Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Bertemu Kyai Irsyad


__ADS_3

Sholat Maghrib kali ini cukup berkesan bagi laki-laki berkacamata itu. Pasalnya, bukan di sengaja, masjid dekat rumah Ilyas bisa kedatangan seorang Kyai asal Magelang yang akhir-akhir ini namanya cukup di kenal orang-orang. Melainkan, kehadiran Beliau tak lain hanya sebatas kunjungan biasa saja ke rumah salah seorang kenalan yang kebetulan sama-sama seorang ulama.


Berada di Saf terdepan, dan selalu di tunjuk sebagai seorang muadzin. Ilyas menjadi sosok yang sedikit mendapatkan perhatian dari pria paruh baya dengan kacamata yang juga membingkai mata sepuhnya.


Selepas Maghrib, mereka mendengarkan ceramah singkat Ustadz Irsyad sambil menunggu waktu isya yang jedanya tak terlalu jauh dari waktu Maghrib.


Setelah sholat Isya pun di tunaikan, para jamaah mulai berhamburan. Dan tersisa segelintir orang saja. Termasuk Ustadz Irsyad, Kyai Irfan. Dan lima orang lainnya termasuk Ilyas.


Saat Irsyad selesai berzikir, Pria paruh baya itu memutar tubuhnya hingga di dapati pemuda berkacamata yang masih duduk tepat di belakang Beliau. Tanpa ragu, Ilyas langsung melebarkan senyum, sambil menyapa dengan anggukan kepala.


"MashaAllah, saya sampe kaget. Kamu dari tadi duduk nggak rubah posisi?"


Pemuda itu cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Saya kayanya pernah ketemu kamu, ya?" sambung Beliau.


"Benar, Kyai. Waktu itu pas di nikahannya Harun Azmi dan Ayudia Qonniah. Saya termasuk salah satu yang duduk menjadi saksi," papar Ilyas.


"Aaah, iya. Baru inget. Kalau nggak salah sempat ngobrol dikit ya. Terus kamu ngaku fans saya?" Irsyad menepuk dadanya sendiri.


"Hahaha–" yang ngobrol bener sih, tapi kayanya nggak ada ngaku fans Beliau juga. Batin Ilyas mengingat-ingat.


"Kamu tinggal disini?"


"Iya, Kyai. Kebetulan rumah saya ada sekitar lima puluh meter dari masjid ini," jawabnya dengan ibu jari menujuk sopan kearah belakang.


"Kyai, monggo!" Kyai Irfan mengajaknya untuk kembali ke rumah Beliau yang berada persis di masjid ini.


"Duluan aja, Kyai– nanti saya menyusul," jawabnya yang membuat Ilyas bergumam MashaAllah.


Seperti sudah berjodoh saja. Tiba-tiba bertemu Ustadz Irsyad yang tak lain adalah paman Ayudia. Lebih-lebih, ia membiarkan orang-orang yang sudah bangkit itu mendahuluinya, berlalu. Sementara sosok berwibawa itu masih mau duduk di hadapan pemuda sederhana yang bukan siapa-siapa.


"Saya merasa tersanjung sekali, Kyai," gumamnya setelah orang-orang itu keluar masjid. Irsyad pun terkekeh.


"Halach! Wong nggak di kasih apa-apa, kok tersanjung."


"Enggak, hehehe... maksudnya, Kyai masih bersedia duduk di sini karena saya."


"Bukan karena kamu. Saya betah karena masjid ini ada Ac-nya. Di ruang tamu Kyai Irfan itu gerah."

__ADS_1


"Oh, gitu ya..," gumamnya sambil menunduk.


"Bercanda, Le!" Irsyad menepuk bahu pemuda berkacamata itu yang membuat keduanya langsung tertawa bersama. "Ku dengar kamu temannya Almarhum Harun?"


Netra yang terbingkai kaca minus itu terangkat pelan sebelum mengangguk. Sambil meremas jemarinya sendiri pemuda itu kembali tertunduk.


"Sudah dengar kalau isterinya baru melahirkan?"


"Iya, Kyai. Saya bahkan datang saat proses operasi masih berjalan."


"MashaAllah– kok bisa?"


"Ceritanya panjang. Mungkin, sudah di gariskan untuk menyambut anak perempuan yang memiliki aura Hayyin itu."


Irsyad manggut-manggut, sambil terkekeh pelan. Adapun pemuda yang duduk di hadapannya nampak terlihat gelisah. Ada sesuatu yang membuatnya ingin membuka suara, seolah segala beban yang selama ini tertahan di dada mendadak amat mendesaknya untuk bercerita pada sosok ulama yang lumayan tersohor itu. Tapi apakah sopan, ketika tiba-tiba bercerita masalah pribadi di depan orang yang sejatinya tak begitu mengenalnya dekat?


"Kyai–" Ilyas akhirnya membuka suara. "mumpung saat ini saya sedang bicara empat mata dengan Kyai. Boleh saya menyampaikan sesuatu?"


Irsyad tersenyum. "Monggo, satu sesi curhat biayanya nggak murah."


"Eh–"


"Hehehe–" ya gimana, Kyai. Antum kalau ngomong kaya nggak ada wajah-wajah bercanda.


"Monggo, mau ngomong soal apa? Tapi maaf, waktu saya nggak bisa lama. Nggak enak juga sama Kyai Irfan."


"Terima kasih, Kyai. InshaAllah, nggak lama kok."


Ilyas menghela nafas sejenak. Mungkin ini saatnya ia melepaskan jerat rasa bersalah yang selama ini membelenggu pada Kyai Irsyad.


"Bener atau nggak, Kyai. Kalau seorang manusia bisa menjadi penyebab kematian seorang manusia lain."


"Ya, bisa. Kalau dia dengan sengaja menghabisi nyawa seseorang. Tapi kembali itu takdir dia, melalui tangan seseorang yang tak bisa mengontrol nafsunya."


"Lalu, apa saya bisa di sebut pembunuh saat seorang pria harus tewas karena menolong saya?"


Irsyad mengerutkan keningnya. Menunggu pemuda itu menjelaskan lebih lanjut.


"Itu benar-benar terjadi pada saya, Kyai." sambungnya sambil tertunduk. "Saya merasa bersalah pada keluarga yang di tinggalkan. Terlebih, Dia meninggalkan isteri yang sedang mengandung. Hingga akhirnya harus melahirkan sendirian."

__ADS_1


Dari percakapan itu. Irsyad mulai paham, mungkinkah ia sedang bercerita tentang Harun dan Qonni. Karena, jika tak salah ingat. Ulum pernah cerita, kalau Harun mengalami penganiayaan itu bersama satu orang temannya, dan salah satu korban tewas yang berasal dari Bandung. Mungkinkah pemuda yang ada di depannya itu, teman yang turut serta menjadi korban amuk massa?


"Saya nggak pernah menyangka, niat baik saya justru malah membuat nyawa sahabat saya itu melayang, Kyai."


Irsyad mengangguk paham. Benar yang di tangkapnya barusan. Lelaki paruh baya itu masih terus diam, semakin serius mendengarkan.


"Jujur, saya tersiksa. Karena perasaan bersalah ini. Bahkan, sosoknya sering mendatangi mimpi dengan wajah kecewa. Saya menyesal sekali, Kyai. Saya ingin kembali ke masa lalu. Lantas, memilih untuk tetap pulang tanpa peduli seorang suporter di pukuli masa hingga tewas. Saya terlalu gegabah, Kyai. Dan karena kecerobohan saya, teman yang seharusnya ada disisi isterinya yang sedang mengandung harus meregang nyawa. Saya jadi berpikir kenapa bukan saya saja yang menjadi korban?"


"Thayyib!" Irsyad menghela nafas. Satu tangannya mengusap kedua matanya yang sedikit gatal. "Sebelumnya saya mau tekankan kepadamu. Bahwa tidak ada satupun orang yang benar-benar menjadi penyebab kematian seseorang. Dan lagi, takdir Harun. Memang sudah sampai di situ."


Ilyas tertunduk saat nama Harun di sebut. Benar kata orang, saat kita berbicara pada seorang waliyullah. Terkadang tak perlu menjelaskan secara gamblang, mereka pasti akan tahu titik masalahnya itu.


"Kalaupun, pada saat itu tak ada tragedi di GBK. Mungkin Harun akan bertemu ajalnya di situasi yang lain. Itulah takdir ajal, mau kamu bersembunyi dimana pun. Kamu tetap akan mendatangi tempat kematian mu. Begitupula dengan Harun. Jadi apa yang membuat mu harus terus merasa bersalah sampai berpikir ingin kembali ke masa itu?"


"Tapi tetap saja, Kyai. Harun meninggal karena menolong Saya."


"Nggak! Allah yang gerakan dia untuk menolong mu. Allah juga yang sudah menetapkan waktu kematiannya."


Ilyas menitikkan air mata. Dadanya kembali bergemuruh, seolah penyesalan belum juga hilang dari benaknya yang semakin kesini semakin membuat hidupnya tidak lagi sehat.


"Lalu, bagaimana saya bisa memperbaiki semuanya, Kyai. Hidup saya sudah stuck, karena rasa bersalah ini. Hingga membuat saya tida tahu lagi caranya menyeimbangkan hidup saya untuk menyambut masa depan. Saya bahkan, sempat terang-terangan mengatakan keinginan saya menikahi jandanya Harun kepada Pak Ulum dan juga Gus Mukhlis. Karena saya pikir saya ingin menggantikan posisi Harun yang seharusnya ada di sisi Ayu di saat-saat seperti ini. Tapi nyatanya? Perencanaan ku tidak berjalan baik, Kyai."


"Le, nggak ada cara memperbaiki masa depan kecuali memperbaiki yang saat ini," jawabnya penuh penekanan. Hingga membuat kepala Ilyas kembali terangkat.


"Mem–memperbaiki saat ini?" tanyanya dengan kalimat mengulangi kata-kata Irsyad.


"Sayidina syekh abu bakar bin Salim berkata 'sering kali penyesalanmu di masa lalu dan perencanaan mu di masa yang akan datang akan menghilangkan berkah dari waktumu yang sekarang."


"Sa–saya kurang paham, Kyai."


"Jangan pernah kamu rusak sesuatu yang seharusnya berjalan dengan baik hanya karena penyesalanmu, lantas terburu-buru menarget masa depan yang belum tentu baik untukmu dan juga orang lain."


Ilyas terpekur sambil mencerna setiap kata yang mulai ia tangkap itu. Memang benar selama ini ia terlalu terburu-buru mengejar Ayudia. Namun, bukankah ia sudah berusaha untuk tidak begitu mengejar. Apa benar, ia harus menyerah karena sejatinya Ayu memang benar-benar bukan untuknya?


"Kesimpulannya tidak ada waktu yang paling baik kecuali masa saat ini. Maka berbuatlah baik tidak perlu menunggu nanti apalagi meratapi kesalahan masa lalu. Tapi fokuslah pada masa sekarang, jadikan sekarang juga adalah waktu paling baik untukmu memperbaiki diri." Ustadz Irshad menyambut kalimatnya yang membuat Ilyas semakin paham.


"Saya terlalu ngoyo, Kyai," gumamnya.


"Ngoyo boleh asal dalam hal positif. Kalau untuk mengejar hati manusia– kenapa musti terburu-buru? Sekarang, bekerjalah dengan baik. Tata hatimu sebaik-baiknya, jangan dulu memikirkan orang lain. Karena, mungkin niatmu sudah baik, namun siapa sangka memaksakan sesuatu yang berkaitan dengan hati orang lain lain jatuhnya tidak akan baik. Yang ada akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Jadi, lebih baik selesaikan yang ada. Sisanya serahkan pada yang memiliki hati manusia."

__ADS_1


Ilyas tersenyum, ia bersyukur dengan bertemu Kyai Irsyad. Segala gundah gulananya mulai tersingkirkan sedikit demi sedikit. Dan ia yakin, hanya perlu memperbaiki diri dan juga berbuat baik tanpa mengharapkan apapun akan membuatnya terhindar dari beban tersebut.


__ADS_2