Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Sakit


__ADS_3

Namanya Yazid, atau orang-orang akrab memanggilnya Bang Yazid. Beliau adalah pria yang baru di akrabinya sejak enam bulan yang lalu karena bekerja di bidang yang sama.


Hanya bedanya, kalau Ilyas hanya mampu partai kecil. Memenuhi pesanan yang harganya tak lebih dari satu juta, pun tak bisa lebih dari lima barang. Sementara Yazid, bisa terbilang kelas kakapnya. Ia di beri kepercayaan sebagai penyedia laptop dan komputer di instansi pemerintah.


Sebenarnya, Ilyas sudah tahu sejak beberapa tahun belakangan walaupun hanya mendengar namanya saja. Seorang pengusaha yang bekerjasama dengan beberapa investor. Acap kali wara-wiri sebagai pembicara di berbagai seminar yang membahas tentang kesuksesan berbisnis.


Sekarang, tanpa di duga Beliau justru menggandeng Ilyas untuk membantu mengirim beberapa pesanan yang membeludak. Lumayan komisinya, bisa untuk tambahan. Begitu pikirnya, yang mengharapkan bisa membawa sang isteri dan anak jalan-jalan keluar kota saat masa liburan sekolah nanti.


"Yas, hari ini sekitar lima puluh unit komputer yang Antum kirim. Gimana, sanggup nggak?" ucapnya saat laki-laki berkacamata ini baru saja tiba.


"InshaAllah, Bang." Semangat, Ilyas senang karena semakin banyak barang yang ia bawa berarti semakin besar pula komisinya.


"Nah, nanti Antum bakal jalan sama Kang Ade. Seperti biasa, Antum yang harus kontrol antara quantity barang yang sampai dengan yang masuk ke list."


"Siap, Bang. Di usahakan."


"Tapi, nggak papa ya kalau perjalanannya jauh."


"Iya, nggak papa." Pria yang masih menggunakan batik berlengan pendek yang di tutupi jaket serta tas laptop menggantung di pundak hingga punggung itu nampak bersemangat.


"Ya udah, Anne mau urus yang lain dulu. Ini saya pasrahkan sama Antum."


"Insyaallah, Bang..." Sebuah tepukan dua kali di pundak dari Bang Yazid mengakhiri obrolan. Pemuda itu pun kembali bersiap.


Ya, mendapatkan pekerjaan sampingan setelah menikah rupanya tak begitu berat. Mungkin memang benar, jiwa seorang pria beristri dengan satu anak. Membuat semangat kerjanya jadi naik level berkali-kali lipat.


Ilyas membantu mengangkat-angkat barang ke dalam mobil box. Dengan hati-hati memindahkan benda tersebut hingga kelar. si pria berkacamata menjeda hanya untuk memeriksa. Ketika semua sudah masuk, pemuda itu dengan di bantu Kang Ade mulai menutup pintu boxnya. Coret-coret sebentar di kertas, setelahnya mereka pun melakukan perjalanan menuju Jatinegara.


Satu hari, dua hari, hingga masuk ke hari ke empat. Pria itu selalu pulang malam yang tak jarang sampai hujan-hujanan. Penyebab pulang malam bukan hanya sekedar mengantar barang saja.


Melainkan, tugasnya sebagai tukang servis pun masih di lakoni. Biasanya, jika waktu masih cukup ia akan pulang ke rumahnya di Cileungsi menyelesaikan barang yang sudah terlanjur di terima hingga selesai adzan Isya. Setelah itu dia baru balik ke Babelan.


Qonni sering bertanya, kenapa suaminya selalu pulang malam. Apakah Beliau biasa seperti ini saat masih bujangan dulu? Kalau di pikir-pikir sesibuk-sibuknya Harun, Beliau hanya pulang malam jika ada orderan jauh. Pun seringkali tidak sampai larut ini.


Seperti sekarang, sudah lewat jam sebelas. Pria itu baru tiba di depan gerbang. Beliau mematikan mesin motornya, pelan-pelan membuka pintu yang sengaja tidak di gembok oleh Pak Ulum. Setelah itu menuntun motornya masuk.


Ya, demi agar tidak menimbulkan suara yang berkemungkinan dapat menggangu orang rumah. Padahal, kalaupun di nyalakan mesinnya baik Bu Aida ataupun Ulum tidak mempermasalahkan.


Ilyas menyentuh jaket yang sudah agak mengering padahal ia sempat kehujanan. Setelah itu menghubungi Qonniah melalui gawai.

__ADS_1


"Haaatttsssiiiimmm!" mengusap hidungnya yang sejak sore tadi gatal hingga membuatnya harus bersin berkali-kali.


Tak lama menunggu panggilan di terima, Qonni gegas turun untuk membukakan pintu.


"Assalamualaikum–" wajah lelah Ilyas menjadi pemandangan malamnya. Qonni yang iba buru-buru memintanya masuk.


Beberapa menit berlalu, dengan secangkir teh manis hangat perempuan itu menghampiri suaminya yang duduk di sisi ranjang sehabis mandi.


"Makasih, Dek."


Mengangguk. Sebenarnya Dia sendiri sudah mengantuk. Namun karena Ilyas belum pulang tentu ia harus nahan katuk itu walau Ilyas sendiri sudah memintanya untuk tidur lebih dulu.


"Pekerjaanmu banyak ya akhir-akhir ini?" tanya Qonni. Yang di tanggapi dengan senyuman, sebelum kembali bersin. "Kalau banyak kerjaan, kenapa nggak di bawa ke sini aja? Mas bisa kok nyervisnya di rumah ini. Jadi nggak perlu pulang malam lagi."


"Nggak segampang itu, Dek. Barang-barang yang ku servis rata-rata berukuran besar. Belum alat-alatnya. Kalau mindahin, bakal lama. Lagian nggak enak sama Ayah dan ibu kamu. Nanti jadi berantakan."


"Nggak papa, kamar ini kan luas," usulnya. Mengingat, pria itu senang sekali lebur.


Seperti saat dirinya menginap di rumah Ilyas. Pria itu terus berada di kamar kerjanya, dan entah jam berapa Beliau tidur.


"Jangan lah, nanti jadi kotor Sayang. Udah nggak papa, aku mondar-mandir. InshaAllah, aku mampu. Asal kamu doain, Mas tetap sehat, ya."


"InshaAllah, Mas."


🌸🌸🌸


Beberapa hari di lalui lagi, Ilyas mulai merasakan pening dengan tubuh yang tidak nyaman. Hingga sehabis mengirim barang terakhir, pria itu memutuskan untuk pulang ke tempat tinggalnya di Cileungsi.


"Mas?" Ibnu melihat kakak sulungnya pucat dengan tubuh menggigil di depan pintu. "Mas Ilyas sakit?"


Pria itu mengangguk. Sambil mendekap tubuhnya sendiri, masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


Ibnu yang peka buru-buru menyiapkan minuman hangat untuk Kakaknya yang sedang meringkuk di atas kasur.


"Mas, minum dulu." Ibnu membantu Kakaknya bangun. Saat menyentuh tangan itu, pemuda di sisi Ilyas merasakan tubuh kakaknya amat panas.


"Makasih, Nu," lirihnya kembali merebahkan tubuhnya yang terasa dingin.


"Mas demam ini. Saya beliin obat ya? Atau mau ke klinik?"

__ADS_1


"Nggak usah, Nu. Mas cuma butuh tidur sebentar. Soalnya hampir seminggu ini Mas kurang tidur."


Ibnu bergeming sejenak, melihat sang Kakak yang tengah memejamkan matanya. Ia pun gegas keluar mengambil ponsel. Ia mencari nama Mba Ayu dalam kontaknya demi menghubungi Qonni.


Beberapa jam kemudian...


Ilyas merasakan benda basah yang hangat menempel di keningnya. Matanya perlahan terbuka, dan mendapati sang istri di sisinya.


"Dek, kamu di sini?"


Qonni menghela nafas. "Mas sakit kenapa nggak bilang? Malah Ibnu yang ngabarin," protesnya pada pria yang kini tersenyum tipis sambil memejamkan mata. Tangannya menggenggam tangan Qonni di dada.


–––


Karena waktu semakin malam, ada niatan perempuan itu hendak pulang sendiri namun dilarang oleh sang Ayah. Lebih-lebih, Keukehnya Ilyas yang ingin turut pulang padahal saat sholat Isya tadi saja nampak sempoyongan.


Beberapa jam mendapatkan perawatan, di tambah istirahat. Kepala pria itu mulai merasa enteng.


Walau, mulut Qonni terus menyerocos terkait Ilyas yang susah untuk di minta berobat. pria itu sama sekali tidak risih. Sebaliknya, ia terus mendengarkan tanpa sedikitpun menjawab sembari bertopang dagu.


Omelanmu, Dek. Syair terindah bagiku... Senyum-senyum dia mendengarkan.


Di pandangnya terus sang istri yang sedang membuka bungkusan obat untuk sang suami. Pria itu bergeming, menunggu tangan kurus Ayudia selesai setelahnya menyerahkan pada Ilyas.


"Ini, sekarang obatnya di minum. Kalau besok Mas Ilyas nggak sembuh, bakal ku seret ke klinik." Ancamannya dengan satu tangan menengadah berisi empat tablet obat.


Namun, bukannya menerima, Ilyas malah mencium bibir isterinya.


Rasa gemas yang sejak tadi tertahan akhirnya bisa ia lampiaskan. Bahkan akibat perbuatan tiba-tiba itu Qonni hampir menjatuhkan obat di tangan yang masih menengadah kaku.


Beberapa detik bermain, pria itu melepaskannya lembut. Yang memicu gerak reflek Qonni buru-buru memasukkan semua obat ke dalam mulut suaminya. Setelah itu membuang muka karena malu.


Ilyas sempat terkejut dengan bibir penuh obat, namun sepersekian detik berikutnya tertawa. Sambil meraih gelasnya dan meminum isinya hingga tandas, obat-obatan tadi pun langsung meluncur melalui tenggorokannya terdorong air.


Pria itu bangkit hanya untuk mengunci pintu kamar. Tentu, apa yang di lakukan Ilyas membuat perempuan itu membeku di tempat.


.


.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Note: apakah, malam pertama mereka akan segera di mulai? Berdoa aja besok aku nggak bolong ya hehehe...


__ADS_2