket Ilyas yang masih di pakai untuk menyelimuti Nisa. Namun ruangan IGD ber-AC sehingga urung ia lakukan. Biarlah menahan diri untuk sesaat, sampai ibunya datang dan membawakan selimut untuk puterinya.


__ADS_2