
Bel tanda selesainya kegiatan belajar mengajar berdering, semua siswa berhamburan setelah guru yang ada di dalam kelas keluar lebih dulu. Ini adalah awal bulan, saat dimana di tanggal ini para guru dan staf lain menerima gaji dari hasil kerja keras mereka.
Di tanggal ini pula, biasanya Qonni akan berkunjung ke mall demi membeli kebutuhan Nisa sebelum pulang kerumahnya nanti. Bahkan ia sudah menulis catatan, apa saja yang habis di rumah.
Triiiiiing...
Sebuah notifikasi M-banking terdengar. Kakak iparnya masih konsisten mengirim uang nafkah untuk Nisa tanpa telat sehari pun. Dan biasanya, Qonni akan langsung memindahkan uang tersebut ke dalam rekening pribadi yang sengaja ia buat untuk Nisa. Rencananya tabungan tersebut akan di gunakan jika anaknya masuk sekolah kelak. Karena untuk saat ini, mencukupi kebutuhan Nisa tentunya masih sanggup ia handle sendiri. Sehingga ia tak perlu menggunakan uang dari A' Mukhlis, terkecuali jika memang benar-benar di butuhkan.
Tak lupa Qonni mengirim pesan tanda terima kasihnya pada sang kakak ipar. Ning Maulida pun menanggapi dengan sticker manis untuk adik iparnya itu.
Di Mall yang lumayan besar di kota Bekasi, Ayudia Qonniah langsung meraih troli sebagai wadah untuknya menampung belanjaan. Perempuan dengan balutan baju dinas itu melangkah pelan menyusuri rak berisi produk berbagai jenis dan merk yang bertengger rapi.
Tujuan utama tentunya diaper. Salah satu item yang tak boleh terlewatkan. Qonni mengambil sekitar tiga bungkus berukuran besar sebagai stoknya. Karena kebutuhan diaper Nisa tak bisa di pastikan. Jadi ia akan ambil seperlunya dan akan beli lagi jika ternyata belum sampai awal bulan berikutnya sudah habis.
Roda troli kembali bergerak, ibu muda ini kembali mencari barang lain yang di butuhkan. Ketika troli di belokan, langkahnya terhenti. Qonni tertegun sebentar saat melihat seseorang yang ia kenal.
"Eh..., kamu, De?" Pria berkacamata tersenyum saat melihat wajah manis Ayudia di hadapannya. Ia tak percaya bisa berpapasan di sini. Sebenarnya memang departemen store ini lebih dekat dengan jarak tempat Qonni mengajar. Namun, agak heran saja. Seolah sesuatu mendesaknya untuk mampir bersama dua teman Beliau. Rupanya ia akan bertemu perempuan itu di tempat yang sama.
Sementara Qonni yang sempat terkejut itu langsung membalas senyum Ilyas, dengan senyum tipisnya.
"Lagi di sini?" Pria yang sedang mendekap detergent berukuran satu kilo itu kembali bertanya.
"Iya, Mas," jawabnya, kedua tangan Qonni meremas pegangan Troli. Serasa, dunia ini amatlah sempit. Padahal Ilyas tinggal di kota yang berbeda tapi kenapa akhir-akhir ini dirinya sering bertemu lagi.
"Sendiri atau sama Nisa?"
"Aku sendiri karena habis pulang ngajar juga."
"Oh, ya ya..." Pria berkacamata itu manggut-manggut.
"Mas, kok bisa ada di sini?"
Pemuda berkacamata di hadapan Qonni menekan frame kacamata-nya. Baru kali ini ia mendengar Qonni mau berbicara basa-basi dengannya. Biasanya harus di pancing dulu baru dia mau jawab. Ia pun tersenyum.
__ADS_1
"Kebetulan aja, Yu. Tadinya mau berkunjung ke rumah teman. Terus Beliau ngajakin belanja dulu buat kebutuhan di kontrakan. Jadi, sekalian...," jawabnya jujur sambil garuk-garuk kepala, cengengesan. Karena sejujurnya pria itu memang sering salah tingkah jika di dekat Qonni.
"Oh, begitu."
Keduanya mendadak kikuk dan kehilangan kata-kata yang membuat mulut mereka terkunci rapat sebentar. Namun, sepersekian detik berikutnya Qonni mengingat akan pertolongan Ilyas waktu itu.
"Omong-omong, makasih ya, Mas."
"Makasih? Makasih apa, De?"
"Makasih sudah membantu saya saat perjalanan pulang dari Bogor. Dan maaf, setelahnya saya langsung pergi begitu saja."
"Oh...," Pria di hadapan Ayu tertawa lirih. "Nggak masalah, Kok. Hanya kebetulan aja Yu. Mungkin pada saat itu Allah telah membimbing kami untuk menolong mu. Padahal sebelumnya kami berniat untuk mengambil lajur lain, loh. Tapi karena menghindari macet, jadi lewat jalan itu."
"Ya ampun, sekali lagi makasih. Berkat pertolongan Allah melalui Mas Ilyas dan teman-temannya membuat saya aman dari dua orang yang berniat jahat itu."
"Niat jahat? Jadi beneran, waktu itu mereka mau niat jahat?"
Qonni mengangguk. "Tapi, sudahlah. Saya nggak mau bahas lagi. Sudah Saya lupakan, dan simpan sebagai pelajaran. Setelah ini mungkin saya harus berhati-hati lagi."
"Aamiin–" keduanya tersenyum tanpa saling memandang antar satu sama lain. "Ya sudah, Mas, saya permisi duluan."
"Y–ya, Ayu," Ilyas mengiyakan.
Sebelum melenggang pergi, Qonni mengucapkan salam yang di balas pula oleh pemuda berkacamata tersebut.
Percayalah, saat ini batin pemuda itu sedang bertarung antara hawa nafsu bersampul cinta, dan ketakwaan terhadap Tuhan. Yang jelas, debaran jantungnya yang kuat senada dengan istighfar yang ia panjatkan dari bibir yang terus bergumam.
Sekuat-kuatnya iman, terkadang runtuh juga. Nyatanya setelah Qonni melewati pemuda yang berusaha untuk tidak menoleh, pun akhirnya kalah juga. Hati-hati pria itu memutar tubuh untuk melihat kebelakang. Siapa sangka hal sama pun di lakukan Perempuan itu yang entah mengapa, Qonni juga sempat menoleh ke arah Ilyas sebelum berbelok.
Karena kepergok, Qonni jadi mengangguk sekali dan buru-buru memalingkan wajahnya kembali melanjutkan langkah.
"Allahuakbar!"
Pria itu bertakbir, bibirnya tak bisa mengontrol untuk tidak senyum saat melihat itu. Senyum hangat kali ini yang ia terima dari Qonni. Apakah, takdir baik akan terbuka untuknya?
__ADS_1
Ilyas yang masih memeluk detergent itu kembali memutar tubuh, menghadap kedepan. Dimana ia langsung terkejut karena tiba-tiba dihadapkan dengan dua pria, yang sama-sama tengah menyilakan kedua tangan mereka di depan dada.
Terkhusus salah satu dari mereka berdua, yaitu pemuda berkulit gelap asal NTB yang berdiri paling depan.
"Astaghfirullah!" Senyum Ilyas sirna seketika saat melihat dua kawannya tersenyum jail kepadanya.
"Ciieeee..." Haki menggoda pria berkacamata yang mulai kembali salah tingkah.
"Iya, cieeeee..." Ilham menimpali, hanya sebatas ikut-ikutan.
"Apa maksudnya cie-cie?"
"Itu tadi ngobrol sama Ustadzah cantik." Haki menanggapi yang di respon geleng-geleng kepala dari pemuda yang kembali melanjutkan langkahnya mencari cairan pengharum pakaian.
"Eh, Ki. Itu cewek yang kita bantu waktu itu, nggak, sih?" Tanya Ilham pada Haki.
"Iya, yang di akui calonnya," canda pria berkulit gelap dengan rambut kritingnya itu.
"Wah, cuma ngaku-ngaku berarti? bukan calon beneran?"
"Iya emang bukan. Kalau iya mah udah nerima undangan kita?"
Ilyas yang berjalan di depan menoleh kebelakang. "Kok jadi pada gibahin Anne, sih? Mana di depan orangnya langsung, lagi?"
"Di depan gimana, Yas? Kita kan gibah di belakang Ente. Ya nggak, Ki?" jawab Ilham dengan wajah polos, yang di tanggapi tawa sambil mengangguk oleh kawan di sebelahnya. Karena yang di katakan Ilham ada benernya.
"Ya sama aja itu," jawab Ilyas.
"Udahlah, faktanya Ente udah ngaku-ngaku calon ke dia. Tanggungjawab nikahin tuh," tandas Haki memprovokatori.
"Iya-iya, besok ane nikahin."
"Weh, beneran? Secepat itu?" Ilham menahan pundak Ilyas. "Lamaran dulu kali, Yas?"
"Hahaha!" Haki semakin dibuat sakit perut karena candaan mereka tak sampai ke pria asal Betawi ini.
__ADS_1
"Allahuakbar. Udahlah jalan ayo, keburu kesorean nih." Ilyas kembali melangkah meninggalkan jejak kebingungan di wajah Ilham. Adapun Haki langsung mendorong pelan tubuh Ilham agar kembali melangkah dengan tawa masih terdengar.