Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Curahan hati


__ADS_3

Ilyas membawa langkah pelannya itu menuju tempat tinggal sederhana. Rumah satu lantai yang tak begitu besar, namun cukup tertata rapi walau hanya di huni tiga orang pria.


Tubuhnya yang lunglai ia hempaskan ke sofa ruang tamu, pria itu memijat keningnya. Memikirkan tentang jawaban tadi membuat dia jadi di timpa rasa tidak enak hati pada pria berwibawa yang selama ini amat baik padanya.


"Baru pulang, Mas?" Ibnu keluar dengan rambut yang sedikit gondrong ia kibas-kibaskan kebelakang.


Pria yang duduk di sofa tak menjawab, kepalanya masih pening memikirkan hubungannya dengan keluarga Pak Sofian setelah ini.


Dalam hati, Ibnu berpikir, apakah Kakaknya sedang di timpa masalah yang rumit? Apa mungkin, preman itu mengancamnya lagi?


"Mas?" Ibnu bertanya sekali lagi.


"Ya, Nu." Ilyas menjawab setelah menghembuskan nafasnya berat. Sementara tangan kanannya melepaskan peci untuk mengipasi diri.


"Ada apa? Kayanya lagi bingung banget?"


"Nggak tau nih. Mas Ilyas cuma lagi ngerasa nggak enak hati aja."


"Nggak enak hati kenapa?" Ibnu bangkit sambil mengangkat sedikit sarungnya, kemudian pindah di sebelah Ilyas.


"Adalah, pokoknya perasaan lagi nggak enak."


"Pasti soal Mas Juple?" Tebaknya.


"Bukan-bukan. Masalah itu udah bener-bener selesai. Ini soal lain, Nu."


"Masalah motor?" Tanyanya semakin penasaran. Ilyas sendiri menggeleng.


"Soal Fatimah dan keluarganya," jawabnya kemudian.


"Mbak Fatimah? Ada apa emangnya?"


Ilyas menghembuskan nafasnya lagi. Dadanya masih terasa sesak, sebab merasa tak enak hati pada tetangga terdekatnya itu.


"Kamu tahu, selama ini Pak Sofian minta, Mas, buat ngelamar anaknya."


"Hah! Serius?" tanya Ibnu yang malah justru melebarkan senyum. "Terus-terus? Mas, terima?"


"Enggak, Nu," lirihnya sambil tertunduk menekuri peci rajut di tangan.

__ADS_1


"Kok, enggak?"


Pria berkacamata itu melirik. "Mas nggak ada rasa sama Fatimah."


"Loh, kok bilangnya gitu? namanya juga belum mengenal lebih dalam, Mas. Cinta akan datang setelah Mas hidup dalam satu atap dengannya. Kenapa nggak nyoba di jalanin?"


"Kamu ini gimana, sih, Nu. Menikah 'kok coba-coba?"


"Bukannya coba-coba. Maksud Saya, Mas Ilyas terima sambil berusaha mencintai Dia."


Ilyas menghela nafas, andai semuanya segampang itu mungkin ia sudah menjawab iya untuk Fatimah. Nyatanya, hati ini untuk Ayudia dan Nisa. Mau bagaimana lagi?


"Saya yakin, sih. Bukan perkara nggak ada rasa, tapi lebih tepatnya? Mas Ilyas pasti bingung soal maharnya. Iya 'kan?" tebak Ibnu yang hanya mendapatkan respon lirikan mata. "Apa keluarga Pak Sofian minta mahar yang besar nominalnya, Mas?"


"Enggak, Nu. Bahkan Mas Ilyas nggak di wajibkan untuk keluar dana sedikitpun kalau benar-benar menikahi Fatimah."


"Nah, bagus itu. Keluarga Pak Sofian emang bener-bener baik, Mas."


"Kamu mikir gitu?"


"Iya, lah... Ketika seorang bapak menawarkan putrinya. Plus, nggak membebani pihak laki-laki dengan mahar yang besar. Bukankah itu rezeki Mas? Jarang-jarang loh ada yang kaya gitu..."


Ilyas menghela nafas sambil beranjak. Kemudian berjalan pelan hingga ke ambang pintu. Sorot matanya nampak sayu memandangi jalan yang masih di lalui kendaraan, baik roda dua ataupun roda empat.


Pria berkacamata itu masih bergeming. Tengah berpikir, bagaimana cara untuk mendeskripsikan isi hatinya. Bukan karena tidak bersyukur, atau mungkin terlalu memilih. Pasalnya, nama Ayudia Qonniah sudah tertambatkan lebih dulu. Lain cerita jika memang benar-benar masih kosong. Atau mungkin, jika saja Harun masih ada mungkin ia tidak akan berpikir dua kali soal menikahi Fatimah. Lagi-lagi bukan perkara Dia cantik dan anak orang kaya, melainkan gadis itu memang pas untuk di jadikan madrasah pertama bagi anak-anaknya kelak.


"Bonusnya, nih, Mas? Dia Anak satu-satunya dari orang paling kaya di kelurahan ini. Coba...? Buat apa mikir lagi..." imbuh Ibnu yang belum selesai berbicara. Ilyas pun geleng-geleng kepala sambil mengencangkan kacamatanya.


"Nu... Nu.... Punya isteri dari keluarga kaya itu nggak gampang. Lagian, laki-laki itu nggak bisa terlalu bergantung pada pihak perempuan."


"Tapi, kan? Mereka yang menawarkan."


"Iya tahu, tapi menurut Mas. Rasanya kaya nggak etis. Menikah, tapi Mas cuma tinggal duduk aja untuk berakad. Lagian, justru Mas Ilyas ngeri kalau belum apa-apa sudah di kasih modal besar."


"Kayanya, sih. Untuk ukuran Pak Sofian nggak akan mungkin mengungkit-ungkit. Apalagi Bu Janah. Nggak ada tuh, gambaran tukang gibahin mantu..."


Mendengar itu Ilyas hanya tersenyum tipis. Ia bukannya su'udzon, tapi takut aja kalau terlalu bergantung. Apalagi mereka sama-sama manusia biasa yang tak terlepas dari khilaf.


"Lagipula, kalau Mas mau pakai modal sendiri. Kan tinggal minta waktu buat nabung, apa susahnya, sih?"

__ADS_1


"Mungkin bisa, Nu. Masalahnya bukan hanya perkara dana nikahan."


"Terus?" Ibnu mengangkat satu alisnya.


"Gimana, ya, ngomongnya?" Ilyas menggaruk kepalanya sendiri.


"Udah ngomong aja, Mas. Sama adek sendiri pake tertutup gitu," pancing Ibnu.


"Ini semua karena adanya hati lain yang lagi Mas Ilyas perjuangin, Nu."


Ilyas akhirnya mengatakan alasan pasti kenapa ia menolak Fatimah. Kini tinggal Ibnu yang bungkam. Kalau sudah urusan itu sih, akan lain ceritanya. Pria yang masih menyandar di kerangka pintu kembali menghela nafas.


"Sudah bertahun-tahun Mas menautkan hati untuk perempuan ini. Dari dia masih gadis, lalu di nikahi teman sendiri. Dan sekarang, ia sudah menjadi janda dengan satu anak."


Mendengar itu, Ibnu seperti tengah menduga sahabat mana yang sudah menikah dan meninggalkan satu anak dan isterinya di dunia.


"Perasaan Mas Ilyas belum berubah, Nu. Dan justru semakin kuat, karena adanya anak yang sudah membuat Mas jatuh hati untuk menganggapnya sebagai anak."


"Apa, wanita ini isterinya A' Harun?" Tanya Ibnu. Pria berkacamata itu menoleh kearah pemuda yang masih serius mendengarkan pernyataan Kakaknya. Dan mengangguk pelan.


"Itu yang memberatkan ku untuk mempersunting Fatimah, Nu. Mas, teramat ingin menjadikan dia isteri, karena Mas juga sangat ingin berdekatan dengan anaknya. Kamu tahu sendiri 'kan?sebab siapa anak itu jadi yatim sebelum lahir? Mas cuma mau, mencurahkan seluruh kasih sayang sebagai seorang Ayah untuknya."


"Tapi, ini kan takdir, Mas? Mas nggak bisa terus beranggapan kalau A' Harun meninggal karena Mas Ilyas."


"Iya, Mas tahu, Nu. Makanya, Mas bingung bagaimana cara mendeskripsikan perasaan tidak wajar ini. Karena Mas sendiri pun tidak paham. Intinya, terlepas dari rasa bersalah ini, Mas nggak bisa berbohong kalau Mas sangat menginginkan perempuan itu untuk di jadikan isteri."


Ibnu garuk-garuk kepala. Kali ini Dia paham, kenapa sosok religius di hadapannya itu tak kunjung menikah sampai sekarang. Rupanya karena adanya perempuan itu di hatinya.


"Dan saat di suruh melamar Fatimah pun, Mas mikir...., bagaimana kalau cinta tak kunjung hadir? dan sebaliknya, selama proses menumbuhkan cinta ini, justru di nodai dengan isi kepala ku yang masih penuh dengan nama lain. Apa nggak dzolim nantinya?"


"Iya juga sih..." Ibnu membenarkan. "Ya udah, kalau kata aku mending Mas istikharah dulu aja."


"Sudah, Mas lakukan berkali-kali."


"Lalu apa udah dapat jawabnya?"


"Samar..."


"Laaah?"

__ADS_1


"Ada dua mimpi yang datang. Satu, Aku bermimpi Fatimah hadir namun dalam posisi membelakangi. Mimpi keduanya Sosok Fatimah yang tengah ku dekati, namun justru menjauh dari ku. Itulah alasan, kenapa akhirnya Mas mantap untuk tidak memilihnya."


Ibnu menghela nafas, mungkin saja sejatinya mereka memang tak berjodoh. Ya, mau bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa memaksakan kehendak jika takdir telah di tuliskan.


__ADS_2