Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Doa yang akan tetap sampai


__ADS_3

Langit di luar memang sudah mulai terang, namun belum juga membuat hati Qonni merasa tenang sebelum melihat suaminya datang dalam keadaan sehat.


Seruan salam terdengar di pintu, Bu Sofian dan juga Fatimah datang. Dijabatnya tangan dua wanita yang ada di sana oleh Bu Sofian, sementara pada Pak Ulum yang sedang menggendong cucunya, Beliau hanya menangkupkan kedua telapak tangan.


Sama halnya dengan Bu Sofian, Fatimah pun mencium punggung tangan Bu Aida, mengormati. Kemudian berhadapan dengan perempuan yang menggunakan bergo tali warna hitam, karena sang ibu tengah berbicara pada Bu Aida yang kebetulan sedang berada di sebelah Qonniah.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Fatimah, tak juga terlihat dirinya hendak mengulurkan tangannya pada perempuan yang nampak sedang menunggu.


Senyum Qonni mencairkan kecanggungan, seraya mengulurkan tangan. Hingga tangan Fatimah turut menyambut.


Bu Aida mempersilahkan mereka untuk duduk, setelah berbincang basa-basi.


"Suami saya bilang, Mereka sudah hampir tiba. Makanya saya datang ke sini," ucap Bu Sofian sembari menggenggam tangan Bu Aida yang ada di sisinya.


Fatimah dan Qonni duduk bersebelahan di kursi tanpa saling bicara antar satu sama lain. Sebenarnya agak aneh, dan tidak nyaman bagi Qonni. Namun, ia sendiri pun bingung ingin berbicara perihal apa demi mencairkan suasana. Jadilah ia hanya mendengarkan saja, suara Bu Sofian yang terus bercerita mengenai kronologi kejadian semalam.


Hingga Baik Qonni ataupun mereka semua yang ada di sana akhirnya bisa bernafas lega saat mobil yang di kendarai Pak Sofian tiba, kemudian berhenti di sebelah mobil yang di kendarai Fatkhul Qulum.


Haru melihat kondisi Ilyas, perempuan dengan hijab pink itu berkaca-kaca menunggu langkah-langkah pelan mereka mendekat.


"Assalamualaikum!" sapa Ilyas pada semua yang turut menyambutnya. Termasuk Bu Sofian dan juga Fatimah.


Terlihat mata Fatimah mengarah pilu pada tangan Ilyas yang sedang di kecup oleh Ayu. Namun, ia sudah lebih tegar dari pada sebelum-sebelumnya. Ia sudah bisa berdamai dengan kenyataan, bahwa Ilyas memang untuk Ayudia.


Melihat kedatangan Ilyas, para tetangga pun mulai berdatangan satu persatu guna memastikan kondisi pria berkacamata yang telah melakukan aksi heroiknya itu.


***

__ADS_1


Malam tiba, mereka berdua tetap pulang ke Babelan namun tanpa membawa motor milik Ilyas. Hal itu di sepakati pula oleh kedua adiknya. Karena Ilyas memang butuh kenyamanan demi memulihkan lukanya.


Lagipula ketika ada di Babelan, Qonni jadi bisa lebih fokus merawat suaminya karena adanya ibu yang sementara waktu bisa meng-handle tugas menjaga Nisa.


Qonni mengusap-usap perban yang menutupi luka Ilyas di lengan menggunakan jari telunjuknya.


"Lukanya panjang juga ya, Mas?" tanya perempuan itu seraya fokus pada luka Ilyas.


"Lumayan, Dek. Makanya agak lama penanganannya," jawab pria yang tengah duduk di hadapan sang Isteri.


"Pantesan, darahnya nggak berhenti-henti." Tatapan Qonni mengarah naik. "Masih sakit?"


"Udah enggak begitu terasa. Kecuali kalau kamu tekan, pasti sakit lagi," ucapnya cengengesan.


Qonni menghela nafas. "Mas kok masih bisa ketawa, sih?"


"Mas itu hampir celaka. Lagian apa yang Mas alami bukan sesuatu yang bisa di anggap remeh."


"Aku tahu, tapi memang apa yang ku lakukan hanya tindakan spontan ketika mendapati suatu kejahatan."


"Masalahnya, kamu sendirian, Mas. Ini hanya tergores, kalau mas tertusuk? Lagian kenapa nggak teriak aja." Pertanyaan yang sama seperti apa yang di tanyakan oleh Pak Sofian tadi pagi.


Ilyas pun hanya tersenyum, sebelum memberikan kecupan kilat di bibir Qonni yang hanya diam saja menerimanya.


"Kamu khawatir sama aku?"


"Jelas aku khawatir, Mas. Pertanyaan mu aneh..." hentaknya hingga membuat kekehan kecil keluar dari bibir Ilyas.

__ADS_1


"Sekhawatir apa?" Tanya Ilyas kemudian sambil bertopang dagu dengan tangannya yang lain.


Kedua mata Qonni seolah tersihir, hingga tak terlepasnya dari netra milik sang suami. Bayangan kematian Harun kembali ia rasakan, betapa gelap dan menyiksanya kala itu. Hidup dalam taman indah yang tiba-tiba saja lulu lantak dalam sekejap waktu.


Jika di tanya sekhawatir apa? Tentu kekhawatirannya tak bisa di ukur. Sebelum ini ada hari-hari dimana dunia amatlah gelap, bahkan hidup yang terombang-ambing serasa tak memiliki arti.


Hanya terlihat hujan badai yang tak pernah ia ketahui kapan akan mereda. Berujung pada kehilangan jati diri, dan juga kekuatan yang bahkan tenggelam termakan likuifaksi takdir.


Bulir bening meluncur pelan dari salah satu netranya. Ilyas pun buru-buru menghapusnya yang kemudian tangan itu buru-buru di pegang dengan ke-dua tangan Qonni. Ia menciumi berkali-kali, sungguh perbuatan yang di luar dugaan pria berkacamata itu.


"Kamu nggak akan tau, Mas. Seperti apa kekhawatiran ku tadi malam." Qonni menggenggam tangan suaminya, tatapannya kembali mengarah sedih pada Ilyas. "Jangan lagi-lagi bikin aku ketakutan. Jangan coba-coba untuk memaksa hati ini untuk menerima kehilangan, karena cintaku sudah mulai tumbuh. Akarnya pun mulai menguat."


Ilyas tertegun, debar jantungnya terasa semakin kuat kala mendengar kata-kata yang baru saja terucap.


"Aku takut kehilanganmu, Mas. Aku nggak mau kehilangan pria yang aku cintai untuk kedua kalinya. Jadi tolong jangan gegabah saat bertindak, jaga dirimu buat aku..., ngerti kan sekarang?" Hentaknya dengan Air mata berderai.


Kedua mata Ilyas mengembun, bibirnya tersenyum tipis. Rasa sakit yang berdenyut-denyut di bekas jahitan tadi seolah menghilang sejenak. Ilyas mendekat, kemudian mendaratkan kecupan di bibir sang istri. Hingga gerak lembut dan halus itu di rasakan. Keduanya menikmati sentuhan di bibir masing-masing selama beberapa detik sebelum kemudian berhenti dan melepaskannya perlahan.


Senyum Ilyas merekah. Rasa haru menyeruak, di kecupnya lagi kening sang istri sebelum memeluknya erat dengan satu tangan.


Hari ini, ia menerima dua kebaikan. Dua doa yang ia panjatkan selama beberapa tahun terakhir. Yaitu bisa berhubungan baik lagi dengan Pak Sofian, lalu yang kedua adalah cinta Ayudia Qonniah.


Ucapan hamdalah tak henti-hentinya ia gaungkan, sebagai rasa syukur. Tatkala doanya telah sampai padanya. Padahal, dulu sudah hampir putus asa. Namun, langkah-langkah pasrah itu rupanya menuntun pada keinginannya yang akan terkabul.


Sungguh, memang benar adanya. Tidak ada doa yang tak akan kembali pada si peminta. Hanya saja ada beberapa kemungkinan yang akan di terima. Satu akan di berikan minimal sama, kedua akan di tunda karena cintanya Allah pada sang peminta, dan terakhir tidak di berikan sesuai apa yang di minta namun di ganti dengan yang lebih baik.


Maka tetaplah berprasangka baik atas segala apa yang belum didapatkan. Karena Tuhan bukanya tak mendengar doa tersebut, hanya sedikit melihat layakkah ora itu menerimanya?

__ADS_1


Dan lagi, manusia hanyalah mahluk biasa. Yang tidak akan sampai pada logika Allah SWT...


__ADS_2