
Ulum yang berniat untuk keluar menghentikan langkah di ambang pintu. Kepalanya menoleh ke arah kanan dan kiri.
"Ini–" gumamnya sambil menyentuh stroller Anisa.
"Ayo jalan, Yah. Bantu ingetin, Ibu mau sekalian beli sabun cucian yang liquid. Ternyata udah abis, beli yang rencengan aja kali ya. Yang botol boros." Ocehnya sambil membenahi hijab. "Eh, Qonni udah pulang ya?" tanyanya kemudian saat menyadari ada stroller di hadapan mereka.
"Nggak tau, tapi kok nggak denger suara salam. Pintu juga di buka begitu saja," jawab Ulum.
"Ya ampun, Qonni pasti lupa. Coba Ibu cek dulu di kamar," ucapnya yang di balas anggukan kepala. Pria paruh baya itu pun menarik stroller Nisa ke dalam ruang tamu sementara sang isteri kembali masuk untuk mencari Qonni.
Di atas...
Perempuan yang masih memiliki tubuh ramping itu mendengar sayup-sayup suara tangis dari dalam kamar puteri bungsunya. Sudah pasti, Qonni sedang merindukan suaminya lagi. Aida bisa menebak itu karena kadang dia juga melihat sisa-sisa tangis anaknya selesai sholat. Namun, bukan hanya itu. Ia juga mendengar suara tangis Nisa yang tak begitu keras.
Tok tok...
"Nduk, Nduk!" Panggil Aida sambil mengetuk pintu kamar. Menunggu sampai beberapa detik, tak ada jawaban. Ia pun membuka pintu kamar Qonni pelan. "Ya Allah, Nduk!"
Melihat putrinya sedang menangis sambil menyandarkan kepala di bawah ranjang, bahkan sampai membiarkan Nisa menangis membuatnya gegas menghampiri mereka.
"Ya Allah, ya Allah... kenapa Nduk? Kamu kenapa bisa nangis sampai seperti ini. Bahkan anakmu merengek sampai di biarkan." Aida mengangkat tubuh mungil yang cukup berisi di atas ranjang, menenangkannya. "Qonniah?"
"Hiks!" Qonni tak menjawab selain terus menangis.
"Nduk, Ya Allah..., jangan bikin bingung ibu, to. Kamu kenapa? Kangen Harun? Iya, Nduk?" Aida berjongkok, ia memindahkan kepala puterinya turut mendekap. "Istighfar, Nduk. Ayo istighfar–"
"Ibu–"
"Iya, Sayang?"
"A' Harun..., hiks! A' Harun–"
"Istighfar, Sayang. Jangan gini, kasian anakmu iki, loh." Aida mendekatkan wajah Nisa pada Qonni. "Kasian nih. Kamu sampai mengabaikannya menangis. Jangan gitu, Nduk."
Semakin mendengar kata-kata Ibunya. Perempuan yang masih mengenakan hijab itu semakin terisak. Ia tidak sanggup memaparkan apa yang ia rasakan. Lebih-lebih menyampaikan ulang kata-kata Ilyas saat di taman tadi.
__ADS_1
"Aku mau A' Harun, Bu." Isaknya lagi. "Aku maunya A'a."
"Ya Allah, Gusti– ojo ngono to, Nduk." Aida malah justru ikut menangis. Merasakan kehilangan di dalam jiwa puteri sulungnya.
"A'a..."
"Ya Allah, Qonni. Sabar, Nduk... sabar cah ayu."
–––
Beberapa menit berlalu, perempuan itu mulai tenang. Aida sendiri membatalkan niatnya untuk berbelanja di toserba bersama suaminya. Dan meminta Ulum untuk pergi sendiri.
Kini gadis kecil itu sudah terlelap di atas ranjang. Bersebelahan dengan perempuan yang nampak terdiam sambil menikmati buah yang telah di kupas dan di potong-potong oleh ibunya.
"Makan yang banyak, Nduk. Mau nasi juga? Ibu ambilin ya?"
"Nggak, Bu. Ini cukup," jawabnya sambil menusuk potongan apel.
"Ya udah. Kalau gitu roti gandum aja ya. Biar ada serat yang masuk."
Qonni mengangguk sambil mengunyah, adapun Aida kembali keluar hanya untuk mengambil dua lebar roti gandum yang di berikan selai coklat. Setelahnya kembali lagi menghampiri Qonni yang masih terdiam memandangi langit yang nampak dari jendela kaca kamarnya.
Qonni langsung menggeleng, sambil mengikat rambutnya.
"Pakde mu sudah berkali-kali mengingatkan, untuk jangan berlarut-larut, Nduk. Ada pertemuan pasti ada perpisahan."
Qonni mengangguk saja. Menjelaskan pun percuma, hanya orang-orang yang senasib dengannya sajalah yang paham. Terkadang, hati mungkin menerima. Namun rindu, itu yang teramat sulit untuknya menghilangkan.
"Udah istirahat aja. Jangan banyak pikiran, nanti ASI mu jadi nggak enak. Dan berpengaruh juga untuk perkembangan Nisa."
"Iya, Bu."
"Yo wes, ibu keluar dulu. Jangan nangis kaya tadi lagi ya. Kalau punya masalah, sebaiknya kamu sampaikan pada Ibu, Ayah. Ataupun Kakakmu Safa."
Kembali perempuan itu mengangguk. Ibu pun bangkit sebelum melenggang keluar dari kamar Qonni yang kini sudah kembali senyap.
__ADS_1
***
Motor baru saja tiba di depan rumah selepas dzuhur. Karena Ilyas mampir dulu ke tempat para pelanggan. Walau hari ini adalah hari libur, namun tak lantas membuatnya berleha-leha.
"Assalamu'alaikum." Dengan lesu pemuda itu membuka pintu rumah yang tak terkunci. Terdengar juga langkah setengah berlari di dalam, pria itu sudah menebak pasti Abas. Pemuda berkacamata itu mendapati ponsel adik bungsunya tergeletak di atas meja dengan slot charger terpasang.
Ilyas mendekat, dan menyentuh ponsel adiknya. Terasa panas tanda benda pipih itu baru saja di gunakan. Sementara jam sudah menunjuk pukul satu lebih seperempat menit.
"Huuuuft, anak ini ya..." gerutunya sambil kembali melangkah masuk guna melepaskan atribut berkendara dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai.
Beberapa menit berlalu, Ilyas keluar lagi dengan kaos oblong dan sarung yang melingkar di pinggang hingga semata kaki. Sambil membawa cangkir kopi, ia kembali mendekati Abas yang sudah duduk sambil kembali bermain.
"Bas."
"Ya, Mas?" Tanyanya.
"Taro dulu HPnya. Mas Ilyas mau ngomong sama kamu." Pria itu duduk di kursi lain sambil meletakkan kopi ke atas meja. Sang adik pun menurut, langsung meletakkan gawai di atas meja. "Mas liat itu baju yang kamu pake dari semalam?"
"Iya, Mas."
"Kenapa nggak ganti? Kamu pasti belum mandi, kan?"
Remaja di hadapan Ilyas tak berani menjawab selain hanya menundukkan kepala saja.
"Kamu tahu, penyebab dari ke fakiran adalah dia yang tidak memperhatikan penampilan dan juga kebersihan diri. Setidaknya, mandilah agar lebih segar. Lakukan aktifitas fisik yang bisa mengembalikan mood mu sebagai manusia. Makanya, jaman sekarang masih muda udah sakit-sakitan. Kamu banyak main HP dari pagi. Bahkan sholat aja sampai di akhir."
"Maaf, Mas. Tadi mau sholat ke masjid tapi udah ke buru adzan." Kilah Abas.
"Terus kalau udah nggak keburu ke masjid, mau nambah menunda lagi?" Tegas Ilyas yang hanya di tanggapi dengan gelengan kepala. "Bas, apa saat Mas Ilyas atau Mas Ibnu ngga di rumah. Kamu bahkan sampai nggak sholat? Nggak ingat kamu di pantau malaikat maut sebanyak 70 kali?"
"Demi Allah, Abas tetep sholat Mas."
"Tadi apa?" Tanya Ilyas. "Tadi kalau Mas nggak pulang pasti kamu masih betah main game di HP!"
"Iya Mas. Maaf–" Abas menggaruk kepalanya yang tak gatal, adapun pria itu menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Jangan minta maaf sama, Mas. Dan lagi, jangan pernah kamu melakukan ibadah karena takut kena marah Mas Ilyas. Mas Ilyas itu ngga maha melihat, jadi hanya bisa memantau mu saat dekat. Jadi belajarlah untuk membawa ibadahmu, seolah-olah sedang di awasi full dua puluh empat jam oleh sang maha kuasa. Paham nggak?"
"Paham, Mas." Abas mengangguk. Selama ini sebagai kakak pertama, Ilyas tak hanya di tuntut untuk mencari nafkah. Namun ia juga harus mampu membawa serta adik-adiknya ke dalam kebaikan.