
Sesampainya di rumah. Ilyas langsung meminta Abas untuk beristirahat. Pemuda berkacamata itu mengusap kening adiknya yang terlihat masih shock.
"Abas mau makan buah? Kalau mau nanti Mas suruh, Mas Ibnu untuk beli, " tanyanya penuh perhatian. Walaupun kerap membuatnya jengkel. Ilyas tetap menyayangi adik bungsunya itu.
"Enggak Mas. Abas nggak pengen apa-apa–" jawabnya sambil melamun. Satu tangannya menyentuh dada yang masih berdebar-debar.
Ilyas yang paham hanya menghela nafas. Ia pernah ada di posisi Abas. Walau mungkin lebih parah dari ini.
"Udah, kamu nggak usah takut. Mas ada disini buat jadi tameng kamu. Intinya sekarang istirahat, jangan mikir yang nggak-nggak," tuturnya yang di tanggapi dengan anggukan kepala. Remaja itu pun langsung merubah posisinya, tidur dalam posisi miring.
Ilyas sendiri langsung keluar dari kamar Abas. Berjalan menuju dapur untuk mengambil air mineral.
Pokoknya ini baru uang muka ya, Mas. Kalau mau adeknya aman ya harus siap, ketika gua minta di transfer cepet buat biaya Bapak gua. –Suara preman tadi terngiang-ngiang di telinga.
"Ya Allah..., mudahkan. Semoga pikiran ku yang buruk ini tak menjadi nyata," gumamnya sambil menggenggam gelas di tangan.
Ibnu yang mendengar itu langsung menghampiri. Duduk di hadapan Ilyas.
"Bener, 'kan? Pasti ada yang nggak beres," tebak Ibnu. Ilyas pun menghela nafas panjang. "Cerita aja, Mas. Jangan cuma memendam sendiri. Kita sama-sama Kakaknya Abas. Jadi Mas jangan anggap Ibnu anak yang belum dewasa terus."
Pria berkacamata itu tersenyum tipis. "Iya-iya. Yang udah dewasa."
"Serius, Mas."
"Mas juga serius, Nu. Lagian sudah selesai masalahnya, nggak perlu di pikirin lagi."
"Pasti orang itu minta uang ke Mas Ilyas?" Tanya Ibnu dengan tutur kata penuh selidik.
"Dikit kok. Cuma buat biaya masuk rumah sakitnya."
"Berapa?"
"Ada lah, nggak banyak."
"Ya berapa, Mas?"
Ilyas terdiam sejenak. "Lima ribu," lirihnya.
"Lima ri–bu?" Ibnu mengulangi karena tidak yakin.
"Tambah nol tiga lagi," sambungnya.
"Allah, Allah..." Ibnu seketika menjatuhkan dagunya saat mendengar itu. "Lima juta?"
"Nggak papa lah, yang penting damai."
"Itu 'mah nggak sedikit."
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi, daripada Abas dipukulin," kilahnya.
Ibnu sendiri langsung geleng-geleng kepala. Uang segitu bukan jumlah yang sedikit bagi kakak beradik itu. Sudah pasti itu uang tabungan hasil kerja keras kakaknya selama ini.
"Udahlah, nggak usah di pikirin. Ada Allah yang akan ganti..." Ilyas masih berusaha tertawa walau sebenarnya tengkuknya juga merasa seperti di timpa beban berton-ton.
"Tapi masalahnya bukan di sana. Kalau mereka keenakan terus memeras kita bagaimana?"
"Jangan su'udzon."
"Nggak su'udzon, berjaga-jaga dari kejahatan kan sama aja cinta diri sendiri."
"Innallaha ala kulli syai'in qadir. Allah berkuasa atas segala sesuatu. Jadi udahlah jangan dipikirkan. Apapun yang terjadi, semoga Allah lindungi kita dari segala sesuatu yang nggak di inginkan. Bismillah..." Ilyas bangkit sambil menepuk-nepuk pundak adiknya, pria itu pun melenggang keluar dari dapur.
"Ya Allah, semoga orang-orang itu nggak memanfaatkan Mas Ilyas. Kasian Beliau udah banyak beban," gumam Ibnu sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
🍂 🍂 🍂
Hari berlalu, saat ini perempuan dengan hijab warna pink itu tengah menghadiri acara Walimatul ‘Ursy. Tanpa di temani siapapun, perempuan itu datang sendirian. Niatnya sih, ingin mengajak Nisa dan ibunya sebagai teman. Namun karena semalam sempat demam sedikit Aida pun melarangnya untuk membawa sang puteri. Takutnya malah kenapa-kenapa, mereka yang menyesal nantinya.
Perempuan dengan gamis yang senada itu menghampiri sang pengantin wanita yang tak lain adalah rekan sesama guru di sekolah tempat dia mengajar. Mengucapkan selamat padanya sambil memeluk tubuh wanita yang mengeluarkan aroma melati dari bunga-bunga sungguhan yang terpasang sebagai hiasan di kepala hingga menjuntai ke bagian dada.
"Baarokalaahu laka wabaaroka 'alaika wajama'a bainakumaa fii khoirin," ucap Qonni pada pengantin Syar'i di hadapannya.
"Aamiin, jazakillah khair. Bu Ayu..." Perempuan di hadapannya membalas pelukan Qonni. "Alhamdulillah, akhirnya sampai sini juga. Anak kamu nggak ikut?"
"Enggak, Bu Neti. Soalnya anakku agak demam. Nggak tahu lah, anakku agak sensitif jadi sering sakit gitu."
"MashaAllah– Alhamdulillah kalau gitu."
"Iya, hehehe... Silahkan, langsung di nikmati suguhan yang ada, Bu Ayu. Maaf ya nggak aku temenin."
"Iya, nggak papa. Aku tinggal dulu ya. Semoga kebahagiaan selalu tercurahkan untuk mu dan suami. Kalian juga bisa cepet di kasih momongan."
"Aamiin, Bu Ayu. Makasih, ya..." Keduanya kembali cipika-cipiki sebelum Ayudia Qonniah turun dari panggung pelaminan meninggalkan sang pengantin wanita.
Saat ini perempuan dengan gamis yang membuatnya terlihat anggun itu berjalan pelan, yang di temui pula keluarga mempelai wanita. Ia mempersilahkan Qonni untuk ke bagian prasmanan khusus wanita. Karena areanya memang sengaja di pisah, agar laki-laki dan perempuan tak campur jadi satu ketika mengambil makanan.
Ada banyak sekali menu makanan yang cukup membuatnya galau untuk memilih. Karena untuk acara pernikahan, menunya cukup bervariatif dan semuanya tampak enak. Qonni pun memilih yang standar saja. Menu nasi, dua jenis tuminas dan lauk rendang beserta acar mentimun dan wortel. Tak lupa terakhir kerupuk udang kesukaannya.
"Bu Ayu!" Seorang wanita menepuk pundak Qonni. Perempuan itu pun sigap menoleh.
"MashaAllah, Bu Fatimah."
"Wah, senangnya bisa ketemu. Bu Ayu tunggu aku ya. Nanti kita cari kursi yang sama-sama," pintanya yang di jawab dengan anggukan kepala.
"Saya tunggu di sana ya, Bu Fatimah."
__ADS_1
"Iya, Bu Ayu." Fatimah mulai masuk ke antrian. Adapun Ayu yang sudah selesai langsung menjauh sedikit agar tak menghalangi.
Tak lama menunggu gadis berhijab syar'i yang tadi memintanya untuk sama-sama gegas menghampiri.
"Sudah?" Tanya Qonni.
"Udah, ayo jalan. Maaf, ya nunggu lama."
"Nggak papa–" perempuan itu tertawa. Mereka pun berjalan bersama mencari tempat duduk yang kosong. Baru beberapa langkah, keduanya berhenti karena berpapasan dengan Muhammad Ilyasa yang ternyata di undang oleh pengantin prianya.
Ilyas sempat tertegun sebentar, mengarah pada wanita yang langsung meredupkan senyumnya, seperti kurang suka melihat pria itu di depan matanya. Berbeda dengan perempuan di sisi Qonni agak kebelakang sedikit.
"MashaAllah... Mas? Eh... Ustadz Ilyas?" Sapaan Fatimah membuyarkan lamunan Ilyas.
"Astaghfirullah al'azim..." Ia pun menggeleng cepat. Kenapa pikirannya mudah teralihkan jika melihat perempuan berhijab pink itu. Gegas menggeser pandangannya kemudian tersenyum pada Fatimah sebentar. "Dek, lagi di sini juga?"
"Hahaha, iya. Bu Neti itu pengajar di tempat Ku mengajar juga. Termasuk Bu Ayu ini..."
"Oh..." jawabannya singkat. Adapun Qonni langsung mengangguk sedikit sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka.
"Mas, aku duluan ya... Assalamualaikum." Buru-buru perempuan berhijab syar'i itu menyusul Qonni.
"Walaikumsalam warahmatullah," gumam Ilyas beberapa detik setelah keduanya menghilang dari pandangannya. Beliau tak menoleh kebelakang sama sekali. Ia hanya merasa, tatapan tidak suka Qonni padanya menandakan jika wanita itu masih marah. Ilyas pun menghela nafas sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju area prasmanan.
.
.
.
Ini buat kalian yang dari kemaren-kemaren minta visual.
Ayudia Qoniah
...
Muhammad Ilyasa.
...
Harun Azmi
__ADS_1
(Kyaaaa... Yang satu ini Favorit. Maaf Koh, di pake Fotonya.)
Done ya hutang visual ku. Semoga kalian cocok... 🥰🥰