
Lama di dalam kamar mandi, pria itu keluar dengan ember berisi pakaian yang telah ia cuci. Beruntungnya ada deterjen cair yang biasa ada di kamar mandi untuk membersihkan pakaian dalam Qonni sendiri.
Karena ada ajaran sejak kecil, pakaian dalam harus di cuci sendiri-sendiri jadilah kebiasaan itu terbawa sampai dewasa oleh Qonni ataupun Safa. Walau kadang pakaiannya di cuci oleh ibunya. Namun, Bu Aida tak pernah menemukan pakaian dalam puterinya itu ada di dalam mesin cuci yang sama.
"Loh, Mas mandi sambil nyuci baju sekalian?"
"Iya, sama yang kemarin," jawabnya polos.
Pantes, baju Beliau yang kemarin nggak keliatan di keranjang pakaian kotor. (Qonni)
"Ya Allah, seharusnya nggak usah. Biar aku aja. Kan kewajiban aku."
Pria itu tersenyum, "Nggak papa, nggak ada dalilnya perempuan wajib mencuci pakaian suami dan nggak ada larangan juga untuk suami nyuci bajunya sendiri. Kamu juga nggak akan berdosa apalagi di mintai pertanggungjawaban karena hal ini. Jadi santai aja."
"Ya udah sini biar aku yang jemur." Qonni meminta ember yang masih di tenteng suaminya.
"Nisa mana?" Tanyanya sambil menyibak rambut yang basah.
"Di bawa ibu sama Ayah."
"Loh, mereka udah pergi, ya?"
"Iya, Mas," jawabnya lirih sambil menenteng ember dengan dua tangan.
Ilyas tersenyum tipis, ia mengusap pipi sang istri. Yang gegas mengalihkan suasana.
"Aku mau jemur pakaian dulu. Baju ganti mu sudah ada di atas ranjang, Mas."
"MashaAllah, aku merasa di layani sekali. Makasih ya, Dek."
"Sama-sama–" jawabnya buru-buru ngacir keluar kamar.
Ilyas geleng-geleng kepala, kemudian menggeser pandangannya pada kacamata miliknya sendiri. Di lihat, benda yang akrab dengannya itu telah bersih dari kotoran tanah kering. Ilyas meraihnya hati-hati kemudian menoleh kearah pintu kamar yang tertutup.
"Alhamdulillah, terlepas dari kamu yang belum mencintai aku, Yu. Aku tahu kamu adalah isteri yang baik. Ini salah satu contohnya, tanpa ku suruh kamu langsung bersihkan kacamata Ku. Ya Allah, ridhoi isteri ku sebagaimana aku ridho padanya." Ilyas memakai kacamata tersebut dengan perasaan senang.
***
Di sisi lain...
__ADS_1
Ayah dan ibu sedang berada dalam mobil, melakukan perjalanan menuju Tebet, Jakarta Selatan. Tempat tinggal adik kandung beda ibu yang sejak tiga puluh tahun terakhir menetap di sana.
Sambil sesekali berceloteh dengan cucunya, Aida jadi tidak merasa Bad mood selama perjalanan. Ia fokus bermain, sekaligus jalan-jalan walau bukan pada tujuan yang membuat hatinya benar-benar senang.
"Mas, beneran ya nggak lama di rumah Yani."
"Iya, Bu. Kita beneran nggak lama, cuma nengok Anto habis itu kita jalan-jalan ke tempat lain."
"Yo wes lah..."
"Udah di siapkan amplop untuk ponakan?" Tanya Ulum mengingatkan.
"Udah, satu-satu dapat seratus ribu."
"Alhamdulillah, makasih ya, Bu."
"Sama-sama," jawabnya antara iklhas tidak ikhlas. Tapi lebih dominan ikhlas sih. "Lagian adik mu itu nggak pernah sekalipun main ke rumah kita. Jangankan hari biasa. Lebaran aja nggak keliatan batang hidungnya."
"Berprasangka baik aja, Yani dan suaminya kan dagang. Jadi ya, mungkin mereka emang sibuk."
Aida menghela nafas. "Saking sibuknya, sampai-sampai baru inget punya Kakanya saat susah."
"Tapi kan lain, kita masih mengedepankan andhap ansor. Ngajeni Mas Irsyad. Bantu-bantu walau nggak pake dana saat Beliau ada acara. Intinya masih memperlihatkan wajah kita lah di depan keluarganya. Nggak kaya adikmu, liat aja kemaren. Ada dateng nggak pas anak kita nikah lagi. Padahal kan udah di kasih kabar," timpalnya dengan sedikit mencecar.
"Jadi sebenarnya nggak ikhlas nih kita mau kesana?" Tanya Ulum yang langsung membuat Aida tidak mampu menjawab. Karena ia tidak ingin memperpanjang percakapan ini.
"Yo nggak gitu."
"Ya udahlah, mending kita berpikir positif aja. Kamu kan udah dengar jawabnya. Kalau Anto mau operasi tulang? Itu udah logis sebagai alasan kenapa Yani dan suaminya nggak dateng."
"Yo, lah... sakarepmu, Mas." Aida mencium cucuknya gemas. Adanya Nisa setidaknya membuat hatinya tak mudah terprovokasi oleh bisikan-bisikan liar setan dalam jiwanya.
Adapun Ulum langsung beristighfar, dan berusaha untuk mengalihkan percakapan ke yang lainnya.
"Bersyukur tadi di bantu, jadi cepet kelar. Padahal niatnya mau jalan abis Dzuhur. Jadi nggak enak, malah banyak Ilyas yang pegang kerjaan."
"Ilyas itu duplikatmu, Mas," kekehnya.
"Duplikat gimana?" tanyanya masih fokus memegang kendali setir.
__ADS_1
Omong-omong, mereka pakai mobil milik Afin Anka yang memang jarang di pakai dan kini sudah di serahkan kepada Beliau sejak sebelumnya sengaja di letakkan di sana sambil menunggu Qonni lahiran.
"Ya duplikat, pokoknya sekarang-sekarang ini aku kalau lihat Dia kaya liat kamu waktu masih muda."
"Masa sih? Jelas ganteng aku lah di matamu harusnya. Masa di samain..."
"Hahaha, Mbah Akung ini, ya. Emang nggak mau kalah, Nduk–" balas Aida.
Sambil tertawa Pak Ulum membenahi pecinya. Ia ingin menyugar rambut Beliau sendiri namun sadar sudah agak botak di bagian depan dan beruban juga makanya tidak jadi. Hehehe...
***
Kembali kepada pasangan pengantin baru. Ilyas menghampirinya ke tempat jemuran, dan berdiri di belakang perempuan itu tanpa menimbulkan suara.
"Alhamdulillah kelar..." Membalik badan ia pun terkejut karena langsung menabrak tubuh suaminya. "Astaghfirullah al'azim, Mas."
"Kok kaget, sih?" Gelaknya setelah refleks menangkap perempuan itu.
"Ya habis kamu tahu-tahu di belakang."
"Maaf-maaf...," jawabnya mengusap kepala Qonni. "Dek, besok kan malam Minggu. Mas mau ajak kamu pulang ke Cileungsi, kita nginep di sana satu malam. Mau ya?"
"Iya Mas, nggak papa."
"Alhamdulillah kalau kamu mau. Soalnya aku ada niatan mau ngadain tasyakuran kecil-kecilan. Yaaaah, hitung-hitung sekalian ngenalin isteri ku ini dan juga Nisa ke warga," imbuhnya yang di jawab hanya dengan anggukan kepala.
Ilyas menghela nafas. Ia memandangi wajah isterinya sejenak karena bingung ingin mengatakan apa lagi.
Baru ingat, di rumah cuma ada aku dan Dia... Qonni menelan ludah karena suasana hening membuat dirinya juga semakin di sesaki rasa was-was.
"Dek, ke kamar Yuk," ajaknya hati-hati sambil menggenggam tangan Qonni. Tak ayal ajakan pria dengan kacamata minusnya itu membuat jantung berdegup kencang.
"Ka–kamar?"
"Mas itu, mau kita ngobrol-ngobrol di kamar biar lebih private aja."
Nggak mungkin sih cuma ngobrol-ngobrol aja. Pasti lebih dari itu. Tapi, Beliau baru mandi, 'kan? Nggak mungkin minta di layani di waktu menjelang siang ini. –Batin Qonni di sesaki dialog-dialog liar dirinya sendiri.
Ilyas mengangkat tangan itu dan mengecupnya lembut sebanyak tiga kali, setelahnya menoleh pada isterinya lagi. Dengan penuh cinta Ilyas mengunci tatapannya itu fokus pada kedua netra indah milik Ayudia yang bergerak-gerak gugup.
__ADS_1