
Pagi menyingsing hari. Di luar langit temaram menemani perempuan itu tengah memasak nasi goreng untuk seluruh anggota keluarga yang ada di rumah ini.
Tangannya menggenggam spatula, sementara tatapannya gamang mengarah kedepan. Qonni sedikit melamun, bayangan tadi malam terngiang-ngiang. Perasaan bersalah karena merasa telah mengkhianati Harun terus merejam-rejam jiwa.
Padahal tidak seharusnya, ia terus beranggapan melayani suami yang sekarang adalah sebuah pengkhianatan pada suami sebelumnya. Karena ketika kematian telah datang, maka terputuslah semua urusan di dunia.
Kembali ia mengusap matanya yang berlinang. Mencoba untuk menghilangkan perasaan tak nyaman setelah aktivitas yang ia lakukan bersama Ilyas tadi malam.
Sepasang tangan mengejutkannya yang tiba-tiba melingkar di pinggang. Ayu menjatuhkan spatula di tangan, lantas menyadari suaminya ada di belakang dia sekarang.
"Masak apa, kecium ampe luar loh harumnya."
"Mas, nanti diliat Abas sama Ibnu." Khawatir akan di lihat adik-adik iparnya. Tangan Ayudia bergerak-gerak, meminta untuk di lepaskan.
"Mereka lagi rapat remaja masjid. Ini Mas pulang duluan, Dek." Mencium bahu, setelah itu turun mengambilkan spatula yang tergeletak di lantai keramik warna putih.
Qonni terpekur, sosok laki-laki dengan busana sholat lengkapnya tengah membolak-balik nasi yang ada di dalam penggorengan.
"Kamu udah bisa nyalain kompor abunawas ini??" tanya Ilyas. Perempuan itu menggeleng.
"Tadi kan Mas Ilyas masak air, jadi nggak ku matiin sampai selesai bikin bumbu," jawabnya polos. Yang tentunya bikin jiwa emak-emak meronta-ronta sebab gas yang terbuang percuma, hehehe.
"Oh," bibir Ilyas membulat. Ia mencicip nasi gorengnya kemudian manggut-manggut. "Pokoknya nasi gore Ayudia, nggak pernah gagal."
Senyum merona di tunjukkan Ayu. Ia membiarkan pekerjaannya di ambil alih sang Suami. Sementara dirinya menarik sajadah yang masih menggantung di bahu.
"Sekalian ya, Sayang." Ilyas melepaskan kokonya meninggalkan kaos putih polos di tubuh.
"Pecinya, Mas?" Menunjuk peci rajut di kepala Ilyas.
"Ini biar aja. Masih betah," jawabnya sambil memindahkan nasi goreng ke piring saji. Qonni mengangguk, ia melenggang pergi keluar dari dapur.
***
Hari ini perempuan itu izin tidak mengajar. Karena tidak membawa seragam dinasnya, kalaupun harus kembali pasti akan menghabiskan waktu lama.
Sambil menghubungi sang ibu melalui panggilan video. Qonni bercengkerama dengan sang anak yang lincah dan menggemaskan dengan pakaiannya yang lucu.
"Dede maafin Ummi, ya. Ummi jagain Abi dulu..."
"Emang Ilyas belum sehat, Nduk?" Tanya Bu Aida yang sedang memangku cucunya.
"Udah agak enakan sih katanya, Bu. Ini malah lagi di luar, nyapu halaman."
"Suamimu itu rajinnya emang ngalahin Ayahmu, Kok. Sama-sama nggak bisa diem buat istirahat."
Mungkinkah termasuk minta jatah? Mas Ilyas sampe nggak bisa nunggu benar-benar sembuh. Saking aktifnya. –Qonni tersenyum tipis, tatapan bergeser sebentar pada laki-laki yang sedang menyapa semua orang yang lewat dengan wajah sumringah, bahkan dengan pedagang yang tak ia kenal pun tak luput mendapatkan sapaan ramah itu.
Gimana nyapunya bisa cepet selesai, kalau semua orang di sapa satu-satu. Di ajak ngobrol juga... (Qonniah)
"Nduk!"
"Ya, Bu?" Kembali menggeser pandangannya ke layar gawai. "
"Nanti beli sabunnya Nisa ya. Tadi ibu lihat udah tinggal dikit."
__ADS_1
"Iya, Bu. Nanti Qonni mampir." Kembali fokus pada kamera. Qonni berceloteh riang dengan anaknya yang telah banyak ketawa pagi ini.
–––
"Yakin mau ke Babelan sekarang, Mas?" Qonni menutup resleting tasnya setelah selesai menyemprotkan parfum ke tubuh.
"Iya, Sayang. Kasian Nisa kalau kelamaan di tinggal." Di usapnya kepala Qonni. "Tadi kamu bilang mau mampir ke minimarket dulu?"
"Iya, Mas. Sekarang waktunya belanja bulanan."
"Ah, gitu..." Ilyas manggut-manggut seraya meletakkan sisir ke atas meja. Setelah itu mendekati tas ranselnya, mengeluarkan sesuatu. "Ini sayang."
Di ulurkannya sebuah amplop berisi uang dan juga kartu ATM.
"Ini apa?"
"Gaji ku seluruhnya. Sama ini yang di amplop, uang dari hasil kerja sampinganku yang lain-lain."
Qonni menggeleng, "jangan, Mas. Aku kan ada penghasilan ku sendiri. Mas Ilyas harus pegang uang Mas sendiri."
"Ya Mas tahu kamu ada, Sayang. Tapi yang namanya nafkah itu kewajiban. Ini hak kamu, jadi pegang ya. Aku pengen ngerasain, keuangan yang di atur sama isterinya."
"Kasih aja aku seberapapun. Jangan semuanya."
"Emang kenapa, sih?" Ilyas terkekeh, "aku udah bilang ingin menyerahkan semua urusan keuangan sama kamu."
"Tapi, nanti gimana dengan kebutuhan Abas?"
Ilyas tersenyum, "itu gampang sayang. Sami'na wa'atona. Uang yang di kamu, tetaplah di kamu. Soal Abas, Mas percayakan kepada Allah. Jadi, ambil ya."
Pria itu menyerahkan amplop dan kartu ATM miliknya. Dengan ini ia ridho, mau di apakan uang itu.
"Untuk, apa?"
"Buka aja," pintanya sekali lagi. Yang mau tak mau, Ilyas akhirnya menuruti. Pemuda itu membuka dompetnya.
Qonni tercengang, ketika isi dari dalam dompet Ilyas terpampang jelas di depan mata. Ya, tak ada seperak pun uang di dalam dompetnya itu.
Qonni buru-buru membuka amplop, ada sekitar tiga juta di sana. Ia pun mengambil asal, mungkin separuhnya atau lebih. Ia memasukkan uang tersebut ke dalam dompet Ilyas.
"Dek, apa ini? Nggak usah."
"Pegang, Mas!" Qonni menutup paksa dompet hitam di tangan suaminya. Membuat laki-laki itu tertegun. "Namanya suami istri, suamiku juga berhak megang uang. Jadi pakai ini untuk keperluan Mas Ilyas."
"MashaAllah, tapi Mas itu masih bisa dapat uang harian loh, Dek. Makanya ini Mas kasih ke kamu semua."
Qonni menggeleng. "Simpan uang itu. Titik!"
Gegas pemuda itu merengkuh tubuh sang istri. Menciumi kepala yang tertutup hijab. Aroma wangi yang ringan membuat Ilyas betah menghirupnya.
"Makasih Sayang. Maaf, kalau aku belum bisa kasih lebih ke kamu."
Perempuan itu menggeleng. "Selagi Mas Ilyas mengizinkan aku bekerja. InshaAllah, aku akan selalu cukup dengan seberapapun yang Mas kasih."
Pria berkacamata itu tertegun sejenak. Kemudian melepaskan pelukannya. Di tatapnya sepasang mata berbulu lentik itu. Kehangatan ia tunjukkan, membelai Cepol rambut yang tertutup kain hijab.
__ADS_1
Ayu sepertinya sangat mencintai pekerjaannya. Kalau suatu saat aku minta Dia untuk berhenti, bagaimana? Karena, sejujurnya. Aku lebih suka isteriku full mengurus rumah tangga. (Ilyas)
"Mas?" Panggilnya membuat lamunan singkat Ilyas buyar. "Udah semakin siang. Bahkan satu jam lagi masuk waktu Dzuhur.
"Iya, Dek."
Qonni menyentuh kening suaminya untuk memastikan bahwa demamnya sudah benar-benar sembuh.
"Gimana, udah baik-baik aja 'kan?" Tanya Ilyas sembari mengunci pinggang isterinya menggunakan kedua tangannya.
"Iya, Mas." Mengangguk. Syukurlah...
"Mas belum ngucapin makasih."
"Buat?" Satu alisnya terangkat.
"Buat yang semalam," jawabnya berbisik di telinga Qonni. Sontak perempuan itu mendorong pelan dada suaminya yang sedang terbahak semakin erat memegangi pinggang isterinya.
"Kenapa harus di ingetin?"
"Siapa yang ngingetin. Kan cuma bilang makasih."
"Ya kan aku jadi ingat. Lagi..."
"Loh emang kenapa kalau ingat lagi?" Masih terpingkal karena ekspresi cemberut Ayudia Qonniah.
Pria itu langsung menyambar bibir manis Ayu, bermain sebentar yang jika di hitung-hitung lebih dari sepuluh menit.
"Lipstik ku hilang," protesnya lagi setelah ciuman di lepaskan.
"Hahaha, Masih merah, kok, sayang."
"Merah apanya? Yang ada pindah ke bibirmu semua tuh."
"Masa?" Ilyas melongok kecermin. Benar, bibirnya jadi turut merah. Ia pun tertawa. "Jadi seksi gini..."
"Apaan sih, Kamu?" Qonni memukul dada rata milik suaminya.
"Ya udah ku balikin, nih." Bukannya melepaskan sang isteri. Ia justru kembali melanjutkan aksinya, berciuman sampai puas.
–––
Beberapa menit bercanda di dalam kamar. Mereka sudah keluar rumah. Ilyas langsung mengunci pintu karena keadaan rumah kosong. Tenang, dari tiga bersaudara itu semuanya memegang kunci rumah masing-masing. Jadi tidak perlu meninggalkan kunci di luar agar siapapun yang pulang lebih dulu masih bisa masuk.
Ilyas mendekati motor, memasangkan helm untuk isterinya walau sudah di bilang, Qonni bisa memasangnya sendiri. Nyatanya laki-laki itu kekeuh, helm pun terpasang sempurna keduanya naik secara bergantian.
Dan ketika kedua tangan Ilyas memegangi tangan Qonni, menariknya maju. Hingga kedua tangan sang istri mengunci di bagian perutnya yang rata. Sebuah mobil melintas, kemudian berhenti di depan pagar rumah Pak Sofian.
Di dalam mobil itu, Fatimah tertegun. Tatapannya terarah pilu pada sepasang suami-isteri tersebut.
Di sisi lain, Qonni seperti hendak turun menyapa wanita yang baru saja pulang dari rumah sakit. Namun di tahan Ilyas.
"Kita mau jalan, Dek." Buru-buru Ilyas menyalakan mesin motor.
Sengaja ia menjaga jarak, Ia tak ingin hubungannya dengan Keluarga Pak Sofian semakin keruh. Walau niat Qonni baik. Nyatanya tak semua orang bisa memahami dengan pemikiran positif kan?
__ADS_1
Motor melaju, pelan. Sembari menekan klakson ia menyapa Bu Sofian yang sedang membuka pintu pagar besi.
"Pamer!" cibir Pak Sofian setelah laki-laki itu lewat. Sementara di belakang, gadis itu tertunduk sambil meremas gawai di atas pangkuan.