Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Kegundahan hati Fatimah


__ADS_3

Pagi ini saat Qonni baru tiba di kantor para staf guru. Ia sudah di perlihatkan pemandangan tak biasa dari gadis yang duduk di sebelahnya. Fatimah, tak seperti hari-hari biasa yang selalu menebar senyum. Ia kini malah terlihat muram, bahkan dari kedua matanya yang sayu nampak jejak-jejak sisa tangis. Ada apakah dengannya?"


"Assalamualaikum," sapanya sambil duduk di kursinya sendiri.


"Walaikumsalam warahmatullah." Fatimah menjawab tanpa menoleh. Matanya terus tertuju pada gawai di tangan. Sepertinya ia sedang mengirim pesan panjang untuk seseorang. Qonni pun membiarkan itu, setelahnya membuka buku cetak untuk mempelajari ulang, materi yang akan ia bahas.


"Astaghfirullah al'azim–" gumamnya sambil meletakkan gawai di atas meja.


"Bu Fatimah, maaf..." Qonni menegur dengan hati-hati. Perempuan itu pun menoleh, yang tanpa di sengaja setitik air mata pula terjatuh. Yang buru-buru di hapus nya.


"Iya, Bu Ayu?"


"Kamu baik-baik aja?" tanyanya khawatir. Sementara perempuan itu berusaha tersenyum sambil mengangguk.


Adapun Qonni kembali diam sambil membalas senyum yang bermakna kesedihan itu dengan senyuman juga. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin di anggap sok peduli sehingga perempuan itu memilih untuk kembali fokus pada buku di atas meja.


Dua puluh menit waktu berjalan, bel masuk pun berdering. Seperti biasa, respon para guru kala mendengar bel bervariatif. Ada yang gegas bangkit sambil menenteng buku dan tas laptop. Ada yang masih santai saja, bahkan yang belum hadir pun juga ada. Intinya setiap guru itu sejatinya sama dengan murid. Ada yang disiplin ada pula yang santai, tergantung pribadi masing-masing.


Berbeda dengan mereka yang sudah siap, Fatimah masih bertahan di kursinya. Karena di jam pertama ini, jadwalnya kosong. Ia akan mengajar di kelas sebelas pada jam ke dua nanti. Pantas saja perempuan di sebelah Qonni ini masih bergeming dengan tangan memegangi mushaf kecil.


Qonni melirik sebentar. Mungkin memang gadis itu sedang ada masalah, syukurlah ia bisa meredam kesedihannya dengan Al Qur'an. Dan jika di perhatikan sekilas, ia jadi ingat Kakak perempuannya yang secara keseluruhan hampir sama. Gemar memakai Syar'i, gemar membaca Al Qur'an di setiap kali adanya waktu luang, satu lagi jika bicara tutur katanya halus.


Tanpa menegur lagi, perempuan itu gegas melenggang pergi demi melaksanakan tugasnya sebagai pengajar.


–––


Dalam keheningan ruang guru yang hanya berisi satu, dua orang saja. Perempuan dengan seragam dinasnya itu terus membaca ayat demi ayat mushaf yang ia pegang tanpa mengeluarkan suara.


Samar-samar, ingatan pembicaraan antara dirinya dan sang ayah pagi ini di meja makan kembali terngiang.


Flashback on...


"Pak Budi itu datang sama anak dan isterinya, sebenarnya ada keperluan sama kamu."


"Keperluan apa, Yah?" Tanya Fatimah, yang sebenarnya tak begitu peduli.

__ADS_1


Pak Sofian dan sang isteri pun saling tatap sebentar. Dan pelan-pelan pria paruh baya dengan kumis sedikit tebal di atas bibirnya kembali berbicara.


"Anaknya minta di carikan jodoh, Fat."


"Terus?" Gadis itu memasukkan satu suap nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Ya, Ayah pikir dia sama kaya kamu. Yang juga ingin di carikan jodoh." Saat kata-kata itu terlontar. Mulut Fatimah seketika berhenti mengunyah. "Jadi dari pada menunggu yang sampai saat ini belum datang juga melamar? Lebih baik Ayah terima saja lamarannya untuk Kamu."


Mendengar lanjutnya, Fatimah mendadak tak berselera makan. Wajahnya yang teduh itu seketika menunduk, dengan kedua tangan menggenggam erat sendok dan garpunya.


Tangan Ibu menyentuh pundak anak gadisnya yang sudah semakin dewasa itu, dengan lembut.


"Nggak papa ya, Fat. Kamu sama Azar saja. Dia anaknya baik kok... lulusan strata dua di UGM, pernah mondok di Kudus juga. Sama-sama bersanad seperti kamu."


Kedua mata peri Fatimah bergerak-gerak. Menekuri butiran nasi berbumbu, berwarna kecoklatan karena kecap manis.


"Nah, betul itu. Lagian Azar juga tampan kok. Bahkan mungkin lebih tampan, dan lebih mapan juga daripada tetangga sebelah." Pak Sofian menimpali.


"Ini bukan perkara mapan, ataupun tampan, Yah. Ini perkara hati yang sudah terlanjur memilih," jawab Fatimah masih dengan kepala tertunduk, memainkan nasi dengan sendok di tangan.


"Ya mau gimana? Ayah udah tiga kali loh menanyakan itu padanya. Nyatanya, pemuda itu hanya iya-iya saja. Dan sampai saat ini? Batang hidungnya belum juga datang kesini 'kan?"


Sofian sendiri sebenarnya sedikit kecewa dengan sikap Ilyas yang tidak tegas antara menerima ataupun tidak. Jadi seperti mempermainkan keluarganya yang sedang menunggu laki-laki itu untuk bertandang demi sebuah tujuan yang baik.


"Tapi apa tidak bisa di tunggu lagi, Yah? Kalau Dia sedang berpikir masalah mahar bagaimana?" Tanya Sang Isteri.


"Ayah itu udah bilang, Bu. Kalau kita itu nggak akan menyusahkan Dia soal mahar. Yang penting ada niatan Dia untuk melamar. Nyatanya dia tetap belum datang, kan?"


"Apa salahnya coba tanyakan sekali lagi, Yah." Hati-hati Fatimah berbicara.


"Halaaaaah! Sudah lah, jangan jadi pengemis untuk orang seperti Dia. Laki-laki yang lebih baik dari Ilyas di luar itu banyak, Fatimah. Azar contohnya..."


Fatimah yang sudah tak berselera menyantap makanannya langsung menelungkupkan sendok dan garpunya. Kemudian menengguk air mineral.


"Kamu nggak habisin makanannya?" Tanya sang Ibu. Perempuan yang sudah menampung air mata itu pun pelan-pelan bangkit.

__ADS_1


"Fatimah udah kenyang. Maaf, Bu." Sebelum berlalu ia tak lupa mencium tangan kedua orangtuanya. Dan sebelum sampai ke Ayah, pria itu kembali berbicara.


"Fatimah, jadilah gadis yang tidak mengemis cinta orang lain. Kalaulah dia mau, dia pasti sudah langsung mengiyakan ketika Ayah menawarkan kamu. Kamu harus tahu, seperti apa perasaan Ayah saat membicarakan ini pada anak dari penjual nasi pecel itu? Ayah seperti menjatuhkan harga diri ayah. Semua demi kamu..." Ayah masih berusaha untuk berbicara pada anak gadisnya. Namun Fatimah hanya diam saja sembari mencium tangan sang ayah.


"Fatimah jalan dulu, Yah, Ibu. Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam." Keduanya menyahut bersamaan. Nampak Pak Sofian seperti sedikit kesal melihat sikap putrinya yang terlihat jengkel dengan keputusannya itu.


Di luar...


Perempuan dengan hijab syar'i itu membuka pintu gerbangnya lebih lebar. Agar mobil yang akan ia kendarai bisa keluar dari dalam garasinya.


Seperti biasa, di jam segini biasanya Ilyas sudah berangkat. Namun pengecualian untuk hari ini, ia justru berpapasan dengan Pria berkacamata itu.


"Assalamualaikum." Pria yang sedang mengendarai motornya itu menyapa Fatimah saat melintas di depan gerbang besar tersebut.


"Walaikumsalam warahmatullah–" gumamnya yang sudah pasti tak di dengar Ilyas. Karena pemuda itu sudah melewatinya lumayan jauh.


Salah satu tangannya pelan bergerak naik, menyentuh dada yang berdebar. Bersamaan dengan luruhnya air mata yang sejak di meja makan tadi tertampung.


Aku menginginkan pria itu. Hanya dia yang ku harapkan..., bukan orang lain. –gegas menyeka kristal bening yang meluncur pelan ke pipi. Gadis itu menekan tombol pembuka kunci mobil, setelahnya berjalan pelan menuju mobilnya sendiri.


Flashback off...


Gadis itu menghentikan bacaannya, kemudian beristighfar. Memang benar, tak baik mengagumi seseorang berlebihan. Bahkan tak sekali-dua kali, perempuan itu sampai memimpikan sosoknya yang sejuk jika di pandang.


Fatimah memilih untuk kembali membaca ayat demi ayat yang mengandung ketenangan dalam surat Al Baqarah. Berharap, hatinya akan jauh lebih tenang setelah ini. Karena sebentar lagi akan masuk jam ke dua, ia pun harus bersiap dengan perasaan yang baik agar tak mengganggu proses mengajarnya.


.


.


.


# Hai-Hai... maaf ya aku bolong banyak huhu. Soalnya lagi nyambi Novel lain. Iya, aku lagi menyelesaikan novel yang sempat mangkrak. Novel Suamiku Dokter Jiwaku. Hahaha..., tapi aku tetep usahakan update lagi kok. Pelan-pelan ya. Karena anakku juga baru masuk SD jadi banyak sekali PR ku hehehe. Tenang aku tak berniat curhat, hanya cerita alasan aku lagi sering bolong nih. Huhuhu. segitu aja ya. Makasih buat yang masih setia.🥰😘

__ADS_1


__ADS_2