Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Tawaran mencengangkan


__ADS_3

Di tempat lain. Pemuda yang kerap memakai kacamata-nya setiap saat, tengah sibuk menerangkan materi di hadapan para murid. Pembawaan yang tenang dan sedikit humoris tak ayal membuat para muridnya betah jika sudah masuk jam pelajaran Beliau bahkan tak jarang, saking asiknya sampai tidak terasa jika bel tanda bergantinya pelajaran telah berdering.


"Sampai sini ada yang mau di tanyakan?" tanya Ilyas sambil menutup spidolnya. "Mengenai materi pelajaran, loh. Bukan di luar–"


Para murid tertawa. Ilyas pun kembali bertanya. "Udah paham, beneran?"


"Sudah, Paaaaak!" jawab mereka serentak.


"Nah, hal biasa kalau di tanya udah paham apa belum? pasti jawabannya sudaaaaah. Giliran ulangan, nilai pada terjun bebas," seloroh Ilyas yang di tanggapi tawa para murid.


"Kalau begitu buka halaman lima belas. Kita mulai kerjakan soal evaluasi bab tiga. Nanti kalau waktunya cukup, kita akan koreksi sama-sama."


"Baik, Pak."


Ilyas tersenyum. Pria berkacamata itu lantas kembali ke meja. Sambil duduk, beliau memantau para siswanya untuk mengerjakan soal yang ia berikan baru saja.


Di sela-sela bola mata yang memantau mereka satu-persatu. Pikirannya mulai berkelana keluar kelas, Ilyas mengingat obrolan pribadinya dengan seorang pria paruh baya, di acara tahlilan tetangga tadi malam. Dimana pada saat itu mereka duduk bersama, sambil menikmati suguhan. Pria dengan Koko putih yang terkenal sebagai mantan pejabat daerah itu mengatakan sesuatu yang membuatnya setengah kepikiran.


Flashback on


"Nak Ilyas itu sebenarnya udah ada calon apa belum?" tanyanya setelah berbasa-basi lebih dulu. Pemuda di sebelahnya pun hanya tersenyum.


"Di bilang sudah tapi belum, di bilang belum..." Ilyas tak melanjutkan selain tertawa.


"Serius ini loh, Nak."

__ADS_1


"Kalau yang benar-benar mau di ajak nikah belum ada, Pak," jawabnya. "Tapi calon yang saya inginkan, sudah ada."


Pak Sofian manggut-manggut. Pria berwibawa itu menggigit lemper ayam di tangan.


"Maksudnya, sudah ada tapi kamu belum menyatakan niat mu atau bagaimana?"


Ilyas sebenarnya canggung jika harus membicarakan masalah pribadi ini. Namun, mau gimana ... namanya di tanyai orang yang lebih tua? Sudah pasti ia harus menanggapi. Asal masih dalam tahap wajar saja.


"Sebenarnya sudah Pak."


"Terus?" Pak Sofian duduk sembari memeluk salah satu lutut yang di tegakkan, mengarah pada Ilyas.


"Dianya yang belum bersedia saya halalkan."


"Oh..." pria itu menengguk air mineral dalam kemasan gelas yang tersaji di hadapannya. "Terus kira-kira ada titik terang bakal sama dia nggak?"


"Kalau gitu kenapa harus nunggu yang belum jelas? Gimana kalau nikah sama yang udah jelas aja?"


"Maksudnya, Pak?"


Pak Sofian menoleh ke kiri dan kanan. Saat dimana para jamaah tahlil yang sedang duduk itu masih asik bercengkrama sambil menikmati suguhan dari tuan rumah. Beliau pun melanjutkan percakapannya.


"Mau sama anak saya, nggak?" tanya Beliau sedikit berbisik.


Ilyas yang sedang minum kontan terhenyak. Tiba-tiba saja Pak Sofian yang cukup terpandang ini menawarkan puteri satu-satunya yang Qori itu untuk dia yang hanya sebatas remahan kerupuk.

__ADS_1


"Saya serius. Kebetulan anak saya minta di carikan jodoh. Dan cuma kamu sih kandidat yang menurut saya udah pas."


Gleeeek... Ilyas menelan air mineral yang sejak tadi tertahan di mulutnya.


"Pak Sofian menawarkan putri yang mana?" Tidak percaya dengan yang di katakan tadi, Ilyas kembali bertanya. Hal itu pula yang membuat Pak Sofian tertawa sambil menepuk pundak pemuda yang masih memperlihatkan kesan terkejut itu.


"Yang mana lagi? Putri saya kan cuma satu. Fatimah Nur Handayani."


Tentu saja hal itu membuat mulut Ilyas seolah terkunci rapat. Ia tidak bisa menjawab apapun. Lebih menjurus ke bingung dan tak siap, sih.


"Kalau bersedia, kamu nggak perlu mikirin dana untuk pesta pernikahan. Saya yang akan biayai seratus persen. Yang penting kamu ada mahar berapapun, dan siap buat jadi imam putri saya. Maka semua beres... saya juga ada toko kosong. Bisa tuh kamu isi bila mana kamu mau buka usaha barang elektronik. Saya juga akan modalin kamu. Gimana Nak Ilyas, setuju?"


Flashback off


"Allahuakbar..." gumam Ilyas menutup segala ingatan yang melayang-layang di kepala. Pemuda yang masih berada di dalam kelas itu langsung melepas kacamata dan memijat bagian atas batang hidungnya yang berdenyut.


Bukan karena tidak cantik, sebenarnya Fatimah juga sosok yang sempurna dari akhlak dan pesona wajahnya. Namun disamping hati tak pernah menyapa dia hadir walau hanya sedikit. Ilyas juga tahu diri bahwa derajat antara dirinya dan Fatimah itu sangatlah jomplang. Dia anak yatim yang almarhum ibunya adalah seorang penjual nasi pecel. Sementara Fatimah merupakan Puteri dari pria terpandang di daerahnya.


Tentu saja untuk memikirkan gadis yang rentang usianya hanya berjarak delapan tahun itu tidak pernah.


Selama ini mereka bertetangga, sekaligus Fatima merupakan murid ngajinya di TPQ yang di dirikan oleh ulama yang tinggal di dekat mereka. Jelas, Ilyas tak pernah punya pikiran untuk menyukai gadis kecil itu. Yang ada, ia malah mengira sudah terlalu tua untuk gadis seperti Fatimah.


Triiiiiing....! Satu pesan chat masuk. Hingga membuyarkan pikiran pria yang masih tertegun dalam lamunannya. Ilyas langsung memakai kacamata sembari merogoh saku dan membuka pesan tersebut.


[Assalamualaikum, Mas. Maaf Ibnu ganggu waktu ngajar Mas Ilyas. Cuma mau ngasih tahu. Abas kecelakaan, Dia abis nabrak gerobak asongan. Abasnya sendiri nggak papa, cuma lecet. Tapi masalahnya, ada satu korban yang harus di larikan ke rumah sakit yaitu pedagangnya. Parahnya Mas ... Abas pake motor temen. Bodi depan motor itu lumayan ringsek. Sebisa mungkin, Mas ke sini ya. Ibnu kirim share lokasinya.]

__ADS_1


Ilyas tertegun cukup lama saat membaca pesan itu. Sebelum Akhirnya memijat kening yang kembali berdenyut pening.


"Astaghfirullah al'azim, apa lagi ini." Gegas pria itu keluar kelas sebentar untuk menghubungi Ibnu dengan panggilan telepon. Agar semua lebih jelas, setelahnya ia akan mengambil keputusan antara menunggu sampai jam pulang atau izin setelah satu jam pelajaran ini selesai.


__ADS_2