Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Bicara empat mata


__ADS_3

Seperti janjinya yang telah menyanggupi ajakan Qonni. Gadis dengan hijab syar'i-nya menghampiri sang guru matematika yang duduk di bibir batas suci.


Senyum Qonni mengulas, mengarahkan pandangannya pada Gadis yang masih terlihat dingin mengabaikan Qonni.


Ia tahu, ini tidak nyaman. Namun karena sudah tidak tahan, ia pun memberanikan diri untuk mengajaknya bicara empat mata, berharap semuanya dapat terselesaikan.


"Anak-anak mau ada ulangan harian, Bu Ayu," ucapnya datar. "Jadi kalau bisa bicara aja jangan lama-lama."


Qonni mengangguk, ia lantas mengulurkan tangannya membuat mata Fatimah bergeser kearah tangan itu. Dengan ego yang masih tinggi, namun ia juga takut dosa akhirnya menyambutnya. Membalas jabat tangan Qonni.


"Saya mau minta maaf, Bu Fatimah," ucapnya tulus. "Jujur, sampai detik ini saya masih nggak paham. Kenapa Bu Fatimah bersikap seperti ini ke Saya. Adakah kesalahan yang sangat fatal telah saya lakukan?"


Fatimah bergeming, kedua tangannya yang berada di atas pangkuan saling meremas.


Sebenarnya, Bu Ayu nggak melakukan kesalahan apapun. Tapi aku sendiri yang nggak bisa mendekat lagi, karena melihat wajah mu aja aku jadi ingat laki-laki yang ku cinta telah jadi suamimu. (Fatimah)


"Saya benar-benar ingin hubungan kita kembali baik, Bu Fatimah. Bukankah kita duduk di ruangan yang sama, bersebelahan pula. Seharusnya kita lebih akrab, apalagi aku sudah semakin dekat dengan mu."


Belum selesai Qonni berbicara gadis itu sudah bangkit. Air mata yang menggenang di pelupuk mata benar-benar membuat gadis itu jengkel. Ia tidak ingin menangis lagi, apalagi di depan Ayudia.


Wajah Qonni terangkat, mengarah pada gadis yang sudah berdiri di sisinya. Bahkan ia sampai menggunakan alas kaki secara asal.


"Bu Fatimah?" gumamnya berusaha menahan.


"Saya butuh waktu untuk menjelaskan perasaan saya ini, Bu Ayu." Fatimah akhirnya bersuara.


Di edarkannya pandangan itu ke sekeliling. Membaca situasi, masjid ini sudah lumayan sepi. Ia pun membalik badan.


"Mungkin Saya terlihat kekanak-kanakan. Tapi, jujur saja, saya sakit setiap kali melihat Bu Ayu..." kata-katanya tertahan. Namun tidak demikian dengan air mata.


Qonni yang sudah berdiri di hadapan gadis itu nampak bergeming.


"Saya mencintai Mas Ilyas!" hujamnya tanpa menimbang-nimbang lagi. "Saya mengaguminya sudah lama. Saya mengharapkan Dia, Bu Ayu..." sambungnya terisak.

__ADS_1


Perempuan di hadapannya semakin membisu. Ia ingat, Fatimah pernah curhat soal laki-laki yang ia kagumi. Bahkan sampai meminta bantuan Ayahnya. Jika di gabungkan dengan pemukulan yang di lakukan Pak Sofian, di tambah pengakuannya tadi. Semua masuk akal, dan tersambung dengan cerita Ilyas perihal permintaan Pak Sofian untuk menikahi puterinya.


"Sekarang, udah tahu, 'kan? Kenapa saya nggak bisa deket lagi sama Bu Ayu. Semua sebab saya kecewa sama kamu? Hati saya sakit, setiap melihat Bu Ayu."


"Ta–tapi, saya?"


"Ya. Bu Ayu memang nggak tau apa-apa. Di sinilah letak kekurangan saya. Yang tak memiliki pemikiran dewasa." Fatimah menurunkan intonasi suaranya. Satu tangannya menyeka air mata kasar. "Saya rasa pembicaraan kita sudah cukup. Saya permisi, Bu Ayu."


Ia berusaha untuk tersenyum walau terpaksa, sebelum akhirnya meninggalkan Ayudia sendirian di depan masjid.


Angin berhembus mengibarkan kerudungnya. Sedikit menyipit mata Ayudia di terpa matahari. Dengan ekspresi sedih, mata Qonni mengikuti langkah tertatih Bu Fatimah yang semakin menjauh.


Perempuan itu lantas tertunduk lesu. Entah bagaimana caranya bisa kembali berhubungan baik dengan Fatimah. Kalau permasalahan ini rupanya cukup rumit. Sebab melibatkan hati seorang wanita.


Tangannya terangkat menyentuh dada, padahal gadis itu hanya berkata demikian. Namun entah mengapa ia merasa sesak ketika ada gadis lain yang mengaku amat menyukai suaminya sampai seperti ini.


🌸🌸🌸


Gelak tawa puterinya meramaikan suasana, perempuan itu pun mendekat sambil meletakkan teh tawar hangat untuk suaminya.


"Makasih, ya, Sayang," ucap Ilyas sambil melempar pelan bola karet ke arah keningnya sendiri, hingga bola itu mental dan membuat Nisa semakin terpingkal.


"Lagi, ya? Sekarang Abi lempar ke Nisa..." Ilyas mengarahkan bola karet itu ke kening anaknya.


"Tuiiiiiing..." bola mengenai kening Nisa yang kemudian memicu tawa semakin kencang. Begitu pula dengan Ilyas.


"Lagi?"


Belum juga melempar bolanya, ia sudah terdiam. Karena tiba-tiba Qonni menyandarkan kepala di punggungnya. Senyum Ilyas pun terukir sambil menoleh kebelakang, ia mengusap pipi isterinya.


"Kenapa, Sayang? Hari ini capek ya?" tanyanya penuh perhatian. Qonni sendiri langsung menggeleng.


"Enggak, Mas."

__ADS_1


"Terus, kenapa lesu begini?"


"Aku cuma mau nyandar aja."


"Masa? Pasti ada yang lain..." Ilyas kembali melemparkan bolanya pelan ke arah sang anak, yang terus-menerus tertawa.


Qonni tak menjawab, bahkan matanya justru terpejam. Menikmati punggung hangat yang gagah, di tambah aromanya yang khas. Seolah tak rela di cintai oleh perempuan manapun selain dirinya.


Tunggu, apa yang ku pikirkan? Qonni kembali membuka matanya, tatapannya pilu mengarah ke ubin keramik.


"Kamu tahu, nggak sayang, hari ini Mas dapat kupon makan di salah satu restoran yang baru buka."


"Kupon makan?"


"Iya, jadi temen kuliah Mas ada yang buka cafe gitu. Dan makananya bervariatif, ada menu seafood juga. Nanti malam grand openingnya." Bersemangat, sambil memangku Puteri kecilnya.


"Tapi, Nisa nggak bisa ku ajak keluar bawa motor Mas."


"Eh, iya ya..." Duh, aku nggak bisa nyetir mobil juga.


Qonni mendongak. "Kalau begitu kita berdua aja, Mas."


"Berdua? Emang nggak papa?"


"Nggak papa, aku biasa keluar sendiri kalau ada keperluan atau hanya sekedar jajan."


Ilyas tersenyum, lalu mengangguk. Tatapannya masih mengarah kebelakang. Tempat di mana sang istri menyandarkan kepalanya.


"Ini dong..." mengetuk-ngetuk pipinya sendiri, minta cium. Dan untuk yang sekarang Qonni tak sampai berpikir panjang. Ia langsung menuruti keinginan Suaminya. Mencium pipi kiri yang memang dekat dengan wajahnya sendiri.


"MashaAllah..." gumam Ilyas setelah mendapatkan kecupan di pipi. Ia kembali bermain dengan Nisa, tentunya dengan suasana hati berbunga-bunga.


Malam ini, akan benar-benar menjadi kencan yang sesungguhnya sama Isteri. -Batin Ilyas bahagia.

__ADS_1


__ADS_2