Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Guru baru


__ADS_3

Semenjak habis masa cuti, Qonni kembali di sibukkan dengan rutinitasnya sebagai pengajar. Sang guru matematika ini sudah siap dengan seragam dinas, tengah menyusui sebentar bayinya yang terlihat tenang menghisap sumber Asi.


"MashaAllah, pinternya anak Ummi." Qonni kembali menutup kancingnya. Saat anak itu telah selesai dan kini sedang memejamkan mata.


Pintu kamarnya terbuka, Aida masuk hanya untuk melihat anak dan cucunya itu.


"Tidur, Nduk?" Tanyanya.


"Iya, Bu."


"Eees, Cah Ayu sama Mbah Uti dulu." Aida duduk di tepi ranjang. Mengungkung tubuh mungil yang tertutup selimut bayi. "Loh, ini udah di mandikan ya?"


Qonni mengangguk. "Tadi pagi Qonni sempet mandiin juga."


"Walah, udah ibu bilang berkali-kali to? pagi-pagi Nisa jangan di mandiin. Biar ibu aja yang mandiin, agak siangan. Kasian paru-parunya takut nggak kuat kena hawa dingin. Apalagi dia habis demam." Aida mengoceh sambil mencium cucunya yang harum. Hingga membuatnya betah untuk menempelkan bibir di pipi mungil tersebut.


Mendengar itu Qonni tersenyum. Ibu memang paling cerewet sih dalam urusan cucuk. Apalagi pada ibu baru yang mengambil ilmu modern seperti Qonni. Tak jarang wanita paruh baya itu gemas dengan apa yang di lakukan puterinya yang terkadang tidak pas di hati. Tapi namanya juga orang tua, begitulah pikir Qonni yang terkadang risih juga. Untung saja ibu kandung. Jika ibu mertua mungkin Qonni tidak akan setenang ini menyikapinya.


"Wes! Pokoknya besok pagi-pagi jangan di mandiin lagi," imbuhnya menekankan.


"Nggak papa, Bu. Dulu juga waktu masih di rumah sakit, Nisa di mandiin suster jam enam pagi 'kan? Dan lagian aku juga mandiin dia pakai air hangat." Kilah Qonni yang kembali bangkit untuk membenahi pakaiannya.


"Halah, anak jaman sekarang emang ngunu, kok. Kalau di omongin," gerutunya. Qonni sendiri hanya geleng-geleng kepala sambil menyambar tas yang sudah ia siapkan di atas nakas.


"Bu aku jalan dulu. Titip Nisa sebentar? Tadi Bu Nanik bilang agak telat ke sini, karena pagi ini anaknya mau berangkat ke Kalimantan." Qonni meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangan tersebut.

__ADS_1


"Iyo– lagian jahitan ibu nggak banyak. Ya udah sana berangkat, hati-hati. Ojo ngebut, Nduk!"


"Iya, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Tanpa menutup pintu kamar, Qonni langsung melenggang pergi dengan tatapan mengarah sebentar pada Nisa. Sudah mulai terbiasa, ia pun tak lagi merasakan beban di hatinya saat meninggalkan Nisa dengan ibu dan wanita yang di tunjuk sebagai pengasuh Nisa selama mengajar di sekolah.


Mau bagaimana lagi, sempat ia memikirkan saran ibu kandung dan ibunya Harun jika sebaiknya Qonni keluar dari pekerjaannya demi bisa fokus merawat Nisa. Toh, uang bulanan selalu mengalir dari pihak keluarga Harun untuk mereka. Namun, bukannya Qonni menentang saran mereka. Hanya saja, ia sudah merasakan beberapa bulan ini di rumah saja. Kehidupannya malah semakin menjadi stress karena tidak ada hiburan yang membuat perempuan berhijab itu bisa menghilangkan perasaan sedih di hatinya.


Karena hanya bergelut dengan rumus matematika dan bertemu anak didik. Ia bisa melepaskan hormon stress yang menumpuk di tengkuk dan kepalanya.


Pagi bergulir cerah, angin pula masih sejuk menghantam hingga menembus masuk mengenai tubuhnya yang tertutup jaket. Qonni mulai bisa menikmati hidup dengan penuh rasa syukur tak seperti sebelum-sebelumnya. Memang tidak mudah untuk kembali ke titik di mana saat masih ada kekasih hati yang menemani. Namun, bukankah sebelum ini ia memang sudah sendirian? Jadi apa alasan dia untuk terus murung. Toh, setiap hamba Allah pasti akan meninggalkan dunia ini.


Motor maticnya terus melaju, menerjang jalan raya yang sudah mulai ramai aktivitas orang-orang yang hendak ke kantor atau mungkin para pelajar yang akan menimba ilmu.


Di sekolah...


"Assalamualaikum..." Qonni menyapa seraya masuk ke dalam kantor para staf pengajar. Ruangan yang penuh dengan tumpukan buku di atas meja-meja yang berderet itu masih nampak sepi. Dan baru segelintir orang saja di dalam, termasuk guru baru bernama Fatimah Nur Handayani.


Mereka yang ada di dalam tentunya langsung menjawab. Ada yang hanya menjawab dengan bibir saja tanpa menoleh karena sedang sibuk dengan laptop yang menyala. Mempersiapkan soal untuk ulangan harian. Ada pula yang menjawab dengan senyum, sambil mengarahkan pandangannya pada guru perempuan bertubuh langsing yang saat ini sedang melangkah masuk menuju mejanya.


"Bu Ayu sudah masuk? Gimana Dedenya?" tanya perempuan muda dengan hijab warna khaki di sebelah kursi Qonni.


"Alhamdulillah, udah nggak rewel," jawab Qonni sambil menghempaskan bokong. Kemarin ia memang sempat tidak masuk. "Anakku kemarin hanya demam karena habis imunisasi, Bu Fatimah," imbuhnya.

__ADS_1


"Ohhhh..., ahamdulillah kalau gitu." Fatimah yang mengajar Bahasa Indonesia tersenyum.


Adapun Qonni langsung bergeming, saat melihat banyaknya tumpukan LKS di atas mejanya.


"Omong-omong, kemarin para murid sudah mengerjakan tugas dari Bu Ayu. Dan buku LKS mereka juga sudah di tumpuk di situ."


"MashaAllah, makasih banyak Bu Fatimah." Qonni tersenyum sebelum kembali menggeser pandangannya pada buku di atas meja dengan pasrah.


Sebenarnya saya nggak minta di kumpulkan. Mereka biasa mengoreksi bukunya sendiri dengan menukar buku milik teman-teman yang lain. Kalau kaya gini, aku bisa pulang terlambat karena mengoreksi buku LKS dari tiga kelas. –batin Qonni melanjutkan.


Perempuan yang baru saja tiba itu langsung membuka buku LKS pegangannya, dimana semua soal evaluasi telah diisi. Jadi hanya tinggal mencocokan hasil dari para muridnya. Qonni mulai memeriksa buku LKS mereka satu persatu.


Beberapa menit berlalu. Bel tanda masuk berdering, para guru mulai mempersiapkan diri untuk mengajar. Adapun Qonni langsung mengecek jadwal di papan besar yang terpampang di dinding belakang ruangan guru itu.


Nasib menjadi guru matematika, yang tentunya akan sangat jarang dalam satu hari itu ada jam yang tak ia isi. Lebih-lebih hari Senin, Selasa dan Rabu. Semua Full ... perempuan langsing itu langsung menutup penanya. Dan bersiap.


Baiklah, biar nanti saja. Hari ini saatnya menyelam bersama materi Logaritma di kelas sepuluh empat–Qonni menghela nafas, menjalani rutinitasnya sebagai guru dengan sebaik mungkin.


"Saya duluan, Bu Fatimah." Pamit Qonni pada guru yang sedang menutup kotak berisi cemilannya.


"Oh... iya Bu." Fatimah tersenyum manis.


Sorot matanya mengikuti laju langkah kaki Ayudia Qonniah. Kemudian geleng-geleng kepala.


"MashaAllah, aura guru matematika itu beda. Keliatan sekali disiplinnya," gumam Fatimah penuh kekaguman.

__ADS_1


Dia sendiri pun beranjak, sebagai guru baru tentunya ia tidak boleh kalah semangatnya dengan Ayudia yang sudah tiga tahun lebih mengajar di sini. Ia pun gegas melenggang pergi menuju kelas yang sudah terjadwal untuk ia masuki.


__ADS_2