
Kepala Qonni masih di sesaki tanda tanya. Sebenarnya ada apa dengan Ilyas dan Bapak yang belakangan ini ia ketahui merupakan Ayah dari Fatimah. Kenapa Beliau bisa semarah itu pada Suaminya, bahkan ia yakin telinganya tak salah dengar menangkap kata, jika Fatimah sakit akibat penolakan dari Ilyas.
Sambil membawa satu kantong es batu dan handuk kecil, Qonni menghampiri suaminya. Dimana pemuda berkacamata ini sedang menemani Nisa tidur di atas ranjang.
"Sini aku kompres dulu, Mas." Perempuan itu duduk di sebelah Ilyas yang masih pada posisi berbaring miring menghadap puteri kecilnya.
"Ya ampun, Dek. Sampai di kompres segala..., Aku itu nggak papa." Sambil bangkit pelan-pelan pemuda itu duduk bersila di atas ranjang.
"Nggak papa gimana, mulai kelihatan biru loh bagian tulang pipimu," pungkasnya sambil menempelkan pelan bungkusan es tadi di bagian yang memar.
Ilyas nurut saja, membiarkan tangan lembut Ayudia Qonniah menempelkan bungkusan es batu yang dilapisi handuk kecil.
Sesekali meringis karena sakit, Pria itu tak lepasnya memandangi wajah kaku sang istri. Di sisi lain ada kesenangan tersendiri saat dirinya mendapatkan perhatian seperti ini. Ya, walau ia belum bisa membaca apakah Ayudia sudah mencintai dia atau belum. Yang pasti, perhatian kecil ini cukup membuat batinnya merasa bahagia.
Hikmah dari sebuah musibah kecil. MashaAllah... (Ilyas)
"Tadi itu, Ayahnya Fatimah ya?" Hati-hati perempuan itu bertanya, karena pria paruh baya tadi berkali-kali memanggil nama Fatimah.
"Iya benar," jawab Ilyas.
Qonni membulatkan bibir. Sebenarnya ia ingin tanya lebih dalam, tapi rasanya belum pantas untuk mengulik-ngulik hal yang berkaitan dengan suaminya di masa saat mereka belum menikah.
Benar, itu privasi dan tidak perlu ia tahu kebenarannya. Itulah adab berumah tangga, tidak usah mencari tahu masa lalu pasangan. Karena itu sama saja dengan melukai diri sendiri.
"Kamu mau tanya sesuatu?" Ilyas memancing. Ia paham, hati isterinya pasti sedang bertanya-tanya tentang kejadian tadi.
Qonni langsung menggeleng, masih tak cukup berani untuk ikut campur dalam urusan suaminya.
"Tanyakan saja kalau ada yang mau di pertanyakan. Mas pasti akan jawab, kok."
Qonni menurunkan tangan yang masih memegangi bungkusan es. Lantas membalas tatapan hangat Ilyas.
__ADS_1
"Mas ada hubungan sama Fatimah sebelum ini?" tanyanya tanpa menimbang-nimbang, bahkan ekspresi datar terpampang, menandakan sepertinya ia tak peduli jika Ilyas sampai menjawab ada.
Pria di depannya buru-buru menggeleng. Wajah polos menunjukkan kejujuran. Dan hal itu masih saja di analisa oleh Ayudia Qonniah.
"Aku nggak pernah pacaran, Dek," jawabnya segera. "Ya, Ayahnya emang pernah menawarkan Dia untuk ku nikahi, tapi Mas nggak bisa menerimanya."
Qonni terdiam. Tangannya kembali terangkat, menyibak anak-anak rambut di kening, yang membuat kelopak matanya terasa gatal. Setelah itu kembali mengompres luka dengan es batu tadi.
"Kenapa di tolak?" bertanya lagi.
"Karena nggak ada rasa lebih selain perasaan selayaknya tetangga biasa."
"Mas bilang, cinta akan datang karena terbiasa. Seharusnya Mas Ilyas terima saja wanita itu." Pertanyaan datarnya seolah menunjukkan, kalau Qonni benar-benar tidak cemburu padanya.
"Kamu benar, cinta akan datang karena terbiasa. Namun bagaimana jika aku menikahi dia sementara hati dan pikiranku tertuju pada wanita lain?"
Perempuan yang kini sedang tak memakai hijabnya bergeming. Ia tahu, siapa wanita lain itu. Karena Qonni bukannya tidak peka dengan cinta Ilyas padanya dari saat dirinya belum menikah dengan Harun. Hanya saja ia terus mengelak.
"Ada banyak pertimbangan selain karena masalah hati yang tak memilih Dia. Salah satunya masalah strata. Aku khawatir nggak bisa ngimbangin kehidupan Fatimah, Yu."
"Iya Mas setuju dengan itu, tapi kalau masalah lain? Ini menyangkut tentang harga diri Mas sebagai laki-laki juga."
Qonni mengerutkan keningnya. Tatapan penuh tanda tanya di tunjukkan.
"Sekarang boleh Mas tanya? Bagaimana jika kamu menjadi laki-laki namun di tawarin menikah hanya tinggal bawa badan. Sementara semuanya, pihak keluarga perempuan yang menanggung."
Qonni tak menjawab, bibirnya masih rapat sementara telinganya tajam mendengarkan.
"Dek, Pak Sofian itu mantan anggota dewan daerah, yang sekarang kembali bekerja sebagai dosen. Sementara Fatimah adalah anak tunggal mereka. Sudah pasti acara yang di selenggarakan akan gede-gedean. Di posisi itulah yang membuat Mas harus berpikir seribu kali jika bersedia menikah sampai akhirnya memutuskan untuk menolaknya."
Masih tidak merespon dengan kata-kata, Perempuan dihadapan Ilyas terus menjadi pendengar. Ia hanya tidak tahu, setidak enak hati apa Ilyas jika harus menjadi menantu Pak Sofian. Yang bahkan sampai menawarkan ini dan itu, mengatur ini dan itu dalam kehidupannya setelah menikah nanti.
__ADS_1
Berbeda dengan Pak Ulum. Yang tak perlu mengadakan acara besar-besaran. Cukup ijab qobul serta syukuran biasa di rumah, bahkan mahar seberapapun ia terima tanpa berargumen tinggi yang berkemungkinan akan menyinggung Ilyas. Kemudian terakhir, Pak Ulum pun menyerahkan seluruhnya tanggung jawab Beliau terhadap Qonni pada Ilyas.
"Intinya, ada beribu-ribu alasan kenapa Mas nggak bisa sama dia. Termasuk yang paling kuat adalah kamu. Aku maunya kamu yang jadi isteri ku, Dek."
Perempuan itu tersenyum tipis, kemudian bangkit sembari membawa bungkusan es yang ia gunakan untuk mengompres.
Berbarengan dengan berdirinya Qonni, Ilyas turut bangkit dan kemudian memeluknya dari belakang. Kontan, tubuh perempuan itu kaku. Kedua tangannya menggantung begitu saja di sisi kanan dan kiri.
"Mas salah ngomong, ya?" tanyanya sambil membenamkan wajah di bahu sang istri.
Hembusan nafas terdengar jelas di telinga perempuan dengan rambut sepunggung yang di ikat ekor kuda. Tak hanya itu, debaran jantung Ilyas juga bisa ia rasakan. Efek dada yang menempel di punggungnya.
Qonni menggigit ujung bibirnya sendiri, kemudian menggeleng pelan.
"Mas itu hanya ingin memperjuangkan cinta yang di awal sudah tumbuh. Tujuannya agar saat menikah tidak menyakiti pasangan ku. Dan kamu, adalah pilihan hatiku yang sesungguhnya. Nggak salah, 'kan?"
Perempuan dalam dekapan Ilyas terdiam di sisi lain ia paham. Nyatanya, dulu juga ia tak bisa menerima Ilyas karena perkara hati yang lebih memilih Harun. Sekarang, siapa sangka dirinya tetap berjodoh dengannya.
"Kalau Fatimah melangitkan doa yang sama, bagaimana, dan kita berpisah?" Tiba-tiba saja kepikiran hal seperti itu. Mengingat, dirinya berpisah mati dengan Harun hingga akhirnya bisa bersama dengan Ilyas sekarang.
Kata-kata Qonni membuat pelukan Ilyas semakin kuat. Ia mencium bahu sambil beristigfar.
"Aku mencintai Kamu. Cuma mau kamu, Ayudia. Udah ya, jangan membayangkan sesuatu yang nggak baik. Karena, yang perlu kamu ketahui. Mas, melangitkan doa ketika kamu masih gadis. Setelah itu, Mas hanya mengharapkan kamu bisa menjadi pasangan hingga menua bersama Harun."
Qonni bergeming, tatapannya mengarah pilu ke pintu kamar yang terbuka. Sejauh ini, Ilyas memang tak terlihat memaksa. Pertemuan sebelum-sebelumnya juga hanya beberapa bulan sekali. Pun tanpa di sengaja. Karena Ayahnya juga tak setiap saat memakai jasa service Ilyas.
Takdir memang sesuatu yang tidak terduga. Hari ini kita membenci seseorang, siapa sangka esoknya dia menjadi laki-laki yang harus ia taati setelah Allah SWT dan Rosulullah Saw.
Di luar, terdengar suara motor bebek milik Ibnu. Ilyas lantas melepaskan pelukannya, kemudian memutar tubuh Qonni agar mengahadapnya.
Sebuah kecupan kilat mendarat di bibir hingga perempuan itu terhenyak. Bersamaan dengan senyuman Ilyas seraya mengusap bibir manis sang isteri.
__ADS_1
"Mas keluar dulu ya. Makasih banyak udah ngompres luka ku." Mengusap kepala yang tak berhijab, pria itu gegas melenggang keluar kamar yang di barengi dengan helaan nafas tanpa menimbulkan suara dari Qonniah.
Sekarang Mas Ilyas udah nggak pake izin lagi kalau mau cium... –Batinnya yang masih merasa terkejut.