
"Kamu nggak papa?" tanya Pak Sofian yang menyadari gerak-gerik tak biasa Ilyas.
"Nggak papa, Pak." Terus bibirnya beristighfar, hingga suara-suara massa yang tiba-tiba muncul mulai berkurang. Ilyas mulai stabil kembali.
"Yakin kamu nggak papa?"
Pria itu mengangguk, sebelum menarik nafas pelan dan menghembuskannya sama pelan.
"Omong-omong, bagaimana nasib maling itu, Pak?" Tanya Ilyas saat kondisinya mulai tenang.
"Untuk apa tanya? Jelas dia langsung di bawa ke kantor polisi."
"Tapi nggak di hakimi, kan?" bertanya dengan perasaan takut
"Nggak tau juga, bisa jadi iya..."
"Astaghfirullah al'azim," gumam Ilyas.
"Lagian untuk apa khawatirkan maling yang sudah melukaimu?"
Ilyas menggeleng pelan. "Islam tak mengajarkan kita untuk membalas perbuatan buruk dengan hal buruk juga, Pak. Sama halnya Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang mati di racun. Beliau justru memaafkan pelaku yang meracuninya. Begitu pula dengan Al Husain bin Ali bin Abi Thalib yang juga memaafkan Sinan bin Anas bin Amr Nakhai yang telah menggorok lehernya hingga putus."
Pak Sofian tertegun, kata-kata Ilyas benar-benar membuatnya tertohok saat ini.
"Bagaimana pun juga masih ada hukum yang lebih berhak menghakimi, ketimbang harus mengotori tangan sendiri. Dan kalau sampai pelaku itu mati sebab di hakimi. Hukuman sang maling mungkin sudah di berikan di dunia, dan orang itu bersih menghadap sang khalik. Sementara kita yang masih ada di bumi? Bisa jadi akan menerima nasib yang berbeda. Kerena kita membunuhnya menggunakan nafsu, Pak."
Pria paruh baya ini masih terdiam dalam pemikirannya sendiri. Sementara telinga tajam mendengarkan.
"Belum lagi, apakah bisa menjamin kita akan mengakui kesalahan dan bertaubat karena telah main hakim sendiri hingga menyebabkan seorang manusia kehilangan nyawanya. Yang ada sebaliknya, bisa jadi hanya kepuasan yang hadir, bukan rasa bersalah. Padahal kita tidak tahu apa yang menjadikan alasan maling itu mencuri."
"Kalau begitu, kenapa nggak sebaiknya kamu biarkan saja maling itu membawa motor isteri saya? Dari pada merugikan dirimu sendiri?"
__ADS_1
Ilyas tersenyum. "Mempertahankan harta juga termasuk jihad. Dan lagi, pada awalnya saya tidak tahu kalau dia membawa pisau, Pak. Ketika saya tutup pagar itu, posisi si maling sudah menunggangi sepeda motor milik Bu Sofian. Jadi, saya hanya berusaha untuk menghalanginya sebagai ikhtiar terakhir untuk mempertahankan harta bapak yang akan di bawa pergi oleh maling tersebut."
Pak Sofian kembali terdiam, batinnya meresapi apa yang di sampaikan laki-laki berkacamata itu tanpa menyanggah ataupun hanya sebatas menanggapi dengan gerakan sebagian tubuhnya.
Karena adzan subuh sudah terlewat lebih dari sepuluh menit, pria itu buru-buru meminta izin untuk ke masjid. Bersama dengan itu Pak Sofian pun bangkit. Sebab, segala administrasi telah di urus. Mereka bisa langsung kembali ke rumah.
***
Sepanjang perjalanan Pak Sofian tak bersuara. Fokus menatap jalan dengan suasana temaram. Pria di sebelahnya sesekali memejamkan mata karena kantuk. Pak Sofian menghela nafas panjang hingga membuat Ilyas kembali membuka matanya.
"Maafkan Bapak, Nak," ucapnya lirih tanpa menoleh kearah pria di sebelah. "Bapak sebenarnya malu sama kamu."
Ilyas mengerjapkan matanya, perlahan menutup dan kembali terbuka.
"Selama beberapa menit termenung, saya semakin terpikir satu hal. Padahal saya sudah menyakiti kamu dengan kata-kata yang menyakitkan. Dan bahkan tangan ini— sudah dengan ringannya memukul wajahmu. Kenapa kamu nggak benci sama Bapak? Dan seharusnya kamu nyukurin Bapak, bukan malah nolong sampai seperti ini."
"Pak Sofian, tolong jangan bicara seperti itu. Wallahi, saya nggak pernah ada rasa benci sama Bapak," jawab Ilyas merasa tak enak hati.
Ibnu dan Abas yang duduk di kabin tengah saling pandang sebentar kemudian menunduk. Beberapa kali mereka juga sempat kena omel tanpa sebab akibat sakit hati Pak Sofian yang tak kunjung mereda terhadap kakak sulung mereka.
"Saya minta maaf sama kalian berdua juga, ya? Bapak jahat sekali, sering marahi kalian. Padahal kalian nggak salah apa-apa tapi jadi sering kena pelampiasan stress saya."
"Ka–kami nggak pernah mikir macam-macam kok, Pak. Kami juga menyadari, kalau Bapak marah karena adanya kesalahan kami juga," Ibnu menimpali.
"MashaAllah, orang tua kalian benar-benar hebat mampu mendidik kalian sampai menjadi seperti ini," ucap Beliau sambil berlinang air mata. Kedua tangan masih sibuk mengatur kemudi. "Sekarang katakan, Nak Ilyas. Apa yang perlu saya berikan untuk mengganti semuanya..."
"Nggak perlu, Pak," jawab Ilyas lirih.
"Jangan gitu, saya wajib menebus kesalahan saya. Saya sadar, bahwa apa yang terjadi sebab tidak bijaknya saya saat bersikap."
"Tapi, disini saya juga turut andil, Pak. Saya juga bersalah karena telah mempermainkan kebaikan bapak. Saya melukai hati Fatimah...," tutur Ilyas.
__ADS_1
"Nggak, Nak Ilyas. Semua orang berhak memilih pasangan hidup sesuai dengan yang di inginkan. Seharusnya saya memahami. Mengingat, jika saya di posisi mu pun, saya mungkin akan melakukan hal yang sama. Ketika hati sudah memiliki tambatan hati yang lain. Tolong maafkan saya, ya? Mari kita perbaiki semuanya. Kamu mau kan maafkan saya, dan kembali berhubungan baik?"
"MashaAllah–" gumam Ilyas sembari tersenyum. Batinnya merasa lega sekarang, berkali-kali ia mengucap hamdalah tanpa suara. "Saya tidak pernah menganggap hubungan bertetangga kita ini sedang tidak baik, Pak. Bahkan saya tidak pernah menyimpan dendam apapun. Saya merasa semua baik-baik saja."
"Tapi, saya pernah memukul kamu, Nak Ilyas."
Ilyas tersenyum. "Saya udah memaafkan Bapak, hari itu juga."
"Ya Allah–" Pak Sofian semakin merintih sebab malu sekaligus menyesal. Satu tangannya mengusap-usap kepala Ilyas. "Ya Allah, sebuah ketidakberuntungan ketika orang Soleh seperti kamu nggak jadi mantu saya. Tapi saya sadar, saya nggak pantas bermantukan kamu."
"Innalilah, nggak boleh bicara seperti itu, Pak. Saya tetap menganggap Bapak Sofian sebagai keluarga saya. Semua kebaikan Bapak dan Ibu terlalu banyak saya terima. Jadi apakah pantas, hanya karena satu kesalahan saya lantas melupakan seluruh kebaikan yang lainnya?"
"Allah... Allah... Semoga setelah ini, hubungan kita menjadi jauh lebih baik. Dan semakin erat pula kekeluargaan kita"
"Aamiin..." jawab mereka bertiga hampir bersamaan.
Di usapnya lagi kepala pria di sebelah. Ilyas merasa senang. Terkandung hikmah baik dibalik sebuah musibah, itu yang ia tangkap hari ini.
Pak Sofian sendiri tak mampu berkata-kata lagi. Kini kebencian telah berubah menjadi cinta. Pak Sofian benar-benar menaruh kekaguman pada pria berkacamata ini. Bahkan, ia bertekad akan memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk Ilyas sebagai tanda terima kasih.
.
.
.
# Note: Rosulullah Saw senantiasa mengajarkan kita untuk tidak dendam atas perlakuan orang lain yang mungkin kerap kali menyesakkan dada. Sekalipun itu pada musuh terberat Beliau sendiri.
Karena, menyalakan dendam justru akan menumbuhkan dendam lainnya juga. Yang berujung pada hilangnya akal sehat
Hal tersebut kerap ditemukan disekitar kita, manakala niat kita hadir untuk membalas perlakuan buruk itu. Justru akan menimbulkan percikan api lainnya. Hingga permusuhan tidak akan pernah berakhir. Karena satu sama lain akan saling menganggap dirinya sebagai korban, bukan pelaku dzolim itu sendiri.
__ADS_1
Itulah kenapa kita sebagai umat muslim dapat mencontoh perilaku Rosulullah Saw dan para sahabatnya. Di mana sebuah keikhlasan maaf yang dilakukan karena Allah, tanpa harus membahasnya lagi kepada orang lain seumur hidupnya, akan memberikan cahaya dan hidayah kepada orang tersebut.