
Ilyas mengencangkan kacamata, bibir masih bergumam lirih menyelesaikan bacaan ayat suci Al-Quran. Sebuah kegiatan rutin sebelum tidur yakni menyempatkan untuk membaca Al Mulk.
Seperti sabda Rasulullah SAW. "Barang siapa yang membaca surat Al Mulk setiap malam, Allah SWT akan menghindarkannya dari siksa kubur dengan surat tersebut," (HR An Nasa'i)
Di sudut lain, Qonni merebahkan tubuh Nisa yang sudah terlelap dalam tidurnya setelah beberapa menit yang lalu menyusu padanya.
Perempuan itu memijat pundak yang terasa pegal, padahal hanya beberapa menit saja menggendong Nisa. Ya, anak itu memang sudah lebih berat, membuat dirinya merasakan lebih cepat lelah setiap kali menggendong anak itu dengan kain panjang dalam waktu yang cukup lama.
Sedikit menyeret kaki, Qonni duduk di sisi Ilyas. Pria berkacamata itu kemudian melirik dan menyelesaikan tilawahnya.
"Pundaknya pegal ya?" Tanya Ilyas seraya menutup mushaf di tangan, dan meletakkannya di atas meja.
"Iya, Mas. Gini kalau kelamaan gendong Nisa pakai kain panjang," tuturnya masih terus memijit salah satu pundaknya sendiri.
"Sini, Mas, bantu pijitin." Ilyas mengambil alih, duduk di belakang sang istri dan mulai memijatnya pelan. "Biasanya pakai gendongan hipseat, kalau naik motor, Sayang. Kenapa tadi nggak pakai?"
"Lupa— tadi pagi ku masukin ke mesin cuci, Mas." Kedua tangan Qonni bertumpu di bibir ranjang. Menikmati pijatan lembut dari suaminya.
Ilyas terdiam sejenak, dengan tangan masih bergerak memijat pundak Isterinya.
Kalau di pikir-pikir kasihan juga Qonni dan anaknya, karena kemana-mana harus pakai motor. Padahal ada mobil nganggur di rumah ini. Batin Ilyas mencubit.
"Dek, maafin, Mas, ya?"
"Maaf buat apa?"
"Ya gara-gara, Mas, nggak bisa bawa mobil, kamu dan Nisa jadi susah."
Perempuan di depan tersenyum. "Ya ampun, Mas... ku pikir maaf untuk apa? Padahal aku nggak pernah mikir gimana-gimana saat kita pergi-pergian pakai motor. Bukankah, banyak ya? pasangan suami-isteri yang kemana-mana naik motor?"
"Iya sih, tapi kan—"
"Tapi, apa?"
Ilyas tak menjawab, tangannya nampak asik memindahkan seluruh helaian rambut Qonniah ke sisi kiri. Hingga kulit pundak di bagian kanan terlihat. Pria itu menciumnya, sementara yang di depan memejamkan mata sebentar. Sebelum mendapatkan dekapan dari Ilyas di belakang.
__ADS_1
"Maaf, Mas udah bawa kamu pada kehidupan yang seperti ini," ucapnya dengan dagu menyandar di bahu sang istri. Di pikirannya, ia sudah membawa isterinya pada kehidupan yang seperti Dia rasakan selama ini.
"Kenapa harus ngomong gitu sih. Emang, Mas Ilyas lupa? Dulu kehidupan ku malah justru lebih berat daripada sekarang." Tatapan Qonni mengarah lurus kedepan.
Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam, saat tubuh mungilnya berada di tengah. Di antara Ayah dan ibu, sementara di depan ada Mbak Safa. Mereka berempat naik motor butut yang entah sudah berapa kali harus mengalami bocor ban. Secara bersamaan menerobos hujan ataupun panas ketika terik, saat bepergian.
Tak jarang, rasa iri datang kala bersisian dengan sebuah mobil di lampu merah. Dimana ia melihat ada dua anak kecil seumurannya tengah bermain di dalam kendaraan besi yang nyaman tanpa kehujanan seperti dirinya. Tanpa harus merasakan pengap ketika memakai satu mantel untuk bersama-sama.
"Aku nggak pernah khawatir, Mas, untuk kehidupan kita. Sekarang, yang sedang ku kuatkan adalah rasa syukurku dengan apapun yang ku miliki. Termasuk, Kamu—" tangan kanan Qonni menarik pipi Ilyas, sebelum keduanya tertawa lirih.
Di ciumnya berkali-kali ceruk leher itu, sebelum kembali menatap lurus ke arah jendela yang ada di hadapan mereka berdua.
"Roda tak selamanya di bawah, kamu percaya akan hal itu, kan, Dek?"
"Sangat, Mas," jawab Qonni.
"Dan kamu percaya, nggak? kalau, Mas, akan jadi pria sukses?"
"Jelas aku akan percaya. Nasib seseorang siapa yang bisa memprediksi? Semoga Allah kasih nasib baik untukmu, bisa menggapai apa yang kamu harapkan."
"Mas akan menggapai bintang di depan sana. Walau mustahil, tapi tetap—"
"Man jadda wajada!" Secara bersamaan keduanya mengatakan mantra ajaibnya orang-orang Sholeh, sebelum sama-sama tergelak.
"Kesayangan, Mas. MashaAllah..." Ilyas yang gemas langsung mencium pipi isterinya cukup lama.
Setelah ciuman di pipi terlepas, wajah Qonni menoleh sedikit. Mengarahkan pandangannya pada sepasang mata Ilyas. Pria di belakang mendekat pelan, dengan tatapannya yang mulai sayu. Namun, belum sempat bibir mereka bersentuhan sebuah jari telunjuk menempel di bibir pria itu.
"Aku belum kunci pintu," bisik Qonni sembari beranjak. Pria di belakang pun tersenyum, mendadak naik hasrat. Sorot matanya mengikuti langkah sang istri menuju pintu, Beliau pun menyusul.
Ckraaakkk... Bersamaan dengan pintu yang terkunci, Ilyas kembali memeluk tubuh istrinya dengan sedikit menyusupkan tangannya kedalam pakaian Qonni. Mencium lekuk leher, hingga ke dekat telinga. Mata Qonni mulai terpejam, tatkala sentuhan mulai ia rasakan di bagian dada.
Pria itu memutar tubuh langsing Qonni agar menghadap padanya. Kedua tangannya beralih, memegangi wajah sang isteri.
"Mas mencintai mu, Dek," bisiknya dengan kening menempel. Perempuan di hadapannya pun hanya tersenyum, hingga sepersekian detik berikutnya terkejut manakala tubuhnya di angkat oleh pria itu.
__ADS_1
"Mas, tangannya?" Qonni khawatir.
"Nggak masalah–" jawabnya sembari membawa sang istri keatas ranjang.
Malam panjang yang berpeluh itu pun berlangsung selama beberapa menit. Di bawah sinar lampu tidur yang remang-remang. Ilyas dan Qonni kembali menyatukan tubuh mereka dengan cinta yang semakin tumbuh seiring berjalannya waktu yang di lewati bersama
Beginilah nikmatnya cinta dalam naungan Allah. Tatkala ijab qobul telah di lantangkan, tak ada segala sesuatu yang di dapatkan kecuali pahala yang deras di setiap kali mereka berduaan. Bahkan tak ada waktu terbuang sia-sia bagi pasangan suami-isteri itu tatkala mereka menghabiskan waktu senggangnya hanya untuk mengobrol.
***
Di pukul empat pagi, Ilyas yang baru saja selesai berdzikir selepas sholat tahajud buru-buru merebahkan tubuhnya dalam posisi miring di sebelah Qonniah yang terlihat akan terjaga.
Bibirnya tersenyum dengan tangan menopang kepala di sisi kanan. Menunggu mata Ayudia terbuka.
"Mas?" Belum pula nyawanya terkumpul ia sudah mendapatkan kecupan di bibir sekali. "Ma... mmp..."
Lagi ia mendapatkan kecupan itu sekali. Bahkan setiap kali Qonni hendak berucap sesuatu, sudah keduluan bibir Ilyas yang mendarat di sana.
Qonni pun terbelalak buru-buru menutup mulutnya sendiri. "Bisa-bisanya?"
"Apa?"
"Aku belum sikat gigi, udah di cium?!" kesal, perempuan itu berbicara tak begitu jelas karena mulut yang di bungkamnya sendiri.
Ilyas tergelak dengan satu tangannya memeluk perut langsing sang isteri. Kemudian membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Kesayangan, kesayangan— MashaAllah," gumam Ilyas.
Perempuan yang dalam posisi terlentang itu tersenyum tipis, ia mengusap kepala Ilyas yang tertutup peci rajut. Mendadak, terlihat manja pagi ini. Entahlah, apa yang ada di benak lelaki ini. Ia pun menunggu saja, terserah lah bayi besarnya mau melakukan apa sambil menunggu adzan subuh.
Namun, belum juga adzan berkumandang. Nisa sudah terjaga. Rengekannya membuat tubuh Ilyas terangkat.
"Mas aja yang nengok, kamu bebersih dulu aja. Sebentar lagi subuh."
"Iya, Mas." Qonni nurut. Tubuhnya lantas bangkit untuk duduk sejenak, sambil memandangi punggung pria dengan Koko warna biru hendak menggendong Nisa. Ia tersenyum, bersyukur atas apa yang dimilikinya. Seorang laki-laki yang benar-benar menyayangi Nisa tanpa terlihat adanya pura-pura pada pria berkacamata itu.
__ADS_1