Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Hujan punya cerita


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, para siswa dan siswi tak langsung berhamburan keluar karena saat ini hujan turun dengan derasnya. Perempuan hamil yang belum memutuskan untuk cuti itu berjalan pelan menyusuri koridor sekolah. Aroma tanah yang basah, bercampur riuhnya suara air yang berjatuhan secara bergerombol telah menciptakan suasana syahdu.


Qonni tersenyum tipis pada mereka-mereka yang ia lewati di depan kelas masing-masing. Sampai di paling ujung perempuan itu menghentikan langkahnya. Ia berdiri di tepi lantai keramik yang sedikit basah karena terciprat air hujan yang berjatuhan. Batas di antara dua gedung tak beratap yang di jadikan akses jalan menuju lahan parkir khusus murid.


Kita terapi hujan-hujanan, yuk! Biar bisa cepet dapet anak. –Hembusan angin bercampur percikan air menghempas wajahnya yang teduh. Sekelebat kenangan yang berkaitan dengan hadirnya hujan membuat hatinya berdenyut.


Wanita dengan seragam dinas warna khaki itu menghela nafas panjang, sebelum tersenyum. Menutupi perasaan tidak nyamannya yang tiba-tiba saja merebak. Suasana sekolah masih ramai, bahkan tak sedikit dari para murid yang melewatinya sambil menyapa sopan.


Ia menepi sebentar, membiarkan mereka berlalu lebih dulu. Karena hujan sangatlah lebat, sementara perutnya sudah terlalu besar untuk berlari kecil menerobos hujan demi bisa menyebrang ke gedung selanjutnya. Membuatnya memutuskan untuk menunggu.


Beruntungnya, ada seorang murid perempuan yang membawa payung lalu mengajaknya bersama-bersama menyebrang ke gedung satunya yang berjarak tiga meter saja.


"Makasih, Ya." Qonni mengusap lengannya yang sedikit basah kena hujan.


"Sama-sama, Bu. Saya duluan, ya."


"Iya, hati-hati," ucapnya mengakhiri percakapan. Perempuan yang masih memeluk bukunya pun kembali melanjutkan langkah menuju kantor yang hanya tinggal beberapa meter lagi. Belum pula tubuhnya sampai di pintu kantor, Qonni sudah di fokuskan ke arah lain.


Seorang siswa laki-laki yang memakai sepeda dengan keranjang di depan, di tambah lagi perempuan yang sedang membonceng di belakangnya sambil tertawa. Seolah membuat dirinya kembali tertegun, mengikuti arah kedua siswa-siswi itu berjalan menerobos hujan.


Kring! Kring! Kring! Kring!


Allah... Qonni kembali melangkah hingga ke bibir lantai keramik, dekat tetesan air dari genting itu berjatuhan.


# Flashback on


Baru saja A'a pulang dari Sukabumi untuk menemui gurunya. Pria itu langsung mengajaknya keluar.


Kring! Kring! Kring! Kring!


Qonni yang baru sampai di ambang pintu di buat bingung ketika melihat suaminya sudah berdiri di bawah guyuran air hujan dengan sepeda di tangan.


"A'a mau apa? Kok malah hujan-hujanan, sih?"


"Sini deh, kita terapi hujan-hujanan, yuk! Biar bisa cepat dapat anak." Kata-kata yang sedikit tak masuk akal bagi Qonni. Namun ia tetap menurutinya, melangkah tanpa alas kaki mendekati Harun.


Pria itu mengangkat kedua tangannya, sambil memandang langit. Kemudian berdoa yang di aminkan pula oleh Qonniah.

__ADS_1


Setelah itu memegangi wajah Ayudia dan mengecup keningnya lembut. Tepat di bawah guyuran air hujan yang deras dan dingin.


"Kata Kyai Rafiq, kita coba terapi hujan berdua. Dan rentetan ikhtiar lainnya yang nantinya akan ku kasih tahu. Mudah-mudahan Allah ijabah kita bisa segera punya anak," jelasnya berusaha sekeras mungkin agar bisa di dengar isterinya. Qonni sendiri hanya mengangguk. "Udah lama nggak main hujan, jadi menggigil gini. Padahal belum ada tiga puluh menit." Harun tertawa begitu pula Qonni.


"Ini sepeda buat apa?"


"Buat muter di depan aja. Biar lebih asik." Ajaknya sambil duduk di sadel sepeda milik Ibu ART di rumah Harun.


"Takut ada geludug."


"InshaAllah, enggak. Sini bonceng aku, Bii." Harun menarik tangan Qonni pelan agar isterinya gegas duduk membonceng dirinya.


"Pelan-pelan, loh." Kedua tangan Qonni langsung melingkar di pinggang dan menguncinya di depan perut rata Harun.


"Dih meragukan A'a yang pernah jadi pemenang di lomba balap sepeda saat tujuh belasan dulu." Harun mulai mengayuh sepedanya, sambil menggoda Qonni dengan pura-pura berjalan oleng. "Eh... Eh..."


"A'a!"


"Hahaha!"


"Jangan bercanda, aku pukul nanti ya."


Plaaak...!


"Duh, Gusti nu agung, pedes beneran ini punggung A'a, Bii."


"Sukurin," runtuknya yang kemudian mencium punggung basah suaminya yang tadi ia pukul karena reflek.


Harun tersenyum jail, ia kembali mengayuh sepeda dengan gerakan cepat sambil membelak-belokan stang sepeda yang ia kayuh.


"Kyaaaaaa, A'aaaaaaaaa!" Qonni menjerit-jerit sambil memperkuat pelukannya di pinggang suaminya.


"Hujan! hujan turun, hujan! Yang deres, yang deres! Hahahaha..." Tak peduli berapa kali tangan Qonni memukul punggungnya, malah semakin gila membawa laju sepedanya.


Beberapa menit bermain sepeda, pulang-pulang Ceu Entin justru di buat melongo. Harun menuntun sepeda dengan perasaan bersalah sebab rantai yang putus.


"Eleuh... eleuh... kunaon sepeda Eceu jadi begini, Gus? Kalian abis jatuh apa gimana?"

__ADS_1


"A'a, sih!" Qonni melotot padanya yang seketika itu langsung meminta maaf.


"Maaf, ya, Ceu. Nanti pulangnya saya anterin, deh. Ini biar di benerin dulu."


"Duh Gusti... tapi Neng sama Gus Harun teh nggak papa, 'kan? "


"Kitanya mah nggak kena-napa, Ceu Entin. Ini tuh emang A'a aja yang brutal bawa sepedanya." Qonni menjelaskan sambil melirik sinis pada Harun. "Gaya, gayaan!"


"Ya Allah."


"Eceu belum mau pulang, 'kan? Abis magrib aja pulangnya ya. Nanti saya anterin, bener!"


"Iya, iya, Gus. Udah santai aja." Asisten rumah tangga yang sekaligus pengasuh saat Harun masih kecil itu tertawa.


"Tuh, Ceu Entin mah nggak bakal marah." Harun malah justru ikut tertawa, adapun Qonni sendiri hanya menghela nafas sekaligus geleng-geleng kepala.


–––


Dengan tubuh menggigil keduanya langsung mandi bersama menggunakan air hangat.


"Udah mau ashar," ucapnya sambil memeluk tubuh Qonniah yang masih berbalut handuk.


"Terus?"


"Kita sholat dulu, abis itu?" Harun mengecup bahunya.


"Sore ini?" Tanya Qonni yang paham maksudnya.


"Ikhtiar, Bii. Semoga di ijabah, lagian kamu baru selesai haid, 'kan?" Tanyanya yang di jawab dengan anggukan kepala. "Tadi Kita habis berdoa di bawah hujan juga. Dimana ada hadis yang diriwayatkan oleh Al Hakim dan Al Baihaqi. Tentang Dua doa yang tidak akan ditolak, yaitu doa ketika azan dan doa ketika turunnya hujan. Kamu tahu kan, Syaikh Al Albani juga sudah mengatakan bahwa hadis ini hasan. Jadi nggak ada salahnya habis berdoa sambil terapi hujan. Kita langsung berikhtiar lagi."


"Semoga, ya A'. Yang menjadi harapan kita selama ini terkabul. Aku takutnya, aku sendiri yang bermasalah."


"Enggak lah, jangan ngomong gitu. Aku dan kamu, pasti sama-sama tidak memiliki masalah apapun perihal kesuburan. Hanya perkara waktu, tepatnya kapan hanya Allah yang tahu."


"Iya, A'..."


Karena hujan di luar sudah reda, suara adzan pun terdengar jelas. Harun mengucap hamdalah, mereka pun gegas mempersiapkan diri untuk sholat.

__ADS_1


Setelah selesai sholat dan dzikir. Pelan-pelan Harun mulai mencumbu isterinya dengan adab yang baik. Berdoa, dan memohon kebaikan sebelum bercampur dengan Qonniah di atas ranjang mereka.


Rasa rindu yang tertumpuk setelah hampir satu minggu tak bertemu. Di tambah hawa dingin membuat permainan mereka terasa lebih hangat di bawah selimut.


__ADS_2