
Pria yang tak pernah keluar hanya dengan memakai handuk setelah mandi itu tertegun. Melihat sang isteri tengah mengeringkan rambut di tengah malam menggunakan hairdryer.
Sosoknya yang kalem sejak kepergian Harun membuatnya semakin jatuh hati. Meski tak jarang batin merasakan lara, kala kekasih hatinya masih terikat dengan masa lalu. Namun, ia tetap bersyukur tatkala raga itu bisa ia sentuh dengan cara yang halal. Soal cinta? Ya, biarlah Allah yang menghadirkannya.
Wajah polos yang putih dan bersih menatap lurus kearah pintu kamar mandi yang terpantul dari cermin di hadapannya. Kala menyadari, sang suami terus memandangnya sembari berdiri di depan pintu yang terbuka.
Ilyas tersenyum ketika kepergok, ia lantas mendekati sang isteri. Melingkari pundak hingga ke dada dengan ke-dua tangan.
Denting jam mendominasi di tengah sunyinya kamar mereka. Tubuh perempuan itu mematung. Merasakan aroma sabun yang wangi dari tubuh Ilyas.
"Makasih ya, udah mau melayani ku. Maaf, bikin kamu mandi malam-malam," ucapnya.
Perempuan yang masih belum begitu terbiasa dengan apa yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu hanya tersenyum kaku, seraya mengangguk. Perasaan yang tak bisa di jelaskan menyeruak di dada. Terlebih tatapan penuh cinta dari Ilyas terus di arahkan kepadaya, membuat batinnya merasa bersalah.
Mau sampai kapan ia terus seperti ini, menyesal setelah melakukan hubungan suami-istri. Padahal, Ilyas bukanlah orang lain lagi.
"Mas mau pakai?" tanyanya menawarkan, guna menghalau pikiran liar yang mulai berduyun-duyun menyesaki kepala.
"Enggak, sayang. Rambut ku kan pendek. Jadi cepet kering," jawabnya.
Sementara itu tangan Qonni turun meletakkan hairdryer. Tak lupa mencabut colokan dari stop kontak setelah Ilyas melepaskannya dan melangkah menjauh.
Saya mencintai Mas Ilyas. Saya sangat mengharapkannya, Bu Ayu. –pekik lirih yang mengandung Isak tangis dari Fatimah kembali berdengung di telinga.
Sorot mata sayu-nya beralih, memandang punggung Pria berkaos oblong putih dan kain sarung melingkar dari pinggang hingga ke betis. Tengah berjalan menuju tandas untuk kembali mengambil air wudhu.
Bagaimana mungkin, aku terus kepikiran soal kata-katanya? Dan apakah aku ikhlas kalau harus kehilangan Beliau.
Secara diam-diam netranya masih mengikuti langkah Ilyas menuju balkon untuk menggantung handuk ke tiang jemuran kecil.
Apa yang ku pikirkan? Mas Ilyas kan nggak mungkin pergi dari sisiku sekarang.
Perempuan itu menghela nafas, kembali menggeser pandangan kearah cermin. Kedua tangannya yang menyilang kini mengusap bahunya sendiri.
Fokusnya teralihkan, pada jejak-jejak kemerahan di atas dada hingga ke bagian leher yang jumlahnya tidak sedikit. Kontan, ia terkejut sembari melebarkan mata.
Cukup aneh, kan? Padahal sejak tadi menghadap cermin. Kenapa ia baru menyadarinya?
__ADS_1
"Astaghfirullah al'azim," bergumam tanpa suara. Tangannya terus meraba-raba, menghitung satu persatu.
Apa yang ia dapatkan tak seperti saat pertama. Benar, ini adalah kali kedua ia menerima nafkah batin dari Ilyas. Karena memang, malam sebelum-sebelumnya Ilyas tidak pernah meminta jatahnya setelah yang pertama waktu itu.
Tapi tidak juga sampai meninggalkan bekas sebanyak ini, 'kan?
Ia bahkan bingung sendiri bagaimana cara menyembunyikan yang di leher. Kalau keluar tak memakai hijab, pasti akan terlihat orang rumah.
Ya ampun, ampe segininya –runtuknya dalam hati. Mencoba untuk mencari cara untuk menghilangkan, namun mustahil.
Ilyas kembali masuk sembari menutup pintu kaca. Rambut yang masih agak basah ia kibas-kibas, kemudian duduk di sisi ranjang.
"Kamu udah selesai belum?" Tanya Ilyas pada perempuan yang tak henti-hentinya memeriksa stempel cinta dari suaminya.
Perempuan itu pun terhenyak, buru-buru menoleh dengan sedikit salah tingkah.
"Udah, Mas," jawabnya sambil membenahi daster yang ia kenakan.
"Kalau udah sini..." Ilyas menepuk-nepuk permukaan kasur, meminta sang istri untuk tidur di sebelah Beliau duduk.
Dimana Qonni sendiri langsung menurut saja. Mendekati selimut yang sedang di pegangi suaminya.
Ya Allah... (Qonni)
Di tatapnya pria yang masih menunggunya masuk ke dalam selimut. Dengan hati-hati ia naik keatas ranjang. Namun, bukan merebahkan kepala di atas bantal. Qonni justru merebahkan kepalanya di pangkuan Ilyas.
Tentu saja, sesuatu yang tiba-tiba ini membuat pria itu langsung terdiam. Dimana sepersekian detik berikutnya senyum dari bibir pria itu mulai melengkung tipis.
"Mas mau baca Al Qur'an?" Tebak Qonni karena setiap malam, sebelum tidur memang laki-laki itu selalu mengaji membaca Al Mulk.
"Ya, Dek," jawabnya.
"Aku dengerin ya, dari sini— boleh, 'kan?"
"MashaAllah, jelas boleh, Sayang," balas Ilyas antusias.
Posisi Qonni saat ini sedang tidur dalam posisi miring membelakangi Ilyas, namun kepalanya berada di atas kain sarung yang membungkus kaki yang bersila tersebut.
__ADS_1
Sebelum membaca ayat-ayat dalam Al Qur'an yang ia pegang, pandangannya teralihkan pada ponsel di atas nakas.
Ilham memanggil...
Pria itu pun meletakan mushaf dan berganti mengambil gawai.
"Assalamualaikum, Ham?"
"Walaikumsalam warahmatullah, Yas," jawab Ilham dari seberang dengan suaranya yang parau.
"Antum kenapa, Ham?" mendadak panik, namun masih sanggup mengkondisikan suaranya agar tetap santai.
"Yas..." panggilnya terisak-isak.
"Tenangin diri Antum dulu. Baru cerita..." Ilyas nampak menenangkan sahabatnya di sebrang. Sementara itu, Qonni kembali bangkit. Ia duduk bersila di sisi sang suami.
"Ente udah dengar kabar, soal Haki?"
Pria itu reflek menggeleng. "Kenapa sama Haki?"
"Hakiiii..." Kembali terisak, dimana Ilyas masih sabar menunggu. "Haki, Syahid, Yas ..."
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Heh! Maksudnya gimana? Dia pulang kampung, 'kan? Antum bidang tadi Beliau pulang kamu, Ham."
"Enggak, Yas. Ane baru tau— wallahi, Ane baru tahu kalau anak itu ke Gaza. Jadi relawan, Yas!"
"Allahu Akbar...," gumam Ilyas dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
"Beberapa hari ini, kaum terlaknat itu nyerang Gaza secara brutal. Dan menghancurkan salah satu rumah sakit Indonesia. Dimana Haki menjadi salah satu korban tewas, Yas."
"Antum udah pastiin? Yakin, Haki ada di sana?" setengah mati Ilyas tidak mempercayainya. Karena sekitar lima bulan yang lalu, mereka sempat bertemu.
"Yakin, Yas..., ya Allah. Beliau ikut Ustadz Ammar, sama lima orang yang ikut dalam rombongan. Dua di antaranya, wafat. Tertimpa reruntuhan gedung rumah sakit Indonesia. Kabar ini udah di nyatakan valid, Yas. Ente bisa hubungi Kakaknya Ustadz Ammar."
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Ya Allah... Ya Allah..." Mendadak lemas sekujur tubuh. Pria itu menutup kedua matanya, punggung mulai berguncang akibat tangis.
"Yas, Haki... Ya Allah, Haki..." di sebrang masih bergumam memanggil nama sahabatnya.
__ADS_1
langit seolah runtuh. Betapa terpukulnya Ilyas malam ini, kala mendengar kabar duka dari sang sahabat yang telah berpulang.