Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Datang ke rumah


__ADS_3

Di sela-sela obrolan yang menurutnya amat kontras dengan hatinya. Terdengar suara rengekan, yang membuat perempuan itu gegas bangkit untuk menghampiri Nisa.


Namun, kembali langkahnya terhenti, saat melihat puterinya sedang di gendong di bagian dada Ilyas. Gumaman berbunyi sholawat Nabi pun terdengar lirih dari bibir pemuda itu. Hingga membuat Nisa kembali tertidur.


Bu Nyai kembali mendekat, dan berdiri di belakang tubuh menantunya sambil tersenyum kemudian.


"Kamu lihat sendiri 'kan?" bisiknya mencoba untuk mempengaruhi Qonniah.


Dia nggak lagi cari muka di depan Umminya Harun kan? Batin Qonni justru meragukan yang sepersekian detik berikutnya membuat perempuan dengan hijab instan itu beristigfar.


...


Beberapa menit berlalu, bahkan Bu Aida dan Pak Ulum pun sudah datang Mereka mengobrol sebentar. Setelahnya Ilyas pun pamit pulang...


"Buru-buru sekali?" Ulum nampak menahan pemuda itu agar lebih lama.


"Iya, Pak. Masih ada urusan yang harus saya kerjakan."


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya?"


"Iya, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Bu Aida, Ayu... Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh," jawab mereka bertiga hampir bersamaan.


Qonni menghela nafas, ia lega saat laki-laki itu pulang. Karena sejak tadi ia benar-benar canggung di ruangan ini.


Baru beberapa detik pria itu keluar ruangan, Qonni langsung ingat sesuatu. Buru-buru ia berjalan untuk membuka nakas, setelahnya meraih jaket Ilyas.


Aku harus balikin sekarang, biar kalau buka nakas nggak nyium bau tubuhnya.


Qonni gegas melangkahkan kaki keluar, yang di respon tatapan mata ayah dan ibunya.


Sesampai di luar, perempuan itu mencari sosoknya yang sudah tak terlihat. Hingga membuatnya langsung mendekat pintu menuju tangga. Dan benar saja, ia melihat Ilyas yang tengah menuruni anak tangga.


"Mas!" Panggilnya menghentikan langkah Ilyas. Pemuda itu mendongak dan melihat Qonni tengah buru-buru menuruni anak tangga guna menghampirinya.


Sepertinya, mata dia telah salah. Masa iya Ayudia memanggil dan menghampirinya sekarang? Pria itu tertegun di tempatnya. Menganggap ada hantu di tengah siang bolong yang menyerupai sosok Ayudia Qonniah. Atau mungkin pikirannya yang sedang menipu?

__ADS_1


"Mas..." panggilnya lagi saat sudah dekat.


"Eh, nyata," gumamnya masih bengong setengah tak percaya. Perempuan itu pun menyodorkan jaketnya.


"Maaf, ya. Baru di balikin. Hampir aja kelupaan lagi..."


"Hah?" Ilyas masih nge-lag. Satu alisnya terangkat. Namun secepatnya tersadar. Setelah itu menerimanya. "Jaket toh? Haha... kirain ngejar karena yang lain."


Qonni tersenyum tipis. "Sekali lagi terima kasih atas bantuannya kemarin, dan terima kasih juga. Bonekanya cantik."


"MashaAllah..." Ilyas memalingkan wajahnya sedikit memiringkan posisi tubuh sembari mengibas-kibaskan bagian tubuh yang mendadak panas dingin. Pria itu menyeret kakinya pelan hingga ke bagian tiang pembatas tangga.


Kedua tangan yang bertumpu itu melakukan gerakan maju-mundur di bagian bahu, seperti orang yang sedang olahraga pull-up menghalau gugup yang tiba-tiba menyerang.


Bisa jantungan aku ini, Ya Allah... deg degan ku kenceng pol. -Batinnya tidak peduli dengan wibawanya yang bisa runtuh di hadapan Qonniah.


Di sisi lain, Qonni sendiri menatap heran pada laki-laki yang tiba-tiba mepet ke tiang tangga menghindari tatapannya. Belum lagi gerakan anehnya itu.


"Mas, ngapain?" tanyanya spontan karena heran.


"Ya udah. Saya balik ke bangsal ya."


"I–iya, Ayu... dhaaa? Eh ... maaf. Walaikumsalam..., Allah." Ilyas semakin salah tingkah. "Assalamualaikum, Dek..."


Buru-buru pemuda itu menuruni anak tangga sebelum semakin mempermalukan dirinya sendiri. Qonni sendiri langsung tertawa tanpa suara sambil geleng-geleng kepala. Setelahnya kembali menaiki anak tangga, menuju bangsal tempat Nisa di rawat.


***


Ahad yang baru telah tiba...


Sesuai undangan Ulum untuk datang, yang kembali di pertegas lewat pesan singkat tadi malam pemuda itu kini sudah tiba di depan pagar rumah.


Bersama dengan keraguan yang muncul, karena. Rupanya di rumah beliau sedang ramai orang. Maju mundur langkahnya saat hendak memasuki gerbang, sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Bisa jadi di rumah ini sedang ada acara keluarga. Tapi, kalau iya kenapa Beliau di panggil?


"Pulang aja lah..., nggak enak kalau ada acara di dalam." Hendaknya dia menaiki lagi kendaraannya, Ulum memanggil dari ambang pintu.


"Nak Ilyas!" Suara sedikit memekik terdengar hingga membuat pria yang masih menggunakan helm-nya menoleh. "Sini–"

__ADS_1


Senyum Ilyas mengulas malu-malu, pemuda itu melangkah masuk tak jadi pergi setelah ajakan masuk itu di gaungkan untuknya.


"Assalamualaikum, Pak." Pemuda berkacamata meraih tangan Ulum mengecupnya takzim.


"Walaikumsalam warahmatullah. Untung saya melihatmu, yang kayanya mau pergi lagi." Terkekeh.


"Iya, Pak. Soalnya, di dalam kaya lagi ada tamu. Makanya tadi saya punya niatan untuk balik lagi."


"Ya ampun, mereka ini cuma kerabat, dan anak-anak saya."


"Gitu ya? Tapi, maaf..., omong-omong, sampai kaki saya berdiri di sini. Saya masih nggak ngerti, kenapa saya di panggil. Apa ada yang mau saya benerin, Pak? Kebetulan saya bawa perkakas lengkap. Karena nggak tau apa yang mau di servis..." Dengan polosnya pemuda itu tertawa sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ulum terkekeh, "kamu ini. Memangnya kalau saya manggil kamu tandanya saya mau kamu service barang elektronik, apa?"


"Kali aja, Pak..." masih dengan cengengesan menahan rasa canggung.


"Ya, enggak lah. Saya cuma mau kamu datang sebagai tamu saya. Kebetulan di dalam, sedang kumpul-kumpul. Yuk, gabung..."


"Waduh," Ilyas ragu-ragu. Walaupun ia datang karena undangan. Tetap saja rasanya tak enak hati.


"Ayo, masuk. Kok malah diam?"


"Terima kasih, Pak. Tapi saya nggak enak kalau lagi kumpul gini tau-tau nimbrung. Mengingat saya bukan siapa-siapa."


"Nggak papa, mereka semua itu orang-orangnya humble. Jadi nggak perlu khawatir. Ayo masuk, ayo..." Ulum mempersilahkan pemuda itu dengan sedikit paksaan, hingga mau tak mau Ilyas langsung melepaskan sepatunya dengan hati-hati. Kemudian mengucap salam sebelum melewati dua daun pintu yang terbuka. Kontan, sapaan salamnya langsung di sambut hangat oleh orang-orang yang ada di sana.


Ilyas, tertegun sejenak setelah melewati pintu melihat orang-orang yang ada di sana merupakan wajah-wajah tak asing. Ya, pria muda yang sedang duduk dengan dua anak laki-laki kembar yang ia ketahui merupakan penjual kurma yang biasa di datangi Harun. Yang satu lagi Selebgram yang telah vakum, satunya lagi merupakan panutan. Ustadz Irsyad Fadillah.


Allah ya Karim... Perkumpulan macam apa ini? Keluarga Ayu rupanya orang terpandang semua. –Berasa seperti kentang sendiri. Laki-laki itu bahkan tidak berani melangkah lebih dekat. Andai saja ada jubah menghilang milik Doraemon. Ia mau memakainya sekarang. Tapi, nyatanya semua itu tidak bisa ia lakukan. Sehingga membuatnya tetap masuk menghampiri sosok pria yang sedang asik memegangi satu toples kacang telor.


Bersambung...


.


.


#Note Author... Terima kasih sahabat Picisan Imut yang masih bersedia menunggu lanjutan cerita ini. Love You all. So much... 🥰😍

__ADS_1


__ADS_2