
Malam semakin gelap, gadis dengan setelan baju tidur itu belum juga memejamkan mata. Padahal tubuhnya yang lelah sudah terbaring sejak tadi, memeluk bantal panjang dengan selimut menutupi hingga ke bahu.
Beberapa menit yang lalu, Fatimah baru saja selesai membaca buku yang pada lembaran pertama terdapat tanda tangan Maryam Chwa, si penulis.
Satu kata di akhir yang membuatnya tercenung yakni; jika tidak bersatunya kamu dan dia, lantas membuatmu merasa manusia paling tak beruntung. Seharusnya pertanyakan lagi, benarkah itu cinta atau nafsu belaka yang telah membuatmu tenggelam dalam lautan dosa.
Astaghfirullah al'azim
Mendadak tak habis pikir dengan diri sendiri. Sejenak nafsu membuatnya buta akan hakikat cinta sesungguhnya. Tentang keikhlasan, tentang kesabaran, dan tentang ketakwaan. Allah SWT tidak pernah ridho pada siapapun yang mencintai mahluk melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul. Ia sudah benar-benar melewati batas, jadi seperti inilah pada akhirnya. Ia tersiksa pada perasaannya sendiri.
Helaan nafas terdengar dari bibir gadis itu, menyesali. Kemudian berpikir, tentang keharmonisan yang di tunjukkan pasangan Ayudia dan Ilyas amatlah alami.
Ayu terlihat memperhatikan Ilyas, begitu pula Ilyas yang terlihat bahagia. Memang mereka amatlah serasi, yang membuatnya berpikir. Mungkinkah, Ilyas akan sebahagia itu jika hidup dengannya?
Jawabnya belum tentu— bisa jadi saat bersama dirinya, Ilyas sama sekali tak bahagia. Terlebih jika yang ia miliki hanyalah raga, tak berserta pula hatinya. Yang ada, bahtera yang indah itu akan beralih menjadi kesedihan sebab cinta yang tak terbalaskan meski telah terikat benang merah pernikahan.
Kembali bibir itu beristigfar. Fatimah mulai memanjatkan doa tidur dan dzikir-dzikir tambahan, setelahnya memejamkan mata.
***
Di tempat lain.
Pagi kembali datang setelah lewat beberapa hari. Kini pria berkacamata itu nampak siap menggunakan seragam dinasnya. Ilyas memasang kacamata di depan cermin sementara sang Isteri tengah menyusui Nisa yang berada di atas pangkuannya.
"Mas, yakin mau berangkat ngajar hari ini?" tanya Qonni sekali lagi menyakinkan. Pasalnya belum genap seminggu loh Pria itu rehat. Seharusnya kan menunggu dulu sampai benar-benar sembuh.
"Yakin, dong. Mas beneran udah sembuh, Kok," jawab Ilyas sambil tersenyum.
Langkah panjangnya terayun mendekati Ayudia Qonniah. Kemudian duduk di sisi wanita tercintanya. Mengusap-usap kepala Nisa yang sudah di penuhi rambut yang memanjang. Di kecupnya kepala sang anak yang masih asik menghisap ASI dari sumbernya langsung.
Tatapan Qonni terarah padanya. "Tapi pakai ojek online, 'kan, Mas? Jangan bawa motor sendiri."
"Enggak, ah... enak bawa motor sendiri. Lagian kan tuh motor udah di bawa kesini sama Ibnu dan Abas kemarin."
"Iya aku tau, tapi masalahnya jahitan Mas itu loh. Kalau nanti sakit lagi gimana? Jangan aneh-aneh, Mas."
__ADS_1
"Bismillah, Sayang. Doakan aku baik-baik saja saat bawa motornya. Lagian kemaren sore, Mas udah coba muter-muter komplek, ngelatih tangan masih linu atau nggak, di bagian jahitannya. Ternyata udah enggak."
"Mas, sekali ini aja dengerin apa kata aku. Kamu itu ngajar di Cileungsi. Nggak deket kaya lokasi ku kerja."
Ilyas tersenyum, satu tangannya menggampit kedua pipi sang istri hingga bibir Qonni agak sedikit mengerucut.
"Maaaas–" rengeknya minta di lepaskan. Ilyas terkekeh.
"InshaAllah! Mas bisa, Dek," jawabnya optimis.
Qonni pun mengalah. Mau bagaimana lagi— Ilyas termasuk salah satu dari suami-suami yang teguh pada keinginannya. Apapun kalau dia sudah berkeinginan maka sudah tidak ada lagi yang bisa menghalangi. Ya, kurang lebih hampir sama dengan Harun. Namun sepertinya lebih kuat Ilyas sih soal pendirian.
Mata perempuan itu tertuju pada sang anak yang telah melepaskan hisapannya. Bibirnya yang masih memperlihatkan gerak menghisap terlihat lucu.
"Anak Abi udah mandi, sarapan, sekarang tinggal tidur, nikmatnya hidup—" ucapnya membuat Qonni turut terkekeh seraya memasang kembali kancing bajunya. "Hari ini pulang jam berapa, Sayang?"
"Seperti biasa, Mas. Karena aku nggak ada acara apapun."
"Kalau begitu, sore kita jalan-jalan sama Nisa ya. Piknik ala-ala di taman Harapan Indah."
"Wah, boleh, Mas. Deket juga sama rumah Pakde Irsyad. Nanti kita mampir sekalian– kebetulan, Pakde lagi di Jakarta."
Pelan-pelan meletakkan Nisa ke atas ranjang. Qonniah pun kembali bersiap. Di pandangnya diri di depan cermin. Pakaiannya sudah rapih, ia pun siap untuk bertugas sebagai seorang guru walau masih berstatus honorer sama seperti suaminya. Namun keikhlasan demi mencerdaskan anak bangsa tak pernah menyurutkan langkahnya untuk terus berangkat ke sekolah setiap pagi.
Langkah mereka beriringan keluar meninggalkan Nisa sebentar, sebelum di ambil alih oleh sang pengasuh. Dimana wanita paruh baya itu rupanya sudah siap menunggu di bawah.
***
Pukul 12: 25...
Qonni merapikan mukenahnya setelah selesai sholat berjamaah. Seorang gadis yang berada kurang lebih dua meter dari posisi Qonni nampak berpikir. Tatapannya sesekali melirik sebelum akhirnya beranjak, mendekati Qonni.
"Bu Ayu–" panggilnya. Qonni sendiri gegas mengangkat kepala, hingga senyum mengulas dari bibir manis Qonni menyambut Fatimah.
"Ada apa, Bu Fatimah?"
__ADS_1
"Bisa kita bicara sebentar. Habis ini, jam kosong 'kan?" tanyanya yang di jawab anggukan kepala oleh perempuan di sebelahnya.
Beberapa saat kemudian, tatkala masjid mulai sepi karena para murid dan guru yang beribadah tadi telah meninggalkan tempat ini dan beralih dengan aktivitas belajar mengajar. Keduanya duduk berhadapan di saf perempuan.
Posisi Fatimah yang sedang duduk bersimpuh terlihat mengusap-usap tangannya sendiri di atas pangkuan. Perempuan dengan hijab syar'i itu sedikit tertunduk menekuri lantai marmer di hadapannya.
"Dulu, ada seorang gadis kecil yang selalu tak sabar menanti waktu senja. Karena di waktu itu ia akan antusias sambil membawa mukenah menuju masjid terdekat. Dimana kala itu ada seorang santri yang sangat ramah selalu mengajarkan kami membaca Al Qur'an, sekaligus memberikan dongeng tentang para sahabat," ujarnya sembari membayangkan masa lalu yang telah ia lewati.
Qonni terdiam mendengarkan. Sambil terus memandang dia yang tengah terlihat kosong.
"Gadis itu kagum pada sang guru ngaji, sebab kebaikan dan senyum yang tak pernah memudar. Dia Ustadz Ilyas, dan gadis kecil itu adalah saya."
Perempuan di hadapan Fatimah kembali terhentak. Namun ia masih berusaha tenang, terlebih saat tatap mata Fatimah kembali mengarah padanya
Fatimah menggigit ujung bibir bawahnya. Rasa bersalah semakin kuat. Ia meraih tangan Qonniah dengan hati-hati.
"Maaf, aku harus bercerita seperti ini lagi, Bu Ayu. Tapi percayalah, saya nggak bermaksud untuk melukai Bu Ayu. Justru sebaliknya, saya mau minta maaf atas segala perlakuan saya yang telah di butakan oleh nafsu berkedok cinta."
Nampak tangan Qonni membalas genggaman tangan Fatimah, walau bibir masih membisu.
"Saya malu, karena telah mengabaikan Bu Ayu, hanya karena kecemburuan yang tak seharusnya ada. Tanpa saya sadari, kalau selama ini cinta Mas Ilyas nyatanya hanya untuk satu wanita. Yaitu kamu, Bu Ayu. Sayalah yang terlalu memaksakan. Maafkan saya, ya?"
"Nggak, Bu Fatimah. Justru saya yang seharusnya minta maaf. Karena tidak memahami mu."
Fatimah menggeleng, bibirnya tersenyum tipis. "Untuk apa memahami saya? toh, saya dan Mas Ilyas nggak ada hubungan apapun. Intinya disini saya hanya iri saja, dan saya mengakui sekarang. Itu adalah perbuatan yang salah."
Qonni tersenyum, menanggapi perempuan tersebut.
"Bu Ayu maafin saya, kan?"
"Tentu, Bu Fatimah. Bahkan saya juga nggak menganggap kita memiliki masalah."
Fatimah terkekeh, "karena aku lah yang bermasalah."
"Jangan ngomong gitu, justru aku rindu kita bisa dekat lagi, Bu Fatimah. Apa Bu Fatimah masih mau berteman dengan saya," tanyanya yang di balas anggukan kepala.
__ADS_1
"Tentu saja, Bu Ayu. Dan seharusnya hal itu yang menjadi pertanyaan saya." Keduanya terkekeh canggung, dengan tangan masih saling menggenggam.
"Alhamdulillah," ucapnya sebelum melepas tangannya kemudian mereka pun saling berpelukan.