Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
pendengar yang amanah


__ADS_3

Sambil mengaduk-aduk makanan di atas piring dengan tangan kosong. Mencampur-rata antara nasi, sayur, dan lauknya. Perempuan dengan seragam dinas tersebut terus melamun. Memikirkan tentang mimpinya tadi malam. Di mana dalam mimpi itu ia melihat sosok Harun dan pria berkacamata di hadapannya.


Dengan sangat yakin, walau hanya sekilas sepertinya itu beneran Ilyas. Kembali bayangan tentang tangan Ilyas yang menerima peci putih milik Harun melintas.


Allah..., apa maksudnya itu? Terus saja isi kepala Qonni berkubang pada mimpi semalam. Ia sempat beranggapan jika hal itu hanyalah sebatas bunga tidur, tak mungkin tersirat apapun kan didalamnya?


Taaaaakkk... Suara piring kecil yang di letakkan di atas meja kaca membuat lamunan Qonni cerai berai.


"Nasinya kok dari tadi cuma dibejek-bejek gini si, Nduk? Kurang suka atau gimana?"


"Enggak kok, Bu." Qonni memperbaiki posisi duduknya. "Aku cuma ngelamun dikit," sambungnya kemudian, sebelum memasukkan suapan pertama kedalam mulut.


"Kalau lagi makan mbok, ya, jangan sambil mikir gitu, to. Takut nanti kamu-nya, keburu kehilangan nafsu makan karena nasi yang di anggurin berubah dingin...., memangnya kamu itu ngelamun apa sih?"


"Bukan apa-apa, kok, Bu. Cuma ngelamun kosong aja."


Aida geleng-geleng kepala, perempuan yang sedang menggendong cucunya itu terus menggoyangkan tubuh, menimang Anisa.


"Yo wes! Sekarang habiskan. Udah mulai siang, loh."


Qonni tak menjawab lagi, selain berusaha mempercepat gerakan makanya setelah melirik jam di tangan.


Saat ini memang hanya Qonni yang sedang makan. Sementara Ayah dan ibu sudah makan lebih dulu, saat ibu muda itu sedang menyusui.


"Hari ini pulang jam berapa?"


"Sore, Bu. Soalnya ada latihan untuk persiapan jambore antar sekolah."


Bu Aida manggut-manggut setelahnya berjalan keluar membawa Anisa yang terlihat nyaman di dalam pelukan neneknya.


***


Tiga puluh menit lagi bel masuk akan berdering, sang guru matematika yang masih duduk di atas jok motornya menghela nafas lega. Bersyukur ia sampai di sekolah tempat waktu. Tangannya pun mulai bergerak melepaskan helm di kepala.

__ADS_1


Tak berselang lama dari waktu hadirnya Qonni, sebuah mobil yang di kendarai Fatimah mulai memasuki parkiran. Tempat mobil-mobil milik para staf guru berjajar.


Braaaaaaaaaaakkkk!


Qonni melengkungkan senyum, menyapa perempuan yang baru saja menutup pintu mobil setelah turun.


"Bu, Fat!" Sapanya yang tak di tanggapi. Karena perempuan itu langsung melenggang pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun pada perempuan yang kini telah berdiri di sisi motornya.


Qonni menurunkan tangan yang sempat terangkat sedikit untuk menyapa Fatimah, setelahnya menghela nafas. Tanpa berpikir macam-macam, Qonni langsung melangkahkan kaki masuk kedalam gedung sekolah.


Setiba di kantor, Qonni langsung duduk. Menyapa Fatimah lagi yang sedang duduk dengan ekspresi sendu, tak jauh berbeda dari kemarin.


"Assalamualaikum," sapa Qonni sambil duduk.


"Walaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh, Bu Ayu." Senyum tipis melengkung di bibirnya yang tipis. Fatimah terlihat tidak ceria seperti biasanya, hal itu lah yang menarik Qonni untuk lebih memperhatikan gadis muda di hadapannya.


"Bu Fatimah baik-baik aja, kan?"


"Sedikit, Bu." Qonni menunjuk kedua netra gadis itu. "Ada jejak tangis di sana."


"Beneran?" Buru-buru Fatimah mengeluarkan bedak padat dari dalam tas, kemudian membukanya hanya untuk bercermin. "Ya, Allah– kok masih kelihatan, ya?"


"Nggak begitu jelas kok, kalau dari posisi murid-murid." Qonni memberikan kalimat yang seketika berhasil memenangkan hati Fatimah.


Kembali dia memasukkan bedak ke dalam tasnya, kemudian menggeser sedikit posisi duduknya agar berhadapan langsung dengan wanita di sisinya.


"Boleh nggak aku ngobrol sama Bu Ayu?" Fatimah menurunkan wajahnya, menekuri kedua tangan di atas pangkuan. "Aku sedang dirundung masalah hati. Namun, bingung untuk membicarakan ini pada siapa."


Qonni tersenyum, ia menyentuh tangan di atas pangkuan Fatimah. "Tidak ada tempat terbaik untuk mengutarakan isi hati, kecuali kepada Allah SWT."


"Aku tahu, Bu Ayu. Aku juga sudah sering menumpahkan tangisku di atas alas sujud. Tapi, sebagai manusia biasa, aku juga butuh seseorang untuk menjadi pendengar yang amanah. Sebelum mengutarakan sesuatu yang tertahan di dadaku ini."


"Emang, Bu Fatimah percaya sama Saya?" tanya Qonni hati-hati. Perempuan di hadapannya kembali mengangkat kepala.

__ADS_1


"Iya, Bu. Entah mengapa, di antara banyaknya rekan guru. Hanya Bu Ayu yang selalu mau mendengar setiap ocehan saya. Bahkan, setiap kali saya mengalami ketidakpahaman, Bu Ayu juga selalu sudi menerangkannya kembali dengan baik."


"MashaAllah–" Qonni bergumam.


"Jadi gimana, mau mendengarkan aku bercerita?"


Qonni berpikir sejenak, kemudian melirik kearah jadwal. Bergeming sejenak setelahnya menggeser pandangannya kembali pada Fatimah.


"Jam ke lima kita sama-sama kosong, saat istirahat pertama nanti kita langsung bertemu di masjid sekolah, ya?"


Kedua mata Fatimah berbinar, "MashaAllah, Bu Ayu serius, mau mau mendengarkan keluh kesah Saya?"


"InshaAllah, Bu Fatimah."


Riiiiiiiing.... Suara bel sekolah berbunyi, keduanya kembali saling tatap setelah menengok situasi. Merekapun tertawa.


"Terima kasih, Bu Ayu. Sampai ketemu nanti di masjid, ya."


Perempuan yang kini telah mulai bangkit pun mengangguk. Di susul Fatimah yang sama-sama bersemangat menyiapkan diri sebelum masuk kelas.


***


Di tempat lain, Ilyas nampak tercenung di meja guru. Padahal saat ini ia tengah mengawasi murid-muridnya yang sedang mengerjakan soal evaluasi bab yang telah di terangkannya.


Tolong, pertimbangkan apa yang saya katakan ini.


Pria berambut ikal itu melepaskan kacamatanya. Kemudian menghela nafas. Sebenarnya, melihat tangis Fatimah yang berusaha di sembunyikan itu membuatnya iba. Namun Ilyas bukan tipe pria cuek yang bisa dengan mudahnya menolak wanita mentah-mentah.


Tiiiiiiiing sebuah notifikasi membuatnya gegas memasang kacamatanya kembali sebelum mengeluarkan ponsel dari saku celana bahannya. Di sana ada salah satu pesan chat dari temannya yang meminta konfirmasi ulang dari Ilyas. Atas kesanggupannya turut membantu acara tabligh di salah satu masjid.


Ilyas mengetik sesuatu untuk membalas pesan chatting yang masuk. Isinya, Beliau mengiyakan tentunya dengan menyerahkan diri kepada Tuhan yang maha mengetahui masa depan, dan sebaik-baiknya penentu rencana. Kemudian kembali memasukkannya ke dalam saku.


Lebih baik ku sibukkan dengan yang lain. Dari pada terus-terusan seperti ini. Ilyas bangkit, mulai berjalan mengitari meja-meja para murid yang tengah Fokus mengerjakan soalnya.

__ADS_1


__ADS_2