Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Rasa yang masih belum terbiasa


__ADS_3

Qonni mendorong dadanya pelan agar sedikit menjauh. Meminimalisir perasaan tidak nyaman karena dekapan seorang Pria berkacamata yang pagi tadi resmi menjadi suaminya.


Belaian lembut di kepala bagian belakang yang tertutup kain mukena masih di rasakan. Tatkala mata saling mengunci dengan perasaan masing-masing.


Seperti inikah, rasanya cinta halal? –Batin Ilyas mengagumi sosok perempuan yang selama beberapa tahun terakhir ini selalu meresahkan hatinya.


Masih tidak percaya saja, kini dirinya dengan Ayudia Qonniah telah berada dalam jarak paling dekat tanpa tabir syariat. Tidak ada lagi menjaga perasaan, ia bisa mencurahkan seluruhnya untuk Ayu. Ia bisa menatap tanpa takut berdosa sepuasnya. Bahkan tidak hanya memandangi, raganya pun halal ia sentuh di bagian mana saja.


"Mas, aku boleh keluar dulu, nggak" Qonni mencoba untuk memecah keheningan yang membuatnya canggung.


Sementara pria itu tak menjawab, pandangannya masih tertuju pada wajah bersinar walau tanpa riasan milik isterinya. Seolah tak ingin teralihkan oleh apapun. Bahkan, pinggang langsing Ayudia pun masih ia rengkuh tak ingin di lepasnya.


Mata Qonni berkedip, ia sudah sangat ingin terlepas dari posisi yang membuatnya canggung. Namun, bagaimana Dia harus mengatakannya. Khawatir, Ilyas akan menangkap itu sebagai sebuah penolakan seorang isteri.


"Mas?"


"Ya–" lirihnya, sambil mengusap bibir dengan ibu jarinya.


Kontan, jantung Qonniah semakin di buat kencang memompa. Tubuhnya kaku, tak mampu bergerak sedikitpun.


Apapun yang akan kamu lakukan terserah aja. Tapi, jangan bikin aku merasakan waktu berputar lebih lambat, Mas. – eluhnya dalam hati yang sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini.


Tak lama, Ilyas tertawa sambil melepaskan tubuh isterinya. Memunculkan sebuah tanda tanya dari benak wanita tersebut.


"Wajahmu, sangat menggemaskan, Dek. Kamu kaya takut banget sama Mas?" Pria itu melepaskan pecinya, sebelum mencondongkan tubuhnya sedikit kebelakang. Menggunakan kedua tangan sebagai tumpuan.


"Aku bukannya takut."


"Terus?" tanyanya memancing dengan ekspresi godaan.


"Ya, canggung aja. Namanya juga baru nikah, wajar 'kan?"


Ilyas manggut-manggut, benar juga sih. Terlebih perempuan yang baru di nikahinya hari ini belum lepas betul dengan masa lalu. Tentu saja hal itu sangat di maklumi.


Tapi, ada yang hampir luput disini, seketika Ilyas menyadari saat nada bicara yang sedikit ketus itu kembali di dengar. Inilah Ayudia yang semasa ospek maba ia kenal. Ilyas mengusap kepala istrinya semakin gemas.


Aku kangen kamu yang kaya gini... (Ilyas)

__ADS_1


"Aku mau turun sebentar, Mas. Ambil Nisa, takut rewel soalnya."


"Oh iya..., aku temenin turun."


"Nggak usah, Mas. Nisa di kamar Ayah sama Ibu. Aku sendiri aja yang jemput."


"Ya udah kalau gitu," mengalah.


Qonni menyentuh tali karet di bagian kepalanya yang buru-buru di tahan Ilyas.


"Aku aja yang lepasin, Dek. Aku mau liat rambut kamu."


"Dari ashar tadi kan udah liat?" ucapnya heran.


"Tapi tadi bukan aku yang buka, kamu yang buka mukena mu sendiri."


Qonniah bergeming lantas membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia inginkan. Seperti sekarang, melepaskan kerudung mukenanya. Lalu merapikan sedikit rambut yang agak berantakan akibat terbungkus kain hijab.


"MashaAllah..." Sambil menyematkan rambut ketelinga, Ilyas tersenyum. "Kamu nggak lama kan di bawah?"


"Enggak, cuma mau ambil Nisa yang lagi di aja."


Qonni bangkit sembari melepaskan bawahan mukena. Dimana setelan piyamanya lengan pendeknya membuat Qonni terlihat lain dari hari-hari yang biasa ia lihat. Ilyas tertegun, tak lepasnya sepasang mata itu memandangi sang istri hingga perempuan itu keluar dan menghilang seiring pintu kamar yang kembali tertutup.


"MashaAllah, cantiknya istriku," gumamnya sambil mengusap wajah dengan ke-dua telapak tangannya bersyukur.


Dan saat kedua telapak tangannya menangkup wajah. Bayangan wajah Harun tiba-tiba muncul. Dengan perlahan pria itu membuka mata. Melamun sejenak, sebab suara-suara kerusuhan yang seperti kembali terdengar.


"Astaghfirullah al'azim..." Ilyas beristighfar. Ingatan masalalu yang kembali terlintas membuatnya kembali dilingkupi rasa bersalah.


Harun, maaf.... Anna nggak pernah mengharapkan yang seperti ini. Jujur saja Anna bingung, jika Anna merasa senang ketika bisa menikah dengan Ayu. Namun di sisi lain, Anna seperti merasakan itu jahat dan sangat tidak etis.... Yang menikahinya selepas Antum meninggal. Lebih-lebih perginya Antum di sebabkan oleh kebodohan ku.


Kepala Ilyas tertunduk. Kedua matanya kembali basah karena penyesalan kala mengingat tragedi yang menewaskan sahabatnya itu.


Jika saja bisa memilih, ia pun tak ingin menikahi Qonniah dalam posisi seperti ini. Dan apabila takdir tidak memisahkan Mereka berdua, ia pun sudah ikhlas Qonni bersama Harun hingga mereka berdua menua.


Nyatanya, perempuan itu telah menjadi janda di usia muda. Dan Ilyas, hanya ingin membersamainya dengan cinta, apakah itu salah dan berdosa?

__ADS_1


Ilyas gegas menepis semua perasaannya itu sembari mengangkat tangan, Pria itu berdoa.


"Allaahummaghfir lahu warham hu wa'aafi hii wa'fu anhu wa akrim nuzula hu wa wassi' madkhola hu waghsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa 'aidz hu min 'adzaabil qobri wa fitnati hi wa min 'adzaabin naar."


(Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya dan dari siksa api neraka.)


Setelah selesai bermunajat untuk mendoakan Harun, Ilyas membereskan perlengkapan sholat Sunnah witir nya tadi bersama Ayudia Qonniah. Dan bersiap untuk membaca surah Al Mulk sambil menunggu Ayu dan anaknya.


...


Sambil menunggu sambil tilawah, bahkan Ilyas pun telah selesai membaca surat Al Mulk yang di sambung lima puluh ayat di awal surat Al Baqarah, sang istri dan puterinya belum juga muncul.


Pemuda berkacamata ini menutup mushafnya, setelah itu meletakkan di atas meja dekat ranjang.


"Ayu kok lama, apa lagi ngobrol sama bapak dan ibu, ya? jadi nggak enak kalau aku di kamar aja..." Gegas dirinya bangkit dari atas ranjang berniat untuk menghampiri sang isteri. Kali saja kedua mertuanya belum tidur, dan sedang berkumpul di bawah.


Cklaaakkk...


Ketika pintu kamar terbuka, Ilyas terkejut. Sebab sang istri nampak berdiri di samping pintu kamar dengan punggung menempel ke dinding. Sementara tangannya memegangi ponsel.


"M–Mas?" sama-sama kaget, Qonniah gelagapan.


"Dek, kok disini?"


"I–itu..." Qonni memalingkan wajahnya.


"Nisa mana, Sayang?" tanyanya sambil membelai rambut panjang isterinya. Membawa wajah sang istri kembali mengarah padanya.


Sayang, Ya Allah... Qonni tidak bisa mengeluarkan suaranya saat mendengar kata sayang keluar dari mulut Ilyas.


"Dek?" kata-katanya terpotong saat melihat netra cantik itu meneteskan airmata. "Kamu kenapa?"


Ilyas baru menyadari, ponsel di tangan istrinya masih menyala, yang jika tidak salah lihat benda pipih itu sedang memunculkan tampilan galeri dimana ada potret Harun di sana.


Pria itu kembali menggeser pandangannya pada Qonniah dan mengusap air matanya.


"Kamu kangen Harun?" tanyanya halus sambil mendekatkan wajahnya pada Qonniah yang semakin banjir air mata. "Nggak papa, Sayang. Lepaskan aja..., kalau memang kamu merindukan Harun."

__ADS_1


"Ng..." Qonni berniat untuk mengelak. Namun Isak tangisnya benar-benar tak tertahankan.


Buru-buru Ilyas meraih pergelangan tangannya. Membawa Dia masuk ke dalam, kemudian menutup pintu kamar Mereka.


__ADS_2