Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Cinta tak boleh egois


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya...


Jam dinding menunjukkan pukul 22:45, dimana hampir semua ruangan sudah dimatikan lampunya. Hanya tersisa beberapa, pun di ganti dengan penerangan yang tak terlalu tinggi wattnya.


Qonniah mendekati pintu kamar kedua orangtuanya, kemudian mengetuk pelan sembari memanggil ibunya.


Beberapa kali mengetuk, sahutan dari dalam terdengar. Qonni rasa Ayah dan ibu sudah tidur, ia jadi merasa bersalah karena telah mengganggu kenyamanan tidur mereka berdua.


Maaf Ayah, Ibu...


Seorang wanita paruh baya dengan dasternya keluar. Kedua tangannya bergerak mengikat rambut yang sudah mulai penuh dengan uban.


"Opo, Nduk? Kamu belum tidur?" tanyanya serak khas bangun tidur.


"Maaf, Qonni ganggu Ibu. Qonni cuma mau ngecek Nisa," ucapnya.


"Nisa anteng, kok. Wong biasa kalau siang tidur sama ibu. Jadi ya nggak akan rewel. Mending kamu balik ke atas sana. Nggak perlu khawatirkan Nisa."


"Tapi, Mas Ilyas juga bilang sebaiknya Nisa tidur sama kami, Bu." Qonni beralasan, karena dengan adanya Nisa, ia jadi tidak merasakan canggung dengan Ilyas.


"Walah, tapi anakmu sudah tidur. Kasian kalau di pindah-pindah, Nduk."


"Nggak papa, Bu. Ya..., Qonni mau Nisa tidur di atas."


Tak lama Ayah turut keluar, ia menghampiri dua wanita beda generasi kesayangannya yang masih berdiri di depan pintu.


"Kenapa ini, kok pada berkumpul disini?"


"Ini, loh. Qonni minta Nisa tidur sama mereka di atas. Padahal kan Nisa udah tidur, makanya ibu nggak ngasih," jawab Aida.


Ayah mengarahkan pandangannya pada Qonniah. "Ibumu benar, Nak. Kasian kalau di pindah-pindah."


"Tapi, Yah?"


Ulum menghela nafas. Beliau menggeser pandangannya lagi pada Aida. "Ibu tidur lagi aja dulu, temani Nisa."

__ADS_1


"Iya, Yah." Bu Aida menutup mulutnya sambil menguap. Satu tangannya yang lain mengusap-usap lengan Qonniah sebelum membalik badan dan kembali masuk. Sementara tangan Ayah menarik pintu kamar agar kembali tertutup.


Kini Ayah dan anak itu saling berhadapan, yang membuat Qonni paham jika Ayah Ulum pasti akan memberikan suatu nasehat padanya.


"Kenapa kamu malah disini, Nak? Kenapa nggak nemenin suami kamu aja?" Tanya Beliau hati-hati, membuat wajah Qonni terangkat mengarah pada Sang Ayah.


"Aku cuma mau Nisa bobo denganku, Yah..." jawabnya lirih. "Qonni takut Nisa rewel."


"Ayah tahu ini hanya alasan kamu untuk menghindari kewajiban Kamu," tuding sang Ayah, yang di benarkan dengan diamnya Qonni. Perempuan itu pun menghela nafas kembali tertunduk.


"Nak, kamu harus menjadi istri yang baik. Temani dia sebagaimana layaknya sepasang pengantin baru. Jangan patahkan perasaan suami Mu. Kamu bisa berdosa nanti."


Bukan keinginan ku seperti ini, Yah. Nyatanya, perasaan ku sendirilah yang merasakan ketidaksamaan, seperti saat habis akad dengan A' Harun dulu. – Qonni menggigit ujung bibirnya menahan bulir bening yang mendadak menggenangi kedua ekor matanya.


"Sekarang kembali naik...," titahnya dengan suara yang halus. Adapun sepasang kaki anak perempuannya itu belum juga bergerak mengikuti perintahnya. "Qonni?"


Lirikan mata Qonni kembali terangkat. Mengarah pada sang Ayah.


"Ayah percaya kamu adalah perempuan yang sangat baik akhlaknya. Maka dari itu, berbaktilah pada Ilyas, cintai Dia sebagaimana kamu mencintai suami pertamamu."


Perempuan itu mengangguk kemudian tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab lagi.


"Karena kamu baru menikah lagi, sebaiknya selama tiga malam Nisa tidur sama kami. Nggak papa, ya?"


"Iya, Ayah," lirihnya menjawab. Qonni pun tersenyum kecut kemudian menyeret langkahnya menuju tangga.


Ulum menghela nafas. Ia sebenarnya tak tega melihat anak bungsunya harus mengalami hal seperti ini. Namun, mau bagaimana lagi. Ini semua hanya perkara waktu, ia yakin bersama Ilyas. Seiring berjalannya waktu Qonni pasti akan bahagia.


Pria paruh baya itu kembali masuk kedalam kamarnya bersama Aida, melanjutkan istirahat malamnya setelah beberapa hari bahkan di hari ini Beliau menguras tenaga dan pikiran demi terlaksananya sebuah acara sakral.


...


Setelah tiba di lantai dua, Qonni menghampiri ponsel yang tadi sempat di charge di meja dekat dengan tangga. Setelahnya termenung.


Ia sedang berpikir apakah mampu dirinya melayani Ilyas malam ini? Walaupun belum tentu mereka akan melakukannya sekarang, namun tetap saja jika hanya berdua tak menutup kemungkinan laki-laki itu akan mencumbunya.

__ADS_1


Langkahnya kembali terseret pelan dan berhenti di depan pintu kamar. Inginnya masuk, namun ragu-ragu. Qonni menjauhkan lagi tangannya yang hendak memegang gagang pintu.


Ya Allah... Perempuan dengan rambut lurusnya mendekati tembok dan bersandar di sana. Tangannya yang memegang ponsel pun terangkat hingga sebatas dada.


Membuka-buka galeri foto. Karena tiba-tiba saja ia ingin membukanya demi melihat sosok pria yang masih saja ia rindukan. Terlebih, foto-foto pernikahannya dengan Harun sudah semuanya di turunkan, membuat perempuan itu tak bisa menatap senyum manis Harun setiap saat dari foto-foto yang biasa bertengger di dinding rumah ataupun kamarnya.


Jatuhlah pilihannya pada foto pria yang ia ambil diam-diam ketika sedang memasak mie instan di samping tenda mereka, saat melakukan camping di Cibubur dulu.


Cklaaakkk... Belum lama dirinya memandangi foto Harun, pintu kamar sudah terbuka lebih dulu hingga membuat Qonni kalang kabut.


***


Di dalam kamar...


Ilyas memeluk erat tubuh istrinya. Hingga wajah itu terbenam di dada yang datar, melepaskan segalanya yang benar-benar mengganjal di hati selama seharian ini.


Tangan Ilyas mengusap lembut punggung sang istri yang tertutup rambut panjangnya. Ia berusaha untuk memahami jika isterinya masih saja terbelenggu masa lalu. Karena itu juga bukan kemauan Ayudia, dimana dengan hal itu ia juga harus sadar, inilah konsekuensi menikahi seorang janda yang baru dua tahun di tinggal wafat suaminya. Ia tidak berhak egois.


Kecupan lembut mendarat di pucuk kepala Qonniah beberapa kali. Ilyas masih menunggu sampai Qonniah benar-benar tenang. Perempuan itu pun menguraikan pelukannya di lingkar pinggang Ilyas.


"Kalau masih mengganjal, jangan di tahan. Nangis aja, lampiaskan rindumu ke Harun."


Qonni menggeleng ke-dua tangannya yang hendak menyeka air mata di tahan Ilyas. Netranya pun terangkat pelan mengarah pada pria yang wajahnya tengah condong kearahnya. Memegangi kedua pergelangan tangan Ayudia.


"Maaf, Mas," gumamnya serak. Ilyas pun tersenyum sambil menggeleng.


"Cinta tak boleh egois. Aku mengerti dan sangat memahamimu. Benar aku sangat mencintaimu, Ayu. Tapi aku tahu kamu masih mencintai Dia... dimana aku nggak boleh seenaknya melengserkan posisi Harun dari hatimu."


Setitik air mata kembali mengalir. Ilyas mencium pipinya lembut. Tidak peduli bibirnya menjadi basah karena air mata isterinya yang di tujukan kepada sang mantan suami yang telah wafat.


"Mas cuma nggak mau kamu menderita setelah menikah denganku. Jadi, pelan-pelan aja kita jalani pernikahan kita. Ya..." gumamnya dengan kening menempel di kening Ayudia. Sementara kedua telapak tangan menangkup wajahnya.


Perlahan hati Qonniah mulai tenang, kedua tangannya pun kembali naik memegangi pinggang suaminya. Ayudia mengangguk pelan.


Ilyas tersenyum, mencium kening setelah itu kembali memeluk tubuh sang istri erat. Ia berpikir untuk bersabar beberapa saat. Karena, perasaan Ayudia lebih penting daripada egonya itu. Termasuk, mengesampingkan kecemburuannya ketika Ayu masih menangisi kepergian Harun seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2