
Di waktu yang sama, Qonni meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Satu untuk Ayah, satunya lagi untuk tamu dari Magelang. Kalian pasti bisa menebaknya, siapa tamu tersebut.
Ya, pria berwajah bijak itu kini sedang berada di jakarta. Banyaknya pekerjaan di sekitar Jabodetabek membuat Beliau harus sering-sering mengunjungi ibu kota. Tidak hanya itu, besok sore juga merupakan jadwalnya kontrol kesehatan. Walau harus selalu di ingatkan oleh putra-putri Beliau, namun Ustadz Irsyad bukanlah sosok orang tua yang sulit untuk diingatkan perkara kesehatannya.
Irsyad tersenyum, bibirnya bergumam hamdalah ketika melihat Qonni yang saat ini sudah mulai mengeluarkan aura positif, padahal sebelumnya sang keponakan seperti kehilangan jatidiri semenjak Harun berpulang. Sehingga membuatnya bersyukur, ketika perempuan penyuka warna dusty pink itu terlihat lebih bersinar.
"Di minum, Pakde," ucap perempuan berhijab pink tersebut setelah semua yang ada di atas nampannya berpindah ke atas meja.
"Alhamdulillah, rezeki silaturahmi. Salah satunya ya ini..., modal duduk, kopi datang dengan sendirinya." Seloroh Irsyad yang yang kontan mengundang tawa pelan dari Ulum yang ada di sebelahnya.
"Pade datang sendiri, kok nggak sama Kak Rumi dan Kak Debby?" Tanya Qonni.
"Mereka ada acara sendiri di rumah Tantenya. Lagian Pakde juga habis pulang dari rumah Faqih dan Nuha, biasa. Nengok para cucu."
Qonni manggut-manggut, kedua tangannya masih betah memeluk nampan bundar yang ia gunakan untuk membawa suguhan.
Pria dengan pakaian berlengan panjang itu meraih cangkirnya. Kemudian menatap Ulum dengan tangan menenteng cangkir.
"Saya ndak nunggu di suruh, ya Ulum. Kelamaan soale."
"Allah, Allah... maaf Kyai. Monggo silahkan di unjuk." Ulum terkekeh geli sambil mempersilahkan guru sekaligus kakak iparnya itu menikmati suguhan sederhana yang baru saja di sajikan oleh anak bungsunya.
"MashaAllah, nikmatnya kalau tinggal minum gini." Irsyad melirik kearah Qonni yang hendak pamit masuk. "Sehat, to, Nduk?" Tanyanya kemudian.
"Alhamdulillah, seperti yang Pakde lihat," jawab Qonni.
"MashaAllah, Alhamdulillah," gumam Irsyad. "Anakmu mana?" tanyanya dengan mata menyalang kearah pintu mencari Nisa.
"sudah tidur, Pakde?"
"Iya kah? Wah sayang sekali, padahal saya ingin bertemu Nisa... mau gendong."
"Pakde kurang cepet sih, datengnya," kekehnya.
"Walah, Yo wes. Besok tak main lebih awal lagi," balasnya sambil tertawa ringan. Yang di tanggapi sama oleh dua orang yang menjadi lawan bicara Irsyad.
Qonni sendiri masih berdiri di ambang pintu, menunggu Pakdenya menyesap sekali lagi minumannya.
__ADS_1
"Duduk sini, sebentar, Nduk. Pakde lama loh nggak ngobrol sama kamu," titahnya sambil meletakkan cangkir ke atas meja. "Nggak papa, 'kan?" sambungnya kemudian.
Qonni mengangguk, iapun kembali mendekati sofa dan duduk di dekat Ayahnya.
"Omong-omong anakmu udah bisa apa?" Tanya Irsyad.
"Udah bisa tengkurap sekaligus mengangkat bokong, Pakde," jawabnya antusias.
"Wah..."
"Sekarang, anak itu malah lagi deket-deketnya sama saya, atau sama Omnya Si Arifin," ujar Ulum menimpali.
"Iya, kah?" Irsyad menanggapi dengan ekspresi antusias.
"Iya, Pakde..., kalau rewel maunya sama Ayah. Baru diem."
"Lucu, ya?" Irsyad manggut-manggut sambil terkekeh.
Sejenak tatapannya menjurus pada foto keluarga yang di ambil saat pernikahan Qonni dan Harun.
Qonni bergeming ketika mendengar kata-kata di akhir. Sebenarnya tidak ada yang salah sih, hanya saja ia jadi teringat Harun. Nyatanya, Nisa memang sudah tak memiliki Ayah.
"Nduk?" panggilnya pelan.
"Ya, Pakde?"
Pria bijak di hadapannya merubah sedikit posisi duduknya menghadap Qonni.
"Kamu belum ada pikiran kah, untuk mencari pendamping hidup yang baru?" tanya Beliau hati-hati yang sontak membuat Qonni kembali termenung. "Nisa semakin besar, loh. Nggak pengen kah mencarikan sosok Ayah untuknya? Soalnya kalau sudah besar pastinya akan berbeda."
Lagi-lagi Qonni hanya diam, selain melirik kearah sang Ayah yang juga diam saja, kemudian kembali kepada Irsyad.
"Kamu perempuan, Nduk. Masih muda, masih cantik. Sebaiknya kamu mencari jodoh dengan segera. Atau mau Pakdemu atau Ayahmu ini yang mencarikan?" Selorohnya dengan di selingi tawa. Adapun perempuan di sisi Ulum hanya tersenyum sopan.
"Nak, yang di katakan Pakde itu benar. Biar apa? Biar kamu kalau kemana-mana nggak sendirian." Ulum menimpali sembari melekatkan jemarinya pelan di atas pundak Qonni.
"Tapi?" Perempuan itu mengangkat sedikit wajahnya. "Apa tidak boleh, kalau aku memilih untuk setia seumur hidup walau suamiku sudah wafat?"
__ADS_1
Irsyad yang masih menyunggingkan senyum teduhnya mengangguk sekali. "Yo, ndak salah."
"Alhamdulillah," gumam Qonni lirih sembari tersenyum.
"Tapi, apa kamu bisa menjamin bisa terhindar dari fitnah mu sebagai seorang wanita yang berstatus janda?" tanyanya yang kembali membuat Qonni membisu. "Kamu pikir, setelah seseorang wafat dia akan geram ketika tahu istri ataupun suami yang masih hidup menikah lagi dengan orang lain kemudian menyimpan dendam sambil nungguin kita yang masih hidup?"
Perempuan dengan alis yang sedikit tebal masih tertunduk mendengarkan.
"Mereka nggak ada waktu untuk mikir kesitu. Karena apa? Selain kehidupan alam barzah membuat orang yang telah meninggal sibuk dengan nasibnya sendiri. Semua hawa nafsu ketika ruh meninggalkan badan juga akan hilang. Tidak ada lagi keinginan makan, tidak ada keinginan buang kotoran, tidak ada keinginan untuk berhubungan suami-istri, ngantuk, apalagi cemburu. Semua itu turut mati, Nduk. Tertinggal di bumi. Yang jadi masalahnya adalah kita yang masih tinggal di dunia ini, mau bagaimana menjalani kelangsungan hidupnya?"
Walaupun perempuan itu hanya diam saja, namun Qonni tetap mendengarkan. Dan meresapinya ke hati.
"Ini bukan perkara orang-orang di dekatmu tidak mau direpotkan. Namun, lebih kepada fitnah seorang perempuan yang benar-benar besar. Kamu harus menikah lagi, agar ibadahmu jauh lebih sempurna. Karena dari pasangan mu lah, kamu bisa mendapatkan surga."
Kedua mata perempuan itu mulai mengembun. Manakala hati terus menderu nama Harun. Hingga riak ombak sebesar apapun menggempur nama yang terukir itu, tak mampu menghapusnya walaupun hanya tersamarkan.
"Bisa kamu cerna kata-kata Pakde mu dengan pikiran yang jernih, 'kan, Nak?" Ulum kembali menimpali dengan hati-hati. "Kami tahu, kamu masih mencintai Harun. Tidaklah mudah untukmu memiliki pendamping yang baru, sementara yang sebelumnya masih meninggalkan akar di dalamnya. Namun, denganmu menikah lagi setelah Beliau berpulang, bukan berarti kamu telah mengkhianati cinta Harun."
Teees... Setitik air mata buru-buru di sekanya. Qonni mengangguk dua kali. Bukan tersirat persetujuan untuk menikah lagi. Ia hanya berusaha memahami dan menerima kata-kata Ustadz Irsyad.
"Jangan kamu contoh Pakdemu yang menua sendiri seperti ini, Nduk. Tentunya Pakde juga pernah melamar seorang wanita, setelah kepergian Bude Rahma. Namun, nyatanya kami tetap tidak berjodoh mau bagaimana lagi?" Pria itu kembali terkekeh demi memecah suasana yang mendadak kembali kelabu.
"Tapi, jujur saja, Qonni takut tidak bisa bersanding lagi dengan A' Harun di akhirat. Padahal itu harapanku."
Irsyad menghembuskan nafas pelan. "Kamu masih bisa bersama lagi jika kalian sama-sama berada di surga. Dan apabila kau menikah lagi dan dua laki-laki yang menjadi pendamping mu di dunia sama-sama shalih, sama-sama masuk Surganya Allah. Kamu berhak memilih salah satu dari mereka. Tenanglah, Kau tidak akan kesulitan kelak. Karena itu yang di katakan Nabi Muhammad pada Ummu Salamah ketika ia ragu, untuk menikah lagi dengan Rosulullah selepas kepergian suaminya yang merupakan sahabat dari Rosulullah Saw."
Mendengar itu, pikiran perempuan berhijab pink ini mulai terbuka. Bayang-bayang akan mimpinya tempo hari pun kembali melintasi. Tentang peci yang di serahkannya pada laki-laki lain. Ia menafsirkan sendiri, mungkinkah suaminya pun menginginkan ia untuk menikah lagi? Namun saat mengingat laki-laki yang menerima peci putih itu adalah Ilyas. Qonni berusaha menepisnya.
"Sekarang sebaiknya kamu ikuti saja alur hidupmu, Nduk. Jangan hanya karena Kau memikirkan yang telah pergi, kau jadi membunuh hatimu yang sejatinya masih memiliki hak untuk bersemi. Namun bukan berarti harus terburu-buru. Pelan-pelan ikhlaskan yang telah pergi, lantas bukalah hatimu kembali secara perlahan untuk orang lain yang di ridhoi Allah."
Qonni tersenyum tipis. "Iya, Pakde. Qonni akan pertimbangkan kata-kata dari Pakde yang baik. Terima kasih."
"Maaf ya, Cah Ayu. Sudah bikin kamu jadi nangis lagi."
"Nggak papa, Kok." Perempuan itu berusaha terkekeh. Hatinya yang sedikit terbuka itu mulai lega, dan sesuai apa yang ia katakan. Setelah ini mungkin ia akan berusaha membuka hati dan benar-benar mengikhlaskan Harun demi cintanya yang baru kelak.
Maafkan aku A'. Walau kelak, aku bersanding dengan yang lain. Namun namamu akan tetap ku gaungkan dalam doa-doa Ku. Kau tetap, kekasih yang ku cintai dalam keabadian berupa kenangan yang tak akan pernah turut mati seperti jasadmu.
__ADS_1