
Di tengah dersik angin. Dia datang dalam angan semu yang tersirat cinta abadi. Pria dengan busana serba putih, dan wanita yang mengenakan gamis warna putih pula berdiri di tengah-tengah Padang luas dengan banyaknya tanaman ilalang.
Kunang-kunang menari riang di sekitar mereka, hingga menghapuskan kegelapan yang sebelum ini membuat pengap qolbu wanita dengan hijab putihnya itu.
Pria yang terlihat teduh terus mengukir senyum yang menyejukkan. Tertuju pada gadis yang terlihat cantik di bawah sinar rembulan.
"A', Aku rindu..." Qonniah bersuara, hatinya sudah tidak bisa lagi menahan kerinduan yang sudah mendesak-desak.
Sambil mengulurkan setangkai bunga krisan putih kepada perempuan yang justru tidak mampu menerima bunga tersebut. Harun tak membalas pernyataan perempuan di hadapannya.
Ya, walau dalam satu dimensi yang sama. Nyatanya, keberadaan mereka terhalang satu dinding yang berbeda antar satu sisinya.
Qonniah menitikkan air mata. Lidahnya yang semula ringan mengatakan rindu mendadak keluh, tak bisa lagi menyatakan perasaan rindunya.
Dari arah lain, seorang pria mendekati dengan bunga yang sama, namun untuk kali ini tangannya justru lebih mudah menjangkau.
Nampak tangan Harun menurun, adapun senyum masih saja mengembang sempurna. Hingga cahaya terang mengaburkan pandangan mata yang basah karena air mata.
Pyaaaaaaaaasss....
Kedua netra yang basah itu terbuka. Qonniah bengong untuk beberapa saat menatap langit-langit rumah sakit. Debar jantung yang kuat menggebu. Nafas tersengal bercampur sesenggukan tanpa suara. Rasanya, seperti ia habis menangis selama semalaman.
Ya, kalian pasti pernah merasakan bangun dengan sisa Isak tangis yang seolah nyata. Itulah yang di rasakan Qonniah malam ini.
Pelan, ia memiringkan tubuhnya. Air mata pun kembali luruh seiring sesak yang tak lagi mampu ia tahan.
Satu tangannya mencengkram erat pakaian di bagian dada, satu tangan lain membungkam mulutnya sendiri menghindari Isak tangis yang kuat agar tak di dengar ibu yang sedang tidur di salah satu ranjang tambahan.
Langit Jakarta masih nampak kelabu, berhias gemerlap lampu kota yang terlihat dari lantai lima sebuah rumah sakit yang di peruntukan untuk umum.
Malam ini, perdana puterinya menginap setelah Nisa mengalami penurunan trombosit, di tambah demam yang tinggi hingga mencapai 40° saat baru saja tiba sore kemarin. Beruntungnya, hasil cek darah menunjukkan negatif DBD. Puterinya hanya mengalami penurunan trombosit dan juga kekurangan cairan yang di sebabkan oleh cuaca panas.
__ADS_1
Di liriknya sang ibu masih tertidur pulas, sama dengan Nisa yang tenang di atas ranjang pasien. adapun Ayah sendiri memilih untuk pulang dan akan kembali setelah subuh nanti. Qonni memilih untuk tetap bangun dan mengalihkan kesedihannya dan mengadukan kepada Sang Maham Rahman.
Pukul 03:44...
Di atas sajadah yang masih membentang, wanita yang membalut tubuhnya dengan mukenah warna putih nampak menitikkan air matanya. Membaca setiap ayat suci demi menghalau kegalauan ketika rindu menusuk sanubari yang kosong saat ini.
Ya, Qonni baru saja ia menyelesaikan sholat malam, yang di sambung dengan tilawah. Setelah percakapan singkat dengan ayahnya tadi malam. Dirinya terus di bayang-bayangi perasaan yang dia sendiripun bingung mendeskripsikannya.
Belum lagi, ketulusan Ilyas yang terlihat dari caranya mencium puterinya saat hendak pulang semalam. Di tambah, senyum A' Harun yang kembali menyambangi alam mimpinya barusan. Seolah tumpang tindih membawanya pada kegundahan yang tak bisa ia jelaskan.
Selesai bertilawah, perempuan itu menggeser posisinya. Memiringkan kepala hingga menyentuh jendela besar yang memenuhi hampir sebagian ruangan.
"Aa, jujur aku tidak bisa mengelak, jika aku kesulitan untuk menjalani hidup tanpa pendamping," gumamnya sambil sesekali menyeka air mata.
Qonni memang selalu bersikukuh untuk sendiri hingga akhir hayatnya. Namun saat lelah menyapa, dia selalu berpikir ketidakmampuannya menjadi seorang ibu tunggal. Atau mungkinkah karena Nisa yang masih kecil, sehingga membuatnya tidak mampu menghandle segalanya sendiri. Ya, benar..., ada Ayah dan ibu. Namun semua itu pasti akan lain rasanya jika saja ada suaminya yang turut membantu.
Akan tetapi, setiap kali hati ini ingin terbuka. Kenapa sulit baginya untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Harun. Mungkinkah, Dia terlalu kuat menggenggam hatinya untuk Harun. Sampai dia sendiri, tidak bisa untuk memberikan sedikit celah bagi siapapun yang ingin masuk.
...
Saat mentari sudah mulai menggeser, tepatnya pukul dua siang. Tak di sangka pria berkacamata itu datang lagi dengan sebuah boneka beruang warna pink yang lucu. Bertepatan dengan hadirnya Ummi Nur dan Ning Maulida. Pemuda itu nampak canggung berdiri di dekat pintu.
"Nak Ilyas?" Ummi tersenyum hangat, menyambut pria yang mengangguk sekali sebelum mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Bu Nyai?" sapanya yang kemudian beralih sebentar pada Ning Maulida, menyapa juga.
"Kok tahu Nisa disini?" tanya Beliau dengan sedikit senyum godaan. Berkali-kali melirik secara bergantian antara Qonni yang sedikit salah tingkah dan juga Ilyas yang juga demikian.
"Itu, Ummi. Kemarin, yang anter saya dan Nisa, Mas Ilyas."
"Owh..." Bu Nyai Nur manggut-manggut. Sementara Ning Maulida turut menutup mulutnya tersenyum. "Jadi sekarang kamu mau nengok anak yang lagi sakit?"
__ADS_1
Qonni yang mendengar itu hanya menoleh heran sekaligus kaget. Nisa kan anakku, Ummi?
"Iya...," jawab Ilyas yang justru membuat Qonni sedikit cemberut karena anaknya di anggap anak Dia juga.
"Ya udah, sok." Bu Nyai Nur menjauh sedikit. Memberikan ruang pada Ilyas yang sekarang nampak mendekati buah cinta Harun dan Qonni. Sementara Perempuan berhijab mustard berjalan menjauh, kearah Bu Nyai Nur dan Ning Maulida.
"U–Ummi, pulangnya nanti aja, ya?" Bisik Qonni menahan wanita paruh baya yang sebenarnya sudah mau pulang setelah dari pagi berada di sini.
"Emmm?" Melirik kearah pemuda yang sedang asik dengan Nisa. Kemudian mengangguk. "Keluar sebentar, Yuk," ajaknya kemudian.
Qonni pun mengikuti saja, bersama Ning Maulida mereka bertiga berjalan keluar bangsal VIP, dan duduk di kursi panjang yang ada di depan pintu bangsal rawat inap.
"Lihat nggak?" tanya Beliau dengan ekspresi antusias. "Betapa sayangnya pemuda itu sama Nisa?"
Kening Qonni berkerut. Bingung untuk menanggapinya.
"Dia, pemuda yang baik. InshaAllah, cocok untuk Ayah sambung Nisa."
"U–Ummi... Ummi kok bilang gitu, sih?" Qonni kembali gelagapan dengan kata-kata spontan yang di keluarkan dari mulut ibu mertuanya, sambil ke-dua tangannya memegangi erat tangan Ummi Nur.
"Kok, bilang gitu gimana?"
"Ya, kan? Qonni istrinya Aa..., anaknya Ummi."
"Tapi nyatanya, Harun sudah tidak ada lagi. Bahkan sudah hampir dua tahun loh. Anak mau semakin besar, kelak akan semakin sulit untuknya menerima ayah sambung."
"Tapi, kan?" Kedua netranya berkaca-kaca. Perempuan itu menggeleng pelan. Hingga satu tangan Ummi Nur bertumpuk di atas punggung tangan menantunya.
"Hidup harus terus berjalan. Seperti kamu, yang harus menikah lagi, Ayu. Ummi Ikhlas, jika kamu berjodoh dengan Ilyas."
Allahu Ya Karim... Qonni membisu, dirinya tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa semua orang seperti mendesaknya untuk bersama dengan Ilyas? Tidak bisakah ia di beri kesempatan untuk memilih orang lain saja? Bukan teman dari suaminya sendiri? Batin Qonni semakin di penuhi kebimbangan.
__ADS_1