Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Luapan Emosi


__ADS_3

Masih sambil meruntuk, Fatimah terisak-isak. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu ingin pergi kemana. Namun berada di rumah saat ada dua orang tadi hanya akan membuat hatinya semakin sakit.


Walau sejatinya ia tak seharusnya seperti itu bersikap. Nyatanya, hati yang serasa di remas-remas tidak bisa bersandiwara. Kini langkah satu-satunya hanya menghindar. Dan berharap saat pulang nanti pasangan baru itu sudah pergi dari rumah sebelah.


Fatimah membawa laju mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalan yang masih lengang karena waktu yang terbilang pagi. Lebih-lebih ini adalah weekend.


Karena terlalu kalut, ia tak menyadari adanya sebuah motor seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba keluar dari dalam gang dan asal nyebrang begitu saja.


"Astaghfirullah al'azim." Fatimah banting stir, demi menghindari mobilnya menabrak wanita yang sedang memboncengkan seorang anak perempuan.


Naas, posisi mobil yang masih melaju cepat membuat rodanya tergelincir. Mobil pun terbalik dan terseret hingga beberapa meter.


***


Qonni menyiapkan sarapan paginya bersama Ilyas. Sementara Nisa sendiri kini sedang bermain dengan para Om-nya di ruang tamu.


Tawa riang Ibnu dan Abas terdengar hingga ke dapur. Suasa rumah yang terasa hangat, dan lengkap. Ilyas bersyukur, akhirnya rumah ini bisa tersentuh wanita lagi.


"Udah selesai..." Qonni mematikan kompornya. Sementara Ilyas pun sudah selesai menyiapkan teh hangat.


Pria itu mengusap kepala isterinya gemas. "Kayanya enak. Mas mau coba dikit, ya."


"Iya," jawabnya sembari mengulurkan sendok makan kepada suaminya.


Pria itu gegas menyendokkan nasi berwarna kecoklatan yang masih mengepul di dalam wajan penggorengan. Lantas mencicipinya sambil mengucap bismillah.


"Eeemmm..., mashaAllah. Enak, Dek," pujinya berkata jujur.


"Beneran?" Qonni terlihat antusias dengan respon Ilyas yang diimbuih anggukan kepala, plus acungan jempol.


"Hebat loh, isteri aku masaknya. Mau ambil piring, aaah. Mas nggak sabar mau makan." Pria itu berlalu, mengambil piring untuk dirinya sendiri.


"Ini di pindah dulu, Mas. Nanti kita makan sama-sama."


"Iya deh. Mas udah keburu ketagihan jadi lupain Ibnu sama Abas." Terkekeh sambil garuk-garuk kepala.


Meletakkan piring ke atas meja, pria itu beralih mengambil piring saji. Posisinya menengadah sambil memegangi piring, sementara Qonni yang memindahkan nasi gorengnya dari wajan ke piring saji.


Kini semua bulir nasi berbumbu itu sudah pindah tempat. Mereka berdua pun bersiap untuk makan bersama.


Namun karena Qonni ada Nisa ia pun berniat untuk menundanya. Tapi, bukan Ilyas jika dia membiarkan sang istri keluar tanpa menyantap sarapannya. Pria itu meminta sang istri untuk duduk sembari memangku Nisa. Sementara dirinya menyuapi sang istri dan dirinya sendiri secara bergantian.

__ADS_1


Selesai menikmati makan pagi. Ilyas kini sedang mencuci peralatan makan dan masaknya di dapur, sementara Qonni sedang mempersiapkan Nisa untuk di mandikan.


Perempuan dengan kuncir yang tak terlalu tinggi ini melepaskan pakaian puterinya satu persatu. Hingga sang suami dengan kaos oblong dan sarungnya muncul.


"Dek, airnya udah siap. Nisa mau di mandiin sekarang?"


"Iya, Mas."


"Sini aku aja yang mandiin."


"Emang, Mas Ilyas bisa?" Tanya Qonni ragu.


"Bisa lah. Dulu aku pernah mandiin Abas. Karena Bapak sakit, dan ibu sibuk dagang nasi pecel. Jadi aku yang jagain Abas saat masih balita."


"Tapi kan itu udah lama sekali. Aku khawatir Nisa jatuh ke bak."


"Ya enggak lah. Sini, aku pengen mandiin si cantik..." ucapnya sebelum mencium pipi tembam Nisa. "Setelah ibunya."


"Maaas..." Qonni malu-malu, ia mendorong wajah Ilyas yang mencoba untuk menciumnya sambil menggoda. Pria itu terkekeh, mendekap tubuh polos Nisa di dada sebelum berlalu.


Perempuan itu menghela nafas. Perlahan, ia mulai merasakan kenyamanan berada di dekat suami keduanya. Karena jika di pikir-pikir pria itu memang sangat perhatian. Maka akan sangat tidak adil jika dirinya terus memikirkan Harun.


Namun sayup-sayup terdengar suara tangis bercampur langkah cepat menghampiri pintu.


Tokkk tokkk tokkk! Suara ketukan yang kasar membuat tubuh perempuan itu terperanjat.


"Heh, keluar kamu. Ilyas!" Suara memekik di luar terdengar bringas.


Ada apa ya? –Qonni bangkit sambil menyambar kerudungnya, dengan ragu-ragu melangkah keluar menghampiri sumber suara.


"Ilyas, keluar kamu!"


Suara gedoran pintu masih terdengar nyaring. Kebetulan Abas dan Ibnu baru saja keluar mengantarkan monitor komputer yang sudah selesai di service Ilyas tadi malam, setelah hampir dua minggu menginap di rumahnya.


Pelan-pelan pintu terbuka. Qonni melihat sepasang suami-isteri berdiri di depan pintu. Berbeda dengan pria yang terlihat murka di hadapannya, sang isteri justru terlihat menahan Suaminya dengan isak tangis.


"Mana Ilyas?" Tanyanya dengan nada sedikit menghentak.


"Di–di dalam," jawabnya gemetar.


"Ada apa, Pak?" Sembari menggendong putrinya yang terbungkus handuk. Pria itu menghampiri pintu.

__ADS_1


"Sini, kamu! Dasar laki-laki brengsek!"


"Sabar, Yah. Istighfar..." Bu Sofian masih menahan lengan Suaminya yang menegang.


Ilyas berusaha tenang, lantas menyerahkan Nisa pada sang istri. Setelah itu mendekati Pak Sofian.


Cuuuiiih! Pria paruh baya itu meludahi Ilyas secara tiba-tiba. Tentu hal itu membuat Qonni melebarkan ke-dua bola matanya melihat sang Suami di perlakukan seperti itu.


Berbeda dengan respon Bu Sofian dan Qonni yang terkejut, Pemuda itu justru hanya diam saja, mengusap pipinya yang terkena air liur.


"Dasar nggak tahu diri. Puas kamu, menyakiti Fatimah? Nggak cukup apa?! Kamu melempari kotoran ke muka Saya. Dan sekarang kamu sengaja pamer kemesraan hingga anak saya jadi celaka!"


"Istighfar, Pak. Tenangkan diri Bapak dulu. Ini sebenarnya ada apa? Saya benar-benar nggak ngerti." Hati-hati Ilyas bertanya.


"Kamu nggak ngerti, apa pura-pura nggak ngerti." Pak Sofian mencengkram pakaian Ilyas di bagian dada sebelum melayangkan sebuah bogem mentah.


"Ayah! Astaghfirullah al'azim..." Sang istri histeris kembali menahan lengan Suaminya.


"Ya Allah, Mas Ilyas." kedua kaki Qonni kaku. Masih mendekap erat Nisa, Ia tidak bisa kemana-mana.


"Dasar laki-laki miskin nggak tahu diri. Gara-gara kamu menolak Fatimah dan memilih perempuan lain, anak saya jadi sakit. Sekarang kamu malah bawa istri kamu ke sini. KAMU SENGAJA KAN, PAMER KEMESRAAN DI DEPAN FATIMAH. KAMU TAHU APA YANG TERJADI PADANYA, HAH! DIA KECELAKAAN. DAN INI SEMUA GARA-GARA KAMU LAKI-LAKI BRENGSEK!"


"Innalilah... Fatimah kecelakaan? Di mana Pak?"


"Tidak usah menampilkan wajah sok peduli. Kamu pasti puas, 'kan?"


"Ayah, udah. Sebaiknya kita ke rumah sakit bukan malah kaya gini. Malu, Yah. Malu diliat orang." Sang istri masih melerai.


Belum lagi, beberapa pria paruh baya menghampiri mereka untuk melerai.


"Biarin aja! Laki-laki nggak punya pendirian kaya dia ini harus di kasih paham!"


"Pak, Saya benar-benar minta maaf kalau memang saya salah. Tapi saya benar-benar nggak bermaksud demikian."


"Heh!" Pak Sofian kembali mencengkram baju Ilyas. Sementara tatapnya bengis mengarah pada pria berkacamata itu. "Kamu harus ingat ya. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Fatimah? Saya tidak akan memaafkan kamu!"


Pak Sofian melepaskan cengkeramannya kasar, setelah itu melenggang pergi. Meninggalkan Ilyas yang masih terpaku di depan pintu.


Karena hal ini, para tetangga mendadak berkerumun. Kasak-kusuk mulai terdengar dari bibir mereka. Dua orang bapak-bapak yang turut melerai berusaha memeriksa kondisi Ilyas yang terkena pukulan.


Namun dengan senyum tabah, Ilyas mengatakan kalau dia tidak apa-apa. Adapun hatinya mulai merasa tak tenang. Memikirkan kondisi Fatimah saat ini.

__ADS_1


__ADS_2