Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Lumpur penyesalan


__ADS_3

Di tempat lain, setelah beberapa jam waktu berselang...


Seorang pria yang sedang tidur nampak gelisah. Keringat dingin pula bercucuran. Saat ini, yang ia lihat dalam mimpinya adalah ruangan gelap dan hampa.


Bersamaan dengan teriakan bringas para suporter yang memukulinya dan Harun kemarin petang. Hingga membuatnya reflek melindungi area kepala dengan kedua tangan. Ia masih takut, dan trauma dengan suara keras orang-orang yang terus terngiang-ngiang di telinganya.


Dilihat pula pria-pria itu tengah berlari kearahnya. Namun, para masa yang nampak mendekat itu rupanya hanya melewati saja. Kemudian tubuhnya berbalik kebelakang dengan hati-hati.


Di sanalah ia justru melihat beberapa orang tadi memukuli Harun. Sementara laki-laki itu terus menatap kearahnya sambil mengulurkan tangan, seperti meminta pertolongan.


Kedua mata Ilyas kontan terpejam, saat kembali melihat adegan pemukulan di kepala Harun. Hingga samar-samar keramaian itu berubah menjadi hening. Berganti Isak tangis seorang perempuan yang benar-benar menyayat hati.


Ilyas mendapati, Ayudia sedang memangku kepala Harun yang berdarah-darah sambil menangis tersedu-sedu. Lantas, menoleh kearahnya dengan tatapan bengis sekaligus menunjuk-nunjuk pria berkacamata itu.


"SEMUA KARENA KAMU, MAS ILYAS!" Gaungnya yang bahkan sampai menggema di kedua telinganya.


Tidak ada yang bisa ia lakukan, karena lidah dan kakinya mendadak kaku. Selain hanya bisa memandangi perempuan dengan aura kebencian yang terus mengecamnya.


"Kamu sudah membuat Suamiku terbunuh! Kamu sudah membuat aku kehilangan Suamiku! Kenapa tidak kamu saja yang mati?! Kamu pembunuh! PEMBUNUH!"


Kedua netranya seketika terbuka. Mimpi yang ia alami seperti nyata sekali. Qonni amatlah marah padanya, dan mungkin Harun juga.


Dilihatnya langit-langit kamar yang gelap karena penerangan yang sengaja di matikan. Hujan di luar nampak lebat, kilatan petir pun sesekali menyambar-nyambar.


Ilyas terjaga, dengan nafas yang masih memburu. Serta ketakutan luar biasa bercampur rasa bersalahnya terhadap sang sahabat.

__ADS_1


Sambil beranjak duduk ia pun beristighfar beberapa kali. Wajahnya yang masih di penuhi lebam, juga rasa sakit di sekujur tubuhnya sedikit meringis dengan tangan memegangi dada.


"Ya Allah, Harun," gumamnya dalam penyesalan. Sorot matanya menoleh kesisi samping, tempat jam dinding bertengger di sana. Di lihat, waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari. Namun ia takut untuk kembali tidur, khawatir mimpi tentang penganiayaan sekaligus kemarahan Ayudia padanya akan terulang.


Pelan-pelan ia meranggai kacamata yang sedikit pecah dan salah satu frame-nya patah, cukup lama pemuda itu termenung menekuri kacamata di tangan. Tak lama tetesan air mata terjatuh mengenai benda tersebut.


"Apa benar saya telah membunuh Kamu, Run?" Pria itu kembali terdiam. Membayangkan wajah Harun sebelum ambruk.


Antum jangan gegabah, Yas! –suara Harun yang ia ingat sesaat setelah tangannya menepis tangan Harun yang mencoba untuk menahannya. Membuat Ilyas semakin di hinggapi rasa bersalah.


"Ya, semua gara-gara Saya. Andai saya nurut apa yang Kamu bilang, Run. Andai saya nurut, andai saya nurut! Harun..., Harun maafin saya. Maafin Saya, Run." Pria itu sesenggukan di atas ranjangnya merasakan penyesalan mendalam dari lubuk hatinya.


Andai waktu bisa di putar, seharusnya ia tak usah gegabah seperti apa yang di katakan Harun. Karena satu lawan puluhan orang, mustahil akan menang. Tapi, menyesali semua tak akan membuat Harun kembali. Jasadnya sekarang sudah terkubur, ruhnya pun sudah kembali pada pangkuan Sang Khalik. Tempat dimana semua di kembalikan.


Untuk satu rakaat awal, ia membaca surah Al-Baqarah sambil sesekali terisak-isak saat sampai pada ayat-ayat tertentu sambil mentadaburi.


Tidakkah manusia mampu menghindari takdirnya. Itu benar! Tapi, kenapa harus ada campur tangan dia di sana?


Semua orang mungkin tidak tahu, apa yang terjadi sebenarnya di GBK. Semua orang hanya tahu, Harun meninggal karena suporter club bola. Namun, bagi Ilyas. Harun meninggal justru karena dirinya. Tapi, bagaimana dia menjelaskan semuanya. Ia bahkan tidak mampu mengatakan situasi yang sebenarnya di hadapan keluarga Harun. Sungguh sangat pengecut! Itu yang pantas ia sematkan untuk dirinya sendiri.


Sekarang, ia masih bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk hidup. Sementara Harun? Bukankah ia harusnya masih ada di sisi isterinya yang masih butuh kehadiran pria itu sambil menanti kelahiran anak mereka?


Belum lagi melihat kondisi Ayudia yang tak berekspresi apapun selain tatapan kosong dengan derasnya air mata yang membasahi pipi di hadapan jenazah suaminya.


Pemuda itu menjeda bacaannya sejenak, merasakan sesak di dada. Terlintas dalam pikirannya, bagaimana ia bisa hidup tenang setelah merenggut kebahagiaan banyak orang. Bibirnya meringis pedih, punggungnya berguncang hebat. Hingga suara tangisannya tak bisa lagi ia sembunyikan, Ilyas membutuhkan waktu lama untuk menenangkan tangisnya di tengah-tengah sholat yang sedang ia tegakkan saat ini.

__ADS_1


🌲🌲🌲


Abas pulang membawa sarapan yang ia beli. Karena kakak sulung mereka sedang sakit, jadi tidak ada yang memasak hari ini. Sementara Ibnu sedang menunaikan tugas Ilyas yang seharusnya mengantarkan barang hasil servisnya.


"Makan dulu, Mas." Remaja yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama itu memanggil pria yang sedang tidur dalam posisi miring membelakangi pintu. "Mas?"


"Hemmmm..." Ilyas pelan-pelan merubah posisinya duduk. Tubuhnya tak hanya merasakan sakit karena kerusuhan kemarin, namun ia juga merasakan lemas karena semalaman terjaga sembari menangis. Pagi ini pun, ia masih tidak berani tidur. Pria itu masih takut dengan mimpi yang semalam.


Abas mendekati, dan duduk di bibir ranjang sambil membawakan makanan dan air hangat.


"Ibnu udah jalan?" Tanyanya lemah setelah menyesap air mineral hangat dari dalam gelas yang di sodorkan adik bungsunya.


"Udah, Mas. Dari tadi." Abas membuka karet yang mengikat bungkusan nasi di atas piring yang ia pangku.


Melihat nasi, Ilyas seperti enggan untuk memakannya. Akibat rahang yang geser efek pemukulan kemarin. Namun, mau gimanapun ia harus mengisi perutnya sebelum menenggak obat agar kondisi tubuhnya cepat pulih.


"Mas Ilyas makan dikit-dikit, ya. Tadinya mau beli bubur tapi Abas tau Mas nggak suka Bubur. Jadi ini aja deh, yang penting isi."


Ilyas mengangguk sebelum mengambil alih piring di pangkuan Abas. Pria dengan kacamata yang rusak itu mencoba untuk memakannya pelan-pelan, agar sakitnya tak terlalu berasa.


"Mas, kayanya Mas Ilyas harus ganti kacamata, deh. Udah rusak kaya gitu."


"inshaAllah, besok-besok beli. Sekarang Mas lagi nggak ada uang buat beli kacamata baru. Lagian, untuk sementara, ini masih bisa di pake, kok." Laki-laki itu berbicara sambil sesekali menahan kacamatanya yang hendak jatuh.


Adapun Abas hanya manggut-manggut, ia belum bilang kalau bulan depan ada ulangan semester. Beberapa buku LKS, dan SPP bulan ini belum di bayar. Namun, ia tak berani mengatakan itu sekarang mungkin besok-besok saat Kakak sulungnya sudah sembuh.

__ADS_1


__ADS_2