Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Runtuhnya dinding hati


__ADS_3

Semakin dekat langkahnya, ritme jantung Ayudia semakin tak beraturan. Keringat dingin di tangan mulai ia rasakan. Ini memang bukan yang pertama, tapi kenapa rasanya jadi panas dingin begini.


Kreeeeeettt... Derit ranjang membuat Qonni bergeser beberapa senti, kala pria itu duduk di sisinya. Ilyas meraih tangan Qonniah lalu menempelkan di keningnya sendiri.


"Aku udah nggak demam," ucapnya sembari tersenyum polos penuh arti tersembunyi.


Qonni sendiri menekan-nekan pelan. Gemetar tangan ketika menempel di jidat Ilyas terasa pula oleh laki-laki itu.


"Nggak sih, aku malah masih ngerasain dikit, Mas," bantah Qonni, sambil menarik tangannya sendiri.


"Masa sih?" Ilyas menurunkan wajahnya, mengintip wajah Qonniah yang semakin tertunduk. "Dek?"


"Emm...?" Perempuan di sisinya melirik sejenak kemudian berpaling lagi.


"Liat, Mas, dong," lirihnya, sehingga mau tak mau perempuan itu kembali mengarahkan pandangannya ragu-ragu pada Ilyas.


Ayolah, Kau sudah bukan lagi anak gadis. Mungkin orang-orang akan menjerit seperti itu saking geregetannya melihat tingkah Qonni.


Tapi, percayalah. Hal yang di rasakan Qonniah itu berbeda. Beberapa tahun menjalani pernikahan, kemudian di pisahkan oleh kematian bukanlah perkara mudah untuk kembali menerima pasangan baru, terlebih dia teman dari suaminya sendiri, yang menikahinya tanpa proses pacaran.


Diraih tangan kurus dan putih bersih milik Qonni. Memindahkannya keatas pangkuan.


"Hidup ini, luar biasa ya?" ucapnya sembari menautkan jari jemari, mencium lembut kemudian menumpuk lagi di atas punggung tangan Qonni dengan tangan satunya.


Mata perempuan di hadapannya berkedip sesekali. Ketenangan mulai ia rasakan tatkala netra itu saling berpandangan.


"Kalau boleh jujur...., dulu itu, kamu laksana racun bagi keimananku. Tapi siapa sangka, Allah SWT telah merubahmu menjadi madu yang sangat manis."


Satu kecupan di tangan ia terima lagi. Qonni masih diam saja. Entah mengapa, semenjak menikah dengan Ilyas ia malah justru lebih suka menjadi pendengar.


"Aku udah sempat mampu untuk hidup tanpa mikirin kamu. Tapi kenyataannya, takdir membawa aku kembali untuk memperjuangkanmu. Walau tidak mudah, tapi kamu jadi isteri ku sekarang. Mas bersyukur, Dek."


Senyum tipis melengkung di bibir manis Ayudia. Kembali menurunkan wajahnya malu. Ilyas menyentuh dagu kemudian mengangkatnya naik.

__ADS_1


"Sekarang aku mau tanya, adakah keterpaksaan saat kamu menerima ku?"


Sebuah pertanyaan yang sulit untuk di jawab. Haruskah ia jujur, atau memilih membisu. Kalau di kata tidak ikhlas sebenarnya tidak juga. Yang pasti ada pertimbangan kuat kenapa akhirnya ia bersedia menikah lagi.


"Terpaksa ya?" kembali bertanya, Qonni pun menggeleng. Gerak kecil di kepala perempuan itu laksana angin yang bertiup segar ke tubuhnya.


"Nggak mungkin aku terpaksa menerima seseorang yang akan menjadi pendamping seumur hidup ku. Namun jika Mas menduga rasa cintaku kepada Mas Ilyas belum hadir seutuhnya, itu benar..."


Qonni membisu, memastikan ekspresi wajah Ilyas tidak berubah merah karena kecewa. Sebaliknya pria itu manggut-manggut dengan bibir masih melengkung senyum. Sudah lama ia tahan, tidak ingin membahas hal ini sebenarnya karena takut kecewa. Tapi akhirnya, mereka bisa mulai saling terbuka.


"Maaf, kalau aku belum bisa jadi perempuan yang kamu harapkan."


"Enggak, kok." Di lepasnya ikat rambut yang menyatukan helaian-helain hitam di kepala isterinya. Menyematkan satu sisinya ke telinga Qonni.


Ilyas memiringkan kepala memandangi wajah yang semakin berusaha untuk menghindari tatapannya. Sementara telapak tangan yang hangat ini masih menempel di pipi sang istri.


"Sampai detik ini, Mas belum pernah dikecewakan oleh mu sebagai isteriku."


"Tapi, kadang apa yang ku lakukan nggak sepenuhnya tulus," sanggahnya merasa bersalah. "Aku melakukan itu karena Allah. Aku lebih mencintai dan lebih takut kepada-Nya. Aku hanya percaya wafatnya Aa hingga di hadirkannya kamu pasti bukan tanpa alasan."


Hening, jarak wajah yang amat dekat, bahkan kening yang masih saling menempel itu tak mampu membuat perempuan itu bergerak.


"Jadi?" Tanyanya yang tentu saja langsung terbaca oleh perempuan dihadapan Ilyas. Pemuda itu menatap dalam-dalam mata sang istri.


Keheningan kembali tercipta, Ilyas hanya mampu memandang keindahan yang ada di diri isterinya beberapa hari ini selepas ijab qobul di ikrarkan. Bukankah tak salah jika ia ingin menjamahnya sekarang?


"Dek, aku harus menjalani kewajiban ku ke kamu."


Debar perempuan dengan rambut sebahu ini semakin cepat. Bahkan Qonniah pun hampir tidak bisa bernafas akibat rasa tak karuan ketika Ilyas mulai menyentuh kancing baju di bagian teratas milik Qonni.


"Kamu bersedia, nggak? nerima nafkah batin dari Mas sekarang?"


Bibir yang terkunci rapat semakin tak mampu menimbulkan suara. Tak ada reaksi pasti yang dapat di baca jelas oleh pria berkacamata minus ini.

__ADS_1


"Tapi Mas lagi sakit," balasnya tak begitu jelas, setelah beberapa menit memilih diam. Ya, dia sedang berusaha untuk kembali menghindar.


Ilyas pun tersenyum, ia mengangkat lagi wajah tegang itu. "Kemungkinan nggak akan lebih dari lima belas menit. Itu nggak akan ganggu istirahatku."


Gleeeek, kedua matanya bergerak-gerak. Ayu bingung harus jawab apa. Kalau menolak dosa, kalau di iyakan rasanya belum sanggup.


"Dek? Geleng aja kalau kamu belum siap kita melakukannya sekarang, inshaAllah Mas masih ridho."


Dia sudah dua hari ini bersih dari hadas besar. Akan sangat berdosa jika ia menolak suaminya yang sedang berhasrat padanya sekarang, terlebih laki-laki itu sudah menunggu hampir sepuluh hari sejak mereka di halalkan.


Beberapa detik berpikir lagi, kepala Qonni akhirnya mengangguk. Tentu saja, respon itu membuat suaminya semakin melebarkan senyum.


"Boleh?" Mengulangi pertanyaan untuk meyakinkan jika anggukan tadi pertanda Istrinya bersedia untuk di gauli.


Qonni lantas mengangguk sekali lagi. Yang tentunya membuat bibir Ilyas bergumam hamdalah. Pria itu menengadahkan kedua tangannya berdoa setelahnya mengecup kening sekali, lalu berpindah ke kedua pipi.


Kedua tangannya yang bertumpu pada bahu Ayudia mulai bergerak pelan, mendorong. Ilyas merebahkan tubuh Ayu di atas ranjang dengan seprai warna putih bermotif bunga.


Di belai lembut rambut Ayu walau hanya di bagian pucuk kepalanya saja. Dan mulai menurunkan wajah, menyentuh bibir isterinya dengan lembut.


Merasa kacamata yang bertengger ini menganggu, pria itu melepaskannya lalu kembali melanjutkan, menyatukan bibir mereka. Kedua tangan Qonni terangkat, membalas pelukan suami yang tengah mengungkungnya.


Sinar lampu yang masih menyala terang menjadi saksi bisu, ketika cumbuan demi cumbuan di curahkan, menanggalkan satu persatu kain yang melekat di tubuh masing-masing.


Sekarang, mereka sudah benar-benar menyatu. Berbarengan dengan luruhnya air mata Ayudia saat sang suami mulai menghujamnya dengan cinta.


Ada perasaan yang mengganjal saat menit-menit penuh cinta ini berlangsung. Ya, wajah pria di atasnya bukan wajah Harun. Suara nafas yang terasa di telinganya bukan nafas Harun. Kulit pria yang bersentuhan dengannya pula bukan milik Harun.


Ia telah menyerahkan raganya untuk laki-laki lain. Maka runtuhlah benteng cinta yang selama ini melindungi sosok Harun dari singgasana hatinya.


Ilyas mengecup kening wanita yang telah selesai ia sirami rahimnya dengan cintanya. Melihat air mata yang membasahi pipi, Ilyas gegas memeluk tubuh Qonni di dalam selimut.


"Maaf, ya." Bisiknya merasa bersalah.

__ADS_1


Berusaha terus menenangkan isterinya yang mendadak sesenggukan. Permainan memang telah usai, tapi karena tangisan Ayu membuat Ilyas tak bisa merasakan kenikmatan seratus persen.


Aku pasti menyakitinya malam ini –Pikiran Liar terus menerobos masuk ke kepalanya. Ilyas menyesal telah membuat Qonni menangis di malam pertama dirinya menyentuh tubuh perempuan terkasihnya itu.


__ADS_2