
Setiba di rumah, Ilyas tak langsung ke kamarnya. Karena melihat Ayah mertua masih terjaga sedang menonton pertandingan bola liga Europa. Dimana tim Toulouse sedang berhadapan dengan Liverpool.
"Kamu naik duluan, ya. Mas mau temenin Bapak nonton bola, sebentar," bisik Ilyas di dekat tangga.
"Ya, Mas." Qonni meraih jaket dan tas selempang yang di pakai Suaminya setelah itu naik lebih dulu, sementara Ilyas gegas menuju ruang televisi.
"Assalamualaikum," sapanya pelan pada pria paruh baya yang sedang merebahkan tubuh di atas sofa.
"Walaikumsalam, udah pulang?"
"Udah Pak, baru aja," jawabnya sembari menghempaskan bokong ke sofa lain, dimana mata Ilyas tertuju pada layar datar berukuran 40 inch.
"Kalau gitu tinggal istirahat."
"Iya, Pak. Sebentar lagi..." balasnya sambil tersenyum. "Masih 0-0, ya?"
"Iya, baru babak pertama. Dua-duanya lagi bagus mainnya," jawab Ulum fokus pada pertandingan di layar kaca.
Sementara Ilyas nampak manggut-manggut. Tatapannya mengarah serius pada pertandingan di lapangan hijau. Suara-suara menandakan gemas di bibir mereka berdua terdengar sesekali, saat tim yang mereka dukung mulai menyerang bahkan hampir membobol gawang lawan.
"Nyaris!" Ilyas mengepalkan tangan di dekat dagu, sambil bergumam. Dimana Pak Ulum terkekeh sebelum menyeruput kopi.
"Itu tadi kurang cermat. Nembaknya kejauhan."
"Bener banget, Pak." Tak lama mata Ilyas beralih ke Qonni yang sudah memakai daster tidur dengan rambut tergerai. Berjalan menuju kamar mertuanya.
Seperti biasa, Qonni pasti akan menghampiri anaknya untuk di bawa pindah ke kamar atas.
MashaAllah, isteri ku pake daster. –bibirnya mengulas senyum tipis. Karena baru kali ini ia melihat perempuan itu menggunakan daster. Biasanya selalu one set piyama. Pria itu bangkit ketika melihat Qonni kembali melintas tanpa membawa Nisa.
"Pak, saya naik duluan, ya?" pamit Ilyas.
"Nggak nunggu selesai?"
__ADS_1
"Kayanya, tetep Liverpool yang menang, Pak," jawabnya optimis.
"Halaaah, kaya dukun, main prediksi." Keduanya terkekeh. Ilyas pun menunduk sopan setelah itu berjalan meninggalkan ruang televisi.
Cklaaakkk...
Qonni menoleh kearah pintu yang terbuka, saat dirinya hendak masuk ke dalam selimut.
"Nisa mana?" tanya Ilyas sambil mengunci pintu kamar.
"Udah tidur sama Ibu. Dan nggak boleh di pindah."
"Gitu, ya?" Ilyas pun duduk di sisi ranjang dekat sang istri. Perempuan yang masih mengambil posisi duduknya dengan kaki berselonjor di bawah selimut terdiam heran.
"Apa, Mas?"
"Nggak papa, Dek." Di belainya rambut sang istri. Padahal sudah lebih dari dua Minggu mereka menikah. Tapi rasanya masih sulit untuk terang-terangan mengajak sang isteri berjima.
Tatapan Ilyas beralih fokus pada pigura kecil di nakas sebelah lampu tidur. Di sana, ada potret Qonni sendirian dengan view Ranu Kumbolo. Ia pun meraihnya, hal itu di ikuti gerak mata Qonni.
Qonni mengangguk, dan sebelum itu di atas meja sebenarnya ada tiga foto. Dua di antaranya ia simpan, dan hanya ia sisakan satu setelah dirinya memutuskan untuk menikah dengan Ilyas.
"Dulu, sebenarnya Mas juga di ajakin. Tapi karena ada kepentingan lain jadi nggak bisa ikutan ke Semeru."
Perempuan di hadapannya termenung, menatap wajah Ilyas yang tertunduk mengarah pada bingkai foto di tangan. Setelahnya terangkat, membalas tatapan Qonni.
"Kalau ada kesempatan— mau, nggak? Kalau kamu ke Ranu Kumbolo lagi, sama aku?"
Mata Qonni mengilap, memantulkan cahaya lampu. Sementara bibir membisu, karena bingung ingin menjawab apa. Baginya, Ranu Kumbolo adalah tempat kenangan yang tak bisa ia datangi lagi terlebih dengan orang lain.
"Dek?"
"Bolehkah, request tempat lain aja?"
__ADS_1
"Kenapa?" Ilyas mencondongkan wajahnya lebih dekat.
"Aku nggak bisa menjelaskan perasaan ku jika harus kembali ke sana, Mas."
Ilyas bergeming, ia pun mulai paham. Pasti ada kenangan manis bersama Harun yang terukir di sana. Padahal ia sendiri juga ingin mengukir cerita yang sama dengan Ayu. Seperti inikah sulitnya mencintai wanita yang jiwanya masih terkurung pada masa lalu.
"Bagaimana kalau kita ke Bromo aja, Mas?" usul Qonniah saat menyadari ekspresi sedikit kecewa di wajah Ilyas.
"Ke Bromo?"
"Aku ingin lihat sunset, Mas."
Ilyas tersenyum, kemudian mengangguk. Itu adalah ide bagus dan ia setuju. Lokasi yang indah, kerap kali menjadi tujuan wisatawan. Pasti akan menjadi momen terindah untuk dirinya dan Qonni. Ya, sekalian tadabbur iman, tentang kuasa Allah.
"InshaAllah, nanti kita jalan saat liburan, ya?"
"Iya, Mas. Tapi, bagaimana dengan Nisa ya?" Qonni bingung. Kalau dulu mungkin Dia dan Harun masih sendiri. Kalau sekarang kan sudah ada anak.
"Itu bisa di pikirkan nanti. Yang penting sekarang, ini dulu–" timpalnya memindahkan rambut Qonniah ke belakang pundak.
Perempuan itu pun terdiam, menerima sentuhan di bahu menggunakan bibir pria itu. Gerakan pelan nan lembut mulai naik hingga ke ceruk leher.
Qonni mulai menyadari, suaminya sedang berhasrat kepadanya malam ini. Dan, tentu saja ia sedang tak memiliki alasan apapun untuk menolak selain pasrah.
Kecupan berpindah ke bibir. Sembari mendorong pelan tubuh Qonni agar mau merebah, Pria itu mulai bermain. Sementara tangan berpindah ke bagian atas lutut, menaikan rok daster hingga kulit putih bersih itu nampak.
Halus hembusan nafas Qonni terdengar Setelah sang suami menghentikan kecupannya. Ilyas sendiri langsung melepaskan kaos oblong-nya.
Kembali pria itu menurunkan tubuh, menikmati lahan halal yang bebas ia apakan. selain itu, ia bersyukur manakala sang istri kini terlihat lebih enjoy berada di bawah permainannya. Hingga, Ilyas sendiri pun tak perlu merasakan adanya perasaan bersalah.
Ya, dia bukan Harun. Dia Ilyas... Pria yang kini memiliki hak atas apapun yang ada pada diriku.
Tatapan Qonni tertuju pada wajah pria di atas tubuhnya. Kemudian membalas pelukan Ilyas di leher, dan membawa wajah itu mendekat.
__ADS_1
Ilyas mengecup kening isterinya setelah selesai dengan urusan mereka. Lantas keduanya saling berpelukan setelah menikmati bermenit-menit surga dunia yang baru saja mereka lalui.