
Pria dengan peci warna putih membuka pintu rumahnya. Senyum Kyai Irsyad melebar menjawab salam dari keponakannya yang tiba-tiba hadir, membuat suasana hatinya menjadi lebih bahagia.
"Barakallah..." Menyambut kedatangan pasangan suami-isteri dan anaknya dengan suka cita. Irsyad langsung menggendong Nisa kemudian meminta keduanya untuk masuk.
***
Di dalam...
Dua cangkir teh di hidangkan, beserta kue-kue kering dalam toples.
"Pakde, Qonni jadi ngerepotin," mata perempuan itu tertuju pada suguhan yang berjajar di atas meja.
"Halaaah, ngerepotin gimana? Orang cuma teh sama kue. Kecuali kalau kamu pesen bakso baru, tuh—" Tubuh sepuhnya berguncang karena tawa. Di susul dua orang yang duduk di hadapan Irsyad.
"Di minum...," sambungnya kemudian sambil menggendong Nisa lagi.
Ilyas dan Qonni mengucapkan terima kasih tangan kanannya meraih gagang cangkir dan menyesap sedikit teh hangat buatan Kyai Irsyad.
"Alhamdulillah, nikmat sekali," ucap Ilyas merasa senang.
"Yo nikmat, wong buatan pabrik." Pria paruh baya itu tertawa. Sembari menghempaskan bokong ke permukaan sofa. "Gimana kondisi, Mu, Le?"
"Alhamdulillah, udah baikan, Kyai. Udah mulai nggak begitu nyeri lukanya," jawab Ilyas.
"Syukur— alhamdulillah kalau begitu. Musibah memang nggak ada yang tahu. Yang terpenting jangan pernah lupa bahwa ini adalah salah satu nikmat yang Allah berikan untukmu."
"Alhamdulillah, iya, Kyai," jawab Ilyas sopan.
Sejenak Irsyad menggeser pandangannya pada Alzah yang terlihat sibuk mengeluarkan satu-persatu mainannya ke ruang tamu.
Beberapa mobil-mobilan berukuran besar kini berjejer di sebelah tembok. Tak lupa robot-robot juga, turut berdiri di antara para mobil-mobilan tersebut.
"Beginilah hiburan Pakde kalau lagi ke Jakarta. Nontonin cucuk lagi jadi pemimpin pasukan perang," tuturnya sembari terkekeh.
__ADS_1
"Pasti hal seperti ini yang membuat Magelang lebih sepi, ya, Pakde?" Tanya Qonni.
"Iyo, Nduk. Namanya juga jauh dari cucuk dan anak-anak, yo mestinya sepi. Tapi tetep Alhamdulillah, ke tolong santri yang banyak. Jadi ya— nggak begitu kesepian," jawabnya, yang di hadapan Beliau pun manggut-manggut.
Masih fokus pada Alzah yang tengah memilihkan mainan, kemudian di serahkan pada Nisa yang berada di pangkuan sang Kakeknya. Setelah itu mencium pipi Nisa berkali-kali tanpa henti.
"Ya ampun, sweet-nya Kakak Alzah," puji Qonni hingga membuat anak laki-laki itu tersenyum malu-malu.
Sesungguhnya, Alzah memang sangat menyukai anak kecil. Mungkin karena di usainya yang hampir menginjak delapan tahun, putra sulung Debby dan Rumi ini belum juga mendapatkan seorang adik. Sehingga kasih sayangnya terhadap anak yang usianya lebih muda sering kali terlihat.
Gelak tawa ringan masih memenuhi ruangan. Pembicaraan basa-basi terus berlangsung di rumah itu. Hingga saat adzan Magrib terdengar, Irsyad yang menggandeng tangan Alzah, dan Ilyas bergegas menuju masjid yang tak jauh dari kediaman Kyai Irsyad. Yang kini sudah di huni Rumi dan Debby.
....
Satu jam berlalu, mereka bertiga pulang. Bahkan saat tiba di rumah, Irsyad sudah melihat mobil yang di bawa Rumi tadi. Pertanda jika anak dan menantunya sudah kembali.
Saat ini, para laki-laki tetap menyambung obrolan di luar. Sementara Debby dan Qonni mengobrol ringan di ruang tengah. Membahas A sampai Z. Dimana anak perempuan yang lucu itu tengah di gendong Debby.
"Ayo dong, Kak. Kasih adik buat Alzah," godanya sambil terkekeh.
"Sudah sangat menginginkan, Dek. Tapi nyatanya aku udah tiga tahun ini progam hamil. Dan Alhamdulillah belum dikasih lagi. Doakan aku ya..." Wajah putih bersihnya tetap berseri, tersorot cahaya lampu yang terang di ruangan itu.
"Aku selalu mendoakan, Kak. Emmm– maaf, ya, Kak. Tanpa sadar bibirku malah menceletuk sesuatu yang sensitif."
Debby tersenyum lebar. Mengusap lengan Qonniah. "Nggak papa, Dek. Kaya apaan aja. Aku santai kok orangnya—"
Qonni menghela nafas, mendadak merasa tidak enak hati pada perempuan yang masih asik memegangi Nisa. Dimana anak itu terus melompat-lompat girang dengan kedua tangan area ketiak di pegangi Debby.
Kembali pada yang di luar. Mereka membasah soal isu-isu yang sedang ramai di perbincangkan oleh dunia, atau bahkan masalah pemilihan umum serentak Negara ini. Bahkan saking seriusnya, kening-kening mereka sampai berkerut.
Irsyad melirik kearah Ilyas. Saat semua bahasan sudah habis Beliau jadi mengingat sesuatu.
"Le, masih suka ambil orderan barang elektronik?"
__ADS_1
"Alhamdulillah masih, Kyai. Ya, nggak yang gede sih. Yang pretelan aja. Seperti RAM, hard disk Drive, DVD writer. Pokoknya yang kecil-kecil lah," jawab Ilyas antusias.
"Ada niatan mau buka toko, nggak?" tanyanya lagi.
"Waduh–" Ilyas cengengesan. "Kalau keinginan pasti ada, Kyai. Tapi dagang barang seperti itu, modalnya besar sekali, belum lagi sewa rukonya. Untuk saat ini belum kepikiran, Kyai."
Irsyad manggut-manggut, tubuhnya sedikit condong mengambil cangkir berisi air mineral.
"Saya denger bisa service juga, Mas?" Tanya Rumi yang duduk di sebelah Ilyas.
"Alhamdulillah–" jawabnya. "Kalau sekarang sih, lagi nggak menerima jasa service. Mungkin karena lebih sering tinggal di Babelan. Jadi agak susah untuk nerima panggilan jasa service."
Dari sana, Rumi mulai tertarik. Ia pun bertanya-tanya soal masalah yang sering terjadi pada laptopnya, ataupun pada komputer milik bawahan Beliau di kantor. Tentunya, dengan ilmu pengetahuan yang memadai Ilyas menjelaskan. Apa-apa saja yang menjadi kemungkinan laptop sering mati sendiri, dan lain sebagainya. Rumi mendengar dengan seksama, bahkan Beliau sampai bertukar nomor telepon guna membahas lebih dalam.
Hingga tak terasa adzan Isya berkumandang. Mereka lantas bersiap menuju masjid terdekat.
Selesai menjalankan ibadah sholat Isya. Qonni dan Ilyas berpamitan mengingat waktu sudah malam. Nisa bahkan sudah sedikit rewel akibat kantuk.
Keluarga Irsyad mengantar hingga ke depan pagar. Sampai motor yang di tunggangi pasang suami-isteri beserta anak mereka melaju pergi. Kini, Irsyad menggandeng cucuknya masuk lebih dulu, meninggalkan Rumi dan Debby yang masih tertahan memandangi kendaraan roda dua yang telah menjauh dari pandangan.
Helaan nafas panjang terdengar dari bibir Debby. Membuat sang suami menoleh kearahnya.
"Kenapa ya, kalau liat anak balita selalu membuatku ingin punya anak lagi. Apalagi anak perempuan, aku pengen punya anak perempuan, Kak," gumamnya dengan tatapan masih terasah pada jalanan kosong yang disinari lampu.
Pria di sebelah tersenyum. Tangan Rumi meraih tangan isterinya, menautkan jari-jari mereka, kemudian mengecupnya sebelum di tempelkan ke dada.
"Sabar— kita, 'kan, lagi ikhtiar."
"Iya, Kak— dan aku tetap bersyukur kok. Karena aku hanya menunggu anak kedua. Sementara Tante Mer, belum juga di kasih sampai saat ini."
Rumi hanya diam saja. Benar yang di katakan isterinya. Sejak pernikahan kedua Tante Maryam dan Habib Bilal yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun, keduanya belum juga di beri momongan. Hal itu pasti lebih membuat batin wanita berusia tiga puluhan lima tahun itu tertekan. Walau sejatinya keluarga Habib Bilal tak pernah menyinggung soal anak padanya.
"Masuk, yuk," ajak Rumi yang di jawab anggukan kepala dari sang isteri. Mereka pun masuk, tak lupa menutup dan mengunci pagar rumahnya kembali.
__ADS_1