
Selepas mengganti kokonya dengan kaos oblong, Ilyas menoleh. Di lihat sang istri belum selesai menyusui. Bahkan Qonni nampak kesulitan, mengetik kata dengan satu tangan.
"Kamu ngerjain apa sih?"
"Ini, Mas. Aku lagi copy paste beberapa soal evaluasi bab, untuk di masukin ke lembar soal UTS. Karena udah nggak sempet nulis manual lagi. Belum nanti Bu Emi harus foto copy."
"Oh, yang mana aja? Sini biar aku bantu." Ilyas mendekat, yang buru-buru membuat Qonni menutupi dadanya yang masih di hisap Nisa.
"Tinggal ngambil di bab lima sama enam, Mas. Yang ini, ini, terus ini juga, ini, sama ini." Di tunjukkan semuanya, pria itu pun paham. Ia menguatkan kacamata-nya lalu duduk menggantikan Ayu yang gegas bangkit.
Ayu yang merasa terbantu mulai tenang, ia berjalan pelan, pindah posisi ke atas ranjang. Beruntungnya ada Ilyas pagi ini, ia jadi tidak kesulitan. Belum lagi, Ilyas dan dirinya bekerja di bidang yang sama. Jadi tidak perlu susah-susah untuk menjelaskan.
Beberapa menit berlalu, Nisa melepaskan hisapannya. Di letakan anak itu ke atas ranjang, untuk bermain. Sementara Qonni menemaninya sambil sesekali memantau pekerjaan Ilyas.
"Alhamdulillah."
"Udah selesai, Mas?" tanyanya antusias.
"Udah, coba cek. Ada yang salah, nggak?" Ilyas bangkit pindah ke ranjang tempat Qonni tadi. Bergantian dengan Qonni yang buru-buru melihat hasil kerja suaminya.
"MashaAllah..." Bibirnya mengulas senyum senang.
"Gimana?" Tanya Ilyas sambil menciumi Nisa.
"Beres, Mas. Makasih, ya?"
"Sama-sama, Sayang," jawabnya sambil tersenyum ke arah Nisa yang sedang memegangi jari telunjuknya.
Dengan semangat perempuan itu mengcopy datanya kemudian memindahkan ke kolom email. Membaca ulang sebentar setelah itu kirim.
"Alhamdulillah, pekerjaan ku selesai," ujarnya sambil menutup laptop.
"Jadi sekarang udah nggak sibuk dong?" tanyanya sambil menggendong tubuh Nisa dan berjalan mendekati Qonni. Perempuan itu menggeleng.
"Enggak, Mas."
"Kalau begitu, kita keluar yuk."
"Kemana?"
__ADS_1
"Jalan aja. Cari angin..."
"Angin kok dicari. Itu kan ada kipas, tinggal nyalain aja."
Pria itu menggampit kedua pipi sang istri dengan satu tangan. "Ya beda lah, Sayang. Masa iya di samain udara alam sama angin buatan?"
Melihat wajah yang terangkat membuat Ilyas gemas, belum lagi senyum manis Qonni yang membuatnya tak tahan untuk mencium bibirnya.
"Mas boleh cium nggak, sih?" bisiknya lirih.
"I–itu?" Kembali merasakan gugup.
"Nanti aja lah. Keburu matahari terbit..." Ilyas terkekeh yang di tanggapi senyum tipis Qonni merasa lega. Nggak mungkin juga kan mereka berciuman di depan anak bayi.
Tahan Ilyas, tahan...
"Ya udah, sekalian cari bubur buat sarapan, Nisa." Bangkit dari posisi duduknya, hendak mengambil langkah yang buru-buru di tahan pria itu.
"Ada yang kelupaan, Dek."
"Apanya yang kelupaan?" Menarik satu alisnya heran.
"Yuk, katanya mau keluar," alihnya berniat untuk kabur.
"Loh, urusan ini gimana?" Masih menunjuk ke arah pipinya sendiri. "Dikit aja..."
Tidak ada pilihan, Qonni langsung memberikan kecupan amat singkat di pipi Ilyas, agar semua bisa berjalan dengan cepat. Maunya sih langsung kabur, apalah daya tangan Ilyas langsung sigap menahan pinggangnya.
"Ana Uhibbuki Fillah, Ya Habibati..." Bisik Ilyas pada isterinya yang berada dalam dekapan satu tangan. Karena satu tangan yang lain menggendong Nisa.
Perempuan disisinya tertegun dengan ungkapan sayang Ilyas yang berujung pada kecupan di kening. Pria itu membuka mata setelah bibir tak lagi menempel di kening. Qonni sama sekali tak menjawab, dirinya hanya bingung ingin menjawab atau merespon yang bagaimana mana.
"Pake hijabnya, yuk kita jalan-jalan. Mas nunggu di luar, ya." Sambil menciumi pipi tembam Nisa, Ilyas mengayunkan langkah menuju pintu.
Sementara perempuan yang mendadak beku itu masih berdiri di tempatnya dan terhempas pelan, duduk di lantai setelah pintu tertutup.
"Ya Allah, jantungku..."
Qonni menyentuh dadanya yang berdebar, sekujur tubuh yang gemetar pula tak luput ia rasakan.
__ADS_1
***
Berjalan pagi selepas hujan tadi malam memang terasa lain. Udara yang ter-filter menjadi lebih nyaman di hirup.
Sepasang pengantin baru dengan satu orang anak balita terus menyusuri jalan beraspal. Sambil sesekali menyapa para tetangga yang di laluinya.
"Di sini lumayan padat, ya?"
"Iya, Mas. Emang di daerah Mas Ilyas nggak begitu?" tanyanya.
"Padat sih, tapi nggak kaya di sini. Kawasan Cileungsi itu masih banyak kebun-kebun kosong milik warga. Jadi suasananya nggak kota banget kaya Babelan," jawabnya.
"Dulu waktu aku kecil juga masih banyak lahan kosong, nggak kaya sekarang."
"Oh, ya?"
"Iya, di sana..." Qonni menunjuk sebuah bangunan besar. "Tadinya tanah lapang yang biasa buat anak-anak main. Cuma udah banyak berubah."
"Iya lah, semakin bergantinya zaman, pasti akan banyak perubahan." Ilyas mengangkat tinggi-tinggi tubuh Nisa, hingga anak itu tertawa kencang. Belum lagi ketika Ayah sambungnya mencium perutnya yang sedikit terbuka itu. Nisa semakin terpingkal.
"Mas kenapa milih aku sih?" Pertanyaan yang mendadak keluar dari bibir Qonni membuat Ilyas menghentikan kegiatannya. Kembali menurunkan tubuh Nisa sampai ke dada.
"Kamu kan tahu jawabnya, Dek."
"Karena kasihan? Atau merasa bersalah?"
Ilyas bergeming, seolah kembali di ingatkan dengan kejadian masalalunya. Adapun Qonni jadi menyesal telah melontarkan pertanyaan seperti tadi.
"Maaf, aku salah ngomong."
"Enggak lah. Kamu nggak salah kok, nanya gitu ke aku." Ilyas memetik bunga liar setelah itu menyerahkannya pada Qonni yang di terimanya langsung. "Merasa bersalah udah pasti, tapi kalau hanya rasa bersalah saja tanpa rasa cinta, nggak mungkin aku nikahin kamu, kan?"
Qonni manggut-manggut. Ya ada benarnya sih. Alasan logis...
"Kamu sendiri, apa alasannya menerima aku?" Balik bertanya, perempuan itu justru tak memiliki jawaban selain lelah karena di suruh nikah lagi. Tapi ia tak mungkin menjawab dengan jujur kan? "Apakah, udah ada rasa cinta pada laki-laki menyebalkan ketika kamu minta tanda tangan sebagai, Maba?"
"Kita beli bubur bayi buat Nisa dulu, ya, Mas. Di sana..," ajaknya mengalihkan kemudian jalan pelan lebih dulu.
"Menghindar lagi..." Dengan diselipi senyum laki-laki itu mengikuti langkah Qonni. Menyusulnya.
__ADS_1