
Qonni yang ada di sisinya tak bisa berbuat apa-apa. Ia terus menunggu, walau dalam hati penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Hingga setelah panggilan telepon di matikan, tangan halusnya mulai mengusap air mata di pipi suaminya.
"Ada apa, Mas?" Lirih bertanya pada pria yang mulai tenang.
"Temanku, diam-diam berangkat ke Baitul maqdis. Dan dia syahid di sana..."
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," balasnya sembari memegangi dada.
Ia memang tidak kenal siapa teman Ilyas itu, namun hatinya turut terhentak ketika mendengar tempat kematiannya termasuk tanah suci yang di berkahi.
"Mereka memang biadab. Datang sebagai pengungsi, namun berbalik ingin menguasai. Dengan dalih, jika tanah Al Aqsha adalah milik nenek moyang mereka yang harus di rebut kembali." Ilyas mengepalkan tangannya kuat, hingga otot-otot lengan terlihat jelas. Wajahnya memerah menahan amarah.
Qonni mengusap lengan yang mengeras itu. Turut prihatin dengan apa yang terjadi. Memang, di negara itu konfliknya tak kunjung selesai selama berpuluh-puluh tahun. Dan untuk yang kali ini, termasuk pembantaian paling brutal yang pernah ada, dimana ribuan warga sipil terbunuh, yang di dominasi wanita dan anak-anak.
Pria yang mulai tenang setelah melampiaskan amarah dengan tangisnya itu menoleh. Satu tangannya mengusap lembut kepala sang istri.
"Dek, kita sholat Sunnah yuk. Mas mau mendoakan mereka. Termasuk Haki..." ajaknya dengan suara yang masih serak.
Qonni mengangguk, ia pun bangkit bersama juga dengan Ilyas. Kembali mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Sunnah. Walau waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Dua reka'at mereka jalani dengan khusyuk. Dan berdzikir demi melangitkan doa untuk sauda-saudara seiman di sana.
Mereka berdua yakin, tidak ada dukungan yang tak berarti jika itu terkait agama Allah. Mungkin, sebagian besar orang-orang beranggapan, mereka hanya orang asing dari negara yang jauh di sana. Dan menganggap terlalu berlebihan jika membela atau bahkan hanya sekedar mendoakan.
Nyatanya, sedikit yang di ketahui perempuan berambut panjang ini, bahwa Al Aqsha adalah tanah suci yang tak jauh berbeda dengan Mekkah. Sebagai kiblat pertama sebelum di pindahkan pada Ka'bah.
__ADS_1
Ya, kawasan Al Aqsha dan sekitarnya memang terbilang negeri yang diberkahi, karena di daerah tersebut diutus oleh Allah sejumlah rasul-Nya untuk berdakwah dan sebagian lagi menetap. Di antaranya, Nabi Ibrahim, Ishak, Luth, Ya’kub, Musa, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, hingga Isa AS.
Selesai sholat dan berdzikir, Qonni membenahi mukenanya sementara sang suami masih berada pada posisi berniat untuk melanjutkan.
"Kamu tidur duluan aja ya, Mas mau lanjut."
"Tapi, Mas Ilyas juga capek kan?" Tanyanya di tengah kesunyian kamar mereka.
Pria itu hanya tersenyum tipis, sementara tangan sudah siap menggulir biji tasbih.
"Mas, kenapa, ya. Mereka bisa sampai berulah terus-terusan seperti itu? Kira-kira kapan akan berakhir." Tanya Qonni tak habis pikir.
"Yang pasti karena keyakinan, jika seluruh wilayah itu adalah milik nenek moyang mereka. Makanya mereka tak akan mau berhenti sampai negara yang di jajah habis. Kemudian semua area di negara itu jadi milik mereka."
"Kenapa mereka menganggap, negara itu adalah milik nenek moyang mereka, Mas?"
Qonni manggut-manggut. Ia paham sekarang, kenapa dulu kiblat sampai di pindahkan. Karena banyaknya cibiran dari kaum tersebut perihal tempat ibadah yang sama. Dan tatkala Rosulullah Saw menatap kelangit, sambil berharap maka Allah turunkan ayat tentang kiblat umat Islam yang di palingkan ke Ka'bah.
"Yang perlu di garis bawahi, permusuhan ini bukan dari Nabi terdahulu, hanya Umatnya saja yang tidak mau beriman pada Nabi Isa as, terlebih pada Nabi Muhammad Saw," tuturnya menjabarkan.
"Rosulullah Saw, selalu menghormati dan mengimani adanya Nabi-Nabi terdahulu, dan itu sampai pada kita sekarang. Makanya kita percaya adanya, Adam As, Musa As, Isa As dan Nabi-Nabi yang lain. Sebaliknya, dari Nabi Adam As hingga Nabi-Nabi sebelum Rosulullah Saw, pun mengimani Nabi Muhammad Saw sebagai manusia paling mulia di bumi ini. Hanya saja, umat-umat turunan mereka tidak demikian, mereka justru menentang bahkan mengubah-ubah isi kitab sampai saat ini. Berbeda dengan Al Qur'an yang masih terjaga keasliannya."
Perempuan di hadapan suaminya masih tertegun, mendengarkan dengan serius apa yang di jabarkan oleh suaminya.
"Dulu, Mas itu sempat punya mimpi ingin datang ke sana sebagai relawan. Cuman, belum kesampaian. Dan Haki— Mas iri dengan kematiannya." Kembali bulir-bulir bening itu berjatuhan.
__ADS_1
Melihat sang Suami menangis, entah mengapa kedua mata Qonni jadi turut mengembun. Rasanya, membayangkan kehidupan di sana amatlah pedih.
"Mereka pasti ketakutan, hidup dalam konflik yang tak berkesudahan," lirihnya dengan wajah tertunduk.
"Kamu tahu, Dek? Mereka termasuk yang hidupnya lebih beruntung daripada kita. Yang kata kita, mereka teramat ketakutan, kesakitan, kelaparan. Tapi perlu di ingat, mereka punya lahan jihad, bahan musuh yang di hadapi nyata, sementara kita? Saking nikmatnya, kita sampai lupa dengan akhirat. Tidak seperti mereka, yang hidup benar-benar untuk ibadah sembari menunggu kematian."
Kata-kata Ilyas barusan benar-benar menghentakkan dadanya. Merasa apa yang di paparkan benar adanya, ia juga sedikit merasa tersindir dan malu terhadap Sang Maha Kuasa.
Di sekanya lagi air mata tersebut. Pria itu menghela nafas. Tangan Qonni nampak mengusap lengan satunya yang bertumpu di atas permukaan sajadah.
"Istimewanya, Negeri yang kita kenal dengan Palestina itu kalau kata ulama bilang, nantinya akan menjadi titik Padang Mahsyar. Dimana orang yang mati di sana, terkhusus yang syahid akan lolos ke surga tanpa hisab."
"MashaAllah, iya kah?" tanyanya.
Ilyas mengangguk. "Iya... tempat yang juga menjadi salah satu titik sebelum Rosulullah Saw naik ke Sidratul Muntaha ketika isra dan mi'raj, dan menerima perintah sholat. Yaitu Al Aqsha..."
"Allahu Akbar..." gumamnya lirih. Mereka terdiam sejenak untuk bermusahabah. Meningkatkan iman mereka, dengan menjadikan masalah di negara tersebut sebagai bahan renungan.
.
.
Note: Jadilah burung, walau air yang di bawa tak bisa mematikan api yang membakar Nabi Ibrahim As. Setidaknya, Allah SWT mengetahui di mana ia berpihak.
Jangan pula Kalian seperti cicak, sudahlah tidak mampu membantu madamkan api, tapi malah menghembuskan angin agar api itu tidak mati.
__ADS_1
"Kekuatan kita memang tidaklah berarti apapun. Tak pula membuat lawan langsung tumbang. Namun, dengan usaha yang terlihat sia-sia ini. Setidaknya, kita punya alasan di hadapan Rabb kita kelak, di posisi siapa kita berdiri. Kita harus punya andil, setidaknya dengan menunjukkan siapa yang kita bela."