Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Kajian


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


"Puncak karirnya seorang wanita itu kalau sudah mendapatkan keridhoan dari Allah SWT. Salah satu jalannya ya, melalui ridho suaminya. Seperti apa yang di contohkan Ibunda Khodijah saat menjadi isteri Rosulullah Saw. Dimana pada saat itu sedang berada pada tekanan yang luar biasa."


Suara lantang Kyai Irsyad di atas panggung pengajian Akbar terdengar. Ilyas dan Qonni, menyempatkan diri untuk hadir, karena lokasinya yang kebetulan dekat dengan kediaman rumah keluarga Ilyas. Karena hari ini mereka sedang ada di sana. Biasa— jadwal mingguan.


"Tapi bagaimana jika suami tak sebaik Rosulullah Saw? Nah, itu sering saya nerima pertanyaan seperti itu dari para deretan emak-emak." Mata Irsyad menyalang kearah para jama'ah. "Di sini banyak emak-emak, ya?"


"Iya, Pak Kyai...," jawab para ibu-ibu sambil terkekeh.


"Kalau ibu-ibu biasanya pengennya kajian yang berpihak pada mereka. Habis ini di pake buat senjata untuk nyerang suaminya..." seloroh Irsyad hingga mereka tergelak.


"Kembali pada pertanyaan sebagian besar dari para pemegang ras terkuat di bumi." Pundak pria paruh baya itu berguncang karena tawa ringannya. "Minum dulu, lah— haus, iki..."


Di ambilnya satu cangkir air mineral yang sudah di sediakan panitia. Pria paruh baya itu mengucapkan basmalah sebelum menyesapnya, kemudian mengucap hamdalah.


"Bu?"


"Ya—" serentak para jama'ah menyahut.


"Suami-suami ibu itu jahatnya kaya Fir'aun atau nggak?"


"Nggak!"


"Kejamnya kaya Fir'aun, nggak?"


"Nggak!"


"Terus kenapa selalu bilang. Gimana saya mau kaya Khadijah, suaminya aja kaya Dadj?" Irsyad tak melanjutkan justru para ibu-ibulah yang menyambung kata 'Jal' sembari tertawa terbahak-bahak.


"Pak, bukan Kyai-nya loh yang bilang." Sambil menunjuk saf ibu-ibu, Irsyad tertawa. "Bu-ibu. Kaya pernah liat aja Dadj... itu kaya apa?"

__ADS_1


Saf yang di penuhi wanita berbagai generasi terdengar riuh sebab tawa mereka.


"Liat nih para calon-calon manten. Di lihat para pengantin lawas ini..." pancingnya memecah gelak tawa lagi. "Jangan tergiur cinta monyet masa SMA. Karena kalau udah nikah, cintanya memudar tinggal?"


"Monyetnya!" Kembali ibu-ibu menjawab. Irsyad pun geleng-geleng kepala.


"Bukan saya lagi yang bilang, njih?"


Riuh tawa bercampur tepuk tangan mengisi masjid agung ini. Irsyad pun beristighfar sambil meredam tawanya.


"Jama'ah yang di rahmati Allah SWT. Terutama para wanita. Sebenarnya, setiap laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sana. Makanya di wajibkan untuk mencari pasangan yang memiliki iman. Agar tidak seperti tadi. Cinta monyet, cintanya memudar tinggal?"


"Monyetnya!"


"Ibu-ibu ngatain monyetnya kenceng banget. Saya yakin ada dendam yang sedang di lampiaskan disini?" selorohnya lagi.


"Bu, lihat Asiyah istri Fir'aun? Beliau di apakan sama suaminya? Di gantung, Bu. Bahkan di bunuh di depan para rakyat. Ibu-ibu di gituin, nggak?"


"Nggak, Kyai— tapi kan di antara kita tetep ada yang di KDRT." Seorang ibu-ibu menyahut dari kejauhan.


"Benar, Kyai..." sahut para jama'ah.


"Thayib! Terlepas dari hal di atas ya. Kalau soal KDRT memang tidak dibenarkan. Bahkan tidak di larang untuk meminta cerai, pada pria pezinah, ringan tangan, dan tidak beriman. Tapi yang sedang di bahas di sini adalah ketika ibu-ibu sudah memiliki suami yang baik, bertanggung jawab, dan nggak neko-neko. Hanya kekurangannya satu... dompetnya kurang tebel, bikin hati ibu-ibu jadi sebel!"


Ibu-ibu yang merasa tertohok kembali tertawa, pada Kyai yang kini kembali menjeda kata-katanya untuk minum air putih.


"Rosulullah Saw bersabda, tidaklah seorang laki-laki marah pada isterinya sebelum kesalahan ke dua puluh yang di lakukan isterinya. Dalam artian, suami wajib memuliakan isterinya. Dengan tidak menyakiti isterinya. Lalu memberikan ampunan pada isterinya yang berbuat salah. Pertanyaannya? Udah berapa kali ibu-ibu bikin salah ke suaminya? Pasti ngakunya belum pernah?"


Mereka yang kembali tertohok hanya bisa tertawa saja tidak berani menjawab apapun.


"Perlu di ingat, sabda Rasulullah Saw yang lain. Kalaulah boleh seorang isteri sujud kepada suaminya. Maka akan ku perintahkan seorang isteri untuk sujud setiap hari pada suaminya. Karena kesalahan isteri yang paling sering terjadi dan tidak pernah di sadari yakni kufurnya terhadap suami-sumi mereka."

__ADS_1


Kembali Irsyad menyoroti para jama'ahnya. "Bu? Setiap malam minta maaf nggak sama suaminya kalau mau tidur?"


"Nggak, Kyai."


"Jarang, Kyai."


Jawaban para jama'ah bervariatif. Irsyad pun manggut-manggut.


"Mulai malam ini di biasakan. Minta maaf terhadap suaminya, karena Allah bisa murka terhadap seorang wanita yang tidur sementara suaminya masih dalam keadaan tidak ridho padanya."


"Astaghfirullah al'azim..." suara gumaman di saf perempuan terdengar. "Dan untuk bapak-bapak ya? Jangan merasa di atas angin. Karena tanggung jawab kita terhadap pasangan kita dan anak-anak perempuan kita besar. Jangan sampai, kesibukan kita mencari nafkah menghilangkan waktu yang ada. Sementara isteri buta ilmu dan agama ia diam saja. Paham sampai sini ya?"


Para jama'ah laki-laki mengangguk saja. Lebih fokus mendengarkan Kyai Irsyad berbicara.


"Mari sama-sama merenung, sama-sama bermuhasabah. Baik laki-laki ataupun perempuan adalah mahluk yang tidak akan pernah luput dari kesalahan. Jadi selagi pasangan masih baik, jangan di paksa yang di luar kemampuannya. Jangan sibuk melihat orang di sebrang pulau. Karena sebenarnya apa yang kita punya sejatinya pun amat di harapkan pula oleh orang lain. Bersabarlah, dan tawakal... barakallah fikkum."


–––


Irsyad menutup kajiannya. Dimana suara tabuh rebana kembali terdengar. Para jama'ah mulai berhamburan keluar satu persatu dengan tertib.


Ilyas dan Qonni sengaja menghampiri Irsyad. Sebelum kembali, tentunya harus menyapa Pakde mereka dulu, Bukan.


Saat sang Kyai tengah mengobrol sebentar. Sebelum bersiap pulang, Beliau yang paham memanggilnya. Keduanya pun mendekat.


"Saya mau mampir ke rumah kamu, Le," ucap Irsyad.


"Ru–rumah saya, Kyai?" tanyanya tak percaya. Antara senang sekaligus takut. Senangnya rumah sederhananya akan di kunjungi seorang ulama yang cukup tersohor. Namun takutnya tak lain khawatir Kyai Irsyad tidak nyaman.


"Iya benar. Ada sesuatu yang mau saya sampaikan untuk kalian berdua." Berseri-seri, ekspresi yang di tunjukkan Irsyad memunculkan tanda tanya di benak dua orang tersebut.


Qonni dan Ilyas saling pandang sebentar. Sebelum kembali pada Irsyad.

__ADS_1


"Ayo, udah sore loh..." ajak Beliau sambil melangkah masih lebih dulu menghampiri para panitia dan teman-temannya.


Mereka pun mengiyakan. Menunggu Irsyad berpamitan sejenak, setelahnya berjalan bersama menuju parkiran.


__ADS_2