
Usai bercerita, muncul perasaan tenang di dada perempuan berhijab syar'i itu. Siapa di sangka, pribadinya yang tak terlalu alim seperti penampilan Fatimah rupanya memiliki kata-kata yang cukup menghentakkan hati. Membuatnya berpikir, tak salah telah membagi keluh kesah pada perempuan yang usianya hanya berbeda tiga tahun lebih tua.
Tentu sikap bijaksana Qonni sendiri pun tak otodidak ada pada dirinya, ia bisa menanggapi curahan hati rekan sesama guru tersebut dengan kata-kata yang lempeng. Sepertinya, berkat kasih sayang Allah yang mendekatkan dia pada orang-orang saleh seperti Ustadz Irsyad, dan anak-anaknya. Ataupun kakak perempuan dan Ayah. Tentu ia bersyukur dengan itu.
Saat ini perasaan senang telah menghinggapi hati Fatimah, ketika dada menjadi lebih lapang menyikapi masalah yang tengah menderanya. Ia meyakini, ini semua bukan karena Qonni, namun melainkan kemurahan Allah yang telah memberikan sarana terbaik untuknya membuka sesuatu yang terpendam. Karena, sejatinya memendam masalah sendiri juga tidak baik, bukan?
Kini dengan perasaan lebih lega, Fatimah bisa jauh lebih lepas ketika mengajar. Tidak seperti kemarin-kemarin dan bahkan pagi ini yang menurutnya kehilangan nyawa di depan murid-murid.
🌸🌸🌸
Siang bergulir, beranjak menuju sore. Ilyas yang baru selesai dengan pekerjaannya langsung buru-buru mendatangi sebuah pondok pesantren tempatnya menimba ilmu saat masih MTS hingga MAN. Karena di masjid Abdul Aziz lah, acara Tabligh Akbar akan di selenggarakan.
Motor berhenti di tengah kerumunan orang-orang yang bekerja, mempersiapkan sarana dan Prasarana demi suksesnya acara besok pagi. Salah satu temannya yang sudah tiba lebih dulu menyapa Ilyas dengan senyum lebar.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam warahmatullah– MashaAllah, MashaAllah... Imron." Ilyas buru-buru melepaskan helm sambil turun dari atas kendaraan. Kemudian memeluk pria dengan Koko gamis warna putihnya.
"Ahlan wa sahlan."
"Ahlan bika...." jawab Ilyas menepuk-nepuk bahu pria dalam pelukannya. "Senangnya bisa melihat Antum lagi setelah bertahun-tahun betah di Tarim. Kirain malah jadi menetap di sana, karena Antum nikah sama santri asal Indonesia yang kuliah di sana juga."
Pria dihadapannya terkekeh. "Sebetah-betahnya hidup di Negeri orang. Tetap rindu kampung halaman, Yas."
"MashaAllah–" gumam Ilyas pada pria yang pernah menjadi sahabat satu kamar di pondok ini. Sekarang pria dihadapannya sudah menjadi seorang guru yang mengajar fiqih empat Mazhab di Tarim. Maklum lah, di banding Ilyas. Sosok Imron memang terkenal paling serius mendalami ilmu agama.
Tatapan Ilyas menyapu sekeliling, seperti tengah mencari seseorang. Kemudian beralih kembali pada Imron.
__ADS_1
"Ustadz Akhri mana?" Tanyanya rindu pada sosoknya, yang dulu pernah berstatus sebagai santri senior plus pengawas santri yang menurutnya paling friendly di antara yang lain.
"Ada di dalam, sedang bersama anak-anaknya," jawab Beliau sambil menunjuk kearah belakang menggunakan ibu jari. Ilyas manggut-manggut menanggapi. Ia sendiri takjub dengan perubahan pondok yang semakin baik, semenjak di pegang oleh Ustadz Akhri Mumtaz Zulkarnaen.
"Omong-omong, berapa lama Antum di Indonesia?" tanyanya kemudian.
"Entahlah, soalnya selain kontrak kerja saya baru saja habis. Sekarang ini Ustadz Akhri sedang mengutusku untuk turut membantunya disini. Karena beliau sedang fokus mengurus isterinya yang lagi sakit keras."
"Sakit? Sakit apa?"
Pria di hadapannya mendekati dan berbisik. "Kanker–"
"Innalilah..." Ilyas terkejut, sudah lama tak menyambangi pondok tempatnya menuntut Ilmu dulu, ia malah mendengar kabar buruk.
Padahal rasa prihatinnya belum hilang saat mendengar kabar perceraian Ustadz Akhri dengan isteri pertamanya, empat tahun lalu. Sekarang, ia harus mendengar kabar menyedihkan lagi, jika isteri beliau yang sekarang sedang sakit.
"Ya udah, saya mau menyapa Ustadz Akhri dulu, ya."
"Monggo–" Ilyas tersenyum, kemudian melangkahkan kaki sambil membenahi kacamata.
***
Selesai dengan urusan di Pondok Abdul Aziz. Ilyas baru tiba dirumahnya pukul sembilan malam.
Saat ini, ia melihat rombongan bapak-bapak baru pulang dari rumah tetangga, hanya tinggal beberapa orang saja sih. Mungkin yang pulang paling terakhir setelah menyelesaikan obrolan mereka.
Salah satunya Pak Sofian yang berada di paling belakang tengah menenteng besek untuk dirinya, karena pria yang tadi berjalan bersama beliau sudah sampai lebih dulu, jadi kini pria paruh baya itu sendirian.
__ADS_1
"Pak–" pemuda berkacamata tersebut menyapa Pak Sofian dengan sopan. Seperti bapak-bapak lain yang melaluinya barusan. Namun, tak seperti orang-orang tadi. Pak Sofian justru tak menanggapi, beliau terus saja berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
Tentunya, sikap Pak Sofian tak ayal membuat Ilyas merasa semakin tak enak hati, bahkan sampai menimbulkan prasangka di benaknya. Pemuda itu terus memandang pria dengan Koko putih, berjalan semakin menjauh hingga terdengar suara gerbang yang di buka, Pak Sofian pun masuk kedalam rumah berpagar besi tersebut.
Helaan nafas panjang terdengar. Ilyas berusaha berprasangka baik pada tetangga sebelahnya. Mungkin Pak Sofian tidak mendengar sapaannya barusan. Walau bagi Ilyas cukup keras dan jelas, namun siapa tahu jika pria paruh baya itu sedang melamun 'kan?
Gegas dirinya menuntun motor masuk ke dalam rumah yang sudah di buka lebar oleh sang adik.
"Mas, Pak Sofian kok jadi beda ya sama kita?" tanya Abas yang melihat hal tadi.
"Kenapa mikir gitu sih? nggak boleh su'udzon." Ilyas terus mendorong motor hingga masuk ke dalam ruang tamu.
"Habis, tadi pas saya lagi nyapu halaman Beliau marah-marah."
"Marah-marah gimana? Emang kamu buat salah?"
"Kalau buat salah, Saya rasa nggak? Orang cuma nyapu biasa. Tahu-tahu Pak Sofian keluar sambil bawa air se-ember. Terus nyiramin tahan yang lagi di sapu pake air tersebut, sambil ngomel-ngomel; katanya debu dari rumah kita masuk semua ke rumahnya."
Ilyas bergeming dalam hati ia beristighfar. Menepis hal-hal buruk yang menghantam hatinya.
"Musahabah, Bas. Kali aja bener. Bisa jadi Pak Sofian emang lagi nyantai, terus kamu nyapu halaman rumah. Yang otomatis debunya mengganggu Beliau."
"Iya kali ya?" Abas garuk-garuk kepala. Kalau benar, ia juga jadi merasa tak enak.
"Tapi udah minta maaf, kan?"
"Udah, Mas. Saya langsung minta maaf dan Pak Sofian nggak jawab apa-apa langsung pergi gitu aja."
__ADS_1
"Ya udah, sebaiknya besok-besok kalau nyapu tanah di sirami air dulu. Biar debunya nggak bikin polusi. Ini kan lagi kemarau, debu jadi lebih mudah beterbangan."
"Iya, Mas," jawab Abas yang kembali fokus meraih gawai di atas meja. Ilyas sendiri menghela nafas. Masih berusaha berprasangka baik terhadap tetangganya itu. semoga saja hubungannya dengan keluarga Fatimah tetap baik-baik saja.