Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Jalan-jalan


__ADS_3

Sehabis Ashar lelaki berkacamata itu bersiap di sebelah motor merahnya. Menunggu sang isteri dan anak perempuan mereka keluar sembari membuka aplikasi sosial media. Dari arah pintu, Pak Ulum berjalan pelan, pria paruh baya tersebut menghampiri sang menantu.


"Mau jalan-jalan?" tanyanya dengan tangan di gendong kebelakang.


"Iya, Pak. Mumpung besok libur, niatnya mau ke taman HI. Setelah itu mampir kerumah Kyai Irsyad," jawabnya senyum-senyum, sementara tangan bergerak memasukkan ponsel kedalam tas selempang yang Beliau kenakan di dada.


Ulum mengangguk, matanya terarah pada motor yang mesinnya tidak di hidupkan. "Besok kan libur. Nak Ilyas ikut Bapak, ya?"


"Kemana, Pak?"


"Ke jalan arah taman komplek. Kan lengang tuh, Bapak pengen ajarin kamu mengemudi kendaraan roda empat," jawab Beliau.


Aduh... Ilyas terdiam, bingung harus menjawab apa ketika mendengar perkataan Pak Ulum yang bilang akan mengajarinya mengemudi mobil. Padahal ia rasa tidak perlu untuk belajar mengemudi. Terlebih yang mengajarkan bapak mertuanya sendiri.


"Lagian mobil juga sering nganggur. Kalau kamu udah bisa nyetir, 'kan, enak. Jadi bisa sering-sering ke pake," imbuhnya.


Ilyas menelan ludah, ada rasa khawatir jika dirinya nanti di suruh sering-sering bawa mobilnya Bapak Ulum. Tahu sendiri, jenis mobil Pajero sport yang biasa terparkir di rumah orang tua Qonni ini tidaklah murah.


Ia tak bisa membayangkan, harus berapa kali gajian untuk mengganti kerusakan mobil mahal itu kalau sampai nabrak atau mungkin hanya sebatas tergores sedikit. Walau sejatinya ia tak akan pernah mengharapkan akan mengalami nasib demikian.


"Setuju, kan? Bapak sabar kok orangnya, nggak akan killer kalau ngajarin," ujarnya lagi pada lelaki yang hanya cengengesan, tidak tahu harus bagaimana merespon selain ngangguk.


Ya Allah, gimana cara nolaknya, ya? (Ilyas)


Karena sejak tadi hanya mengangguk-angguk saja, tiap kali mendengar ucapannya. Pak Ulum tersenyum beranggapan kalau menantunya itu setuju untuk belajar mengemudi. Hingga Qonni keluar sambil menggendong putrinya yang juga berhijab.


"MashaAllah–" seketika rasa canggungnya teralihkan pada Nisa yang nampak menggemaskan dengan jaket pink yang senada dengan hijab mungilnya.


Lelaki berkacamata itu langsung mencium pipi puteri kecilnya. Dimana kedua tangan anak itu langsung terulur minta di gendong sang ayah sambung.


"Jangan dulu ikut, Abi. Kamu sama Ummi dulu, Nak." Qonni menahan tangan puterinya yang mulai sedikit rewel karena inginnya di gendong Abi Ilyas.

__ADS_1


"MashaAllah, si cantik. Nanti ya, Sayang." Ilyas terkekeh gemas pada Nisa yang tak henti-hentinya merengek-rengek.


"Ayo, Mas kita jalan sekarang," ajak Qonni yang di balas anggukan kepala.


Keduanya berpamitan, tak terkecuali pula cium tangan Ulum. Pria paruh baya itu lantas mencium pipi Nisa sebelum mereka pergi.


"Hati-hati, Yas. Salam untuk Kyai Irsyad."


Keduanya mengangguk sebelum mengucap salam. Motor pun melaju dengan pelan, menuju lokasi yang ramai di kunjungi warga Bekasi dan sekitarnya.


***


Sampai di lokasi, keduanya langsung berjalan pelan. Ilyas menggendong Nisa, memanggul di pundak. Posisi yang memang paling di gemari anak itu.


Suasana taman yang belum begitu ramai membuat mata jadi lebih luas memandang. Mungkin karena masih sore. Biasanya muda-mudi akan banyak berkeliaran ketika malam tiba.


"Mas, hari ini aku berbicara dengan Fatimah," ujar Qonni di sebelah Ilyas. Pria itu menoleh sejenak.


"Bukan sesuatu yang penting sih. Tapi aku senang, karena dari percakapan kami itu, membuat hubungan ku dan Fatimah mulai membaik. Walau masih agak canggung Dianya." Qonni tersenyum. Langkah pelan terayun, mengikuti jalan setapak yang memanjang.


"Syukurlah kalau begitu," gumam laki-laki itu merasa bersyukur.


Sebelumnya, ia sedikit menyayangkan sikap Fatimah yang tidak dewasa, karena telah terang-terangan mengekspresikan kekecewaannya. Hingga Qonni sendiri sampai terkena dampaknya.


Namun kembali ia berusaha untuk paham. Sebab, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk berekspresi. Walaupun sebenarnya agak kurang nyaman. Bukankah itu manusiawi?


Sorot mata Ilyas beralih fokus pada satu titik. Beliau pun mempercepat langkah sembari mendekati penjual mainan yang menyediakan alat untuk meniup gelembung sabun.


Di belinya satu oleh Beliau, kemudian di serahkan pada Qonni untuk memakai alat yang seperti sebuah tembakan berbentuk ikan, dengan baling-baling kecil yang menghadap langsung pada lubang-lubang kecil di depannya.


"Kita main di sana, Yuk," ajak pria berkacamata itu seraya menunjuk ke arah tempat yang lebih lengang dengan rerumputan yang hijau.

__ADS_1


Qonni mengangguk setuju, kembali menjauh dari sang pedagang, kemudian menuju lokasi yang di tunjuk Ilyas tadi.


Sesampainya disana, perempuan itu langsung menuangkan sedikit cairan sabun ke wadah yang sudah ada satu paket dengan mainan tersebut. Lantas menembakkan alatnya ke udara hingga gelembung-gelembung sabun mulai berterbangan banyak sekali.


Tangannya menjulurkan sedikit tangan Nisa guna menyentuh balon-balon yang melayang pelan di sekitarnya. Sang anak pun tergelak riang. Tatkala langkah Ilyas di percepat, memecahkan satu persatu dari gelembung tersebut.


Tawa Ilyas turut pecah tatkala gelembung pecah di dekat wajah anaknya. Buru-buru Beliau usap khawatir akan mengiritasi kedua mata Nisa.


Di satu sisi, Qonni tersenyum. Inilah yang ia harapkan saat masih sendiri. Ada sosok Ayah, yang akan menemani puterinya bermain.


Pria di hadapan Qonni tersenyum padanya, memergoki tatapan mata Qonni yang terus diarahkan untuk Ilyas.


"Sebenarnya, aku dari kemarin mikir, Mas. Kok bisa ya orang seperti aku mendapatkan cinta dari laki-laki yang sejatinya banyak di minati kaum Hawa?" Jarinya menekan pelatuk pistol gelembung sabun tersebut. Hingga bulatan-bulatan transparan yang ringan itu kembali mengudara.


Ilyas maju satu dua langkah hanya untuk mengusap kepala isterinya yang terlihat asik membuat gelembung. Tatapannya tertuju pada perempuan yang mendadak salah tingkah saat mendapati mata suaminya terus mengarah padanya.


"Mas lagi heran sama kamu, Dek."


"Heran kenapa?" Senyum Qonni masih melebar, sambil sesekali mendorong wajah Ilyas agar berhenti melihatnya. Pria itu menahan tangan isterinya dengan satu tangan yang lain.


"Kok bisa sih kamu nganggap aku laki-laki yang banyak di minati kaum Hawa. Padahal, mendapatkan cinta satu orang wanita aja susahnya setengah mati."


Qonni terdiam, kedua pipinya bersemu merah. Bibir manisnya pun tak bisa untuk tidak melengkungkan senyum. Keduanya sama-sama salah tingkah untuk beberapa saat.


"Haruskah aku bilang ini keberuntungan?" tanya Qonni.


"Aku atau kamu yang beruntung?" balas Ilyas.


"Dua-duanya–" Qonni menembak gelembung sabun itu ke udara. Pria di depan tersenyum simpul. Seraya mengusap tangan Qonni dengan satu tangan.


Senja yang indah mereka habiskan. Namun sebelum sampai pada waktu magrib mereka langsung bergegas menuju rumah Ustadz Irsyad. Berharap, sang paman yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri itu ada di rumah.

__ADS_1


__ADS_2