Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Cinta meluluhlantakkan iman


__ADS_3

Sudah dua jam lebih para guru itu bercengkrama bersama, baik dengan sesama yang besuk maupun pada Fatimah yang terbaring di atas ranjangnya. Tawa riang pun di sisipkan, menghapus sejenak jejak bosan serta sakit yang di rasakan gadis berkerudung coklat ini selama dalam masa perawatan.


Dua orang yang duduk di sofa saling memberi kode, agar obrolan segera usai, mengingat waktu yang semakin mendekati sore. Tentu saja, yang lain menuruti mereka bersalaman dengan Fatimah. Sementara yang laki-laki hanya menangkupkan kedua telapak tangan sambil mendoakan kesembuhan.


Tak terkecuali Ayudia Qonniah, ia mengulurkan tangannya. Di sambut sih, namun singkat. Yang tidak di terima hanya cipika-cipiki yang akan di lakukan Qonni padanya sebagaimana guru perempuan yang lain.


Dimana, pada saat wajah Qonni hendak mendekat ia langsung mengalihkan dengan cara memalingkan wajah. Pura-pura meranggai gelas berisi air mineral di atas nakas.


Perempuan itu tertegun, dan tak hanya Qonni sebenarnya, beberapa dari rekan guru pun menyadari perubahan sikap Fatimah yang di rasa agak aneh. Apakah mereka sedang berselisih?


Tanda tanya di kepala masing-masing hampir setara. Menduga ada masalah antara Fatimah dan Qonni di belakang mereka. Tapi, bukankah selama ini hubungan keduanya baik-baik saja. Bahkan terbilang akrab.


Qonni tersenyum, ia mengambil langkah mundur mengikuti teman-temannya.


Sebenarnya, sesuai perjanjian, Ilyas akan datang dan Qonni akan menunggu di bangsal itu. Tapi, jika melihat gelagat tidak ramah yang di tunjukkan Fatimah, perempuan itu ragu.


"Bu Ayu, ayo...," ajak seorang wanita pada Qonni yang masih berdiri di sisi ranjang. Mereka mengucap salam sebelum satu persatu dari para guru tadi keluar ruangan.


Mata Fatimah mengembun, tertuju pada punggung Qonni. Bibirnya berucap istighfar, sementara tangannya mencengkram selimut amat kuat.


Ya, dia sedang berpikir, tidak seharusnya ia bersikap buruk seperti ini. Namun, kenapa sulit baginya untuk menerima keadaan. Sebab, setiap melihat wajah Qonni, seolah dirinya tengah bertatapan dengan wanita jahat yang sudah merenggut cintanya.


Padahal Qonni sendiri sejatinya tidak tahu apa-apa, namun justru jadi kena imbas keegoisan sebab patah hati Fatimah.


Gadis itu menghela nafas, istighfar terus terlihat dari gerak lirih bibirnya. Hanya butuh waktu. Benar! ia hanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan ini.


–––


Baru beberapa langkah menuruni tangga, dering ponsel membuatnya terhenti. Di susul teman-teman yang lain turut menunggu.


"Assalamualaikum, Mas?"


"Dek, Mas di lobby rumah sakit. Kamu dimana?"


"Aku di Betania, Mas. Lantai tiga–" jawabnya singkat dengan satu tangan bertopang pada pembatas tangga.


"Aku naik, ya. Kamu tunggu situ. Ini Mas tutup, dulu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, Mas." Qonni menurunkan tangannya yang masih menggenggam ponsel.


Senyum singkat di tunjukkan pada teman-teman di depan meminta mereka untuk jalan lebih dulu, seraya tangan kembali bergerak memasukkan ponsel kedalam tas setelah selesai menerima panggilan dari suaminya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Qonni seperti tersihir. Keterasingan yang ia rasakan selama dua jam dua puluh tiga menit, tiba-tiba merasakan kesejukan. Seperti sedang terkatung-katung di gurun pasir yang tandus dan luas, lantas ia melihat oasis dari kejauhan.


Ya, Ilyas lah oasis itu. Entahlah, perasaan senang tiba-tiba muncul di dada. Kala melihat pria berkacamata melempar senyum dari bawah.


Mas...


Rasa ingin berhambur ke pelukan pria yang sedang menapaki satu persatu anak tangga. Dan menangis karena hal yang tak ia ketahui, apa sebabnya sedih ini datang. Ketika sejak tadi hanya dia yang tak di anggap ada oleh Fatimah.


"Nunggu lama, ya?" Tanya pria yang kini sedang mengusap-usap pipi isterinya, setelah wanita itu cium tangan menjawab salam yang lebih dulu di ucapkan.


"Enggak, kok. Kebetulan tadi aku mau balik. Untung belum jadi."


"Ya Allah, maaf ya tadinya mau datang sekitar satu jam yang lalu. Tapi Mas harus bantu temen kirim barang."


"Iya, aku ngerti, Mas."


Ilyas tersenyum, ia lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Dua batang cokelat ia keluarkan.


"Buat kamu, Sayang." Ilyas mengarahkan dua batang cokelat tadi pada sang istri.


Tentu apa yang di lakukan Ilyas lagi-lagi membuat istrinya membisu, pilu terpancar di pasang mata indah Ayudia. Bukankah, ini kebiasaan Harun. Yang jika pulang terlambat selalu membelikan Dia coklat.


Tangan itu meraihnya, ia lantas tersenyum tipis. Menghapus jejak-jejak kenangan yang pelan-pelan mulai kembali bermunculan.


"Makasih, Mas."


"Sama-sama." Pelan mengusap kepala yang tertutup hijab laki-laki itu pun kembali mengajak Ayu untuk naik.


Setibanya di depan pintu bangsal, Ayudia Qonniah menahan langkahnya. Ia ragu untuk kembali masuk, hingga perlahan perempuan itu melepaskan tangannya yang digenggam Ilyas.


"Mas, aku nggak ikut masuk ya?"


"Loh, kok gitu?"


"Ya, aku kan udah besuk Bu Fatimah, tadi," dalihnya.


"Nggak papa lah masuk lagi. Lagian, masa iya aku tinggal kamu disini sendirian?"


Qonni menggigit ujung bibirnya sendiri. Tak ingin menceritakan ketidaknyamanannya selama di dalam tadi. Lagian, bisa jadi itu hanya perasaannya saja. Karena prasangka kadang tidak sesuai dengan yang benar-benar terjadi.


"Ayo, kita masuk aja," ajaknya sementara perempuan itu kembali menggeleng. "Dek?"

__ADS_1


"Aku tunggu di sini aja. Kalau ikut masuk nanti jadi lama, aku kasian sama Nisa, Mas," ucapnya.


Benar juga. Ilyas membenarkan. Hingga akhir, peria itu meminta izin untuk masuk sebentar sementara dirinya duduk di kursi tunggu.


....


Sepuluh menit, Ilyas di dalam. Ia hanya menerima sikap diamnya Fatimah di atas ranjang. Perasaan tak ikhlas masih menguasai akal sehatnya. Yang membuat benci tumbuh tanpa ia sadari.


Kebetulan, ibu saat ini sedang pulang ke rumahnya mengambil sesuatu. Tak pelak kesendirian Fatimah membuat Ilyas ingin buru-buru keluar dari ruangan rawat inap tersebut.


"Aku pulang ya, semoga, kamu segera di beri kesembuhan." Pria itu duduk di sofa yang memiliki jarak sekitar satu meter dari ranjang Fatimah.


"Aku minta maaf, atas nama Ayah." Akhirnya gadis itu membuka suara.


Ilyas yang hendak bangkit pun urung. Kepalanya sedikit tertunduk.


"Aku baru tahu, Ayah mukul Mas Ilyas kemaren."


"Saya udah maafin, Fat."


Gadis itu mengangguk. "Makasih."


"Jujur, saya hanya mau hubungan antara saya dan Pak Sofian kembali membaik. Tapi, saya memahami. Saya udah terlalu dalam mengecewakan Beliau."


"Bukan salah Mas Ilyas, kok. Ini salah aku, yang terlalu berlebihan."


Hening beberapa detik, tersisa suara AC di kamar VIP ini. laki-laki itu beranjak.


"Maaf, ya. Mas harus pulang. Semoga setelah ini, Kamu bisa bahagia dengan siapapun Beliau."


Pria itu tersenyum, tubuhnya putar balik keluar dari ruangan tersebut. Melihat Ilyas keluar Fatimah termenung, sampai pintu itu benar-benar tertutup rapat.


.


.


Note: Cinta membutakan mata, cinta juga mampu merusak iman... ingatkah sebuah kisah? Tentang iman yang hancur dalam sekejap mata karena syahwat.


Benar, seorang ahli ibadah seratus tahun bisa mati dalam keadaan berzinah, membunuh, dan musyrik?


Karena, jika ada pintu-pintu yang paling di sukai setan yaitu satu, pintu cinta yang di buka oleh anak-anak manusia sebelum hadirnya akad.

__ADS_1


__ADS_2