
Baru saja tiba di rumah, Qonni sudah di buat terharu dengan hadirnya Ustadz Irsyad yang kini sedang duduk di ruang tamu bersama Gus Muklis, Gus Lutfhi, dan Gus Miftah. Laki-laki paruh baya yang baru pulang dari tanah suci itu langsung menghampiri keponakannya saat baru tiba di ambang pintu.
"MashaAllah, Pakde." Qonni meraih tang Beliau lalu mengecupnya dengan takzim.
"Pie, Nduk kabarnya?" Tanya Irsyad sambil mengusap kepala yang tertutup hijab warna hitam tersebut.
"Baik," jawabnya lirih sambil tersenyum walau dengan mata yang menganak sungai. "Pakde udah dari tadi?" Sambungnya.
"Baru aja dateng," Ustadz Irsyad terkekeh.
Beliau sendiri tak langsung bertanya macam-macam selain mengajak Qonni untuk duduk di kursi. Perempuan itu pun menurutinya, mengikuti langkah kaki Irsyad yang berjalan di depan.
Ruang tamu di rumah Bu Nyai Nur lumayan luas, bahkan terdapat tiga set sofa yang berada di tiga sudut.
"Gus saya pindah dulu di sini sama anak saya ini, ya." Serunya sebelum duduk di kursi lain yang kosong.
"Mangga, Kyai." Gus Mukhlis menanggapi sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, silahkan duduk Nduk. Anggap aja rumah sendiri," hiburannya yang di tanggapi senyum samar Qonni.
Memang, semenjak kepergian Harun perempuan itu jarang bicara apalagi tersenyum. Ia bahkan lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar. Di samping berkurangnya semangat hidup, mungkin juga efek kehamilan di trimester pertama yang membuatnya harus mengalami morning sickness setiap pagi.
"Pakde pulang kapan?" Tanyanya lemah.
"Kemaren pagi, Nduk. Dan sorenya langsung ke Jakarta demi menemui Kamu."
Perempuan dalam balutan hijab segi empat jumbo warna hitam itu hanya memandang sendu sambil berusaha tersenyum tipis pada Beliau.
"Pakde dengar kamu lagi hamil?"
"Iya," lirihnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"MashaAllah, tapi makanya teratur, to?" Tanyanya lagi penuh perhatian yang lantas di jawab dengan anggukan pelan Qonni.
Ya Allah, anakku satu ini biasanya berisik dan cerianya bukan main. Mudah-mudahan, nggak berlarut-larut ya, Nduk. –batinnya sambil terus mengamati ekspresi wajah keponakannya itu.
Setitik air mata mengalir di salah satu pipinya, yang buru-buru di hapus oleh Qonni. Perempuan itu menundukkan kepala, ketika air mata malah justru terus-menerus mengalir padahal ia sudah janji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi di depan orang. Namun, saat melihat Ustadz Irsyad entah mengapa ia justru ingin kembali menumpahkan kesedihannya lagi.
__ADS_1
"Eees... ra popo, Nduk." Ustadz Irsyad menepuk-nepuk pundak Qonni dengan penuh kasih sayang.
"Maaf, Pakde. Qonni masih..., masih suka sedih. Kalau di tanyain tentang janin yang ada di kandunganku. Aku jadi ingat A–A'a. Hiks!" Perempuan itu sesenggukan di hadapan Ustadz Irshad. Setelah dua Minggu menjanda dia tidak pernah menumpahkan kesedihannya kepada selain Allah tempatnya mencurahkan isi hati.
Namun, saat berhadapan dengan pria dengan aura ketenangan itu seolah mendorongnya untuk membeberkan apapun yang ada di dalam kepalanya walaupun tak semua.
"Gimana aku harus melanjutkan hidupku dengan normal setelah ini, pakde?" Perempuan itu meremas kain hijab di dadanya. "Aku–aku butuh, A'a. Aku butuh...," Qonni sudah tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Sementara Irsyad hanya mengangguk-angguk, membiarkan dia melepaskan segala emosi yang terkurung dalam jiwanya saat ini. Menangis dengan suara yang tertahan di hadapannya.
Qonni menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya pelan. "Ingin mengatakan ini tidak adil, namun nyatanya A'a punya Allah. Sama halnya aku, 'kan?"
"Iya, Nduk," jawab Irsyad lembut.
"Jadi aku harus ikhlas ketika A'a pulang kepada pemiliknya?" Tanyanya yang dijawab anggukan kepala. "Tapi kenapa sangat sulit, Pakde? Qonni belum siap nerima ini semua. Qonni tidak mungkin mampu membangun pondasi iman anakku dengan sebelah sayap. Bagaimana aku bisa mengemban amanah A'a jika ilmuku saja tidak setinggi suamiku?"
Irsyad meraih tangan yang menggenggam kuat di atas pangkuan perempuan itu.
"Ini, hanya perkara waktu," ucapnya sambil melonggarkan genggaman penuh kemarahan di tangan Qonni.
Perempuan di hadapan Irsyad hanya menunduk sembari menekuri tangannya sendiri yang sedang di pegang.
Qonni memejamkan matanya sebentar, hingga bulir-bulir bening di kedua matanya berguguran.
"soal anakmu, tak perlu kamu khawatirkan masa depannya. Kamu tahu Nabi Muhammad Saw, Beliau pun sama di tinggal wafat Bapaknya saat masih dalam kandungan. Kemudian menyusul pula ibunya saat dia masih kecil. Apa alasannya? Karena Allah SWT sendirilah yang mau mendidik Nabi, bukan kedua orangtuanya. Jadi kamu nggak perlu khawatir atas apa yang sudah Allah gariskan untuk anakmu itu."
"iya, Pakde."
"Masalah imannya kelak? Kamu hanya perlu berikhtiar dengan cara usahamu untuk menjadi wanita Sholehah, lalu banyak-banyaklah berdoa pada Dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia." Irsyad menujuk keatas, "yaitu Allah Jalla Jalaluhu."
Qonni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertunduk.
"Percaya, to? Allah itu kuasa?"
"Iya, Pakde," jawabnya lirih.
"Yo, wes. Nggak perlu khawatir tentang nasibmu, nasib anakmu. Biasanya di samping luka akan ada obatnya. Sabar, Nduk. Pelan-pelan, Allah akan sembuhkan hatimu."
__ADS_1
perempuan itu kembali mengangguk, mengiyakan.
"Sekarang kamu boleh menangis karena merindukan suamimu, silahkan. Tapi tetap, jangan pernah mencela takdir mu dan suamimu. Karena itu sama saja menentang ketentuan Tuhanmu."
Qonni terus merespon dengan anggukan kepala sambil beristighfar setiap kali Ustadz Irsyad memberikan petuahnya.
Seraya mengusap perutnya sendiri mencoba untuk berdamai dengan semua yang terjadi padanya. Dan ikhlas dengan perginya Harun untuk selama-lamanya.
🍃 🍃 🍃
Beberapa bulan berlalu...
Ilyas sedang mengantarkan pesanan ke salah satu teman SMA di salah satu rumah sakit di Babelan. Karena kebetulan temannya itu bekerja sebagai staf di sana, jadi sekalian lewat ia langsung mengantarnya saja.
"Nih, Yas. Makasih banyak loh, jauh-jauh sampai nyamperin kesini," tuturnya sambil menyerahkan uang.
"Alhamdulillah, nggak papa. Kan udah bilang, Anna mau anter barang lewat kawasan sini. Jadi sekalian aja, makasih loh ya."
"Sama-sama. Sorry banget harus balik kerja, nih."
"Ya, ya..., Anna juga mau pulang."
"Hati-hati, Yas."
"Wokeh!" Ilyas menutup resleting tasnya. Dimana ia sedang berdiri di depan pintu ruang CT-SCAN yang kebetulan lorongnya saat ini sedang sepi.
Sambil berjalan keluar gedung rumah sakit, pria itu terus memikirkan tujuan selanjutnya, yaitu mengantarkan barang ke satu tempat lagi setelah itu mampir ke warteg untuk membeli lauk karena ia tak sempat masak tadi pagi.
Di saat langkahnya melewati satu lorong ia menoleh ke sisi kanan, tempat poli kandungan. Di sanalah tak sengaja ia melihat seorang wanita hamil sedang duduk bersama Ayah dan ibunya.
"Ayudia?" gumamnya mengamati. Ia memang sedang ada di Babelan, jadi tidak salah jika ia bisa bertemu Ayu di sini.
Ku dengar sekarang Ayu tinggal sama orang tuanya lagi. –batinnya melanjutkan.
Ilyas menghitung-hitung bulan, dan ingat jika perempuan itu sudah hampir melahirkan. Ia pun termenung sejenak memikirkan sesuatu. Di saat yang sama, Qonni beranjak dari posisinya dan masuk kedalam poli kandungan tersebut bersama ibunya.
Pria dengan kacamata tebal bertengger di wajahnya menghela nafas, entah mengapa saat melihat Qonni ia kembali merasakan iba dengan status jandanya, perempuan itu harus menjalani kehamilannya sendiri tanpa sosok suami.
__ADS_1
Namun, bukan hanya itu. Sejujurnya, perasaan terhadap Istri almarhum temannya itu masih ada sehingga terlintas dalam benaknya jika ia ingin menikahi Ayudia Qonniah dan membantu merawat anak Harun yang ada dalam kandungan perempuan itu. Ilyas kembali melenggang pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.