
Suasana ruangan nampak hening, sementara gadis yang masih bertahan untuk menguping pembicaraan orang tuanya menanti dengan was-was. Bibirnya terus bergumam membaca doa agar laki-laki itu mengiyakan. Maka, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Pak, Bu. Saya benar-benar amat tersanjung dan berterima kasih sekali. Karena Bapak sampai sebegitu baiknya, mempercayai saya untuk meminang anak perempuan satu-satunya yang bapak dan ibu miliki."
Fatima meremas tangannya sendiri di depan dada. Jantungnya pun saat ini sedang memompa lebih cepat dari biasanya. Tak sabar, menunggu jawaban Ilyas.
"Tapi apakah benar-benar sudah di pikirkan matang-matang?" Ilyas membidik satu persatu dari mereka yang ada di hadapannya. Paling lama pada Pak Sofian. "Saya cuma pemuda sederhana yang bekerja sebagai guru honorer loh, Pak. Gaji saya, tak lebih dari enam ratus ribu. Sisanya, saya juga seorang pria yang membuka jasa service alat elektronik sebagai tambahan. Pun itu nggak menentu hasilnya, Pak. Apakah bapak dan ibu ridho, anaknya di nikahin sama pemuda miskin kaya saya?"
Bu Janah tersenyum. "Kami itu tak melihat calon mantu dari seberapa tinggi jabatan, atau mungkin seberapa pundi-pundi uang yang ia kumpulkan. Kami melihat kamu dari keimananmu. Anak kami butuh suami yang bisa membimbingnya sampai ke surga. Dan, saat kami memilih kamu, tentunya itu sudah dalam pertimbangan kami, Nak."
Pemuda berkacamata itu mulai gelisah. Menggaruk pelan keningnya dengan jari telunjuk, sementara keringat mulai muncul di dahi.
"Jadi gimana, iya? Atau nggak?" Pak Sofian mulai menangkap gelagat Ilyas yang tak biasa. Pemuda itu pun kembali mengangkat kepalanya, pelan-pelan menghadap Pak Sofian.
"S–saya rasa, saya tidaklah pantas untuk Fatimah, Pak."
Keduanya langsung membeku, walau pun Ilyas belum menjawabnya secara gamblang. Namun katanya tadi itu sudah memunculkan dugaan. Wajah Fatimah sontak berubah sendu, kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kamu bilang tidak pantas?" Bu Janah langsung bertanya.
"Strata kami, Bu. Sudah sangat jauh bandingannya."
"Tapi kan saya berkali-kali bilang, kalau kamu nggak perlu mikir itu." Pak Sofian mulai berbicara dengan nada penekanan. "Kita nggak permasalahkan soal status sosial mu. Dan lagi, kalau kamu bingung masalah uang untuk pesta pernikahan? Nggak perlu khawatir. Saya yang menjamin semuanya, kamu tinggal duduk sambil jabat tangan penghulu. Udah kelar!"
Dengan entengnya Pak Sofian berkata demikian membuat Ilyas kembali tertunduk. Itulah yang ia permasalahkan. Padahal yang ia mau adalah menikah dengan biaya sendiri, bukan biaya dari orang tua apalagi calon mertua.
"Sekarang apalagi yang kamu pikirkan? Soal mahar? Cari aja cincin tembaga atau kawat yang kamu bentuk sebagai cincin bila perlu. Kalau kamu nggak mampu beli yang, Emas!" Pak Sofian mulai geregetan dengan pemuda yang masih terpekur di hadapannya. Sementara sang istri mulai menyentuh tangan suaminya menenangkan.
__ADS_1
"Mohon maaf, Pak. Saya bukannya lagi memikirkan itu." Ilyas mulai kembali membuka suara.
"Terus?" Suara Pak Sofian mulai lantang. Raut wajahnya mulai berubah tak suka.
"Bukankah dalam pernikahan kita tidak boleh dzolim terhadap pasangan? sejujurnya saya hanya takut, saya akan melukai hati Fatimah karena adanya orang lain di hati saya."
Perempuan yang masih menguping pembicaraan diluar mulai menitikkan air mata saat mendengar pengakuan Ilyas. Satu tangannya meremas hijab di bagian dada.
"Apakah wanita yang kamu maksud itu, adalah wanita yang belum merespon lamaran mu?" Tanya Pak Sofian, seketika ingat sepotong obrolan di rumah tetangga yang mengadakan kenduri waktu itu. "Kamu mau menolak yang sudah ada? Dan menghabiskan waktu untuk perempuan yang tidak jelas."
"Saya sudah berusaha, Pak. Untuk menghentikan perasaan saya. Nyatanya semakin saya berusaha, justru semakin kuat jeratannya."
"Ayolah, Nak..., buka matamu. Kurang merendah apa kami di hadapan mu?" Pak Sofian kembali menurunkan egonya, bahkan sampai menepuk dadanya sendiri.
Ilyas menghela nafas, mendadak sesak di buatnya. Keringat dingin semakin menumpuk di kening dan tengkuknya. Yang ia pikirkan hanya Ayudia dan Ayudia. Mau bagaimana lagi...
Fatimah mulai tidak mampu lagi mendengarkan. Gadis itu buru-buru melenggang pergi sambil membungkam mulutnya.
Adapun di luar, Pak Sofian mulai jengah dengan kata-kata Ilyas. Pria itu mengecak gusar.
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya. Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya sangat-sangat menghargai tawaran Bapak dan ibu. Saya sangat-sangat bersyukur sekaligus berterima kasih... Bapak dan ibu mau menyerahkan putri kesayangan kalian untuk saya. Namun mau bagaimanapun juga, saya tidak bisa memaksakan hati saya untuk Fatimah."
Selesai bicara, ruangan kembali hening sebab baik Pak Sofian ataupun Bu Janah tidak lagi menanggapi. Hingga hal tersebut membuat pemuda berkacamata itu tenggelam dalam perasaan kikuknya.
"Mohon maaf, adakah lagi yang ingin di sampaikan, Pak? Jika tidak, saya mohon pamit."
Bu Janah berusaha tersenyum walau sedikit kecut, kemudian mengangguk mempersilahkan pemuda itu untuk pulang. Adapun Pak Sofian masih diam saja dengan wajah masam, terus berpaling dari pemuda di hadapannya.
__ADS_1
"Baiklah, Saya pamit Pak, Bu. Terima kasih atas suguhan dan sambutan hangatnya." Pria itu bangkit mengulurkan tangannya pada Pria paruh baya yang sama sekali tak membalas jabatan tangan Ilyas.
Pemuda itu paham, pasti Pak Sofian sangat kecewa dengan jawabannya tadi. Beralih pada Bu Janah. Ilyas menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, kali ini wanita paruh baya itu membalasnya dengan senyuman juga walau tak sehangat saat kedatangannya tadi.
"Assalamualaikum–" pemuda yang masih menggunakan Koko putih dan sarung itu berpamitan keluar.
"Walaikumsalam, Nak." Bu Janah menjawabnya, sementara Pak Sofian masih bergeming tak merespon.
"Emang dasar pemuda nggak tahu diri!" Runtuk Pak Sofian pada pria yang sudah keluar dari pintu.
"Pak, jangan ngomong gitu. Kedengeran nanti," bisik Bu Janah merasa khawatir sendiri.
"Biarin, bagus kalau dia masih bisa denger. Emang anaknya nggak tahu diri, kok. Yang kaya gitu di sukai? Gayanya doang sok alim, tapi hatinya pemilih. Udah pas itu, miskin nggak tahu diri. Buta sih kayaknya dia..., dikasih yang pasti malah nolak. Cih!"
"Astaghfirullah al'azim," Ilyas yang sedang memakai alas kakinya bergumam tanpa suara.
Ia tak menyalahkan Pak Sofian jika harus mengatakan itu. Mungkin memang benar, ia termasuk laki-laki tidak tahu diri dan buta akan cinta yang belum benar-benar berhak ia resapi. Jujur, Ilyas pun tengah memaki dirinya sendiri. Karena, kurang apa gadis itu? Sudah baik, terjaga, dan lagi... ia memiliki pendidikan agama yang mumpuni. Orang manapun akan memandang dia sangat bodoh, sementara yang melamar Fatimah pun rata-rata orang-orang hebat? Semua di tolak demi dirinya, namun sekarang Ia juga menolak gadis sebaik itu?
Langkah Ilyas gontai menyusuri jalan berpaving di halaman rumah Pak Sofian menuju gerbang keluar.
Sementara itu, dari dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Fatimah membuka gorden. Dengan air mata berderai, gadis itu menyentuh jendela kaca. Memandangi punggung pemuda yang tengah berjalan pelan menuju pagar rumahnya untuk keluar.
"Mas Ilyas– Hiks...., Mas?" gumamnya memanggil nama pemuda itu.
Dan entah hal apa yang membuat pria itu menoleh ke arah jendela kaca kamar Fatimah. Di sanalah Fatimah buru-buru menutup gorden tersebut. Menghindari tatapan sendu penuh penyesalan yang di arahkan untuknya dari Ilyas.
Tak lama, Ilyas kembali membalik badannya pada posisi awal. Setelahnya keluar dari halaman rumah besar tersebut.
__ADS_1