Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Acara Maulid


__ADS_3

Di tempat lain... Pria berkacamata minus itu baru saja menyelesaikan tilawahnya. Tangannya pelan-pelan menutup mushaf kemudian mengangkat dan mencium permukaannya cukup lama. Bulir-bulir bening mengalir pelan dari sudut-sudut matanya.


Setelah membaca surat Yusuf, laki-laki itu memang acap kali berlinang. Entah di bagian doa Nabi Yaqub ketika anaknya menghilang, dan juga di bagian kuatnya iman Nabi Yusuf ketika berada dalam keadaan hanya berdua di dalam kamar Siti Julaikah. Sementara keduanya memang sejatinya sudah saling berhasrat.


Perlahan, Ilyas menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Dan menatap langit-langit kamar yang terlihat menguning di sela-sela plafond yang terpasang.


Mengingat, hubungannya dengan Pak Sofian menjadi tidak begitu baik. Ia jadi berpikir, salahkah ketika dirinya menolak Fatimah? Kenapa tak sebaiknya ia mencoba untuk menerima saja. Perkara cinta itu urusan belakangan. Tapi, kalau justru kebelakang malah tidak baik bukankah itu akan semakin memperburuk hubungan antara dirinya dan keluarga Fatimah?"


"Astaghfirullah al'azim, udah, Yas. Jangan terlalu mikir lah. Semua akan berlalu begitu saja. Tetaplah berbuat baik, tetaplah berlaku baik." Ilyas bergumam, mencoba untuk menghibur diri dengan kata-katanya sendiri. Ia pun bangkit, gegas menuju tempat peraduan untuk beristirahat.


Hari ini sudah cukup, ia bersyukur atas apa yang dilaluinya. Berterima kasih pada diri sendiri yang telah mampu menghalau rasa malas untuk beraktivitas, dan berteri makasih kepada Allah SWT yang telah memberikannya waktu untuk memijakkan kaki di muka bumi sampai saat ini. Tak lupa kata-kata maaf ia berikan untuk semua orang. Apapun itu, ia hanya ingin mengamalkan ilmu ikhlas setiap kali hendak tertidur. Semoga, esok hari menjadi lebih baik. Ilyas pun memejamkan matanya, menghalau lelah yang sejak tadi menggelayuti jiwa dan raga.


***


Hari berganti, pagi ini Ilyas telah berada di salah satu pondok yang tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Berkumpul dengan orang-orang shaleh demi mengisi hari libur adalah cara untuk membooster hatinya.


"Assalamualaikum!" Ustadz Akhri menyapa, Ilyas yang sedang turut membantu menata kursi-kursi plastik yang berjajar di depan panggung.


"Walaikumsalam warahmatullah, Ustadz. MashaAllah." Ilyas menjabat tangan yang sudah terulur lebih dulu.


"Gimana kabarnya, sehat?" Pria yang saat ini sedang menggendong salah satu anaknya yang paling kecil menanyakan kabar.


"Baik, Ustadz. Alhamdulillah..." Dengan senyum ceria, Ilyas menyapa anak dalam gendongan Ustadz Akhri.


"Syukurlah, emmm... Yas. Saya mau minta tolong bisa?"

__ADS_1


"Silahkan, Ustadz. Ustadz mau minta tolong apa?"


"Begini, nanti saya minta tolong untuk turut mendampingi Kyai Irsyad ya. Soalnya hari ini isteri saya mau operasi."


"MashaAllah. Na'am Ustadz. Nggak papa... inshaAllah, saya bisa handle. Ustadz fokus saja sama Isteri. Semoga, operasi berjalan lancar." Mendengar ia di beri tugas untuk mendampingi Kyai Irsyad tentu membuatnya bersemangat.


"Aamiin. Makasih banyak ya, Yas. Minta doanya... semoga isteri saya bisa sembuh kembali."


"Aamiin, pasti Ustadz."


"Kalau begitu semua sudah beres ya. Saya sudah serahkan segalanya pada orang-orang yang di tunjuk, termasuk kamu. Nanti kerjakan sesuai tugas masing-masing. Semoga Allah rahmati, dan berkahi acara hari ini. Hingga bisa selesai dengan lancar."


"Aamiin, Aamiin..."


"Ya sudah, Yas. Saya pamit dulu. Sekali lagi terima kasih... maaf ya, harus saya tinggal."


Nampak pria berkacamata itu menghembuskan nafasnya. Merasa prihatin dengan keadaan isteri Beliau. Namun juga menaruh harapan baik dan doa yang baik pula untuk mereka. Kembali dia melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin karena acara akan di mulai sekitar lima jam dari sekarang.


Beberapa waktu di lalui dengan lancar, hingga segala persiapan telah di lakukan. Sambil menunggu Kyai yang belum hadir, acara-acara pembuka pun dijalani. Para jama'ah tabligh pula sudah berkumpul dan menempati kursi-kursi yang di sediakan.


Hingga, dari kejauhan. Terlihat mobil yang telah di tunggu mereka yang memiliki tanggung jawab untuk mendampingi sosok ulama sepuh yang amat di hormati. Kidung sholat pun di dendangkan meminta keberkahan Nabi Muhammad Saw untuk semua orang.


Ketika mobil telah berhenti di tempat yang di sarankan panitia. Irsyad keluar bersama dengan pendamping Beliau. Salah satunya adalah sosok laki-laki ya ia kenal. Ya, Fatkhul Qulum.


"MashaAllah, Kyai..." Ilyas mencium tangan Ustadz Irsyad dengan takzim setelahnya pada Ulum. Keduanya saling menyapa hangat.

__ADS_1


"Kita ketemu lagi..." Irsyad menunjuk kearah Ilyas.


"Mudah-mudahan jodoh, Kyai." Malu-malu Ilyas menanggapi yang di balas tawa riang Ustadz Irsyad. "Mari-mari lewat sini, Kyai."


"Terima kasih, Le." Irsyad berjalan bersisian dengan Ulum, adapun Ilyas berjalan lebih dulu di depan mengarahkan Irsyad ke ruangan untuk istirahat Beliau, sebelum naik ke atas panggung. Beberapa jama'ah yang berdiri pun saling mengulurkan tangan. Berharap bisa berjabat tangan dengan Beliau.


Setelah beristirahat, tibalah sesi dimana Ustadz Irsyad yang menjadi pengisi pengajian Maulid di Pondok pesantren Abdul Aziz. Pria dengan senyum teduhnya mulai mengambil mic, mengucap bismillah dan doa-doa pembuka.


"Jama'ah yang di rahmati Allah. Berhubung saat ini, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad Saw. Mari sama-sama kita bersholawat dengan hati yang ikhlas, mengharapkan cinta yang hadir pada diri kita untuk Baginda Rasulullah Saw. Sebab, para Ulama berkata seperti ini. 'janganlah sekali-kali kita mati tanpa membawa cinta kepada Rosulullah Saw.' Hal ini cukup sinkron dengan salah satu kisah."


Ustadz Irshad mengedarkan pandangannya pada seluruh jama'ah di bawah panggung.


"Tahu, kan Abu Lahab?" Tanya Beliau yang jawab semua orang yang ada di sana.


"Benar, Seorang paman Nabi yang durhaka. Bahkan nasibnya telah di abadikan oleh Allah di surat Al Lahab. Namun, ada satu hal yang menarik. Yaitu, Abu Lahab yang menerima keringanan di setiap hari Senin. Jadi, setiap hari Senin Beliau itu akan di kasih minuman segar lewat sela-sela jarinya. Kenapa bisa demikian?"


Orang-orang yang fokus terus mendengarkan kisah menarik tersebut. Dan menanti kelanjutannya.


"Jadi, pada saat Nabi Muhammad Saw di lahirkan. Tentunya semua orang terlebih para kerabat seperti para paman Beliau. Dan salah satu dari mereka yang berbahagia adalah Abu Lahab. Jama'ah sekalian perlu tahu, saking bahagianya Abu Lahab ketika tahu Nabi Muhammad Saw lahir, Beliau sampai menawarkan kebebasan pada para budaknya. Bayangkan...?"


Semua orang yang di sana serentak bergumam MashaAllah.


"Jadi, itulah yang menjadi keringanan adzab untuk Abu Lahab di setiap hari Senin. Hari dimana Nabi Muhammad Saw dilahirkan."


"MashaAllah..." gumam mereka lagi.

__ADS_1


"Hikmahnya apa? Seorang ulama bercerita, bahwasanya seorang muslim yang meninggal dunia dengan hati bersih membawa cinta yang teramat besar kepada Rosulullah Saw. Ketika menjelang kematiannya, Rosulullah Saw akan datang dan mendampinginya. Hingga dia bisa selamat sampai pada terminal pertama kematian yaitu alam barzah. Semoga kita semua menjadi salah satu, yang berkesempatan. Di berikan cinta yang tulus untuk Nabi Muhammad Saw dari Allah SWT. Shalallaahu 'ala Muhammad..."


"Allahumma shalli wa sallim wa barik 'alaih!" Seru para jama'ah. Dan dendang sholawat nabi pun di mulai setelah Kyai Irsyad mengawalinya.


__ADS_2