Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Masih belum bisa melepas bayangmu


__ADS_3

Perempuan yang masih terlihat lemas diatas ranjang nampak terpekur memandangi jendela kaca bangsal, dimana dari posisinya ia hanya mampu melihat langit dengan awan putih yang bergerak pelan saat tertiup angin.


Melahirkan seorang anak, seharusnya menjadi momen yang paling spesial baginya sebagai seorang ibu baru, bukan? Yang tentunya, tak terlepas dari sosok laki-laki, dengan air wajah tak kalah antusias sambil menimang bayi mereka.


Nyatanya, semua itu tidak bisa ia rasakan saat ini. Tidak ada situasi paling menyakitkan, melainkan saat Sang suami tiada, dan saat dirinya harus melahirkan sendiri tanpa sosoknya yang teduh.


Qonni sudah berusaha sejak masuk kedalam ruang operasi, untuk tidak menangis. Namun, saat ini ketika nyeri luka sesar mulai berdenyut-denyut karena obat anastesi yang semakin menghilang. Perempuan dengan balutan hijab abu-abu itu sedikit menampung air mata kepedihannya. Seolah tidak ada sesiapapun yang mampu meredam kesakitannya saat ini selain sentuhan hangat sebagai penenang dari tangan suami yang teramat ia rindukan.


Belaian lembut di kepala membuatnya menoleh kearah wanita yang sejak tadi setia menemani sejak awal kedatangannya ke rumah sakit.


"Kamu mau minum, Nduk?" Tanya Aida lemah lembut.


"Nanti aja, Bu," jawabnya lirih sambil sesekali meringis.


"Kenapa? Mulai Sakit, ya?"


"Iyaaaa," Qonni beristighfar dengan mata yang semakin menganak sungai.


"Istighfar, Nduk." Aida mencoba menenangkan Qonni yang mulai merengek.


"Astaghfirullah al'azim, Ya Allah... Aa–," gumamnya lirih di tengah-tengah rasa sakit yang semakin terasa. Ia mencengkram besi pembatas ranjang sambil membayangkan wajah suaminya yang ia harapkan ada disisi dia saat ini. "Aa!"


Aida yang mendengar Qonni terus memanggil suaminya dengan isak tangis, kembali menitikkan airmata. Hingga sebuah kecupan lembut mendarat cukup lama di pipi Qonni yang basah.


"Sabar, Nduk. Istighfar aja, ya. Jangan mengingat yang akan membuatmu semakin merasa sakit." Aida mengusap air mata di kedua mata puterinya. "Semangat, Nduk. Demi anakmu..."


Perempuan itu kembali beristighfar di barengi dengan tarikan nafas dan juga hembusan pelan yang membuatnya kembali tegar.

__ADS_1


Sepersekian detik berikutnya, Ummi Nur dan Ning Maulida datang. Terlihat wajah haru bercampur kesedihan menghiasi perempuan paruh baya yang gegas mendekati menantunya sambil menangis tersedu-sedu, lalu menciumnya berkali-kali.


"Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!" gumam Ummi Nur dengan suara seraknya karena bercampur tangis memeluk tubuh Qonni. "Ya Allah..., makasih, Nak. Makasih kamu sudah berjuang untuk melahirkan anak Harun. Ummi minta maaf, Sayang. Maafkan Ummi karena baru dateng."


Perempuan yang masih menahan sakitnya hanya mengangguk pelan. Bibir pucatnya sedang berusaha melukiskan senyum untuk wanita yang ia hormati seperti ibu Aida. Walau harus bercampur dengan air mata yang amatlah deras membanjiri kedua pipinya.


Suasana haru menyelimuti ruang kelas satu yang di peruntukan untuk ibu melahirkan itu. Dimana tidak ada satupun dari mereka yang tidak merasakan kepedihan hati Qonniah saat harus berjuang melahirkan seorang anak tanpa Harun di sisinya.


Memang, tidak ada yang bisa mengetahui gambaran masa depan. Setiap orang mengharapkan agar segalanya menjadi baik-baik saja. Nyatanya, Tuhan memberikan jalan lain di tengah-tengah antusiasme menyambut datangnya si kecil. Dan jika garis takdir telah di tentukan, tak ada siapapun yang mampu menolaknya bahkan hanya sebatas menghindar sekalipun.


🌸🌸🌸


Baru siang tadi Qonni meninggalkan rumah sakit. Ummi Nur juga baru beberapa menit yang lalu berpamitan pulang. Dan berjanji akan datang lagi besok siang setelah mengajar.


Sore ini, setelah bayi perempuan yang belum sempat ia beri nama itu di mandikan oleh Ibu Aida. Ia langsung menyusuinya di dekat ranjang.


Tangan Qonni meranggai ponsel di atas nakas. Buru-buru ia membuka aplikasi chatting, dan menekan pesan berbintang. Tempat dimana pesan-pesan penting itu tersimpan. Ada banyak sekali rekaman Voice note Harun yang sengaja ia sematkan semenjak sosok laki-laki berwajah teduh itu wafat. Tujuannya, tentu untuk mempermudah jika ia ingin kembali mendengar suara suaminya. Salah satu yang paling sering ia dengarkan adalah, sholawat Jibril yang ia lantunkan saat sedang berada di luar kota beberapa bulan sebelum kematiannya.


"Sambil mimi, sambil dengerin suara Abi, ya, Nak." Qonni tersenyum getir, sebelum menekan tanda play hingga suara Harun bisa kembali ia dengar.


Salah satu tangannya menepuk-nepuk pelan bagian bokong puterinya, bibirnya pula bersenandung mengikuti lantunan sholawat dari pria yang selalu membuatnya jatuh cinta di setiap harinya. Sementara matanya mengarah nanar pada jendela di kamarnya yang mulai gelap berhiaskan semburat jingga langit sore. Mengenang betapa singkat cinta itu mekar di hatinya dan Harun. Lantas, patah begitu saja.


Cklaaakkk!


Saat pintu kamar terbuka, Aida muncul dengan membawa nampan makanan sebelum helaan nafas panjang saat mengetahui situasi kamar yang redup.


"Kenapa nggak di nyalain lampunya, Nduk? Gorden juga belum di tutup. Nggak boleh, loh sandekala gini masih buka gorden. Apalagi ada bayi." Aida gegas menyalakan lampu kamar, kemudian menutup gorden yang masih di tatap puterinya. Setelah itu mendekati mereka berdua di atas ranjang. "Udah makan sore, belum? Kamu kan nggak boleh makan malam."

__ADS_1


Qonni bergeming, kebiasaan ibunya yang masih mempercayai adat kejawen itu tak pernah membuatnya merasa terkekang. Ia tetap menghormati saja. Walaupun baginya sebagai wanita yang lahir di era modern, kepercayaan ibunya itu amatlah tidak masuk akal.


"Sini, biar ibu yang gendong. Kamu makan dulu, ya. Itu udah ibu siapin makanan." Aida langsung menggendong cucunya dengan air wajah penuh kasih sayang, dan celotehan khas nenek yang sedang menimang cucu.


Di atas meja, sudah tersedia nasi, satu mangkuk sayur bening katuk, dua butir telur rebus, satu potong tahu, dan dua potong tempe yang hanya di rebus dengan bumbu kuning.


"Makan yang, banyak. Habisin juga sayur beningnya biar ASI-mu banyak," titahnya sebelum menciumi pipi yang harum khas bayi, sambil sesekali tertawa senang melihat wajah imut yang tertidur pulas dalam balutan kain panjang.


Lagi-lagi Qonni tak menjawab, selain mendekati meja yang berada di sudut kamar dan duduk di kursi tempat makanannya terhidang. Sambil mengucapkan basmalah, perempuan itu mulai meraih sendok yang tertelungkup di sisi piring siap untuk menyantap.


Walaupun dalam keadaan tak berselera, dan demi ASI yang harus banyak tertampung, Qonni harus memaksa makanan itu masuk ke dalam mulutnya.


"Qonni, kira-kira anakmu mau di kasih nama siapa?"


Baru saja mau memasukkan nasi kedalam mulut, ia sudah mengurungkannya. Kembali di turunkan sendok berisi nasi dari tangan, sebelum menoleh kearah wajah Harun yang berada di dalam bingkai foto. Kemudian menunduk sebelum menggeleng pelan.


"Loh, jadi kamu belum siapin nama untuknya, Nduk?"


"Belum, Bu," jawabnya lirih yang membuat kerongkongannya kembali tercekat saat ini.


"Ya ampun, cucu Mbah Uti belum di kasih nama? Kasian sekali–" gumamnya sambil terus menimang anak Qonni. "Nanti biar Ayah sama Ibu aja yang kasih nama, ya? Atau kalau nggak nanti di tanyain ke Bu Nyai Nur. Kali aja Beliau udah nyiapin nama. Kasian loh, bentar lagi anakmu Puput." (Puput dalam kepercayaan Jawa Tengah adalah saat sisa tali pusar yang masih menempel di pusarnya sudah terlepas seluruhnya.)


"Iya, Bu. Qonni nurut aja." Perempuan itu langsung melanjutkan makannya yang tertunda.


Maaf, A' bukan aku nggak mau memberikan nama untuk anak kita. Tapi rasanya, sangat sakit untukku memberikan nama sendirian.


Aida menghela nafas, sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa, ataupun melakukan hal yang bisa membuat puterinya kembali semangat menjalani hidup. Perempuan bertubuh langsing itu geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2