
Di sebuah padang rerumputan yang luas, seorang perempuan berhijab menatap heran dengan keberadaannya sekarang. Dimana ini? Qonni bergeming, melihat ke sekitar dengan takjub.
Sebuah lapangan hijau yang membentang luas, bahkan ia sendiri tak mampu melihat ujungnya. Qonni seperti berada di sebuah taman fantasi. Dengan di penuhi warna-warni bunga yang cantik. Membuat dia semakin kagum sekaligus takjub dengan ciptaan Tuhan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
Perempuan bergamis putih yang terjulur hingga ke rumput itu terus melangkah sambil merentangkan kedua tangannya kebawah. Ujung jari-jari tangannya menyapu pelan, bunga yang nampak segar disisi kanan dan kirinya. Kupu-kupu warna-warni pulan berkeliaran di atas. Seperti tengah menari-nari, menyambutnya yang baru saja tiba.
Qonni tidak peduli langkahnya akan terus maju hingga kemana, yang jelas rasa kagumnya terhadap tempat yang indah ini, membuatnya tak lagi memikirkan apapun.
Sudah terlalu jauh kaki itu terayun, kini ia mulai menghentikan langkahnya ketika melihat sesuatu. Dua orang pria yang ia kenal sedang berdiri berhadapan. Salah satunya, pria dengan pakaian pengantin Syar'i warna putih yang sangat tak asing baginya.
Ia menoleh kearah Qonni sambil tersenyum lebar dengan matanya yang menyipit. Tentunya, wajah teduh pria yang kerap membelenggu dalam ruang kerinduan itu tak ayal membuat Qonni tertegun.
"A'a–" gumamnya sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Netra cantik itu langsung berkaca-kaca, menggambarkan secercah rindu yang kembali menggebu.
Sayangnya, ia tidak bisa mendekati dua orang yang saling berhadapan ini. Kakinya seketika membeku tak dapat bergerak maju ataupun mundur.
Dalam pandangan perempuan itu, sosok Harun hanya diam saja sambil menebar senyum yang amat indah. Pelan-pelan ia mulai melepaskan peci putih, yang ia kenakan ketika berakad dulu.
"A'a?" Qonni terus memanggilnya dengan tatapan sendu. Kemudian dibuat terkejut saat pria itu menyerahkan peci tersebut pada sosok pria berkacamata di depannya.
Sontak, setitik air mata mengalir di pipi Qonni, saat kekasih hati yang ia rindukan ini kembali menoleh kearahnya hanya untuk mengangguk sekali. Kemudian melenggang pergi begitu saja.
"A'a...! A' Harun," serunya memanggil pria yang terus melangkahkan kaki menjauh, sementara kaki dia sendiri masih terasa kaku tak bisa untuk berlari untuk mengejarnya.
🖤🖤🖤
Biiiiip... Biiiip... Biiiip...
__ADS_1
Qonni membuka mata, tubuhnya seketika membeku memandang langit-langit kamar yang remang-remang. Sebuah mimpi aneh yang ia sendiri tak paham apa maksudnya. Namun, ia masih bisa merasakan sesaknya dada seperti habis menangis sesenggukan.
Salah satu tangan Qonni meranggai ponsel di atas nakas, kemudian menatap angka digital di layar.
Pukul 03:40. Perempuan itu mematikan alarm yang masih berdenting, sebelum kembali merebah dalam posisi semula.
"Astaghfirullah al'azim..." perempuan itu bergumam, tangannya menyentuh dadanya yang sesak. "Ya Allah, A'a... lama sekali kamu tidak hadir kedalam mimpiku." Kedua matanya langsung menganak sungai.
Untuk kali ini mimpinya benar-benar terasa nyata sekali, sosok terkasih ada di depan mata dengan perwujudan yang sangat-sangat sempurna. Namun kenapa dalam mimpinya Harun nampak menyerahkan peci pernikahan Beliau...? batin Qonni mulai menerka apa maksudnya. Namun yang membuatnya heran adalah laki-laki berkacamata yang menerima peci tersebut.
Tak ingin menduga lebih jauh, ia pun memilih untuk bangun dan menjalankan sholat di sepertiga malam. Namun sebelum itu, ia sempatkan untuk mencium anak perempuannya yang tidur di sisinya. Qonni tersenyum dengan tangan mengusap airmata setelah itu bangkit.
...
Di tempat lain, seorang pria tengah berada di atas alas sujudnya sejak pukul dua dini hari. Pria berkacamata itu tengah bermunajat sekaligus memohon ampun kepada Allah SWT. Karena dirinya telah menaruh hati pada seorang wanita yang belum halal.
Sebelum ini ia teringat akan satu materi kajian, tentang dimana ketika seorang hamba memiliki cinta pada sesama mahluk Allah. Namun cinta itu lebih kuat di genggamnya, maka Allah akan memberikan ujian melalui cintanya itu. Ya, Allah adalah Dzat pencemburu. Allah akan amat cemburu pada siapapun yang lebih banyak meletakkan hatinya kepada selain Dia. Maka rusaklah pula kehidupannya.
"Ya Allah, aku tak ingin lagi memaksa untuk meminta Dia. Karena sejatinya aku hanya seorang hamba bodoh yang tidak akan pernah mengerti, seperti apa masa depan. Jika memang mencintai dia akan menjauhi ku dari ketaatan, maka hilangkan perasaan ini untuknya, dan simpanlah untuk Dia yang lain, yang Kau ridhoi. Namun jika engkau jodohkan kami, maka balikan hatinya kepadaku tanpa paksaan. Dan aku menyerahkan segalanya kepada-Mu, wahai Dzat yang sebaik-baiknya pengatur segala urusan."
Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ilyas menghela nafas panjang, ia harus melupakan Qonniah bagaimanapun juga perasaannya ini adalah haram.
🥀🥀🥀
Langit sudah terang, namun matahari belum muncul seluruhnya. Seorang wanita dengan seragam dinas nampak berdiri di sisi mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Gadis itu sengaja berangkat lebih awal demi menunggu seseorang. Tak lama, motor Ilyas terlihat dari kejauhan. Dengan hati yang sedikit ragu, gadis itu pun mantap untuk menyetop pria dengan jaket warna hitam tersebut.
"Mas Ilyas!" Panggilnya saat laki-laki itu sudah hampir dekat, hingga mau tak mau pemuda itu pun menghentikan laju motornya.
__ADS_1
"Ya, Dek? Kenapa... apa ada masalah sama mobil kamu?"
Gadis di hadapan Ilyas nampak menggigit ujung bibirnya. "Aku mau bicara, Mas. Bisa luangkan waktu sebentar?"
"Bicara, bicara apa, De?"
"Tentang?" Fatimah menarik nafas dalam-dalam, menahan genangan air mata agar tak terjatuh. "Tentang yang semalam."
Ilyas terdiam. Pria yang masih duduk di atas motornya ini sebenarnya tidak ingin membahas lagi.
"Ku dengar Ayah menawarkan ku, padamu? Dan, kamu menolak itu?"
"De, Mas punya alasan." Lirihnya.
"Ada wanita lain yang Mas Ilyas kagumi, 'kan?" Tanyanya sesuai dengan apa yang ia dengar. "Fatimah nggak papa kalau harus menunggu lama, kok."
Di sini Ilyas paham, rupanya gadis itulah yang memang mengharapkannya, bukan kedua orangtua Dia.
"Boleh ya, Fatimah memohon. Mas Ilyas, jangan tolak tawaran Ayah." Fatimah langsung menyeka air mata yang tiba-tiba meluncur. "Maaf, Fatimah sudah menghambat perjalanan Mas Ilyas. Namun, Fatimah tetap berharap, Mas Ilyas mempertimbangkan kata-kata ku tadi. Assalamualaikum–"
Dengan perasaan malu, gadis itu buru-buru masuk kedalam mobilnya. Sementara Ilyas masih tertahan tanpa sepatah kata pun lagi keluar, kecuali jawaban salam tadi.
Hingga mobil yang di kendarai gadis itu mulai bergerak dan melaju, Ilyas masih bertahan memandangi kendaraan roda empat tersebut.
Ilyas menghela nafas, "Astaghfirullah, astaghfirullah al'azim..."
Melihat Fatimah ia seperti sedang bercermin pada diri sendiri. Kisah cinta yang seperti anak panah, saling menjurus ke tujuannya masing-masing. Sayangnya diantara tiga mata panah itu, tak ada satupun yang berbalik untuk membalas salah satunya. Dan tentu saja, itu sangat menyakitkan bagi si pelempar panah tersebut.
__ADS_1
Diantara musibah terbesar adalah, kamu jatuh cinta, namun orang itu tidak cinta padamu.
– Imam Syafi'i –