Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Niat baik


__ADS_3

Hari masih cerah saat pemuda dengan kacamata tebalnya membawa laju si kuda besi bertenaga mesin menyusuri jalan kota Bekasi. Tepat pukul tiga sore, saat dirinya baru pulang dari rumah salah seorang client lain setelah rumah Qonni. Matahari yang tampil garang siang ini membuat hawa panas semakin menciptakan rasa lesu di tubuh pemuda tersebut.


Sambil beristirahat dan menunggu adzan Ashar. Ia menepikan motornya di pinggir jalan. Tepatnya di salah satu gerobak kayu yang mangkal tepat di bawah pohon besar di sebrang masjid. Gerobak dengan tulisan Dawet Ayu itu tiba-tiba saja menggodanya untuk mampir dan menikmati segarnya minuman yang berasal dari kota Banjarnegara.


"Dawetnya satu, Pakde! minum sini, ya."


"Oh, Njih Maseh. Monggo duduk dulu–" pria sepuh kisaran kepala enam tersebut mempersilahkan Ilyas untuk duduk di kursi plastik tanpa sandaran. Dengan senyum ramah, tentunya pria itu langsung mengiyakan.


Sang pedagang mulai meracik, memasukkan dawet ayu yang sudah bercampur dengan santan dan es batu kedalam gelas cantel besar. Kemudian cairan gula merah yang kental sebagai pemanisnya.


"Monggo! Silahkan dinikmati, Maseh." Bapak dengan topi bulat warna hitam itu menyuguhkan minuman segar tersebut pada Ilyas.


"Matur suwun, Pak," balasnya sambil menerima.


"Njih, sama-sama."


Tangan kanan Ilyas mulai bergerak mengaduk minuman yang manis dan menyegarkan ditangannya agar gula merah yang mengendap di bawah bisa tercampur merata. Dalam sekejap, santan yang putih itu berubah menjadi kemerahan karena gula yang sudah tercampur seluruhnya.


"Bismillah–" gumamnya sebelum menyesap dengan sedotan besar. Sekarang, kerongkongannya yang kering menjadi basah, saat di aliri minuman manis dan dingin tersebut. "MashaAllah."


Ilyas menikmati minumannya sambil menatap ke jalan. Dimana kendaraan, baik roda empat ataupun roda dua berlalu-lalang tanpa jeda di hadapannya. Sejenak pikirannya kembali pada saat dirinya saat masih berada di rumah Qonni yang tanpa basa-basi lagi Ilyas langsung menyatakan perasaannya untuk Qonni pada Ulum.


#Flashback on...


Kedua laki-laki beda usia itu sudah duduk di ruang tamu. Ilyas sedikit menunduk sambil memangku tangan. Di temani riuh suara mesin jahit yang sesekali terdengar, mereka mulai mengobrol.


"Tadi saya sempat bingung, ketika kamu bilang khawatir dengan puteri saya." Ulum membuka pembicaraan setelah menyesap teh yang mulai dingin karena sejak tadi di anggurin.

__ADS_1


"Mohon maaf, Pak. Mungkin saya sedikit lancang saat mengatakannya."


"Enggak, saya nggak berpikir begitu. Saya hanya penasaran, kenapa bisa kamu mengkhawatirkannya?"


Kedua tangan Ilyas saling meremas. "S–saya. Saya boleh menyampaikan sesuatu?"


"Boleh, katakan saja. Apa yang mau Nak Ilyas sampaikan."


Pemuda di hadapan Ulum menelan ludah yang tiba-tiba kering karena gugup. Namun, entah mengapa sejak melihat Ayu kemantapan hatinya untuk mempersunting isteri mendiang Harun itu semakin kuat. Ia pun mulai berbicara dengan hati-hati.


"Jauh sebelum ini, kalau boleh jujur saya memang sudah menaruh hati pada Puteri bapak."


Kalimat yang terlontar pelan dari bibir Ilyas kontan membuat Ulum tertegun. Namun sebenarnya ia juga sudah tahu jika sebelum Harun menyampaikan lamaranya dulu laki-laki itu juga pasti punya perasaan yang sama.


"Jika di izinkan, Pak. Saya mau melamarnya, dan siap menikahi Ayudia setelah melahirkan." Dengan lugas pria itu menyampaikan apa yang sejak dulu tersendat di lidahnya, ia bahkan memberanikan diri menatap mata Ulum dengan ekspresi bersungguh-sungguh. "Mungkin secara finansial, saya tidak semampu saudara saya itu. Namun, secara hati saya bersungguh-sungguh. Tulus mengharapkan Ayudia untuk menjadi pendamping hidup saya."


Ulum bisa melihat tangan dan kaki Ilyas gemetar walau sekuat tenaga berusaha di tutupinya, namun tetap saja terbaca oleh kejelian sepasang mata yang masih jelas walau sudah masuk usia lima puluh tahun.


Ilyas sendiri bingung, kenapa bisa ia tiba-tiba melamar Qonni? Mudah-mudahan ini bukan tindakan yang mengundang kemarahan Ulum.


"Apa yang kamu bawa untuk anak saya dan calon anak yang di kandungnya."


Gleeeek, Ilyas membisu. Ia tak membawa apapun selain perkakas sebagai alat tempurnya untuk mengais rupiah.


Bodohnya, kenapa bisa ngelamar anak orang tapi nggak bawa apa-apa.


"Kok, diem?" Ulum kembali bertanya pada pria yang semakin keringat dingin karena tak memiliki apapun.

__ADS_1


"S–saat ini, tidak ada yang saya bawa kecuali?" Ilyas menyentuh dadanya sambil memandang wajah Ulum dengan ketulusan. "Saya akan menafkahi lahir dan batin. Serta menerima anak dalam kandungan Ayudia selayaknya anak kandung saya sendiri. Saya harap Pak Fatkhul bersedia menerima saya untuk Ayudia."


Ulum menyandarkan bahunya setelah tadi duduk dalam posisi sedikit mencondongkan bahu maju kedepan. Seulas senyum dari bibir Ulum seketika memecah ketegangan yang di rasakan Ilyas saat ini.


"Datanglah lagi lusa, nanti saya akan pertemukan kamu dulu pada Guru Saya. Pakdenya Qonniah."


Ah, Ustadz Irsyad ya... Panutan ku. –Ilyas tersenyum senang. Mungkinkah ini pertanda dia di terima.


"Tapi, tetap harus menerima apapun keputusan setelahnya, ya." Sambungan kata-kata Ulum kontan membuat senyum Ilyas meredup. Walau sepersekian detik berikutnya mengangguk pelan.


"Iya, Pak," jawabnya meyakinkan.


#Flashback off...


"Allahuakbar, Allahuakbar... Allaaaaaahu Akbar, Allahuakbar!"


"Labbaik ya Rabb..." Pemuda berkacamata itu langsung menyahut, memenuhi panggilan Allah ketika Adzan Ashar berkumandang.


Ilyas menenggak sisa Dawet ayu yang sudah tinggal sedikit di dalam gelasnya. Kemudian menyerahkan gelas kosong tersebut dan membayarnya kepada sang penjual sebelum gegas menuju masjid yang ada di sebrang jalan tersebut.


Selama menjalani ibadah sholat berjamaah, Ilyas nampak khusyuk bahkan sampai menitikkan air mata di saat bibirnya sendiri membacakan surat pendek di tengah keheningan sholat mereka semua yang ada di dalam masjid tersebut.


Setelah selesai sholat, orang-orang yang sudah membaca dzikir mulai beranjak meninggalkan safnya masing-masing. Dan kini tersisa pemuda itu, yang belum juga bangkit dari posisinya. Menyambung dzikir panjang sekaligus memelas di hadapan Dzat yang Maha Rahman.


Ya Allah. Hari ini aku mengatakan sesuatu yang kuharap baik bagiku, dan juga bagi-Mu. Namun, kembali semua bergantung pada-Mu yang maha menggenggam hati manusia.


Namun, aku berharap pada-Mu wahai Dzat yang membolak-balikkan hati manusia. Bisakah Engkau luluhkan hatinya sebagaimana Engkau meluluhkan hati Sayidda Sofiah yang sempat membenci Rosulullah Saw.

__ADS_1


Sebab Suami, Kakak, dan Ayah Sofiyah terbunuh tentara Islam di bawah kepemimpinan Rosulullah. Kisahku mungkin tak sepenuhnya sama. Namun aku berharap ada sedikit kebaikan yang tersisipkan untuk ku juga, agar aku bisa menghilangkan perasaan bersalahku dengan cara merawat anak Harun.


Wajah Ilyas menengadah kelangit-langit masjid dengan tangan terangkat. Namun ia hanya mengucapkan doanya dalam hati sambil berderai air mata. Berharap, apa yang ia harapkan akan terwujud. Di samping itu ia pun berusaha menghalau nafsu duniawi yang tak wajib hadir dalam hajatnya ini. Serta menyerahkan segalanya pada Dzat yang maha mengetahui baik-buruknya sebuah niat.


__ADS_2