
Baru sampai tangga, Aida langsung menghampiri pasangan baru itu. Rasa rindunya karena beberapa hari ini sibuk mempersiapkan pernikahan sang puteri bungsu membuat Beliau buru-buru mengambil alih, menggendong Nisa yang sedang berada dalam dekapan Ilyas.
"Walah, kangennya. Uti dari kemarin sibuk, jadi nggak ngurusin..." Wanita paruh baya itu mencium pipi Nisa yang tembam tersebut, setelahnya fokus pada Ilyas dan Qonni. "Kalian mau ke atas?"
"Iya, Bu. Mas Ilyas mau ganti baju," jawab Qonni.
"Yo wes. Ini biar sama Ibu..."
"Eemmm..." Qonni gelagapan. Ia pun berusaha kembali mengambil anaknya. "Sini Nisannya, Bu. Aku cuma bentar kok nganterin Mas Ilyas sampai pintu kamar."
"Aiiiih..." Aida mengibaskan tangannya. "Ndak boleh gitu, Nduk. Kamu juga harus nyiapin pakaiannya. Beresin juga baju-baju Dia. Biar dapat ridho suamimu."
"Tapi?"
"Wis, sana! Ibu mau bawa Nisa keluar. Yo, Nduk. Kita jalan-jalan sebentar."
"Ibuuu?" Panggil Qonniah.
Ia pun melirik ke segala penjuru. Mencari kakak perempuannya karena sejak tadi tidak terdengar suaranya bersama Aina dan Kak Arifin. Padahal mobil mereka masih ada.
Ayah juga nggak keliatan, kenapa mereka kaya kompak menghilang gini sih. Rumah jadi mendadak sepi. Kembali dia menoleh kearah Ilyas yang tidak mengatakan apapun selain tersenyum kaku.
"Udah Adzan, Yu," Ilyas menunjuk kearah atas. Memperjelas suara adzan yang baru saja ia dengar. Perempuan itu pun pasrah.
"Ya udah, ayo kita naik, Mas." Ajaknya sembari melangkahkan kaki.
...
Setelah pintu kamar di buka, aroma lavender dari pengharum ruangan otomatis yang ia hirup sudah menyambut. Bercampur wewangian perlengkapan bayi. Qonni mempersilahkan Ilyas masuk lebih dulu.
"Beginilah kamarku, Mas. maaf agak berantakan diarea ranjang Nisa."
"Nggak papa, Dek. Emmm..." Pria berkacamata itu mencari-cari sesuatu. "Tas aku dimana, ya?"
"Ada di dalam lemari. Mas mandi aja, nanti biar aku siapin."
"Kalau begitu aku mau ambil sarungnya aja."
"Emmm... sebentar," jawabnya gugup. Qonni melangkah pelan menuju lemari, sementara Ilyas sendiri menoleh kebelakang. Melihat pintu kamar masih terbuka iapun menutupnya rapat, bahkan menguncinya sekalian.
__ADS_1
Setelah membuka lemari dan mengeluarkan tas ransel milik suaminya. Wanita yang menggunakan gamis rumahan motif bunga itu meletakkan tas tersebut keatas ranjang. Terdiam sejenak untuk berpikir.
Rasanya kok aneh, ya? Buka-buka tas Beliau. –batinnya masih memandangi tas tersebut. Ilyas yang sudah gemas buru-buru mendekati, lalu membuka tasnya sendiri.
"Sarungnya ada disini..." ucapnya setelah membuka resleting bagian depan lantas mengeluarkan kain bermotif kotak-kotak.
Pria itu menoleh kearah perempuan yang hanya tertunduk. Pelan-pelan mengangkat tangan, menyentuh pipi Qonniah dengan lembut, hingga kedua tangan perempuan itu saling meremas.
"MashaAllah, aku mau mengucapkan terima kasih, Yu. Kamu telah bersedia menjadi isteri ku." Pemuda itu mendekati kening Ayudia, dan menciumnya. "Mas sudah boleh 'kan? Manggil kamu sayang?"
Qonni yang hanya tertunduk diam saja, tidak mengiyakan ataupun menolak. Ia hanya bingung saja harus merespon yang seperti apa. Sebab, rasanya sangat aneh saja ketika kata sayang terucap dari laki-laki itu.
"Nggak boleh, ya?" tanyanya yang lantas membuat kepala Qonni terangkat.
"Apa hakku melarang kamu untuk memanggil ku itu?"
Ilyas tersenyum tipis, tatapannya tertuju pada area yang menimbulkan getaran. Yaitu bibir pink alami yang terlihat ranum dan segar milik Qonni. Pria itu menepisnya, tak ingin terburu-buru. Sudah di izinkan mengecup keningnya saja sudah untung.
"Aku mandi dulu, ya. Nanti kita sholat di sini aja. Soalnya kalau ke masjid pasti udah terlambat."
"Iya, Mas," jawabnya lega. "Siniin kacamatanya. Biar aku simpan dulu."
Satu tangannya yang semula mengusap lembut pipi kini berpindah ke pucuk kepala Qonni. Sebelum melangkah pelan, menuju pintu kamar mandi yang berada di ujung ruangan.
Klaaaaap. Pintu tertutup dari dalam, perempuan itu menghempaskan pelan bokongnya keatas ranjang.
Lagi-lagi hatinya merasa bersalah pada Harun, karena telah memasukkan laki-laki lain ke dalam kamar yang seharusnya hanya ada satu laki-laki yang berhak bebas beraktivitas di sini. Yaitu Harun, namun sekarang justru sudah tidak lagi. Ilyaslah yang kini memiliki kunci aksesnya.
Bahkan, bingkai foto pernikahannya dengan Harun pun sudah di turunkan dari tempatnya tadi malam. Sebuah keputusan yang membuatnya berpikir di beberapa hari terakhir ini. Sekarang, foto tersebut telah tersimpan, di tempat lain. Yang hanya Qonni sendiri yang tahu.
Ya, Dia sudah memiliki kehidupan baru dengan laki-laki lain. Pria yang jauh sebelum ini ia tolak mati-matian. Siapa sangka, malah justru berstatus suami yang wajib ia taati.
Sambil menghapus air matanya. Qonni meletakkan kacamata tersebut di atas meja, lalu mengeluarkan semua pakaian Ilyas dari dalam tasnya. Termenung cukup lama, ia meletakkan salah satunya di atas pangkuan.
Ini bukan baju Aa... bukan.
Tes ... tes... kembali ia menyeka air mata. Bibirnya bergetar sebab tangis yang kembali pecah.
"Astaghfirullah al'azim, Qonni. Kamu nggak boleh gitu, nggak boleh..." Masih berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Ia pun buru-buru merapikan pakaian Ilyas, meletakkan beberapa potong pakaian tersebut ke dalam lemari yang sudah di kosongkan.
__ADS_1
Dan meninggalkan setelan yang pas untuk pria itu kenakan sore ini. Setelahnya bergegas keluar dari dalam kamar, tanpa menunggu Pria di dalam kamar mandi, selesai bebersih.
Baru beberapa detik yang lalu pintu tertutup, Ilyas membuka pintu kamar mandi. Mata pemuda itu menyalang, melihat keadaan kamar yang sepi hanya tersisa pakaiannya di atas ranjang.
"Ayu kemana? Apa dia keluar dulu, dan ambil wudhu di bawah? Atau jangan-jangan dia takut aku keluar cuma pake anduk?" Pria itu tertawa gemas.
Padahal dirinya tetap memakai sarung dan kaos putih sebelum keluar dari tandas. Karena, mau gimana juga dirinya masih belum berani se-fulgar itu di hadapan perempuan yang baru saja ia halalkan. Ilyas geleng-geleng kepala, mendekati baju Koko yang sudah siap untuk ia kenakan. Setelah itu mencoba untuk mencari isterinya lebih dulu. Karena ia pun sudah janji akan sholat ashar bersama.
...
Malam harinya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh... Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Keduanya telah selesai menjalankan dua rakaat shalat Sunnah witir di kamar.
Ilyas menoleh, ia mengulurkan tangannya pada Qonniah yang di sambut dengan takzim, dan menyambung dengan dzikir kemudian.
Ilyas yang telah selesai memimpin dzikir langsung memutar badan, beralih fokus pada satu helai rambut Qonniah yang keluar. Kemudian memasukkan rambut tersebut ke dalam mukena sambil memandangi wajah yang terus-menerus mengalihkan tatapannya.
"MashaAllah... Aku tuh sayang banget sama kamu, isteri ku." Ilyas menggenggam tangan kanan Qonni dan menciumnya lama.
Sementara netra cantik milik Ayudia bergerak-gerak, menahan kristal bening yang tertampung. Menyoroti kepala Ilyas yang condong, masih dalam posisi mencium tangannya. Sebelum kembali terangkat hingga ke-dua pasang mata mereka saling mengunci, dalam keheningan kamar yang ber-AC.
Dalam jarak wajah yang teramat dekat, membuat Ilyas memberanikan diri untuk mencium bibirnya.
Allah... Allah...
Qonni tegang, seperti belum bisa menerima hal itu dari Ilyas yang semakin mendekati wajahnya dengan netra yang perlahan menutup.
Belum pula menempel, perempuan itu langsung menghindar, ia memalingkan wajahnya. Yang kontan membuat Ilyas bergeming kembali membuka matanya.
Nafas dan jantungnya sudah benar-benar kuat memompa. Perempuan dihadapannya kembali menoleh pada Ilyas.
"Astaghfirullah al'azim, maaf, Mas."
Pemuda itu tertawa lirih. Mengusap pipi Qonni dengan lembut. Setelahnya mengangguk paham.
"Nggak papa... Mas yang minta maaf karena terlalu terburu-buru."
Dengan perasaan tak enak hati karena sudah menolak ciuman dari suaminya. Wanita itu tertunduk, namun buru-buru di rengkuh oleh Ilyas. Pemuda itu tersenyum, hatinya merasakan kebahagiaan yang teramat, manakala dirinya telah resmi memperistri gadis yang amat ia cintai tersebut.
__ADS_1