
Malam telah datang, baru selesai acara tasyakuran yang di hadiri bapak-bapak tetangga. Dimana keramaian perlahan-lahan berubah kembali sepi, hanya tersisa suara Ilyas dan adik-adiknya yang masih mondar-mandir membereskan sebagian agar tak terlalu berantakan.
Qonni berdiri mengayun tubuhnya demi sang anak lekas tidur. Sejak sehabis Magrib tadi, tangis Nisa terus memekik dan hanya akan berhenti ketika sang ibu menimangnya.
"Gimana, Nisa?" Pria dengan sarung dan koko yang masih melekat di tubuhnya nongol dari balik pintu kamar. Masuk, sembari menutup pintu.
"Udah mulai tenang sih, tapi nggak mau ditidurin ke kasur," jawab Qonni yang mulai lelah menggendong anaknya sejak sore tadi.
Tidak biasanya anak itu rewel apa mungkin karena suasana kamar yang agak pengap? Di tambah hawa panas yang membuat tubuh mungilnya itu terus berkeringat. Ya, anak itu belum terbiasa tidur di tempat lain.
"Sini coba biar aku yang gendong. Kamu pasti capek." Ilyas meraih anaknya, mendekap dan menimangnya dengan penuh kasih sayang.
Qonni memijat bahu, melakukan peregangan ringan demi menghilangkan pegal di lengan dan bahu karena sedari tadi menggendong sang anak.
"Kasian, disini anak Abi kegerahan, ya?" tanya Ilyas lirih pada Nisa yang sedang tertidur. Sambil sesekali mencium, pria itu memeriksa kipas angin yang di hadapkan ke tembok dan menggeser ke arahnya.
"Mas, jangan dihadapin ke Nisa langsung." Qonni menahannya, memutar kembali kipas berdiri yang ada di dekatnya.
"Emang kenapa, kan biar nggak gerah," tanyanya kurang paham.
"Iya tahu, tapi anak kecil nggak boleh langsung kena kipas angin. Itu kata ibu, sih."
"Gitu ya?" Ilyas mencium lagi pipi Nisa, dan mencoba untuk meletakkan di atas kasur. Di tunggu sebentar, hingga benar-benar yakin anak itu tidak terjaga sampai tangannya bisa ia tarik keluar dengan hati-hati.
Qonni melirik dari belakang punggung yang condong ke depan itu. Memastikan juga kalau anaknya tidak akan terjaga. kemudian melangkah mundur saat pemuda itu membalik badan.
"Liat tangannya," meraih tangan Qonniah sembari memintanya untuk duduk di bibir ranjang. Sambil memijat-mijat pelan, pemuda itu kembali berkata. "Maaf ya dari tadi aku nggak bantuin kamu gendong Nisa."
Perempuan di hadapannya tersenyum tipis. "Nggak papa, Mas. Justru aku yang ngerasa nggak enak karena di kamar terus."
"Ya enggak lah, ngapain ngerasa nggak enak." Di genggamnya telapak tangan sang istri lantas menciumnya.
"Mas aku baru tahu, kalau kamu bertetangga dengan Bu Fatimah."
Ilyas bergeming sembari mengangkat wajahnya.
"Kamu kenal?"
__ADS_1
Qonni mengangguk. "Aku kenal Dia. Karena kita ngajar di sekolah yang sama dan meja Beliau bersebelahan dengan meja ku. Makanya aku jadi lumayan dekat dengannya."
"Allahu Akbar..." gumamnya lirih
"Kenapa, Mas?"
"Nggak papa, Sayang." Ilyas kembali mencium tangan isterinya, kemudian merengkuh tubuh langsing yang kembali kaku saat bersentuhan dada dengan suaminya sendiri.
Ilyas tertegun, memandangi tembok di belakang tubuh isterinya. Serasa dunia amatlah sempit. Tak di sangka, isterinya berteman dengan gadis yang sempat ia tolak sebelum ini. Berharap hubungan Qonni dan Fatimah akan baik-baik saja. Walau salah satu di antara mereka sedang merasakan patah hati.
Baru beberapa menit anak itu di letakkan di atas kasur, sudah kembali terbangun. Keduanya kompak menoleh, Ilyas melepaskan pelukan itu kemudian mengambil alih. Mengipasi sang anak dengan potongan karton. Dan benar, anak itu kepanasan buktinya ia kembali tidur saat sang ayah mengipasinya perlahan.
***
Di tempat lain...
Bu Sofian meletakkan secangkir kopi untuk suaminya yang sedang menonton acara berita di televisi.
"Ayah kenapa nggak datang untuk memenuhi undangan Ilyas?" tanyanya sambil duduk di sebelah pria paruh baya itu.
"Saya capek baru pulang, Bu," jawabnya ogah-ogahan.
Pak Sofian bergeming, tatapannya fokus mengarah pada sebuah pemberitaan kasus pencucian uang yang di lakukan oleh seorang menteri.
Karena tak mendapatkan respon lagi, sang istri pun beralih dengan majalah Islami yang tergeletak di atas meja. Ia sendiri tahu, sejak Ilyas menolak puteri mereka, sang suami memang sudah tak lagi peduli pada keluarga itu. Bahkan, terkesan menghindari pemuda yang akrab dengan lensa minus di kedua matanya.
"Fatimah mana, kok dari tadi nggak keluar. Biasanya kalau Ayah pulang pasti langsung nemuin."
Bu Sofian terdiam. Ia tidak bisa menjawab jika puterinya sedang dirundung kesedihan, sehabis melihat isteri dari Ilyas.
"Bu?"
"Emmm..., kecapekan, Yah. Jadi Dia tidur cepet."
"Masa sih? Bukankah hari ini UTS terakhir murid-muridnya?"
"Iya, tapi Fatimah tadi pulang sore," timpalnya menutupi kondisi yang sebenarnya. Beliau hanya khawatir kalau suaminya akan meluap-luap lagi.
__ADS_1
Tidak adanya pikiran macam-macam, Pak Sofian kembali diam. Serius mendengarkan berita yang sedang hangat-hangatnya berseliweran di layar kaca.
...
Ketika pagi datang di hari Minggu, Fatimah terlihat sudah siap dengan gamis warna hitam dan kerudung segi empat syar'i warna moca.
"Mau kemana pagi-pagi gini?" Tanya Pak Sofian sembari melepas kacamata bacanya.
"Mau keluar, Yah. Cari angin...," jawabnya lesu seraya mengulurkan tangan.
Pria paruh baya itu melirik ke arah jam dinding. "Jam enam pagi?"
Fatimah diam saja hanya mengangguk setelah mencium punggung tangan Ayahnya.
"Tunggu, mata mu kenapa sembab begitu?"
"Enggak ah, mana ada mata ku sembab." Fatimah menampiknya.
"Jangan bohong. Kenapa kamu? Nangisin Dia lagi?"
"Enggak, Yaaah."
"Fatimah, jangan jadi gadis bodoh lah. Laki-laki itu banyak. Jangan nyakitin diri sendiri."
"Enggak, enggak... Apa sih Ayah ini..., udah ya Fatimah pamit dulu. Assalamualaikum–"
"Walaikumsalam. Fatimah hati-hati. Jangan ngebut kamu! Jangan bertindak yang nggak-nggak." Pak Sofian berseru dengan perasaan khawatir saat anak gadisnya pergi dengan tujuan yang jelas.
pak Sofian menghela nafas kasar. Sebagai seorang Ayah, melihat anak satu-satunya seperti orang yang tak memiliki gairah hidup tentunya membuat dia khawatir sekaligus geram. Namun mau bagaimana lagi jika Fatimah dan Ilyas memang tidak jodoh.
...
Di depan gerbang, gadis itu termangu. Melihat ke sisi rumah Ilyas. Rumah yang sepi sebelum ini terasa ramai karena candaan dari pria berkacamata itu dengan anak tirinya yang masih balita. Dan satu lagi, perempuan yang duduk di sebelah Ilyas kontan membuat kedua tangannya mengepal kuat.
Sorot mata Qonni menangkap gadis yang masih berdiri setelah membuka gerbang rumahnya. Setelahnya tersenyum, Qonni bangkit. Berniat untuk menghampiri teman seprofesinya.
Tapi, belum juga keluar dari teras rumah, Fatimah membuang muka dengan ekspresi tak bersahabat. Ia buru-buru masuk ke dalam yang kontan menghentikan langkah perempuan dengan hijab instannya. Qonni merasa heran dengan sikap Fatimah tadi. Bukankah, gadis itu biasanya ceria apalagi jika bertemu dengannya.
__ADS_1
Ilyas yang menyadari itu tak bisa berkata apa-apa. Ia masih membiarkan isterinya tertegun di tempatnya hingga mobil yang di kendarai Fatimah keluar. Kemudian melesat dengan cepat melewati depan rumahnya. Laki-laki itu beristigfar tanpa suara.