Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Kencan


__ADS_3

Di depan cermin, wanita berwajah oval ini tengah merias tipis-tipis wajahnya. Seperti baru pertama kali berkencan.


Sejak siang tadi Qonni sudah sibuk memilih setelan yang pas untuk ia kenakan malam ini.


Di pilihnya rok plisket warna moca yang di padukan dengan sweater warna coklat susu beraksen garis warna maroon.


Terakhir, ia menyemprotkan setting spray di wajah. Berguna untuk mengunci minyak wajah serta keringat agar make-upnya tidak cepat luntur.


Tinggal menggunakan pasmina. Qonni sibuk memasang hijab berbentuk persegi panjang itu, mengikuti gaya kekinian. Karena memang, gadis itu sebenarnya tak se-syar'i kakaknya Safa.


Setelah selesai ia berdiri di depan cermin lain, yang tingginya melebihi tinggi badan Qonni. Tubuhnya memutar, melihat-lihat apakah sudah benar-benar pas.


Senyum perempuan itu mengembang malu-malu. Ia sadar, sudah tidak pantas untuk berlaku centil seperti ini. Padahal, kenyataannya malam ini Qonni nampak manis sebab tubuh mungilnya itu. Yang bisa saja, orang-orang mengira dirinya belum menikah.


Di rasa sudah cukup, ia pun mengambil Tote bag warna kaki. Dan keluar dari dalam kamar menghampiri suaminya yang sudah siap sejak tadi.


....


Di bawah, Ilyas sedang menemani Nisa bersama Ulum yang juga turut duduk-duduk di ruang tamu. Tawa ringan keduanya terdengar, menanggapi celoteh tak jelas dari mulut mungil milik Nisa.


Diliriknya pintu menuju ruang tengah sebentar, sebelum kembali ke Nisa, namun satu detik berikutnya balik lagi ke arah pintu dengan gerakan cepat. Ilyas tertegun Qonni muncul dengan penampilannya yang sederhana namun sangat manis.


"MashaAllah–" gumamnya lirih.


Pak Ulum yang menyadari tatapan Ilyas langsung menoleh kebelakang. Kemudian tersenyum, Beliau mendekati Nisa.


"Yuuuk, sama Akung." Pelan menggendong Nisa, anak itu menurut saja walau sempat nolak.


"Ayah, maaf ya. Qonni sama Mas Ilyas pergi nggak bawa Nisa."


"Nggak papa, Nak. Malah ayah nggak kasih, kalau kalian bawa Nisa naik motor malam-malam," jawabnya sebelum mencium pipi gembil cucuknya.


"Nduk, tadi udah di susui, 'kan?" Tanya Bu Aida sambil melangkah keluar.


"Udah, kok. Tapi Nisa nggak mau tidur."


"Yo wes, nggak papa. Nanti dia juga tidur. Ini aja udah keliatan ngantuk."


Qonni mengangguk, setelahnya Ilyas berpamitan. Di raih tangan Ulum dan Aida secara bergantian. Mereka berdua pun keluar.


"Nggak pake jaket, Dek?" tanyanya di pelataran rumah.


"Ini kan sweater, Mas. Jadi bisa tetap hangat."

__ADS_1


"Gitu, ya?" Pria itu mengaitkan pengaman helm di bagian dagu sambil terus menatap wajah Qonni.


"Kenapa sih?"


"Apanya?"


"Kamu ngeliat aku gitu banget. Apa ada yang salah? Make-up ku berlebihan ya?"


Ilyas tersenyum, buru-buru menggeleng. "Aku tuh terpesona, Dek. Kamu cantik banget malam ini. Ya, tiap hari cantik sih. Tapi sekarang kaya lebih nggemesin."


Perempuan di hadapannya tersipu. "Udah buruan jalan, takut kemalaman."


"Emang kenapa kalau kemalaman. Makanannya tetap kebagian kok," ledek Ilyas hingga mendapatkan pukulan manja di bahu.


"Bukan itu," rengeknya yang di tanggapi tawa Ilyas.


Pria berkacamata itu gegas menunggangi sepeda motornya, kemudian di susul Qonni membonceng di belakang. Di raih pula kedua tangan sang istri, membawanya kedepan.


"Pegangan, kalau jatuh nggak ada lagi serepnya."


"Mas, emang aku roda?"


"Bukan roda. Tapi barang langka, yang hanya dimiliki Ilyas," timpalnya, membuat senyum Qonni mengulas.


Mesin motor mulai di nyalakan, Ilyas membaca doa kemudian melaju dengan kecepatan sedang keluar dari pagar rumah.


Sebenarnya pernah juga keluar malam saat masih sendiri setelah sepeninggalan Harun. Namun biasanya tak se-tenang ini. Paling, hanya sekedar ke mini market. Ataupun mengambil benda yang ia pinjam ditempat temannya.


Qonni mendongak, menatap wajah Ilyas dari samping karena posisinya tubuhnya sangat menempel ia jadi bisa melihat wajah pria di depannya walau sebagian saja.


Mas Ilyas kok kaya makin memancarkan auranya, ya?


Qonni tersenyum tipis, yang sejenak meredup kala menyadari. Tatapannya kepergok Ilyas dari spion. Pria itu nyengir dengan ekspresi menggoda.


"Mas ganteng ya? Di liatin terus ampe kaya gitu."


Perempuan di belakang berdeham lalu mengalihkan pandangannya ke arah gedung-gedung yang berjajar di sisi kiri.


Ilyas *******-***** lutut Qonni sambil senyum-senyum sendiri. Setelah itu fokus memegangi stang kemudi sebelah kirinya lagi.


Lirikan matanya bergeser pada spion. Laki-laki itu nampak serius memandangi jalan. Qonni pun mempererat pelukan di pinggang, lantas ketika pria di depan menoleh ke spion lagi perempuan itu tersenyum manis.


"MashaAllah, Dek... kita puter balik aja apa gimana ini? Kayanya enakan kencan di rumah."

__ADS_1


"Hahaha..." Qonni terkekeh. Andai tidak terhalang helm ia ingin menyandar di bahu lebar suaminya karena se-nyaman itu.


***


"Assalamualaikum!" Seru Ilyas di depan Cafe yang terlihat lumayan ramai walaupun masih pembukaan.


"Walaikumsalam warahmatullah..." Menyerah pekerjaannya sebentar pada sang isteri yang turut membantu. Pria dengan jenggot tipis dan peci rajutnya itu gegas menghampiri Ilyas, kemudian memeluknya.


"Weeeh, si juragan jengkol. Ilham..." Menepuk-nepuk punggung pria dalam pelukannya.


"Syukron... syukron.... Ane pikir, Antum nggak bisa dateng."


"Dateng lah, orang makan gratis masa nggak dateng?" Terkekeh.


"Bener-bener nggak berubah, Antum ini." Ilham turut tertawa. Beliau pun beralih pandang pada perempuan di sebelah Ilyas sebentar, kemudian kembali pada Ilyas dengan jari telunjuk mengarah padanya. "MashaAllah, ucapan Antum di kosan Haki waktu itu terkabul?"


Ilyas tergelak, padahal ia sudah lupa tapi malah di ingatkan lagi. Ilham geleng-geleng kepala.


"Eh, sama yang waktu magrib itu kan. Sehabis kita nganterin Ukhti ini?" sambungnya kemudian.


"Eh.." Qonni baru sadar, salah satu dari teman Ilyas yang nolong dia saat di Bogor rupanya orang ini.


"Iya bener..." Ilyas mengangguk cepat. Tawa keduanya masih belum berhenti.


"Bener-bener mustajab doa saat adzan ya? MashaAllah." Geleng-geleng kepala. Beliau menoleh ke arah isterinya lalu memanggil perempuan berhijab syar'i tersebut.


Sedikit tergopoh langkah perempuan itu menghampiri. Menuruti panggilan suaminya.


"Yang, ini temenku. Sewaktu kuliah, sekaligus teman waktu Abang masih ngajar di Cileungsi. Dan ini isterinya," ucapnya memperkenalkan.


Perempuan itu langsung menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada pada Ilyas. Kemudian mengulurkan tangan pada Qonni.


"Uswah–" ucapnya memperkenalkan diri sambil tersenyum.


"Ayu," balas Qonni tak kalah ramah


Kayanya perempuan ini anak kyai atau mungkin perempuan yang pernah mondok di pesantren, deh. Terlihat dari celak di bawah matanya. –komentar dalam hati Qonni pada perempuan cantik di depan.


"Silahkan duduk, nanti biar saya siapkan menu spesial disini. Sekalian nunggu yang lain?"


"Wah kita pertama datang nih berati dari tamu undangan yang lain?" tanya Ilyas langsung.


"Benar sekali. Lagian mereka udah Deket kok katanya. Nggak sabar pengen nyoba makanan di kedai Abu Adzkia." Menepuk dadanya sendiri.

__ADS_1


"MashaAllah–"


Pria dengan celemek di dada hingga bawah lutut terkekeh, kemudian mempersilahkan Ilyas dan Qonni untuk duduk. Ilyas sendiri langsung menggandeng tangan isterinya membawa langkah kecil itu ke meja yang terlihat lengang dan di rasa nyaman.


__ADS_2