Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Sebuah tekad


__ADS_3

Pagi di tempat yang lain, Nuha meletakkan secangkir kopi di hadapan suaminya yang sedang berdiam diri di beranda samping rumah. Sambil menikmati suara gemericik air dari kolam kecil yang selalu menemani waktu senggangnya.


"A', nggak ke toko hari ini?" Tanya Nuha hati-hati, setelah dari kemarin banyak diam dan membuatnya sungkan untuk menegur.


"Hari ini, A'a nggak buka toko dulu, Neng," jawabnya singkat.


"Kenapa?" tanyanya lagi sambil duduk.


Pria itu menghela nafas, "harusnya hari ini Harun datang ke toko," jawabnya yang memang ada janji dengan laki-laki itu untuk berkunjung ke tokonya guna mengambil barang pesanan sekaligus sharing-sharing ilmu.


Nuha yang paham hanya diam. Sebenarnya saat tahu Harun meninggal Faqih sendiri nampak sedikit terpukul, bahkan ia sampai datang malam itu juga untuk turut mengurus jenazahnya sampai mengantarkan dia ke liang lahat di esok hari.


"Batas umur setiap manusia dan seperti apa proses kematian itu nggak ada yang tahu." Sambung Faqih sebelum kembali terdiam, dimana tangan kanannya yang sedang memegang tasbih itu gemetaran.


Perasaan tak nyaman, dominan ketakutan sedang berkecamuk di dadanya saat ini. Ia menghela nafas berat. Hingga membuat Nuha mengelus tangan suaminya. Ia pun juga bisa merasakan gemetarnya tangan Faqih yang sedikit basah karena keringat dingin.


"A'a baik-baik aja, kan?" Nuha menyentuh wajah Faqih hingga menoleh padanya. Pria itu mengangguk lalu kembali menghadap kolam.


Padahal baru beberapa Minggu yang lalu, Dia dan Harun sempat membahas bab kematian. Tapi, Harun justru sudah merasakan, betapa mengerikannya proses kematian itu.


"Aku nggak bisa bayangin jadi Qonni." Nuha menyandarkan kepala di bahu Faqih sambil terus menciumi tangan Beliau sebelum menggenggamnya erat. "A'a, aku sayang banget sama A'a. Sehat-sehat ya, A'..."


Mendadak ke-dua matanya menganak sungai. Masa yang paling ia takutkan adalah, masa dimana saat orang tua, anak, dan suaminya meninggalkan dia lebih dulu.


"Hidup memang seperti ini, Neng. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Siap nggak siap, namanya hidup pasti akan bertemu dengan kematian. Siapapun orang yang di berikan anugerah cinta halal dalam hatinya, maka ia pula harus siap jika Allah kelak akan merenggutnya kembali tanpa proses tawar-menawar lebih dulu. Itu hal mutlak yang nggak akan pernah bisa kita tolak."


Nuha mengangguk pelan, seiring luruhnya air mata di pipi. Bagaimanapun juga, cinta terhadap mahluk bukanlah sesuatu yang abadi. Allah sebenar-benarnya pemilik jiwa-jiwa yang hidup, dan hanya kepada-Nya lah semua akan di kembalikan. Lantas saat masa itu datang, tak ada siapapun yang berhak menentang ketetapannya.

__ADS_1


"Aku mau istirahatkan hati sebentar, boleh? Perasaanku lagi nggak nyaman."


Perempuan di sisinya mengangguk. Ia paham sekali, Faqih kalau habis mendengar kabar kematian orang-orang terdekat apalagi kalau sampai mengurus jenazah juga, pasti akan banyak menyendiri sambil merenung. Tak jarang pria itu menangis ketakutan di atas alas sujud, setelah turut masuk ke dalam liang lahat. Dan biasanya ia akan membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk bisa kembali menormalkan hatinya.


Tanpa berbicara lagi, Nuha langsung bangkit meninggalkan Faqih yang kembali melanjutkan istighfarnya sambil menggulirkan biji tasbih di tangan kanan.


–––


Perasaan tak nyaman terjadi juga pada Zahra, perempuan yang pernah di khitbah Harun. Saat ini, ia sedang termenung menatap jendela kamar dari kursi kerjanya di sudut ruangan. Sambil menikmati secangkir teh madu, gadis itu memandang kaca yang berembun.


Saya datang kesini untuk teman saya ini. Dia ingin mengkhitbah Zahra. (Faqih)


Waktu itu Zahra memang melihat Harun tak begitu buruk. Secara penampilan dan ilmu agamanya. Namun, karena hatinya masih terkunci rapat. Ia tidak bisa menerimanya. Lebih-lebih saat pemuda itu mengajaknya untuk tinggal bersama dengan orang tua Harun. Ia merasa keberatan.


Selama ini yang ia inginkan pernikahan yang tak terdapat campur tangan siapapun dalam rumahnya. Dalam artian Zahra hanya ingin berdua saja tanpa ikut dengan orangtuanya atau mertuanya.


Gadis itu mengangkat kedua tangannya memanjatkan doa untuk laki-laki itu. Berharap Harun bisa di tempatkan bersama-sama orang-orang shaleh lainnya. Ya, walau singkat setidaknya ia pernah mengenal laki-laki itu lebih dekat.


🍂 🍂 🍂


Setelah lewat dua minggu Qonni masih rutin mendatangi makam suaminya untuk berdoa sambil melepaskan rindu. Bersama isteri dari Gus Mukhlis yaitu Ning Maulida dan supir yang mengantar kedua perempuan tersebut, mereka beranjak dari tempatnya dan berjalan menjauh.


Dari kejauhan, seorang laki-laki berjalan sendirian tepat di lajur yang lain, sehingga Qonni tak menyadari kehadiran Ilyas saat mereka hampir berpapasan. Pemuda itu menghentikan langkahnya sejenak, melihat wajah polos tanpa riasan sama sekali yang biasa menghiasi wajah cerianya selama ini.


Perasaan bersalah kembali menghinggapi hatinya. Karena sampai saat ini, ia belum berani mengatakan maaf langsung pada Qonniah. Kembali Ilyas melangkahkan kakinya hingga semakin terkikis pula jarak antara keduanya.


"Assalamualaikum, Ning." Ilyas menyapa Ning Maulida dengan sopan. Kemudian pada Ayudia dengan tangan yang bertangkup di depan dada.

__ADS_1


"Walaikumsalam warahmatullah, Ilyas. Lama nggak ketemu. Kamu udah baikan?" Tanya Beliau ramah.


"Alhamdulillah, Ning," jawabnya sambil melirik sebentar pada perempuan di sebelah isteri dari Gus Mukhlis tersebut. "Saya mau izin nyekar ke makam Harun."


Ning Maulida tersenyum. "Silahkan, kami permisi duluan, ya. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah," lirihnya. Di lihat Qonni nampak mengangguk sekali padanya sebelum melenggang pergi.


Pria itu belum melangkahkan kaki, ia masih mengarahkan pandangannya pada dua perempuan dengan busana serba hitam itu.


Yang ku dengar, kondisi kehamilan Ayudia sedikit lemah. Makanya Harun selalu standby di sisinya.


Ilyas membatin sebelum menunduk dan kembali melanjutkan langkahnya pelan, menghampiri gundukan tanah tempat jasad Harun di kebumikan.


"Assalamualaikum, Run. Maaf, Anna baru dateng lagi. Sekarang tubuh Anna udah enakan jadi bisa naik motor lagi ke sini." Ilyas berjongkok sambil menabur bunga di atas makam yang juga sudah ada bunga segar di atasnya. Setelah itu memanjatkan doa untuk almarhum dengan khusuk.


Setelah beberapa menit memanjakan doa yang cukup panjang. Ilyas kembali menaburkan sisa dari bunga yang ada di dalam kantong keresek.


"Run, Anna tahu ini semua takdir yang nggak bisa di tolak. Namun bagaimanapun juga, Anna masih merasa bersalah sama Antum sampai detik ini, atau mungkin sampai Anna mati." Pria itu menghela nafas menahan sesak yang tiba-tiba mencekak kerongkongannya.


Pria itu menggenggam tanah yang sudah mulai di penuhi rumput jepang yang memang sengaja di tanam dan di rawat oleh pengurus makam.


"Maaf ya, Run. Anna udah bikin isteri Antum jadi janda. Bahkan, calon anak Antum pun harus jadi yatim sebelum ruhnya di tiupkan." Pemuda itu melepaskan kacamatanya sebelum menyeka kedua mata yang berlinang.


Terbesit sebuah keinginan besar yang ingin ia sampaikan saat ini di atas makam Harun. Namun, karena masa idah Ayudia belum selesai. Ilyas pun urung mengatakannya. Dan memilih untuk diam saja sembari bertekad untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia lakukan.


Ilyas bangkit sambil mengusap pucuk nisan makam Harun. Kemudian melenggang pergi dari sana setelah mengucapkan salam.

__ADS_1


__ADS_2