
Sudah puas berjalan kaki menyusuri jalan komplek. Sepasang suami-isteri baru itu kembali dengan dua kantong plastik yang memiliki ukuran berbeda. Berisi bubur, dan beberapa camilan.
Memasuki pagar, pemuda berkacamata itu menyapa ayah mertuanya yang sedang asik mencabuti rumput liar di sudut-sudut halaman, tempat para pohon hias tumbuh.
Ulum menghela nafas, bangkit, dengan bibir melengkung senyum, menyeka peluhnya yang keluar dari kening yang tertutup sebagian rambut.
"Cepet sekali jalan-jalannya?" tanya Beliau pada anak dan menantunya. Melirik secara bergantian, tak lupa pula mencium pipi tembam Nisa yang sudah berpindah tangan kepada Qonni, karena Ilyas langsung buru-buru menyingsing sedikit celana panjangnya untuk berjongkok.
"Iya, Yah. Cuma beli bubur aja ini, di rumahnya Bu Rini."
"Oh, gitu...," jawabnya sebelum menoleh kearah kanan bawah. Sebab, sang menantu yang sigap mengambil alih pekerjaannya itu.
"Nak, ngapain? nggak usah. Ini kerjaan Bapak. Kamu masuk aja gih."
Ilyas tersenyum, "nggak papa, Pak. Lagian saya malah jadi bingung kalau nggak ngapa-ngapain."
"Aiiiih, ngapain mesti bingung. Sekarang ini nikmati saja hari-hari kalian. Sarapan, bebersih. Kalau perlu jalan-jalan kemana gitu berdua," usulnya dengan di akhiri tawa. "Lagian bapak hanya sebentar megang ini untuk cari keringat. Abis itu siap-siap mau berkunjung ke rumah Bu Lik-nya Qonni."
"Bu Lik? Ayah mau ke rumah Bu Lek Yani di Tebet?" tanya Qonni.
"Iya, suaminya mau operasi tulang katanya. Jadi hari ini, Ayah mau ke sana sama ibu."
Qonni manggut-manggut, Bibinya itu jarang sekali mengunjungi mereka. Bahkan hampir tidak pernah, namun setiap kali ada hal mendesak yang membutuhkan dana. Pasti tidak pernah terlewatkan untuk menghubungi Ayah lebih dulu. Disitulah yang terkadang sering memicu hadirnya cek-cok kecil antara Ayah dan Ibu.
*(Masih ingat Ulum punya ibu tiri ya, yang di nikahi ayahnya saat sang ibu kandung masih hidup dan menderita stroke. Nah, Suryani ini adalah anak dari pernikahan kedua Ayah Fatkhul Qulum. Ada di Novel Ikrar cinta ustadz Irsyad)
"Benar, mending kalian siap-siap. Jalan-jalan kemana gitu berdua." Bu Aida yang muncul dari balik pintu sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan gorengan pisang tiba-tiba nimbrung. "Nggak usah khawatirkan Nisa, karena Ayah sama ibu mau bawa Nisa juga, Nduk–"
Qonni berjalan mendekati sang ibu yang masih sibuk memindahkan bawaannya ke atas meja.
"Bu, kok Nisa harus di bawa sih?" Bisiknya pada sang ibu mengandung protes.
"Loh emangnya kenapa? Lagian, bawa Nisa kan bisa buat alasan, jadi nggak kelamaan di rumah Bu Lik mu itu."
"Iya tahu, tapi kan. Qonni nggak bisa jauhan sama Nisa."
"Alaaah, kaya selama ini nggak sering ibu sama ayah pergi-pergian sambil bawa Nisa aja," sanggahnya sebelum menyalangkan pandangan pada dua pria yang sedang jongkok bersama mencabuti rumput. "Nak Ilyas, ngopi dulu sama Bapak. Mumpung masih panas."
"Bu..."
__ADS_1
"Apa sih, Nduk? Udah lah, nikmati saja dulu. Jangan di bikin ribet. Ibu itu santai kok."
Bukan masalah santainya... Qonni masih saja berharap Nisa tidak di bawa ibunya. Walau tentu saja ia tidak bisa berkata jujur ingin menghindari momen berdua saja dengan Ilyas.
"Nisa, yuk. Mandi sama Uti."
"Biar Qonni aja yang mandiin."
"Apa sih, Nduk. Mending kamu siapin keperluan suami kamu."
Ibu kenapa jadi pro gini ke Ayah, sih. Padahal sebelumnya kaya ikut nolak. –batinnya cemberut.
Sementara Nisa sudah berpindah tangan dan di bawa masuk. Ayah dan Ilyas pun sudah mulai berjalan ke teras untuk menikmati santapan pagi mereka sebelum makan berat. Tapi, terkhusus Ayah. Biasanya Beliau memang jarang makan berat saat hari libur. Dan lebih memilih, ngemil gorengan atau kue basah dan kopi rendah gula.
Melihat sang istri masih berdiri di sana, bingung antara masuk atau tetap di sini. Ilyas menyodorkan satu buah pisang goreng yang sudah tidak terlalu panas, dengan di alasi tissue.
"Nggak usah, buat Mas aja," tolak Qonni halus.
"Dikit aja gigit," pintanya masih mengarahkan pisang goreng itu kepadanya. Tanpa peduli ada sang ayah mertua di sana yang turut senyum-senyum sambil memalingkan wajahnya.
"Malu sama Ayah–" ucap Qonni tanpa mengeluarkan suara dan hanya menggunakan gerakan bibirnya saja.
Kalau udah maunya, ya... Batin Qonni yang akhirnya kalah. Ia pun menempelkan jarinya ke ujung pisang goreng hanya untuk ngecek.
"Aku udah pastikan ini nggak panas," tuturnya.
"Masih lah, di bagian dalam, udah nggak usah. Aku nanti aja," balas Qonni yang kemudian membuat Ilyas memotek ujungnya agar lebih terangin-angin.
"Nih, udah dingin." Menyodorkan lagi.
"Bismillah..." sambil melirik kearah Ayah, Qonni membuka mulutnya tak terlalu lebar. Dan potongan kecil pisang goreng itu pun masuk ke dalam mulutnya.
Alhamdulillah, aku bisa memasukkan rezeki dari Allah ke dalam mulut istriku langsung menggunakan tanganku. –Batin Ilyas sambil tersenyum senang, melihat Qonni makan dari tangannya.
"Lagi?"
"Nggak, udah. Aku mau masuk dulu." Dengan pipinya yang memerah perempuan itu gegas masuk kedalam rumah.
"Biasa, perempuan akan malu-malu. Nanti juga dia akan minta dengan sendirinya. Disuapin oleh suami." Ayah berseloroh, saat mantunya itu hendak duduk di kursi sebelahnya.
__ADS_1
Selang beberapa menit menikmati camilan keduanya kembali menyelesaikan. Dan kini membagi tugas di sudut-sudut yang berbeda. Tak lupa mengumpulkan sisa rumput yang tercabut kedalam keranjang yang sudah di siapkan.
Hingga tak terasa hampir satu jam di lalui, mertua dan menantu itu telah selesai mengerjakan tugas berkebunnya.
"Alhamdulillah..." Ulum mengusap peluh, merasa lega saat pekerjaannya selesai dengan cepat. Adapun Ilyas sendiri masih sibuk menyapu sisa-sisa rumput liar juga dedaunan yang gugur dari pohon-pohon di sekitarnya menggunakan sapu lidi.
Di lihat-lihat, semua tanaman hias jadi lebih tertata dan bersih karena penempatan yang pas dari pemuda berkacamata itu. Rupanya, tak hanya pintar service barang elektronik, anak itu memang juga telaten soal kebersihan dan kerapian.
Terbukti, pelataran rumahnya jadi lebih hidup dan enak di pandang.
"MashaAllah..." Ulum geleng-geleng kepala.
"Pak, disini sampah taro mana?" Tanya Ilyas setelah semua sampah terkumpul dalam satu ranjang.
"Di bak sampah yang ada didepan."
"Boleh di bakar?"
"Nggak usah, disini suka ada yang protes kalau bakar sampah," jawabnya sembari terkekeh.
"Ya udah kalau gitu, saya buang dulu." Pemuda itu berjongkok sambil berusaha mengangkat keranjang berisi rumput yang bercampur tanah kering.
"Sini gotongan aja."
"Nggak papa, Pak. Saya kuat kok." Ilyas bangkit sambil memikul keranjang tersebut di bahunya.
"Allahu Akbar, pelan-pelan, Nak." Ulum khawatir dengan bahu menantunya itu. Namun, memang dia sudah terbiasa kerja keras, jadi soal mengangkat beginian mah, sudah bukan hal yang akan mencederai bahunya.
–––
Ilyas membuka pintu kamar, di sana sang istri sedang duduk sambil bermain sebentar dengan Nisa yang sudah cantik dengan kerudung warna pink.
"MashaAllah, anak Abi cantik sekali." Ia hanya menyapa dari sisi yang tak terlalu dekat sambil melepas kacamatanya. Karena kotor dan berkeringat membuatnya mengambil jarak.
"Mas Ilyas udah selesai?" Tanya Qonni.
"Iya, Mas mau mandi dulu. Gerah..." jawabnya yang di balas anggukan kepala. Di iringi langkah pelan Ilyas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Perempuan itu bergeming memandang kacamata yang berdebu karena tanah kering. Ia pun berinisiatif membersihkannya.
__ADS_1