Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Undangan kerumah


__ADS_3

Di luar, kinara senja semakin memerah, sang swastamita pula telah berlalu ketempat peraduan. Mengganti lembayung senja menjadi kelabu.


Laki-laki yang masih menggendong tas ransel di punggungnya berjalan cepat. Masuk kedalam ruang Instalasi Gawat Darurat, dan melambat saat langkahnya semakin dekat dengan ranjang Nisa.


"Assalamualaikum." Pelan suaranya menegur wanita yang sedang menggulir layar pipih gawainya.


Bersama satu kantung plastik berukuran besar, bertuliskan salah satu nama mini market yang memiliki cabang dimana-mana, Ilyas telah kembali.


"Walaikumsalam warahmatullah." Qonni meletakkan ponselnya di atas nakas, gegas mendekat guna menerima bungkusan yang terulur untuknya. "Makasih, ya, Mas. Maaf, Saya jadi ngerepotin, Mas Ilyas."


"Enggak, kok, Yu. Aku sama sekali nggak merasa direpotin."


Qonni hanya tersenyum, membalik badan hendak meletakkan kantong berisi belanja. Sembari dirinya mengambil dompet yang berada di dalam tas.


Ilyas yang bingung ingin melakukan apa setelah ini, memutuskan untuk tetap berdiri di depan tirai yang terbuka.


Ingin rasanya masuk untuk menyentuh putri kecil yang sedang sakit, namun rasanya tidak enak hati sementara Qonniah masih ada di dalam tengah berjongkok membuka pintu nakas yang ada di depan.


Sorot matanya terus terarah pada Nisa yang sudah kembali tenang dengan jaket yang masih membungkus tubuh mungilnya. Pria itu tersenyum senang karena Qonni tak menyingkirkannya, lalu kembali menyembunyikan senyum saat perempuan di depan bangkit dan membalik badan.


"Mas, Saya boleh liat struknya?" tanya Qonni setelah menyimpan bungkusan tadi.


"Emmm, maaf Yu. Kebiasaan kalau abis belanja, struk langsung aku buang di tong sampah dekat pintu mini market."


"Kalau begitu totalnya berapa?"


"Nggak banyak, kok. Santai aja." Ilyas terkekeh sembari menekan bagian tengah Frame kacamata-nya.


"Jangan gitu, Mas. Namanya saya minta tolong, harus, dong, saya ganti. Sebentar ya?" Qonni tetap mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. Setelah itu mengarahkannya pada Ilyas. "Segini cukup, nggak?"


Tatapan Ilyas tertuju pada uang senilai seratus lima puluh ribu rupiah. Beliau pun menggeleng pelan menolaknya langsung.


"Dek, wallahi. Aku nggak mau di ganti, ku anggap ini untuk Nisa. Jadi nggak usah ya?"


"Nggak, Mas. Aku nggak bisa nerima ini dari kamu yang bukan?" Kata-kata Qonni menggantung ketika ia sadar ucapannya akan menyinggung laki-laki di hadapannya, hingga membuatnya urung untuk melanjutkan.


Dan seperti paham, pria di hadapan Qonni tersenyum santai. Kemudian mendorong pelan uang yang di sodorkan.


"Aku iklhas, Ayu. Aku ngasih ini untuk Nisa, walau sejatinya aku bukan siapa-siapa."


"Maaf, aku pasti sudah menyinggung, Mas."


"Hahaha, enggak lah. Beneran..." Suaranya yang pelan dan halus menutup percakapan soal uang ini. "Udah Adzan. Aku pamit ke Masjid dulu ya."


"Iya, Mas," jawab Qonni singkat. Qonni yang masih memegangi uangnya hanya bisa menghela nafas. "Kenapa sih, akhir-akhir ini aku jadi berhutang terus sama Dia?"


Kembali ia memasukkan asal uangnya ke dalam dompet sebelum kembali duduk di sisi ranjang mengusap kening puterinya.

__ADS_1


...


Berselang beberapa menit, Ayah dan ibu datang. Menghampiri anak dan cucu mereka yang masih bertahan di ruang IGD, menunggu persiapan ruang rawat inap yang telah di pesan.


"Kamu kesini sama pemuda itu? yang biasa service komputer Ayah?" Tanya Aida, saat dirinya sudah tinggal bertiga dengan Qonni dan cucunya, sementara Ayah buru-buru ke Masjid menyusul Ilyas.


"Iya, Bu."


"Lah, kok bisa?" tanya Aida lagi sembari mengerutkan dahinya.


"Kebetulan aja, Mas Ilyas lagi nganterin pesanan Ayah," jawabnya apa adanya.


Bu Aida tak menanggapi lagi, pandangannya fokus pada sang cucuk yang hanya di selimuti dengan jaket.


"Ini, jaket siapa? Kenapa Nisa cuma di selimuti pake jaket?"


"Ini jaket Mas Ilyas. Saat perjalanan ke sini, Mas Ilyas nyerahin jaketnya untuk menyelimuti Nisa. Karena pas mau jalan, Beliau ngeh anakku nggak di pakaian selimut bayi."


"Astaghfirullah al'azim...., Kamu tuh, kebiasaan. Mbok ya jangan gini lah, Nduk. Anak mau di ajak kerumah sakit malah nggak bawa selimut," ocehannya sembari pelan-pelan melepaskan jaket Ilyas dari tubuh Nisa.


"Namanya juga panik, Bu. Qonni nggak ada kepikiran mau naik motor tadi," sanggahnya sembari menonton saja.


"Ya walaupun naik mobil, tetep harus bawa selimut. Anakmu nggak boleh kena angin!" tegasnya yang tak terlalu di tanggapi.


Belum selesai melepaskan, Nisa kembali merengek satu tangannya mencengkram tanpa sengaja di bagian lengan jaket tersebut.


Dengan perlahan melepaskan jari-jari mungil yang menggenggam kuat sementara tangisnya kembali pecah.


Aida pun kembali menyelimuti tubuh mungil tersebut dengan jaket tadi, dan yang mengherankan sang bayi justru kembali tenang. Keduanya saling pandang, sebelum kembali melakukan hal yang sama. Anisa menangis dan saat kembali di selimuti dia pun berhenti menangis.


"Halach... opo iki, Nduk?" decak perempuan paruh baya di sebelah Qonniah yang lantas memecah gelak kecil di bibir putrinya. "Nggak mau dilepas, tah?"


"Coba lagi, Bu. Tangannya dulu aja di lepasin," usul Qonniah yang diturutinya.


Aida melepaskan satu persatu jemari milik Nisa. Anak itu memang tenang, namun saat jaketnya di tarik dengan pelan ia kembali menangis kencang hingga membuat Aida mengembalikan posisinya. Dan lagi-lagi anak itu kembali terdiam.


"Allahu Rabbi..., beneran nggak mau dilepasin."


"Terus gimana nih, Bu? Nanti kasian Mas Ilyas juga, pulang cuma pakai kemeja lengan panjang."


"Wes lah..., nanti kita coba lagi aja. Anakmu belum nyenyak tidurnya."


"Iya, Bu. Bisa jadi..." Keduanya kembali diam. Dan memutuskan untuk menimpa lagi dengan selimut bayi.


***


Selesai sholat, Ulum langsung menghampiri laki-laki yang tengah memasang kaos kaki di undakan batas suci. Dan duduk di sebelah pemuda berkacamata tersebut.

__ADS_1


"Eh, Pak Ulum?" Buru-buru meraih tangan dan mencium punggung tangan Beliau.


"Maaf ya, jadi ngerepotin Kamu," ucapnya merasa tak enak hati.


"Ya Allah, enggak kok Pak. Sama sekali nggak ngerepotin, ini cuma kebetulan aja."


"Nggak ada yang kebetulan di dunia ini, Nak Ilyas. Semua telah di gariskan. Kamu selalu hadir, di momen-momen tak terduga. Bahkan, saya juga udah dengar cerita Qonniah yang mengalami masalah saat kondangan di Bogor, kemudian di bantu kamu..."


Ilyas, tertunduk. Kedua pipinya bersemu, ketika Pak Ulum bisa memperhatikannya sampai sedemikian detail.


"Kamu, jadi bawa pesanan Saya?" tanyanya kemudian. Dengan gelagapan, pemuda itu langsung di sadarkan dengan tujuannya datang ke mari.


"Alhamdulillah, Bawa, Pak. Ini..." Pemuda itu gegas membuka resleting tasnya, mengeluarkan barang pesanan Pak Ulum. "Ini, Pak. Alhamdulillah, setelah muter-muter akhirnya nemu merek yang Bapak mau. Ini aja udah mulai langka karena dari pabriknya sendiri udah nggak produksi."


"MashaAllah..." Ulum menerimanya dengan senang melihat-lihat sebentar lalu kembali fokus pada Ilyas yang nampak berbinar. "Ini berapa jadinya?"


"Sesuai yang saya katakan di telfon, Pak," jawabnya santai.


"Nggak sekalian ongkir?"


"Alaaah, nggak usah. Kaya sama siapa aja?" Terkekeh.


Pemuda itu kini kembali fokus mengikat tali sepatu. Sementara Ulum sendiri mengeluarkan dompet dari saku celana kemudian menarik beberapa lembar dari dalam dompet tersebut.


"Ini, ambil aja kembaliannya," ucapannya menyodorkan.


"Eh, ini mah kebanyakan, Pak."


"Nggak papa. Ambil aja." Ulum mendorong uang itu.


"Pak, saya beneran nggak mau mengambil keuntungan besar, jadi..."


"Udah, udah. Simpan aja, anggap aja ini rezeki tambahan untukmu.


"MashaAllah, terima kasih banyak Pak. Semoga di murahkan terus rezekinya."


"Aamiin," jawab Ulum sembari menengadahkan kedua tangannya. "Oh iy, Sabtu depan kamu ada acar?"


"Emmm, Sabtu. inshaAllah kosong, Pak Ulum."


"Kalau begitu, Minggu depan mau ya mampir ke rumah. Ada sesuatu yang mau saya bicarakan."


"Bicarakan?" Ilyas mengerutkan keningnya. "Soal apa ya, Pak?"


"Udah pokoknya datang aja." Pria itu bangkit. "Ingat ya. Jangan sampai nggak datang, nanti kamu nyesel malahan."


Masih dalam posisi bingung, Ilyas belum beranjak. Namun ia berharap ini bukan sesuatu yang akan membuatnya jauh dari keluarga Pak Ulum. Atau mungkin, ada barang elektronik lain yang akan ia service?

__ADS_1


Mungkin Pak Ulum mau ajak temennya service laptop juga kali? Batinnya menebak, pria itu pun beranjak. Sebelum pulang ia harus pamitan dulu pada Bu Aida dan Qonni.


__ADS_2