
Perempuan dengan setelan Tunik dan rok plisket itu melangkah masuk kedalam rumah sederhana milik keluarga suaminya. Wajahnya yang lesu berusaha ia sembunyikan walaupun masih sedikit terbaca oleh sepasang mata berbingkai kaca di hadapannya.
"Kenapa sayang?" Tanya Ilyas yang sedang menggendong Nisa.
"Kenapa apa?" tanyanya sambil meletakkan bungkusan berisi diapers yang baru saja ia beli ke atas meja.
"Itu kok kaya di tekuk gitu mukanya? Ada sesuatu saat ke warung tadi?"
"Enggak, kok," jawabnya sambil mempermainkan kuku.
Ilyas menghela nafas, langkahnya pelan mendekat dan duduk di sisinya. Kebetulan rumah saat ini sedang sepi, karena Abas ada kegiatan di luar sementara Ibnu dagang.
"Kalau nggak ada apa-apa, nggak mungkin dong saat ke warung ceria, kemudian baliknya begini," bujuknya.
Ini nih, pelakunya. Yang udah bikin anak orang jatuh cinta. Akhirnya aku yang kena sasaran...
Qonni melirik sebal kearah suaminya. Ia lantas menarik telinga Ilyas secara tiba-tiba hingga pria itu mengaduh.
"Kok, Mas di jewer sih?" protesnya sambil mengusap-usap telinganya, bingung sendiri. Sementara Qonni masih terlihat jengkel terhadapnya.
"Dasar nggak bertanggung jawab!"
"Kok?" Semakin bingung Ilyas di buatnya. "Nggak tanggung jawab gimana sih, maksudnya?"
"Coba bayangin aja, ada seseorang yang terang-terangan nyatain perasaan cintanya ke pasangan mu lewat kamu? Gimana coba rasanya?"
"Maksudnya?"
"Iiisssh!" Qonni kembali menjewer telinga Ilyas, kali ini lebih lama hingga pria itu berteriak lirih minta ampun. Di samping itu, gelak tawa Nisa malah justru pecah.
"Sakit, Dek...." Ilyas mengusap telinganya yang memerah. "Emang siapa sih yang di maksud?"
"Nggak tau lah! Pikir aja sendiri," bangkit, langkahnya yang sedikit di hentak-hentakkan melangkah masuk.
"Dih, kenapa ya? Apa aku bikin salah?"
Bingung sendiri, ia pun menoleh ke arah Nisa. Dimana saat mata mereka saling bertemu, Nisa malah justru tertawa lagi.
"Abi di jewer, Nak. Kamu malah ketawa?" Anggukan kepala Ilyas membuat anak itu kembali tergelak.
Ilyas pun mencium pipinya gemas, kemudian bangkit sembari membawa sang anak masuk ke ruangan tengah.
...
Di dapur...
Sambil menggendong Nisa, Ilyas mengekor di belakang Qonni yang mondar-mandir merapikan piring dan gelas yang sudah di cuci ke rak. Saat berbalik beberapa kali, Ilyas sengaja berdiri di depannya menghadang sembari nyengir.
"Awaaaas!" Sergahnya lirih seraya menyingkirkan tubuh Ilyas dengan tangannya yang kecil.
"Dek jangan gitu dong. Mas kan bingung kalau kamu kaya gini." Masih mengekor di belakang Qonni.
"Kalau bingung pegangan!" sambarnya ketus dengan tangan meranggai piring yang berada di dalam baskom.
__ADS_1
"Ya udah sini pegangan." Di raihnya tangan satunya milik Qonni sebelum turut jalan bersama.
"Ini apa, sih?" Perempuan itu menghentikan langkahnya.
"Katanya di suruh pegangan?" timpalnya bernada bercanda. Namun buru-buru di lepaskan ketika mata Qonni mengarah tajam padanya. "Hehehe..."
Qonni menghela nafas, ia meletakkan piring terakhir ke rak. Lalu dudu di atas kursi meja makan. Di ikuti Ilyas kemudian, menarik pelan kursinya keluar dan duduk berhadapan.
"Jelasin dulu— kamu kalau marah gini ya? Kan aku bukan dukun yang bisa langsung tahu isi hatimu, sayang."
"Tadi udah di jelasin," balasnya.
"Yang mana di jelasin? Mas, nggak paham?"
"Fatimah."
"Kenapa jadi bawa-bawa Fatimah, Dek?"
Qonni menghela nafas, sebenarnya ia sudah janji untuk tidak menceritakan tentang percakapan mereka tempo hari. Namun melihat sikap dingin Fatimah selama berminggu-minggu ini, membuatnya tidak nyaman. Hingga membuatnya harus menegur sang suami. Walaupun ia tidak tahu, siapa yang salah di sini.
"Kamu sebenarnya beneran pernah ada hubungan apa nggak sih sama Fatimah?"
"Ya Allah, kan aku udah bilang— nggak ada, Dek. Masa nggak percaya sih?"
"Tapi kenapa Dia bisa sampai sedalam itu mencintai kamu?"
"Eh..."
"Aku–aku jadi merasa bersalah." Qonni bertopang dagu.
"Tapi, kalau ada yang lebih mencintaimu kenapa tidak kamu pilih yang mencintai, ketimbang harus menunggu di cintai...?"
Ilyas menghela nafas. "Kamu ada pembicaraan dengannya?"
Qonni membisu, hanya sekali melirik setelah itu berpaling lagi.
"Dek, nggak ada yang bisa memaksakan hati. Sama halnya aku nggak bisa maksa hati kamu untuk milih aku, dulu."
"Tapi..."
"Apa?" Di belainya kepala yang tertutup hijab segi empat berwarna karamel tersebut dengan lembut.
Tatapan Qonni mengarah pada Ilyas, netranya yang kecoklatan itu mengilap. Ia tidak mungkin mengatakan betapa gadis itu teramat mencintainya. Karena, ini bukan drama dalam film yang dimana karakter utama perempuan akan menyerahkan pasangannya untuk wanita lain yang lebih mencintainya.
Qonni tidak bisa memungkirinya lagi. Jika hati mulai merasakan tidak ikhlas ketika sang suami di cintai wanita lain. Soal Fatimah, biarlah dia mau bersikap seperti apa? Karena setiap manusia memiliki waktunya masing-masing untuk benar-benar Ikhlas.
Di raihnya tangan Qonni, pria itu meremasnya lembut lalu di kecupnya. "Mas cuma cinta sama kamu, Dek. Kamu itu bisa di bilang, cinta pertamaku yang tertunda."
"Laki-laki pintar gombal." Malu-malu memalingkan wajahnya. Namun sambil menarik tangan Ilyas kemudian menempelkan telapak tangan itu ke pipinya sendiri.
Ilyas tertawa, pelan-pelan bangkit dan berdiri disisi Qonni mencium pucuk kepalanya yang harum dari hijab yang membungkus kepalanya itu.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Pukul 02:49, esok harinya.
Ilyas terjaga, sebelum bangkit Pria itu biasanya duduk lebih dulu demi mengumpulkan nyawanya. Setelah itu meranggai kacamata yang ada di atas meja.
Ketika kacamata sudah terpasang sempurna, pria itu gegas menggulung kasur lantainya dan bangkit.
Di tatapnya satu-satu, anak dan isteri yang tertidur pulas. Ia tersenyum, sebelum melenggang keluar untuk melaksanakan shalat malam.
Karena ruang sholat tidak ada, Ilyas biasanya memakai kamar depan yang bersebelahan dengan ruang tamu untuk beribadah malam atau sunnah-sunnah yang lain.
Dengan wajah yang basah karena air wudhu, pria itu siap menggelar sajadah. Heningnya suasana malam, di harap bisa membuat ibadahnya khusyuk. Bibir Ilyas mulai bergumam, membaca niat sholat taubat lebih dulu.
Suratan dengan ayat yang tak terlalu panjang ia bacakan. Rencananya ia akan baca surat yang cukup panjang saat sholat tahajjud nanti. Menit-menit di lalui dengan tenang, hingga telinganya mulai terusik dengan suara motor yang seperti tengah mondar-mandir sebanyak tiga kali di sana.
Tak ada kecurigaan, karena fokusnya masih dalam ibadah saat ini. Dan, manakala salam keduanya terdengar dari bibirnya. Ilyas menoleh kearah jendela yang tertutup gorden, sebab suara motor tadi seperti berhenti.
Menunggu beberapa saat, ia pikir akan ada yang berkunjung namun tak juga ia dengar suara langkah kaki.
Ia pun beranjak hanya untuk mengintip keadaan di luar. Di lihatnya seseorang tengah berjaga di atas motor, sementara ia melihat gerbang rumah Pak Sofian perlahan-lahan bergerak terbuka.
Karena, walau dari posisinya yang terhalang tembok, posisi gerbang yang terbuka itu masih terlihat di bagian pucuknya.
"Kok mencurigakan, ya?" gumamnya sembari menutup kembali gordennya. Pria itu bergeming, namun ia tak ingin ambil resiko. Buru-buru dirinya keluar melalui pintu samping agar bisa memastikan tanpa harus ketahuan.
Ilyas melangkah pelan dan bersembunyi di balik pohon mangga yang ada di depan rumahnya. Seperti dugaan awal, mereka adalah maling di mana salah satunya tengah menyatroni rumah Pak Sofian.
Di ambilnya sebilah balok kayu, dengan mengucap bismillah pria itu memberanikan diri untuk mendekati salah satu dari mereka yang sedang duduk di atas motor.
Sayang, dari bayangan lampu yang menyorot Ilyas pun ketahuan. Pria di depan dengan mesin motor menyala langsung tancap gas meninggalkan satu temannya yang masih sibuk mengotak-atik motor matic terbaru saat ini.
Buru-buru Ilyas mendekati pagar besi, kemudian menutupnya dari dalam. Menahan pria yang hendak kabur membawa motor milik Bu Sofian yang sudah berhasil ia bobol kuncinya.
Karena panik si maling pun mengeluarkan sajam. Kontan, mata Ilyas melebar, dimana kaki terasa kaku kala berhadapan dengan pria penjahat bersenjata tajam.
"Minggir, nggak, Lu! atau gua bacok, nih..." ancamannya.
"Lepasin motornya atau saya teriakin maling, sekarang?" Dengan gemetaran Ilyas memberi peringatan.
"Cari mati, Lu sama gua?"
"Saya nggak cari mati, Bang. Tapi ini bukan hak Abang," balasnya tak gentar.
"Sialan!"
"Eh, siapa di sana?! Maling! MALIIIING!" pak Sofian yang tiba-tiba keluar dari balkon langsung meneriaki maling. Di susul, Bu Sofian dan juga Fatimah.
Dimana sang pencuri yang panik langsung berusaha melarikan diri, adapun Ilyas buru-buru menahan namun sayangnya, ia gagal tatkala sabetan benda tajam itu langsung mengenali lengannya.
Sebuah erangan kecil terdengar, tubuh Ilyas tumbang seraya memegangi lengan yang berlumuran darah.
.
.
__ADS_1
.
#tenang-tenang, Ilyas nggak papa Kok hehehe... (Author)